Renungan
Kamis, 4 Juni 2026
HUKUM YANG UTAMA: MENGASIHI TANPA
BATAS
Markus 12:28b-34
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Seorang ahli Taurat mendekati
Yesus dan mengajukan pertanyaan yang sederhana namun sangat mendasar: “Hukum
manakah yang paling utama?” Pertanyaan itu bukanlah jebakan, melainkan ungkapan
kerinduan hati yang tulus untuk memahami inti iman.
Yesus menjawab dengan tegas dan
jelas: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kedua hukum ini tidak dapat
dipisahkan, bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama.
Bayangkan seorang ibu yang pulang
kerja setelah seharian penuh lelah dan pusing. Ia hanya ingin beristirahat.
Namun begitu membuka pintu rumah, anak-anaknya langsung menyambutnya dengan
riuh gembira. Ada yang minta ditemani belajar, ada yang sedang sakit, dan
suaminya pun ingin berbagi cerita hariannya.
Pada awalnya, ibu itu merasa
ingin marah. Tenaganya sudah habis. Namun dalam diam, ia berdoa singkat:
“Tuhan, aku lelah. Aku tidak punya kekuatan lagi. Tapi aku ingin mengasihi-Mu
melalui mereka. Pinjamkanlah hati-Mu kepadaku.”
Ajaibnya, setelah berdoa, ibu itu
mendapati dirinya tersenyum. Ia memeluk anak yang demam, membantu pekerjaan
rumah, dan tetap mendengarkan suaminya dengan sabar. Ia mengasihi Tuhan dengan
segenap kekuatannya—meski saat itu kekuatannya tinggal sedikit. Dan justru
kasih yang dipersembahkan dalam kelemahan itulah yang sangat berkenan di
hadapan Allah. Ia juga mengasihi sesamanya (keluarganya) seperti dirinya
sendiri—merawat mereka seperti ia sendiri ingin dirawat ketika lelah.
Tiga Kebenaran Penting:
- Kasih kepada Allah adalah sumber segalanya.
Bukan sekadar perasaan, melainkan penyerahan total: dengan segenap hati
(perasaan), jiwa (identitas terdalam), akal budi (pikiran), dan kekuatan
(tindakan). Mengasihi Allah berarti menjadikan-Nya pusat kehidupan, bukan
hanya sosok yang ditemui di gereja setiap Minggu.
- Kasih kepada sesama adalah bukti nyata.
Yesus dengan bijaksana menggabungkan kedua hukum ini. Mustahil mengaku
mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika membenci saudara yang kelihatan
(1 Yohanes 4:20). Sesama manusia adalah cermin di mana kasih kita kepada
Allah diuji dan dinyatakan secara nyata.
- Kasih lebih utama daripada kurban. Ahli
Taurat itu memahami dan menyetujui bahwa kasih jauh lebih penting daripada
segala kurban bakaran. Ini adalah pengertian yang revolusioner. Bukan
berarti ibadah dan kurban tidak penting, tetapi tanpa kasih, semua ritual
menjadi kosong. Seperti seorang suami yang memberi hadiah mahal kepada
istrinya, tetapi tidak pernah mendengarkan isi hatinya—hadiah itu
kehilangan maknanya.
Aplikasi Praktis:
- Pagi hari, sebelum memulai aktivitas,
tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hari ini aku akan mengasihi Tuhan
dengan segenap hatiku?” Tawarkan setiap pekerjaan, pertemuan, bahkan
kemacetan sebagai bentuk kasih kepada-Nya.
- Sepanjang hari, ketika bertemu dengan orang
yang mengganggu atau menyusahkan (rekan kerja, tetangga, atau anggota
keluarga), ingatlah bahwa ia adalah “sesama” yang harus kita kasihi
seperti diri sendiri. Lakukan satu tindakan kecil: tersenyum, mendengarkan
dengan penuh perhatian, atau menolong tanpa mengharapkan balasan.
- Malam hari sebelum tidur, lakukan evaluasi
singkat: “Apakah kasih kepada Allah dan sesama menjadi hukum utama dalam
hidupku hari ini?” Jika gagal, jangan berkecil hati. Allah tidak menuntut
kesempurnaan, tetapi kerelaan hati untuk terus belajar mengasihi.
Yesus berkata kepada ahli Taurat
itu, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Saudara-saudari, pintu Kerajaan
Allah terbuka lebar bagi setiap orang yang menjadikan kasih sebagai hukum utama
hidupnya. Bukan karena hebatnya kasih kita, tetapi karena kita mengizinkan
Allah—yang adalah Kasih itu sendiri—bekerja di dalam diri kita.
Marilah kita jalani hari ini
dengan satu tekad teguh: “Tuhan, aku ingin mengasihi-Mu lebih dalam, dan
mengasihi sesamaku lebih nyata.”
Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar