Selasa, 31 Maret 2026

KETIKA HATI GUNDAH, TETAPLAH BERPEGANG PADA KASIH

Renungan

Selasa, 31 Maret 2026

 

KETIKA HATI GUNDAH, TETAPLAH BERPEGANG PADA KASIH

Yohanes 13:21–33.36–38




 

Saudara-saudari yang terkasih dalam kasih Kristus,

Pernahkah kita merasakan kesedihan yang mendalam, kekecewaan, atau bahkan pengkhianatan dari orang yang paling kita percayai? Mungkin itu datang dari sahabat sendiri, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga. Perasaan seperti itu pasti sangat berat dan membuat hati kita gundah.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk melihat langsung ke dalam hati Yesus pada malam sebelum wafat-Nya. Ia duduk bersama murid-murid-Nya, orang-orang yang paling dekat dengan-Nya selama tiga tahun terakhir. Namun, suasana hati-Nya begitu sedih, bahkan dikatakan bahwa Ia “tersentak hatinya” (ay. 21). Mengapa? Karena Yesus tahu bahwa di antara orang-orang yang duduk bersama-Nya, ada satu yang akan mengkhianati-Nya, yaitu Yudas.

Meskipun demikian, Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau kekerasan. Bahkan ketika Yudas keluar dari ruang makan menuju malam yang gelap, Yesus tidak menghentikannya dengan paksa. Ia membiarkan cinta berjalan pada jalannya, meskipun itu berarti luka yang dalam bagi hati-Nya. Yesus tetap setia pada misi kasih-Nya.

Di sisi lain, ada Petrus. Dengan penuh keyakinan, ia berkata lantang, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku bagi-Mu!” (ay. 37). Kedengarannya heroik, bukan? Namun, Yesus yang mengenal hati Petrus lebih dalam, dengan lembut tetapi tegas mengatakan bahwa Petrus justru akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok.

Menghadapi Pengkhianatan dengan Hati yang Lapang

Dalam kehidupan kita sebagai orang Indonesia, hubungan kekeluargaan dan kebersamaan sangatlah penting. Namun, sering kali justru di dalam lingkaran terdekat kita mengalami kekecewaan. Mungkin kita dikhianati teman dalam urusan pekerjaan, diomongkan di belakang oleh saudara, atau ditinggalkan saat kita sedang dalam kesulitan.

Yesus mengajarkan bahwa menghadapi pengkhianatan tidak harus dengan balas dendam. Ia tetap tenang dan bahkan tetap menunjukkan kasih. Hal ini sangat relevan bagi kita yang mungkin sering merasa “tersakiti” dalam komunitas. Tuhan memanggil kita untuk memiliki hati yang lapang: tetap berbuat baik, tetap mengasihi, tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan.

Jangan Terlalu Percaya Diri pada Kekuatan Sendiri

Kisah Petrus menjadi cermin bagi kita. Ia sangat yakin pada dirinya sendiri. Ia merasa cintanya kepada Yesus adalah yang terbesar. Namun, Yesus tahu bahwa tanpa rahmat dan kekuatan dari Tuhan, cinta kita rapuh. Betapa sering kita juga bersikap seperti Petrus. Kita berkata, “Aku tidak akan pernah berbuat dosa itu,” atau “Aku pasti setia kepada Tuhan, sekalipun semua orang meninggalkan-Nya.”

Namun dalam realitas hidup sehari-hari, ketika kita lelah, ketika iman diuji, atau ketika kita sibuk dengan urusan dunia, kita kerap jatuh dalam dosa-dosa kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan. Renungan ini mengingatkan kita untuk tidak sombong secara rohani. Kita membutuhkan Tuhan setiap saat.

Gelapnya Dunia dan Panggilan untuk Tetap dalam Terang

Ketika Yudas keluar, dikatakan bahwa “hari sudah malam” (ay. 30). Gelap melambangkan dosa, pengkhianatan, dan keterpisahan dari kasih. Di zaman sekarang, kita pun hidup di tengah “kegelapan” yang halus: korupsi, hoaks, ketidakadilan, saling curiga, dan hilangnya rasa persaudaraan. Yesus mengajak kita untuk tidak ikut keluar ke dalam gelap itu. Sebaliknya, kita dipanggil untuk tetap berada dalam terang kasih-Nya.

Mari sejenak kita merenung:

Apakah saat ini hati saya sedang terluka karena dikhianati oleh orang terdekat? Apakah saya bersedia membawa luka itu kepada Yesus dan belajar mengampuni?

Apakah saya terlalu percaya diri dengan kekuatan iman saya, sehingga lupa berlutut memohon rahmat Tuhan setiap hari?

Dalam keluarga, lingkungan kerja, dan komunitas gereja, apakah saya menjadi pembawa terang dan damai, atau justru ikut menyebarkan kegelapan melalui gosip dan kebencian?


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 30 Maret 2026

MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Renungan

Senin, 30 Maret 2026


MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Yohanes 12:1-11




 

Keuskupan Agung Medan (KAM) dikenal sebagai wilayah yang dinamis. Di sini, hiruk-pikuk perdagangan, kepadatan urban, serta tantangan sosial-ekonomi menjadi “roti harian” kita. Di tengah gemuruh kendaraan di jalan, kesibukan pasar tradisional, atau hiruk-pikuk pusat perbelanjaan modern, kita hidup sebagai murid Kristus.

Perikop Yohanes 12:1-11 membawa kita ke Betania. Rumah Lazarus, Marta, dan Maria menjadi gambaran kecil tentang “keluarga besar” di Keuskupan kita. Betania adalah tempat di mana kemacetan dunia, yakni Yerusalem, bertemu dengan keheningan persahabatan. Di sanalah terjadi sebuah peristiwa agung: seorang perempuan memecahkan buli-buli minyak narwastu seharga tiga ratus dinar, kira-kira setara dengan upah setahun, lalu menuangkannya ke kaki Yesus.

Minyak narwastu merupakan simbol kemewahan tertinggi. Di Medan, angka tiga ratus dinar mungkin dapat kita analogikan dengan uang muka rumah, modal dagang, atau tabungan pension, sesuatu yang sangat bernilai dan biasanya “dihitung secara logis.”

Di sinilah kita berjumpa dengan tokoh Yudas Iskariot. Kitab Suci dengan jujur mencatat bahwa Yudas tidak peduli pada orang miskin, melainkan seorang pencuri yang mengatur kas. Dalam kehidupan kita sehari-hari, suara Yudas kerap bergema di kepala kita: “Boros! Tidak praktis! Lebih baik uangnya dipakai untuk yang lain!”

Kita, umat Katolik yang mayoritas terlibat dalam dunia usaha, niaga, dan pekerjaan keras, tentu akrab dengan logika untung-rugi. Kita terbiasa menghitung return on investment dan berpikir bahwa hal yang paling efisien adalah memberi dalam porsi yang terukur. Namun, renungan ini mengajak kita berani menggugat logika pasar dengan logika kasih.

Maria tidak menghitung. Ia memberikan yang terbaik, bahkan yang “terlalu mahal” sekalipun. Tindakannya mengingatkan kita: apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadi “boros” dalam hal cinta kepada Tuhan dan sesama?

Yesus membela Maria dengan berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini… minyak ini tidak dijual untuk memberi orang miskin” (Yoh 12:7-8).
Ini bukan berarti Yesus tidak peduli pada orang miskin. Justru Yesus hidup bersama mereka. Namun, Yesus menegaskan satu prioritas yang kerap kita lupakan dalam kesibukan “pelayanan” dan “kegiatan”: ada saatnya kita harus berhenti sejenak dari segala aktivisme, lalu duduk di kaki Tuhan dan mencurahkan segenap hati tanpa perhitungan.

Di Keuskupan Agung Medan, kita adalah umat yang “sibuk.” Sibuk mengurus devosi, sibuk mengurus panitia, sibuk bekerja mencari nafkah di tengah persaingan ekonomi yang ketat, sibuk mengumpulkan dana untuk pembangunan gereja atau kegiatan sosial. Terkadang, kesibukan ini membuat kita seperti Yudas: kita kehilangan momen untuk sekadar “duduk bersama Yesus” secara pribadi.

Ciri khas devosi umat Katolik di KAM sangat kuat. Novena, jalan salib, dan doa rosario dirayakan dengan meriah. Namun, renungan ini mengajak kita memeriksa motivasi di balik semua itu. Apakah kita melakukannya karena “kewajiban sosial” agar dilihat orang, atau karena kita benar-benar mencurahkan isi hati yang paling berharga kepada Kristus?

Ayat 9–11 menceritakan bahwa banyak orang Yahudi datang bukan hanya karena Yesus, tetapi juga ingin melihat Lazarus yang dibangkitkan. Imam-imam kepala malah merencanakan untuk membunuh Lazarus. Bacaan ini menjadi cermin bagi kita yang hidup di tengah kesenjangan sosial.

Di satu sisi, kita dipanggil menjadi “Maria” yang memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Di sisi lain, kita dipanggil peka terhadap “Lazarus-Lazarus” di sekitar kita, saudara-saudari yang miskin, termarjinalkan, yang mungkin tinggal di bantaran sungai atau di daerah pinggiran.

Ada godaan besar untuk “menghakimi” orang lain seperti Yudas menghakimi Maria. Dalam kehidupan menggereja, sering muncul sikap sinis: “Ah, ini sih terlalu mewah untuk sebuah perayaan ibadah,” atau “Lebih baik bangunan gerejanya sederhana saja, uangnya buat makan orang miskin.”

Renungan ini menegaskan bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan. Mencintai Tuhan secara “boros”, dengan liturgi yang indah, gedung gereja yang layak, perayaan iman yang khidmat, bukanlah penghalang untuk mengasihi orang miskin. Yang menjadi masalah adalah jika kita menggunakan kedok “orang miskin” untuk menyembunyikan kekikiran hati atau ketidakmauan kita berkorban secara total bagi Kristus.

Sebagai umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, bacaan ini mengajak kita pada tiga refleksi mendalam:

Kembali ke “Betania” (Rumah Persahabatan):
Di tengah rutinitas yang padat—macet, pekerjaan, dan urusan duniawi—luangkanlah waktu untuk membangun “Betania” di rumah masing-masing. Keluarga adalah tempat pertama di mana kita harus menjadi “Maria” yang mencurahkan kasih. Jangan biarkan kesibukan ekonomi membuat kita kehilangan momen kebersamaan dan doa bersama keluarga.

Memurnikan Motivasi Pelayanan:
Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya dalam pelayanan menggereja, sebagai lektor, misdinar, kategorial, atau pengurus lingkungan, bekerja dengan motivasi seperti Yudas, mencari status, keuntungan pribadi, atau sekadar kebiasaan—ataukah saya melakukannya sebagai “minyak narwastu,” yakni persembahan terbaik yang walaupun tidak dilihat orang, sungguh memenuhi lingkungan atau paroki dengan keharuman kasih?

Menjadi “Aroma” bagi Sesama:
Medan adalah kota yang multikultural dan sering kali “kasar” dalam interaksi sosial karena kemacetan, panas, dan persaingan. Panggilan kita adalah membawa aroma Kristus. Seperti minyak narwastu yang memenuhi seluruh rumah, kesaksian hidup seorang Katolik seharusnya mampu “memenuhi” ruang-ruang publik di Medan dengan keharuman kedamaian, kejujuran dalam berdagang, kesabaran dalam berkendara, dan keterbukaan dalam hidup bertetangga.

Yesus berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini” (Yoh 12:7). Terkadang, dalam kehidupan rohani, kita terlalu sering melarang diri sendiri untuk mencintai Tuhan secara total. Kita merasa malu berdoa di tempat umum, sungkan bersikap saleh di tempat kerja, atau merasa bahwa memberi waktu untuk misa harian adalah “pemborosan” yang seharusnya digunakan untuk bekerja.

Hari ini, Yesus mengingatkan kita: jangan biarkan logika dunia yang selalu hitung-hitungan membunuh kerinduan kita untuk berserah secara total.

Semoga kita, umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, berani memecahkan “buli-buli” kesombongan, keegoisan, dan perhitungan duniawi kita, untuk menuangkan seluruh hidup kita, dengan segala kekurangan dan kelebihan, ke kaki Kristus. Sehingga, seperti di Betania, rumah kita, paroki kita, dan kota Medan ini dipenuhi oleh aroma kasih yang menyegarkan. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Jumat, 27 Maret 2026

KETIKA "BATU" ITU BERNAMA "KEPERCAYAAN"

Renungan

Jumat, 27 Maret 2026


KETIKA "BATU" ITU BERNAMA "KEPERCAYAAN"

(Yohanes 10:31–42)

 


Saudara-saudari terkasih dalam kasih Kristus,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita kerap dihadapkan pada dua kenyataan yang bertolak belakang. Di satu sisi, kita hidup dalam budaya yang menjunjung tinggi gotong royong, kerukunan, dan rasa hormat. Namun di sisi lain, kita tak asing dengan apa yang bisa disebut sebagai "bahasa batu", bukan batu sungguhan, melainkan batu yang lahir dari amarah, prasangka, dan penolakan.

Hari ini, Injil membawa kita menyaksikan sebuah adegan yang menegangkan: “Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus” (Yoh. 10:31). Sungguh mencengangkan. Bukankah Yesus baru saja melakukan karya-karya kasih? Bukankah Ia berbicara tentang Gembala Baik yang mengenal domba-domba-Nya? Namun justru sebaliknya yang terjadi. Yesus ditolak bukan karena perbuatan jahat, melainkan karena kebenaran yang Ia nyatakan tentang diri-Nya. Mereka berkata, “Kami melempari Engkau bukan karena suatu perbuatan baik, melainkan karena Engkau menghujat Allah; Engkau, sekalipun manusia, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:33).

Di sinilah letak titik kritis iman kita: kebenaran justru kerap menjadi batu sandungan. Sebagai umat Katolik Indonesia, kita hidup dalam keindahan kemajemukan. Kita dipanggil menjadi garam dan terang, membawa nilai kebenaran, kejujuran, dan kasih. Namun pernahkah kita merasakan, ketika kita berusaha hidup jujur, bersikap adil, atau membela kebenaran, justru kita yang mendapat “lemparan batu”? Batu itu bisa berupa gunjingan, pengucilan, stigma sosial, bahkan fitnah. Di tempat kerja, di komunitas, bahkan tak jarang di tengah keluarga sendiri, membela kebenaran terasa seperti membawa pedang bermata dua.

Namun Yesus tidak lari. Ia tidak membalas lemparan dengan lemparan. Justru dengan teguh Ia berdiri dan berdialog. Dengan tenang Ia mengembalikan persoalan pada Sabda Allah: “Apakah kamu tidak membaca dalam Kitab Taurat?” (Yoh. 10:34). Ia tidak membiarkan amarah menguasai situasi, melainkan membawa semua pihak kembali pada terang Firman.

Saudara-saudari, ada sebuah rahmat besar yang hendak Yesus ajarkan kepada kita, bangsa Indonesia yang dikenal kaya akan budaya dan emosi. Ketenangan di tengah penolakan adalah kesaksian iman yang paling dahsyat. Yesus tidak perlu membuktikan keilahian-Nya dengan kekerasan; Ia membuktikannya melalui karya dan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Sekalipun kamu tidak percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:38).

Di sinilah kita diingatkan kembali akan panggilan kita sebagai orang beriman. Di negeri ini, kita dipanggil untuk tidak mudah “mengambil batu” ketika dihadapkan pada perbedaan. Betapa sering kita—umat Katolik—tergoda membalas kebencian dengan kebencian, atau merasa paling benar sendiri sehingga mudah menghakimi orang lain. Yesus menunjukkan jalan lain: membalas kebencian dengan kebenaran, kekerasan dengan keteguhan hati, dan penolakan dengan pergi ke tempat di mana masih ada hati yang terbuka.

Perhatikanlah akhir dari perikop ini: “Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya” (Yoh. 10:40–41). Yesus tidak terpaku pada tempat yang menolak-Nya. Ia meninggalkan mereka yang keras hati, bukan karena putus asa, melainkan karena Ia tahu waktu dan tempat untuk menuai. Ia pergi ke seberang Yordan—tempat yang dulu dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Di sana, banyak orang datang dan percaya. Pesan ini begitu relevan bagi kita, terutama ketika kita merasa lelah menjadi minoritas, lelah diperlakukan tidak adil, atau lelah berjuang sendirian dalam kebenaran. Jangan pernah lelah untuk terus pergi ke “seberang Yordan”, mencari ruang-ruang baru di mana kasih Tuhan masih diterima, membangun jembatan, dan terus bersaksi tanpa kehilangan jati diri.

Tema mendalam yang ditawarkan Injil hari ini adalah keberanian untuk teguh dalam kebenaran di tengah budaya penolakan. Kita hidup di era digital, di mana “batu” kerap menjelma dalam komentar-komentar jahat di media sosial. Kita hidup di era politik, di mana “batu” bisa berbentuk ujaran kebencian. Namun sebagai pengikut Kristus, kita diajak memiliki keteguhan yang lembut namun tak tergoyahkan; keteguhan yang tidak buta, melainkan berakar pada relasi intim dengan Bapa, sebagaimana Yesus teladankan. Ia tahu siapa diri-Nya, Ia tahu misi-Nya, dan Ia tahu bahwa perlindungan terbesar bukanlah dengan menghindari batu, melainkan dengan tinggal dalam genggaman Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu.”

Marilah kita merenungkan sikap kita selama ini. Apakah kita terlalu mudah mengambil batu? Atau sebaliknya, terlalu mudah lari ketakutan ketika dihadapkan pada batu? Atau mampukah kita, seperti Yesus, berjalan dalam kebenaran dengan tenang, membiarkan karya dan kasih kita berbicara lebih lantang daripada segala bentuk penolakan? Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


Kamis, 26 Maret 2026

KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Renungan

Kamis, 26 Maret 2026


KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Yohanes 8:51–59



Ada momen dalam hidup ketika kebenaran tidak lagi terasa membebaskan, tetapi justru mengancam. Saat itulah kita, sadar atau tidak, mulai menggenggam batu. Batu itu bisa bernama prasangka, kebanggaan status, kenyamanan rohani, atau ketakutan kehilangan wajah di hadapan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dipertemukan dengan sebuah adegan yang menegangkan. Yesus berbicara tentang hidup kekal, tentang ketaatan yang membawa pada persekutuan abadi dengan Allah. Namun alih-alih menyambut, pendengar-Nya justru mengambil batu untuk melempari-Nya. Mengapa? Karena mereka merasa identitas, tradisi, dan harga diri mereka terancam oleh-Nya.

Yesus berkata: “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut selama-lamanya” (Yoh 8:51). Ini bukan sekadar janji tentang umur panjang, melainkan janji tentang hidup yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuh dikubur tanah. Namun untuk menerima janji ini, kita harus membiarkan firman itu sungguh mengakar dalam hidup—bukan sekadar didengar, tetapi dipatuhi, diterima, dan dihidupi.

Sebagai orang Katolik, kita sering merasa aman karena telah dibaptis, karena hadir di gereja setiap Minggu, atau karena lahir dari keluarga Katolik yang taat. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah warisan otomatis. Yang membedakan adalah apakah kita sungguh hidup dalam terang Sabda-Nya.

Menuruti firman berarti dalam keluarga, kita menjadi pribadi yang mengampuni meski hati terluka. Di tempat kerja, kita memilih jujur ketika ada peluang curang. Di tengah masyarakat yang majemuk, kita menjadi saksi kebenaran tanpa kehilangan hormat kepada sesama. Iman yang sejati adalah iman yang terlihat dalam tindakan keseharian.

Orang-orang Yahudi dalam Injil merasa aman karena mereka keturunan Abraham. Mereka menyandarkan keselamatan pada darah dan tradisi. Namun Yesus meluruskan dengan lembut tapi tegas: “Jika kamu adalah anak-anak Abraham, perbuatlah perbuatan Abraham” (Yoh 8:39).

Kita pun rentan pada jebakan serupa. Kita berkata dalam hati: “Saya sudah lama di lingkungan,” atau “Saya sudah aktif melayani,” atau “Saya tahu ajaran Gereja.” Itu semua baik, tetapi belum cukup. Yang menentukan adalah hubungan pribadi kita dengan Yesus, yang diwujudkan dalam kesediaan untuk terus berubah, terus bertumbuh, dan terus taat.

Puncak dari perikop ini sungguh dahsyat. Yesus berkata: “Sebelum Abraham jadi, Aku sudah ada” (Yoh 8:58). Dengan kata “Aku sudah ada” , Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang kekal, yang pernah menyatakan nama-Nya kepada Musa di semak duri. Inilah inti iman kita: Yesus bukan sekadar guru bijak atau nabi agung. Ia adalah Allah sendiri yang datang menjumpai kita, merendahkan diri dalam rupa manusia, dan memberi kita hidup kekal melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Di sinilah orang-orang Yahudi merasa tersinggung. Mereka menganggap pernyataan itu sebagai hujat. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah pertemuan antara kebenaran yang membebaskan dan hati yang belum siap melepaskan kendali.

Abraham disebut sebagai tokoh yang bersukacita melihat hari Yesus. Ia percaya kepada janji Allah meski belum melihat penggenapannya. Ia meninggalkan kenyamanan, mempertaruhkan masa depan, dan menyerahkan apa yang paling dicintainya. Iman Abraham bukan iman yang diam, melainkan iman yang terus melangkah, bertanya, taat, dan berserah.

Kita pun dipanggil untuk memiliki iman yang dinamis. Di tengah budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kental, kita diajak untuk tidak menjadikan tradisi sebagai tembok yang membuat kita keras hati terhadap pembaharuan. Tradisi adalah baik, tetapi harus selalu diterangi oleh Sabda yang hidup.

Ketika orang-orang Yahudi mengambil batu, mereka sedang menunjukkan apa yang ada dalam hati mereka: kekecewaan yang berubah menjadi amarah, kebanggaan yang terluka, dan ketidakmauan untuk bertobat.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: batu apa yang sedang kita genggam saat ini?
Mungkin itu adalah dendam yang belum kita maafkan. Mungkin itu adalah rasa puas diri yang membuat kita merasa lebih benar dari orang lain. Mungkin itu adalah keengganan untuk mengubah cara hidup yang sudah nyaman, meskipun hati nurani terus menggugat.

Renungan ini mengajak kita untuk meletakkan batu-batu itu di kaki Tuhan. Sebab kebenaran yang datang dari Yesus tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membebaskan kita—membebaskan kita dari ilusi kekuasaan, dari jaminan palsu, dari rasa aman yang semu.

Marilah kita membuka hati untuk dibebaskan. Kebenaran sejati tidak selalu nyaman, tetapi selalu membawa kita pada hidup yang sejati. Semoga kita tidak termasuk orang yang mengambil batu, melainkan termasuk mereka yang merendahkan hati, mendengarkan Sabda, dan membiarkan-Nya menjadi jalan, kebenaran, dan hidup kita. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag 

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Kamis, 12 Maret 2026

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA

RENUNGAN

Hari, Tanggal:    Minggu (Prapaskah IV /Tahun A), 15 Maret 2026

Bacaan I        :    1Sam 16:1b.6-7.10-13a

Bacaan II       :    Ef 5:8-14

Bacaan Injil   :    Yoh 9:1-14

 

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA




Saudara-saudari terkasih,

Kita hidup di tanah Sumatera Utara yang kaya. Kita dikelilingi oleh keindahan alam Danau Toba, hamparan sawah yang hijau, hingga gemerlap perkotaan. Namun, kekayaan terbesar kita bukanlah panorama alam, melainkan keberagaman masyarakatnya. Di sini kita bertemu dengan suku Batak, Melayu, Nias, Jawa, Tionghoa, dan berbagai suku lainnya. Kita hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Sumatera Utara.

Akan tetapi, kekayaan ini sering kali menjadi tantangan. Kita bisa saja hanya “melihat” seseorang dari luarnya: dari marganya, logat bicaranya, warna kulitnya, atau status sosialnya. Kita cepat menghakimi berdasarkan apa yang tampak oleh mata kepala. Padahal, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk memiliki “mata yang berbeda”, mata yang mampu melihat hati, sebagaimana Tuhan melihat.

(Bacaan Pertama: 1 Samuel 16:1b, 6–7, 10–13a – Tuhan Melihat Hati)

Bacaan pertama membawa kita ke kisah pemilihan Raja Daud. Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru dari keluarga Isai. Ketika Samuel melihat Eliab, anak sulung Isai, yang tampak gagah dan rupawan, ia langsung berpikir, “Pasti inilah yang akan Tuhan urapi.” Namun, Tuhan menegur Samuel dengan tegas: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Firman ini sangat relevan bagi kita. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang menjunjung tinggi identitas kesukuan dan status—seperti marga dan gelar—kita mudah tergoda untuk menilai seseorang dari “bungkusnya”. Mungkin kita berkata, “Ah, dia orang sana, pasti sifatnya begini…” atau “Dia dari keluarga itu, pasti hidupnya begitu…” Kita lupa bahwa di balik semua identitas lahiriah, ada hati yang berharga di mata Tuhan.

Samuel harus belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Demikian pula kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah berusaha melihat sesama dengan “kacamata Tuhan”, melihat kedalaman hati, melihat potensi kebaikan yang mungkin tersembunyi di balik perbedaan lahiriah. Proses pengurapan Daud—anak bungsu yang paling tidak diperhitungkan—mengajarkan bahwa Tuhan sering memilih dan berkarya melalui mereka yang dianggap kecil dan tak berarti oleh dunia. Di sekitar kita, di lingkungan kita, ada banyak “Daud” yang menanti untuk dilihat dan dihargai hatinya.

(Bacaan Kedua: Efesus 5:8–14 – Hidup sebagai Anak-Anak Terang)

Lalu, apa konsekuensi dari memiliki mata yang mampu melihat ini? Bacaan kedua dari Surat Efesus memberi jawabannya: ”Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Perhatikan kata-kata Paulus. Ia tidak berkata, “kamu berada dalam kegelapan”, melainkan “kamu adalah kegelapan.” Itulah masa lalu kita. Namun sekarang, karena Kristus, hakikat kita telah berubah. Kita adalah terang. Panggilan kita bukan hanya untuk “berada di dalam terang”, tetapi untuk menjadi terang itu sendiri di tengah dunia.

Sebagai anak-anak terang, hidup kita harus menghasilkan buah yang baik, adil, dan benar. Hidup sebagai terang berarti berani menampakkan identitas kita sebagai pengikut Kristus dalam tindakan nyata, bukan hanya di dalam gereja. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang majemuk, menjadi terang berarti:

·         Menjadi pembawa damai. Ketika isu SARA mudah dipolitisasi, kita dipanggil menjadi agen perekat, bukan pemecah belah. Tunjukkan bahwa iman Katolik mengajarkan kasih yang universal, melampaui batas suku dan golongan. Sapa tetangga yang berbeda keyakinan dengan ramah, bantu mereka yang kesusahan tanpa memandang latar belakang.

·         Hidup jujur dan transparan. Di dunia yang penuh “kegelapan” berupa korupsi, kolusi, dan kebohongan—baik dalam pekerjaan, politik, maupun kehidupan sehari-hari—orang Katolik harus menjadi pribadi yang berintegritas. Kejujuran adalah cahaya yang sangat terang di tengah kegelapan.

·         Berani menegur dalam kasih. Seperti yang dikatakan Paulus, “Segala sesuatu yang nyata menjadi terang.” Kita tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan atau perilaku yang merusak komunitas. Teguran yang dilakukan dengan kasih adalah partisipasi kita dalam karya Kristus yang membawa terang ke dalam kegelapan.

(Bacaan Injil: Yohanes 9:1–41 – Mata yang Terbuka melalui Iman)

Pembukaan mata rohani ini digenapi secara ajaib dalam kisah Injil Yohanes tentang orang buta sejak lahir. Ini adalah kisah yang sangat panjang dan kaya. Yesus menyembuhkan orang buta itu; bukan hanya matanya yang terbuka, melainkan juga hatinya. Ia mulai melihat Yesus bukan hanya sebagai seorang yang bernama Yesus (Yoh 9:11), lalu sebagai seorang nabi (Yoh 9:17), dan akhirnya bersembah sujud kepada-Nya sebagai Anak Manusia, Tuhan (Yoh 9:35–38).

Yang menarik, ironisnya, orang-orang Farisi dan bahkan para tetangga yang “melihat” secara fisik justru buta secara rohani. Mereka terperangkap pada aturan-aturan lahiriah—Yesus menyembuhkan pada hari Sabat—sehingga gagal melihat karya Allah yang agung di depan mata mereka. Mereka mengusir orang yang disembuhkan itu.

Saudara-saudari, konteks ini banyak berbicara kepada kita. Di Sumatera Utara, kita adalah bagian dari Gereja yang memiliki tradisi dan aturan. Itu baik. Namun, jangan sampai kita seperti orang Farisi. Jangan sampai kita lebih mementingkan “kulit luar” agama—formalitas, struktur, identitas kelompok—sehingga buta terhadap kebutuhan sesama yang nyata. Ada begitu banyak “kebutaan” di sekitar kita: kemiskinan di perkotaan, ketidakadilan di pedesaan, anak-anak putus sekolah, orang tua terlantar. Apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka sebagai saudara yang membutuhkan uluran tangan kasih Kristus, ataukah kita hanya sibuk dengan urusan internal kita sendiri?

Penyembuhan orang buta ini adalah undangan bagi kita untuk membuka mata iman, untuk melihat Yesus yang hadir dan berkarya secara tak terduga, sering kali melalui orang-orang kecil dan sederhana.

Saudara-saudari terkasih,

Bayangkan jika setiap dari kita, umat Katolik di Sumatera Utara, benar-benar menjadi “anak-anak terang”. Bayangkan jika di tempat kerja, di pasar, di angkutan umum, di lingkungan adat, kita dikenal sebagai pribadi yang jujur, adil, dan penuh kasih. Bayangkan jika identitas Katolik kita tidak hanya terlihat saat misa hari Minggu atau saat pesta perkawinan di gereja, tetapi terpancar dari cara kita menghargai setiap orang, dari cara kita “melihat hati” mereka seperti Tuhan melihat.

Panggilan kita di masa Prapaskah ini adalah bertobat dari “kebutaan” kita. Mintalah ampun kepada Tuhan kalau selama ini kita lebih sering menilai orang dari luar. Mintalah ampun kalau kita lebih suka tinggal dalam “kegelapan” yang nyaman: kebiasaan buruk, gosip, prasangka, kemalasan berbuat baik. Dan mintalah rahmat untuk menjadi terang.

Seperti Daud yang diurapi menjadi raja, kita pun telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja dalam diri kita masing-masing melalui Sakramen Baptis. Urapan itu bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk misi: menjadi terang.

Seperti orang buta yang disembuhkan, kita pun telah mengalami sentuhan Yesus—mungkin tidak secara fisik, tetapi secara rohani dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan. Sentuhan itu seharusnya membuka mata kita lebar-lebar untuk melihat karya Allah dan melihat sesama dengan cara yang baru.

Marilah kita bertekad baru untuk tidak lagi melihat manusia menurut ukuran dunia, melainkan dengan mata iman yang melihat hati. Marilah kita menjadi terang di tengah keluarga kita, di tengah komunitas adat kita, dan di tengah masyarakat Sumatera Utara yang kita cintai ini. Dengan demikian, kita akan bersinar di tengah kegelapan, dan nama Tuhan akan dipermuliakan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

(Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)

 

DIBENARKAN KARENA RENDAH HATI (Sikap hati yang dibenarkan Allah: Merendahkan diri di hadapan-Nya)

RENUNGAN

Hari, Tanggal   :    Sabtu, 14 Maret 2026

Bacaan            :    Lukas 18:9-14

DIBENARKAN KARENA RENDAH HATI

(Sikap hati yang dibenarkan Allah: Merendahkan diri di hadapan-Nya)

 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus Yesus.

Coba kita bayangkan sejenak. Kita sedang berada di pelataran gereja yang megah. Dua orang masuk untuk berdoa. Yang satu berpakaian rapi, mungkin memakai ulos yang indah, mencerminkan status dan kehormatannya di masyarakat. Yang lain datang dengan pakaian biasa, bahkan agak lusuh, dan memilih duduk di bangku paling belakang, hampir tak ingin dilihat orang. Siapa di antara kedua orang ini yang pulang ke rumahnya dalam keadaan berkenan di hati Tuhan?

Inilah pertanyaan radikal yang diajukan Yesus dalam perumpamaan yang kita baca dari Injil Lukas 18:9-14. Teks suci ini ditujukan secara khusus "kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain." Sebuah teguran yang sangat keras, tetapi juga sebuah undangan yang lembut untuk masuk lebih dalam ke dalam relasi sejati dengan Allah.

Hari ini, di tanah Sumatera Utara yang kaya budaya dan tradisi, kita akan merenungkan satu tema pokok, yaitu “Sikap hati yang dibenarkan Allah: merendahkan diri di hadapan-Nya.” Di tengah gengsi budaya Dalihan Na Tolu (bagi kita yang berlatar Batak) atau dalam interaksi sosial yang menghargai status dan martabat, bagaimana kita bisa hidup dalam kebenaran Allah tanpa jatuh pada perangkap kesombongan rohani? Mari kita berjalan bersama menuju Bait Allah melalui perikop ini.

Pertama, kita melihat orang Farisi. Ia berdiri sendirian. Ia berdoa, tetapi sebenarnya ia berbicara tentang dirinya sendiri di hadapan Allah. Ucapannya, "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain..." Perhatikan, syukurnya bukan karena kebesaran Allah, melainkan karena perbandingan dengan orang lain. Ia menjalankan kewajiban agamanya dengan baik: berpuasa dua kali seminggu (padahal aturan hanya mewajibkan sekali setahun) dan memberikan persepuluhan. Dari luar, ia sempurna.

Namun Paus Fransiskus sering mengingatkan bahwa sikap ini adalah "penyakit rohani" yang paling halus: merasa diri lebih kudus dari orang lain. Ia memandang rendah pemungut cukai, sesama ciptaan Allah. Ia lupa bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia adalah pendosa yang butuh belas kasihan.

Kedua, mari kita arahkan pandangan kepada si pemungut cukai. Dalam konteks sosial-keagamaan saat itu, ia adalah "orang berdosa" karena bekerja untuk penjajah Romawi dan sering korupsi. Namun, lihatlah sikapnya. Ia berdiri "jauh-jauh," bahkan tidak berani menengadah ke langit. Ia memukul dadanya, tanda dukacita yang mendalam.

Doanya hanya satu kalimat: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Kata "kasihanilah" dalam bahasa aslinya (Yunani: hilaskomai) mengandung arti "jadilah pendamaian bagiku." Ini adalah seruan iman yang sangat dalam. Ia tidak membawa apapun kecuali ketidaklayakannya. Ia datang dengan tangan kosong, dan justru di situlah Allah dapat memenuhinya dengan rahmat.

Perumpamaan ini sangat penting bagi kita di Sumatera Utara

Pertama, karena kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai "harga diri" (hasangapon). Dalam budaya Batak, misalnya, konsep hasangapon (kehormatan), hamoraon (kekayaan), dan hagabeon (kebahagiaan keturunan) adalah nilai-nilai luhur. Namun, nilai-nilai ini bisa menjadi jebakan rohani jika kita salah menempatkannya. Kita bisa saja rapi di gereja, aktif di segala kegiatan, memberikan persembahan yang besar, tetapi hati kita penuh dengan perbandingan: "Saya lebih aktif dari dia," "Saya lebih tahu liturgi dari orang itu," "Saya bukan seperti dia yang baru datang sebulan sekali." Inilah yang disebut “kesombongan rohani”, yang lebih berbahaya dari dosa-dosa lahiriah karena ia bersembunyi di balik jubah kesalehan.

Kedua, semangat Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga). Prinsip somba marhula-hula (hormat kepada pihak pemberi berkat), elek marboru (ramah kepada perempuan/boru), dan manat mardongan tubu (hati-hati dengan sesama marga) adalah landasan harmoni. Namun, harmoni sosial ini harus bersumber dari kerendahan hati di hadapan Tuhan. Jika kita hanya pandai merendah secara sosial karena takut gengsi, tetapi di hadapan Tuhan kita merasa hebat, maka kerendahan kita itu palsu. Kerendahan hati sejati dimulai dari mengakui bahwa di hadapan Allah, kita semua, apa pun marga atau status kita, adalah "pemungut cukai" yang butuh belas kasihan.

Ketiga, konteks kemajemukan. Kita hidup di Sumatera Utara yang majemuk, dengan saudara-saudari dari berbagai suku dan agama. Orang Farisi memisahkan diri dan memandang rendah orang lain. Orang yang dibenarkan Allah justru adalah mereka yang sadar akan dosanya sendiri, bukan yang sibuk menghakimi orang lain. Sikap rendah hati di hadapan Tuhan akan melahirkan sikap hormat dan rendah hati terhadap sesama manusia, apapun latar belakangnya.

Bagaimana kita sebagai "orang yang dibenarkan" seperti pemungut cukai itu?

Periksalah motivasi ibadah kita. Ketika kita datang mengikuti perayaan Ekaristi, ketika kita berdoa Rosario, ketika kita memberi persembahan, tanyakan pada diri kita: "Apakah ini untuk menunjukkan kesalehanku, atau untuk bertemu dengan Allah yang kudus?" Gereja mengajarkan bahwa doa adalah mengangkat hati kepada Tuhan. Jika doa kita berputar pada "aku, aku, aku," mungkin kita lebih mirip dengan orang Farisi.

Belajar dari inkulturasi iman. Indah sekali melihat bagaimana Gereja di Sumatera Utara, misalnya menggunakan Ulos dan perangkat adat dalam perayaan tertentu. Ini bukan sekadar estetika. Ini adalah pengakuan bahwa budaya kita dapat menjadi jalan untuk menghantar kita kepada Tuhan. Namun ingat, simbol-simbol budaya yang indah ini—ulos yang mahal, lagu-lagu Batak yang merdu—harus sepadan dengan kerendahan hati batin. Jangan sampai kita bangga dengan "kemasan" ibadah, tetapi hati kita kosong dari pengakuan akan dosa.

Mengasihi dengan tindakan. Orang yang merasa dibenarkan oleh Tuhan akan menjadi berkat. Jika kita sadar bahwa kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia, bukan karena jasa, maka kita tidak akan sulit mengasihi orang lain, termasuk mereka yang kita anggap "lebih berdosa" atau "lebih rendah" status sosialnya. Cobalah untuk lebih peka terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan, baik secara materi maupun rohani. Itulah wujud syukur kita yang sejati.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus menutup perumpamaan ini dengan satu hukum rohani yang kekal: "Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Kita boleh pulang dari rumah ibadat dengan hati yang tenang, bukan karena kita telah melakukan segala kewajiban agama, tetapi karena kita telah membuka hati bagi belas kasihan-Nya. Seperti pemungut cukai, mari kita tinggalkan segala topeng kesombongan di depan pintu Bait Allah. Mari kita datang dengan jujur di hadapan Tuhan, mengakui: "Tuhan, aku ini orang berdosa. Kasihanilah aku." Maka, dengan penuh keyakinan iman, kita tidak hanya pulang sebagai orang yang puas secara agama, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang telah dibenarkan dan diperbarui oleh kasih karunia Allah.

Semoga Roh Kudus menuntun kita agar kita dapat menjadi garam dan terang bagi sesama, dengan hati yang rendah dan penuh syukur. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag 

(Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)


 

Rabu, 11 Maret 2026

KITA HARUS TURUN, BERHENTI, DAN MELIHAT MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DI SEKITAR KITA

RENUNGAN HARIAN

Hari, Tanggal  :    Jumat, 13 Maret 2026

Bacaan            :    Markus 12:28b-34

 

KITA HARUS TURUN, BERHENTI, DAN MELIHAT MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DI SEKITAR KITA




 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pernahkah kita merasa sudah melakukan segalanya dengan benar dalam beragama? Rajin ke gereja, setia berdoa, bahkan aktif dalam kegiatan sosial? Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin mengganggu di lubuk hati: apakah semua itu sudah cukup?

Hari ini, Injil Markus membawa kita ke sebuah percakapan yang teduh namun mendalam di Bait Allah. Seorang ahli Taurat, yang mungkin lelah dengan perdebatan para rabi tentang mana hukum yang terberat dan teringan di antara 613 perintah Taurat, datang kepada Yesus dengan pertanyaan jujur, "Perintah manakah yang paling utama?"

Yesus tidak terjebak dalam perdebatan. Ia menjawab dengan merajut dua kutipan dari kitab suci mereka sendiri. Pertama, Shema Israel, doa inti yang setiap hari terucap dari bibir orang Yahudi: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu." Lalu, tanpa jeda, Ia menambahkan perintah kedua yang "sama dengan itu": "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Dua perintah ini, bagi Yesus, adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Seperti nafas yang keluar dan masuk. Tak mungkin kita mengaku mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, jika kita menutup mata terhadap sesama yang ada di hadapan kita.

Saudara terkasih, mari kita bawa renungan ini ke tanah kelahiran kita, Sumatera Utara. Di sini, kita memiliki kekayaan budaya Batak yang luhur dengan filosofi Dalihan Na Tolu (tungku nan tiga). Almarhum Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dengan indah pernah menyublimasikan nilai ini dalam terang iman. Beliau memaknai Somba Marhula-hula (hormat kepada pihak hula-hula) sebagai lambang hubungan vertikal kita kepada Tuhan—sumber berkat dan kehidupan. Sementara Elek Marboru (mengayomi pihak boru) dan Manat Mardongan Tubu (saling menjaga dengan sesama semarga) adalah perwujudan nyata dari kasih horizontal kepada sesama.

Filosofi luhur ini mengajarkan kita bahwa ibadah kepada Tuhan dan kepedulian kepada manusia adalah satu paket yang utuh. Namun, dalam keseharian, seringkali kita tergoda untuk memisahkannya. Ada godaan untuk menjadi saleh di dalam gereja. Kita bangga dengan megahnya rumah ibadah di kota Medan, atau semangat umat di stasi-stasi terpencil Nias dan Tapanuli. Kita sibuk mempersembahkan kurban dan doa. Tetapi, pada saat yang sama, hati kita tuli terhadap tangisan "Yerikho" di sekitar kita—tangisan para perantau yang kesepian, tangisan keluarga miskin di pesisir Sibolga yang hidupnya terhimpit, atau tangisan mereka yang tersingkirkan karena berbeda suku dan keyakinan.

Sebaliknya, ada juga godaan untuk menjadi aktif secara sosial. Kita sibuk dengan kegiatan Elek Marboru, memberikan bantuan, dan terlibat dalam berbagai organisasi kemanusiaan. Namun, jika semua itu tidak bersumber dari perjumpaan pribadi dengan Sang Sumber Kasih, hati kita bisa menjadi kering. Kita memberi, tetapi mungkin karena gengsi, karena tradisi, atau karena ingin dipuji, bukan karena sungguh-sungguh melihat wajah Kristus dalam diri sesama.

Di sinilah pesan Yesus menjadi sangat tajam. Ahli Taurat dalam Injil hari ini memahami hal ini. Ia bahkan berkata bahwa mengasihi Allah dan sesama "jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Sebuah pengakuan yang revolusioner, yang diucapkannya tepat di tengah Bait Allah yang megah, pusat segala ritual kurban. Yesus melihat kedalaman pemahamannya dan berkata, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."

Saudara-saudari, apa artinya "tidak jauh"? Artinya, kita bisa saja memiliki pemahaman yang benar, teologi yang tepat, dan tradisi yang indah. Tetapi semua itu akan sia-sia jika hanya berhenti di kepala dan tidak menjelma menjadi tindakan. IKKSU (Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara) di perantauan, misalnya, memiliki tekad mulia untuk memastikan tak ada sesama perantau yang kelaparan atau kesepian di rumah sakit. Itulah wujud kasih sesama yang nyata. Namun, seperti diingatkan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, panggilan kita bukan sekadar untuk "mendapat" atau memberi secara seremonial, tetapi untuk "memberi diri". Prinsipnya, not to have but to give.

Memberi diri berarti kita harus keluar dari zona nyaman. Kita harus berhenti, seperti Yesus yang berhenti di Yerikho untuk Bartimeus, si pengemis buta yang tersisihkan. Kita harus turun dan melihat secara langsung penderitaan orang lain. Dalam masyarakat kita yang majemuk—dengan Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Nias, Jawa, Tionghoa, India, dan lainnya—kasih yang sejati tidak boleh diskriminatif. Perbedaan suku, agama, ras, dan budaya tidak boleh menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling mengasihi.

Kita bangga menjadi orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, atau orang Medan. Itu adalah anugerah. Budaya adalah jalan kita menuju Tuhan. Namun, identitas kultural kita tidak boleh lebih besar daripada identitas kita sebagai murid Yesus. Salib Kristus adalah pemersatu sejati. Jika kita sungguh mengasihi, kita tak akan membiarkan perbedaan marga, asal-usul, atau status sosial menghalangi kita untuk berbagi kasih.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita naik ke Yerusalem, berjumpa dengan Tuhan dalam doa dan Ekaristi. Marilah kita membarui hati kita dengan Shema yang baru: "Dengarlah, hai umat Katolik, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Dia dengan segenap hati." Tetapi ingatlah, jalan menuju Yerusalem harus melewati Yerikho. Kita harus turun, berhenti, dan melihat mereka yang terpinggirkan di sekitar kita.

Orang yang tidak jauh dari Kerajaan Allah adalah orang yang tahu persis ke mana ia harus pergi, dan tahu persis jalan apa yang harus ditempuh. Yesus berkata, "Akulah Jalan." Dan jalan itu adalah Jalan Kasih: kasih kepada Allah yang Esa dan kasih kepada sesama yang konkret. Semoga kita, tidak hanya "tidak jauh" dari Kerajaan Allah, tetapi sungguh masuk dan menghadirkan Kerajaan itu di Tanah Sumatera Utara yang kita cintai, mulai dari hari ini. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

 

MERAJUT PERSAUDARAAN SEJATI DI TANAH YANG SUBUR

RENUNGAN HARIAN

Hari, Tanggal  :    Kamis, 12 Maret 2026
Bacaan Injil     :    Lukas 11:14-23

MERAJUT PERSAUDARAAN SEJATI DI TANAH YANG SUBUR




Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Kita hidup di tanah yang subur, Sumatera Utara. Tanah ini memberkati kita dengan panorama indah dan hasil bumi yang melimpah. Namun, kita juga menyadari, di tengah kesuburan itu, ada banyak “hama” yang mengancam—bukan hanya hama tanaman, tetapi juga hama kehidupan bersama: egoisme kesukuan yang berlebihan (parokialisme), prasangka buruk antarkelompok, berita bohong (hoaks) yang memecah belah, serta gaya hidup yang hanya mengejar materi. Semua ini adalah belenggu modern yang membuat kita bisu untuk bersyukur dan tuli terhadap tangisan sesama.

Bacaan Injil Lukas 11:14-23 hari ini berbicara tepat tentang realitas tersebut. Yesus berhadapan langsung dengan kuasa yang membelenggu manusia, dan Ia menunjukkan jalan menuju pembebasan sejati. Marilah kita renungkan sabda Tuhan ini, agar kita semakin berani berpihak kepada-Nya, Sang “Lebih Kuat” yang membebaskan.

Perikop Injil bercerita tentang Yesus yang mengusir setan bisu. Seorang yang terbelenggu akhirnya bisa berbicara. Namun, respons orang-orang pun beragam. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebul, pemimpin setan. Bahkan, ada yang meminta tanda lain dari surga. Mereka menolak terang yang jelas-jelas sudah bersinar di depan mata. Ironis, bukan? Di hadapan karya pembebasan yang nyata, mereka justru mencari-cari kesalahan. Hal ini mengingatkan kita pada tuduhan-tuduhan tak berdasar yang kerap dialamatkan kepada Gereja atau sesama di dunia digital saat ini.

Yesus membantah tuduhan itu dengan logika sederhana: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa.” Mustahil Iblis mengusir Iblis; itu sama saja bunuh diri. Lalu Yesus menggunakan frasa yang sangat indah, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan jari Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Frasa “jari Allah” mengingatkan kita pada kisah Musa ketika tulah menimpa Mesir. Para ahli sihir Firaun pun mengakui, “Inilah jari Allah” (Kel. 8:19). Itulah kuasa ilahi yang otentik. Yesus menegaskan bahwa kuasa pembebasan ini bukan berasal dari dunia gelap, melainkan tanda nyata bahwa Kerajaan Allah—pemerintahan kasih dan kebenaran—telah hadir di tengah-tengah mereka. Hanya dengan jari-Nya, Allah membebaskan. Ini menunjukkan bahwa bagi Allah, tidak ada belenggu yang terlalu kuat.

Yesus memperdalam ajaran-Nya dengan perumpamaan: Iblis itu seperti “orang kuat” yang menjaga rumahnya dengan senjata lengkap. Namun, Yesus adalah “Yang Lebih Kuat” yang datang untuk mengalahkannya. Inilah inti peperangan rohani. Yesus datang bukan untuk berdiplomasi dengan kejahatan, tetapi untuk merampas jarahan dan membebaskan para tawanan. Kemenangan ini menjadi fondasi pengharapan kita. Kita tidak perlu takut pada kuasa kegelapan, karena Kristus telah mengalahkannya secara mutlak.

Dan inilah pesan yang paling tajam dan relevan bagi kita: *“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” * Yesus menegaskan bahwa dalam peperangan rohani ini tidak ada zona abu-abu. Tidak ada sikap netral. Hidup kita adalah medan perang antara kasih dan kebencian, antara kejujuran dan kecurangan, antara persatuan dan perpecahan. Jika kita tidak aktif mengumpulkan bersama Kristus—bersatu, membangun, merajut—maka secara tidak sadar kita sedang mencerai-beraikan. Sikap masa bodoh, acuh tak acuh terhadap sesama, sama saja dengan memberi ruang bagi musuh untuk bekerja.

 

Saudara-saudari terkasih,

Apa artinya semua ini bagi kita yang hidup sebagai warga Katolik di Sumatera Utara?

Pertama, melawan belenggu modern dengan kuasa Kristus. Belenggu kita hari ini tidak selalu berupa kerasukan demoniak, tetapi bisa berupa “setan bisu” modern: ketidakmampuan kita untuk bersuara membela kebenaran karena takut, atau keengganan kita untuk memuji Tuhan karena sibuk dengan urusan dunia. Ada juga “setan tuli”: tidak mau mendengar nasihat, tidak mau mendengar suara hati nurani, dan tidak peduli pada seruan kaum miskin dan terpinggirkan. Yesus, Sang “Lebih Kuat”, telah memberi kita kuasa-Nya. Kita dipanggil untuk menggunakan kuasa kasih itu: melawan hoaks dengan kebenaran, melawan ujaran kebencian dengan kata-kata yang membangun, dan melawan ketidakadilan dengan aksi nyata.

Kedua, membangun persaudaraan sejati di atas perbedaan. Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, berulang kali mengajak kita untuk menciptakan komunitas yang sinodal, kondusif, dan formatif. Di Sumatera Utara, kita hidup bersama dengan berbagai suku: Batak, Jawa, Tionghoa, Tamil, Nias, Melayu, dan lainnya. Kita memiliki Gereja Graha Maria Annai Velangkanni di Medan yang indah, dengan arsitektur yang memadukan budaya Tamil, Katolik, bahkan nuansa Islam. Gereja itu menjadi simbol inkulturasi dan toleransi yang nyata. Inilah “jari Allah” yang bekerja! Inilah bukti bahwa Kerajaan Allah hadir ketika kita mampu merangkul perbedaan dan menciptakan keindahan bersama.

Almarhum Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, pendahulu kita, pernah berpesan agar umat Katolik Sumatera Utara jangan menjadi kelompok yang eksklusif, melainkan membangun persaudaraan dengan semua suku. Bersikap eksklusif, hanya nyaman dengan kelompok sendiri, adalah bentuk “mencerai-beraikan”. Sebaliknya, merangkul sesama yang berbeda adalah wujud nyata “mengumpulkan bersama Kristus”.

Ketiga, berpihak secara sadar dan aktif. Tidak ada netralitas! Entah kita sedang bekerja, bergaul di lingkungan, atau bermedia sosial, kita selalu dihadapkan pada pilihan: apakah sikap kita membangun atau menghancurkan? Apakah kata-kata kita mengobati atau melukai? Apakah tindakan kita mempersatukan atau memecah belah? Menjadi pengikut Kristus berarti secara sadar memilih untuk berada di pihak-Nya, yaitu pihak kasih, kebenaran, dan persaudaraan. Ini adalah perjuangan iman yang terus-menerus, seperti yang telah dicontohkan para kudus dan tokoh iman kita.

Marilah, saudara-saudari terkasih. Tuhan Yesus, Sang “Lebih Kuat”, telah memenangkan pertempuran di kayu salib. Ia telah membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut. Sekarang, Ia memanggil kita untuk menjadi rekan kerja-Nya di tanah Sumatera Utara yang kita cintai ini.

Jangan biarkan diri kita kosong kembali setelah dibersihkan. Isilah hati dan pikiran kita dengan Roh Kudus, dengan Sabda Tuhan, dan dengan kasih yang aktif. Jadilah terang dan garam. Berpihaklah selalu kepada Kristus, dengan merajut persaudaraan, membangun dialog, dan berani melawan segala bentuk kejahatan yang berkedok kewajaran.

Karena barangsiapa tidak bersama Yesus, ia melawan Yesus. Dan syukurlah, kita memilih untuk bersama-Nya, Sang Gembala Baik yang mengumpulkan kita semua dalam satu kawanan, dalam kasih yang tak terbagi. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)


Selasa, 10 Maret 2026

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan, Bukan Belenggu Yang Membatasi

 

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan,

Bukan Belenggu Yang Membatasi


(Matius 5:17-19)




Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita yang sedang berjuang menghidupi iman di tengah kesibukan harian kita. Baik kita yang pagi-pagi sudah berjibaku dengan macet di Jalan, para orangtua yang sibuk mengantar anak ke sekolah, para petani dan pekebun yang setia mengolah tanah, para buruh dan pekerja di kawasan industri, maupun para pelajar dan mahasiswa yang haus akan ilmu. Di tengah peluh dan perjuangan kita, firman Tuhan hari ini hadir menyapa kita.

Hari ini, kita merenungkan Injil Matius 5:17-19. Ini adalah bagian dari khotbah di bukit, ajaran agung Yesus di awal pelayanan-Nya. Di ayat-ayat ini, Yesus dengan tegas berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

Pernyataan ini sangat penting. Yesus seolah ingin meluruskan kesalahpahaman. Mungkin ada yang mengira bahwa ajaran kasih yang dibawa-Nya akan menggantikan semua aturan dan hukum yang sudah berabad-abad menjadi pegangan umat. Bisa jadi, kita pun kadang berpikir serupa: "Ah, yang penting kan kasih, yang penting kan hati. Aturan-aturan Gereja, hukum-hukum moral, itu semua 'kan cuma formalitas, yang penting kan perbuatan baik."

Namun, Yesus dengan jelas membantah anggapan itu. Kedatangan-Nya bukan untuk meruntuhkan fondasi lama, melainkan untuk menyempurnakannya, menggenapinya, dan mengembalikannya pada makna yang paling hakiki. Hari ini, mari kita renungkan satu tema sentral: Hukum Kasih adalah fondasi yang membebaskan, bukan belenggu yang membatasi. Bagaimana kita, sebagai warga Sumatera Utara yang majemuk ini, dapat memahami dan menghidupi kebenaran ini?

Saudara-saudari, bayangkan sebuah rumah tradisional Batak Toba. Rumah itu berdiri kokoh karena memiliki tiang-tiang penyangga yang kuat dengan batu dan tertancap dalam di tanah. Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah tiang-tiang penyangga itu. Mereka adalah fondasi yang diajarkan Allah sendiri kepada umat-Nya untuk membedakan yang baik dan yang jahat, yang kudus dan yang najis. Sepuluh Perintah Allah adalah fondasi itu.

Yesus tidak datang untuk membongkar fondasi itu. Justru, Ia datang untuk membangun rumah di atas fondasi itu, untuk menunjukkan seperti apa seharusnya kehidupan yang berdiri di atas fondasi Allah itu. Jika kita hanya terpaku pada tiang penyangga, kita hanya melihat aturan-aturan kering: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri. Itu semua benar dan baik, tetapi jika berhenti di situ, iman kita bisa menjadi legalistik, hanya soal memenuhi kewajiban, tidak lebih.

Yesus "menggenapi" artinya Ia memberi jiwa pada fondasi itu. Ia masuk ke dalam inti dari setiap hukum. Misalnya, tentang "jangan membunuh". Yesus memperdalamnya: jangan marah terhadap saudaramu tanpa sebab (Matius 5:21-22). Di sini, hukum kasih bekerja. Bukan hanya soal menghindari tindakan fisik, tetapi juga soal mengelola hati. Jika kita marah kepada rekan kerja, jika kita mendendam kepada tetangga, bukankah kita sudah "membunuh" sukacita dan kerukunan? Di lingkungan kita yang majemuk di Sumatera Utara, di mana kita hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama, sabda Yesus ini sangat relevan. Kemarahan yang tidak terkendali, prasangka, bisa menjadi api dalam sekam yang merusak persaudaraan. Hukum kasih memanggil kita untuk tidak hanya tidak membunuh, tetapi juga aktif membangun perdamaian.

Di sinilah kita sering dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, ada godaan untuk menjadi seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Kita bisa saja rajin ke Gereja tiap Minggu, rajin memberi persembahan, rajin mengikuti segala aturan Gereja. Namun di sisi lain, hati kita mungkin jauh dari kasih. Kita mungkin pelit terhadap pembantu rumah tangga, kita mungkin cuek terhadap sesama yang kesusahan di lingkungan kita, kita mungkin mudah menghakimi orang lain yang tidak se-"kita". Ini adalah sikap "taat buta" yang kering dan tidak berbuah.

Di sisi lain, ada godaan yang tak kalah besarnya, yaitu mentalitas "yang penting kasih". Ini adalah godaan masa kini. Kita berkata, "Ah, yang penting mah kasih sama Tuhan, sama sesama. Ngapain ribet-ribet dengan aturan?" Akibatnya, kita bisa saja seenaknya sendiri. Kita mulai meninggalkan Ekaristi Minggu dengan alasan sibuk. Kita mengabaikan ajaran Gereja tentang moral perkawinan. Kita merasa cukup dengan menjadi orang "baik" menurut ukuran kita sendiri. Ini adalah kasih tanpa arah, yang berujung pada relativisme: semua boleh, semua baik, karena ukurannya hanya perasaan saya.

Di tengah arus dunia yang semakin sekuler ini, umat di Sumatera Utara ini menghadapi tantangan nyata. Di kota besar, ada godaan materialisme dan individualisme. Di perkebunan, ada godaan ketidakadilan dan eksploitasi. Di mana-mana, ada godaan untuk mengompromikan iman demi kenyamanan atau keuntungan duniawi.

Yesus mengingatkan kita untuk tidak jatuh ke kedua jurang itu. Ayat 19 berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga."

Ini bukan tentang peringkat di surga, tetapi tentang konsekuensi dari pilihan hidup kita. Jika kita menganggap remeh perintah Tuhan yang "kecil" sekalipun, kita sedang merusak keutuhan iman kita sendiri dan bisa menyesatkan orang lain. Kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah cerminan kesetiaan dalam hal-hal besar.

Lalu, bagaimana kita, sebagai murid-murid Yesus di tanah Sumatera Utara ini, menghidupi hukum kasih yang digenapi Yesus ini?

Pertama, hiduplah dengan penuh kesadaran. Ketika kita pergi ke Gereja, jangan lakukan hanya sebagai rutinitas. Sadari bahwa kita sedang bertemu dengan Tuhan yang adalah Kasih itu sendiri. Ketika kita berdoa, ketika kita memberi, lakukanlah dengan hati yang penuh syukur dan cinta. Kasih memberi makna pada setiap tindakan lahiriah kita. Ibadah kita menjadi ekspresi kasih, bukan sekadar kewajiban.

Kedua, wujudkan kasih dalam tindakan nyata di lingkungan kita. Sebagai warga Katoli,  kita punya banyak kesempatan. Mungkin kita bisa terlibat dalam kegiatan lingkungan, menjadi pengurus lingkungan, atau aktif dalam legio Maria, dan sebagainya. Kasih itu konkret. Membantu tetangga yang sedang kesusahan, menyapa pedagang di pasar, tersenyum pada pengemudi becak, bersikap adil kepada karyawan kita – itulah bentuk-bentuk nyata dari "melakukan" perintah Tuhan. Inilah cara kita menggenapi hukum Taurat dalam kehidupan sehari-hari, di tengah kemajemukan masyarakat Sumatera Utara. Sikap hormat dan cinta kita kepada sesama, apapun latar belakangnya, adalah kesaksian iman yang paling otentik.

Ketiga, biarkan hukum Tuhan menuntun kita menuju kebebasan sejati. Mungkin kita berpikir aturan itu mengekang. Tapi coba kita renungkan: mengapa ada rambu-rambu lalu lintas? Bukan untuk mengekang pengemudi, tetapi untuk mengatur lalu lintas agar semua selamat dan lancar sampai tujuan. Demikian pula hukum Tuhan. Hukum kasih yang diajarkan Yesus bukanlah belenggu yang membuat kita takut melangkah, melainkan pagar yang melindungi kita dari jurang kehancuran. Pagar itu menjaga kita tetap berada di jalan yang menuju kepada kebahagiaan sejati, kepada kepenuhan hidup bersama Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Ia adalah penggenapan itu sendiri. Dalam diri Yesus, kita melihat wujud sempurna dari hukum kasih: Ia setia kepada Bapa sampai mati di kayu salib, dan dalam kesetiaan itu, Ia mewujudkan kasih yang paling agung, yaitu memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, bagi kita semua.

Marilah kita belajar dari Yesus. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya taat secara lahiriah, tetapi hatinya kosong. Jangan pula menjadi orang Kristen yang mengaku cinta Tuhan, tetapi hidupnya semaunya sendiri. Jadilah murid-murid yang sejati, yang memahami bahwa setiap perintah Tuhan adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih-Nya.

Dengan berpegang teguh pada fondasi iman yang kokoh, dan menghidupinya dengan semangat kasih yang membebaskan, kita akan menjadi berkat bagi keluarga kita, bagi lingkungan kita, dan bagi Gereja kita tercinta.

Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati kita semua dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

 

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

 

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

(Matius 18:21-35)




Saudara-saudari terkasih, umat Tuhan yang berbahagia.

Kita hidup di tanah yang subur, dikelilingi oleh gunung yang hijau, perkebunan yang luas, dan kota yang terus berkembang. Kita adalah gambaran indah dari kebhinekaan: Batak, Jawa, Tionghoa, Melayu, Nias, dan berbagai suku lainnya, hidup berdampingan sebagai saudara seiman dan sebangsa. Kita tahu, hidup dalam keberagaman adalah sebuah rahmat, namun juga tantangan. Kadang, gesekan kecil bisa terjadi. Mungkin karena urusan lahan, masalah bisnis, perselisihan antartetangga, atau salah paham dalam pergaulan sehari-hari.

Di tengah realitas itulah, firman Tuhan hari ini dari Injil Matius berbicara sangat keras dan jelas. Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering terlintas di benak kita, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21).

Tujuh kali, dalam pemikiran Petrus, itu sudah angka yang luar biasa besar dan murah hati. Dia merasa sudah memberikan batas maksimal dari kesabaran. Tapi jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:22).

Yesus tidak sedang mengajak kita menghitung sampai 490 kali. Ia sedang meruntuhkan logika hitung-hitungan manusia. Di Kerajaan Surga, pengampunan tidak punya batas. Ia seperti kasih Bapa yang tak terhingga. Untuk menjelaskan hal ini, Yesus lalu menceritakan sebuah perumpamaan yang sangat kuat.

Perumpamaan itu berkisah tentang seorang hamba yang berutang 10.000 talenta. Saudara-saudari, coba kita bayangkan angka ini dalam konteks kita di Medan. Satu talenta adalah upah seorang buruh selama 20 tahun. Maka 10.000 talenta adalah utang yang mustahil dibayar, mungkin setara dengan utang negara atau perusahaan raksasa. Hamba itu tidak punya harapan.

Saat tuannya memerintahkan untuk menjual dia dan keluarganya untuk membayar utang, si hamba tersungkur dan memohon, "Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan" (Mat 18:26). Ini janji yang mustahil. Tapi lihatlah hati tuannya: "Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya" (Mat 18:27).

Inilah gambaran Allah kita. Bukan karena kita sanggup membayar, bukan karena kita layak, tetapi karena belas kasihan-Nya yang tak terduga, Ia menghapus seluruh dosa kita, seluruh "utang" kita kepada-Nya. Ia memberikan kita hidup baru, tanpa ikatan.

Namun, cerita ini berubah tragis. Hamba yang baru saja menerima pengampunan sebesar 10.000 talenta itu keluar dan bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. 100 dinar adalah utang kecil, kira-kira upah 100 hari kerja. Bandingkan dengan 10.000 talenta yang setara dengan 60 juta dinar! Utang temannya itu bagaikan setetes air dibandingkan samudra utang yang baru saja dihapuskan.

Apa yang terjadi? Ia menagih dengan kasar, mencekik leher temannya, dan bahkan ketika temannya memohon dengan kata-kata yang persis sama seperti dulu ia mohon kepada tuannya, "Sabarlah dahulu, hutangku akan kulunaskan" (Mat 18:29), hamba itu tidak tergerak. Hatinya keras. Ia memasukkan temannya ke dalam penjara.

Saudara-saudari, bukankah ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita merayakan pengampunan Tuhan setiap hari Minggu, kita menerima komuni kudus, tetapi begitu keluar dari pintu gereja, kita bertemu dengan saudara, rekan kerja, atau tetangga yang pernah menyakiti kita. Mungkin sakit hati itu masih membekas. Lalu kita berkata dalam hati, "Saya tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah terlalu keterlaluan."

Di kota Medan dan sekitarnya yang dinamis ini, banyak "utang" yang mungkin kita pegang:

Utang harga diri: Mungkin kita pernah direndahkan atau dilecehkan dalam pergaulan. Utang materi: Mungkin ada saudara atau teman yang belum mengembalikan uang pinjamannya. Utang perasaan: Mungkin ada konflik keluarga, warisan yang tidak kunjung selesai, atau pernikahan yang retak karena perselingkuhan.

Semua itu adalah "100 dinar" kita. Sakitnya nyata, lukanya dalam. Tetapi ketika kita melihat salib Kristus, kita diingatkan akan "10.000 talenta" kita, yaitu dosa-dosa kita yang tak terbayar, yang telah ditebus oleh darah-Nya. Bagaimana mungkin kita yang telah diampuni sebanyak itu, masih tega membiarkan saudara kita sendiri masuk "penjara" karena sakit hati kita? "Penjara" itu bisa berupa kebencian, dendam, gunjingan, atau sikap dingin yang berkepanjangan. Di paroki kita, di lingkungan kita, mungkin ada "penjara-penjara" kecil yang kita ciptakan karena kita tidak mau mengampuni.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan peringatan keras: "Bapa-Ku yang di sorga juga akan berbuat demikian terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat 18:35).

Pengampunan bukan sekadar perasaan hangat atau kata "saya maafkan" di bibir. Pengampunan adalah keputusan radikal untuk melepaskan hak kita untuk membalas dendam. Ini adalah proses, sebuah perjuangan. Namun, kita tidak berjuang sendirian. Roh Kudus, yang kita terima dalam sakramen, memberi kita kekuatan untuk mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita.

Marilah kita dengan tekad baru: mengingat kasih karunia Tuhan. Setiap kali kita merasa berat untuk mengampuni, ingatlah betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan. Lihatlah lagi salib-Nya. Marilah kita mulai dari hal kecil. Mungkin ada seseorang yang dekat dengan kita yang perlu kita maafkan. Jangan tunda. Ucapkan dalam hati, doakan dia, atau jika perlu, sambung kembali komunikasi dengan rendah hati. Marilah kita membangun komunitas yang mengampuni. Sebagai umat Keuskupan Agung Medan, mari kita jadi saksi bahwa di tengah masyarakat yang majemuk ini, pengampunan Kristus sanggup mempersatukan kita. Jadilah agen rekonsiliasi di keluarga, tempat kerja, dan lingkungan kita.

Saudara-saudari, Tuhan telah membebaskan kita dari utang dosa yang tak terbayarkan. Jangan biarkan kita kembali menjadi budak dengan memenjarakan sesama dalam ketidakmaafan kita. Mari kita belajar mengampuni dengan segenap hati, karena hanya dengan hati yang bebas dan penuh pengampunan, kita benar-benar dapat merasakan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Damai Kristus, yang lahir dari pengampunan sejati, kiranya menyertai kita semua, di sini, di tanah Sumatera Utara yang kita cintai. Amin.

 

(Sorang Tumanggor S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)