Senin, 09 Maret 2026

BERJALAN BERSAMA ATAU MENCERAI-BERAIKAN?

 

BERJALAN BERSAMA ATAU MENCERAI-BERAIKAN?

Lukas 11:14-23



Saudara-saudari terkasih,

Kita semua tentu masih ingat suasana duka yang mendalam ketika Ompung kita, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, menghadap Bapa pada Oktober tahun lalu. Di saat kehilangan itu, lonceng di seluruh gereja Keuskupan Agung Medan berbunyi serempak pada pukul 15.00, memohonkan kerahiman Ilahi. Peristiwa itu menyatukan kita dalam doa. Namun, kebersamaan ini mengingatkan kita pada pertanyaan mendasar: sebagai Gereja yang berduka, bersukacita, dan berziarah, sesungguhnya kita sedang berjalan ke arah mana? Apakah kita semua benar-benar berpihak kepada Kristus, ataukah tanpa sadar kita justru menghalangi pekerjaan-Nya?

Bacaan Injil hari ini membawa kita pada realitas perang rohani yang sangat gamblang. Yesus mengusir setan dari seorang bisu, dan ketika orang itu dapat berbicara, kontroversi pun pecah. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang menuduh Yesus bersekutu dengan Beelzebul, penghulu setan. Yang lain lagi meminta tanda dari surga. Dari sinilah Yesus memberikan pernyataan yang sangat tegas dan tidak kenal kompromi: "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan" (Luk 11:23).

Mari kita bayangkan diri kita berada di tengah kerumunan orang banyak itu. Seorang yang tadinya bisu karena kerasukan setan, tiba-tiba sembuh dan berbicara. Mukjizat itu nyata. Namun reaksi orang banyak terbelah. Tuduhan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa setan adalah tuduhan yang tidak masuk akal, seperti yang Yesus jelaskan: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa" (Luk 11:17). Tidak mungkin setan mengusir dirinya sendiri.

Namun, di balik tuduhan itu, kita melihat satu bahaya besar, yaitu menolak terang meskipun terang itu sudah bersinar. Para musuh Yesus menutup mata terhadap fakta. Mereka lebih nyaman dengan tuduhan dan fitnah daripada mengakui kebenaran. Sikap ini, tanpa sadar, bisa juga merasuki diri kita. Di Sumatera Utara yang luas—dengan berbagai tantangan di perkotaan, dataran tinggi, maupun pesisir—kita kerap dihadapkan pada karya-karya baik yang dilakukan oleh sesama, bahkan oleh mereka yang berbeda latar belakang dengan kita.

Ketika ada komunitas lain yang berhasil membangun jembatan, membantu korban bencana, atau memperjuangkan keadilan bagi masyarakat adat (seperti konflik di Sihaporas yang juga mendapat perhatian Gereja), apakah reaksi pertama kita adalah curiga? Apakah kita mudah menuduh motif tertentu di balik kebaikan? Atau bisakah kita melihat bahwa setiap kebaikan, di mana pun ia berasal, adalah percikan dari Kerajaan Allah yang sedang bekerja? Yesus mengingatkan bahwa jika Ia mengusir setan dengan jari Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah kita (Luk 11:20). Demikian pula, tanda-tanda kebaikan di sekitar kita adalah bukti bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya.

Inti dari perikop ini adalah ajakan untuk memihak. Yesus menggunakan dua gambaran: yang tidak bersama Aku, melawan Aku; yang tidak mengumpulkan, mencerai-beraikan. Tidak ada posisi netral dalam peperangan rohani. Ini adalah panggilan untuk mengambil sikap. Pilihan yang tegas: tidak ada zona abu-abu.

Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, dalam berbagai kesempatan terus menggemakan seruan untuk menjadi "Gereja yang keluar". Dalam homilinya pada Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, beliau menegaskan bahwa Gereja tidak boleh menunggu orang datang, tetapi harus pergi ke jalan-jalan dan persimpangan kehidupan. "Lebih baik Gereja yang terluka karena keluar ke jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri," demikian kutipan beliau dari Paus Fransiskus.

Nah, "keluar ke jalan" itu sendiri adalah sebuah tindakan memihak. Itu adalah tindakan memilih untuk bersama Yesus, yang justru selalu pergi mencari yang hilang. Jika kita memilih untuk diam di dalam zona nyaman, di balik tembok gereja yang kokoh, tanpa peduli dengan mereka yang bergumul di "persimpangan jalan"—para pekerja migran, korban ketidakadilan, generasi muda yang kehilangan arah, atau masyarakat adat yang tanahnya dipersengketakan—maka tanpa kita sadari, kita sedang mencerai-beraikan. Kita sedang memisahkan iman dari kehidupan, liturgi dari realitas.

Tema Pastoral Keuskupan Agung Medan tahun 2026 adalah "Umat Katolik Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan". Berjalan bersama berarti tidak ada seorang pun yang tertinggal. Berjalan bersama berarti kita memihak kepada mereka yang lemah. Ini adalah wujud nyata dari "mengumpulkan bersama Yesus".

Ada satu bagian lagi yang sangat penting dalam kisah ini. Meskipun bacaan kita berhenti di ayat 23, konteks ayat selanjutnya (24-26) memberikan peringatan keras. Yesus berkata tentang roh jahat yang keluar dari seseorang, lalu pergi dan kembali dengan membawa tujuh roh lain yang lebih jahat, sehingga keadaan orang itu menjadi lebih buruk dari semula.

Apa artinya ini bagi kita secara pribadi dan komunal? Artinya, hidup yang hanya "bersih" tetapi kosong itu berbahaya. Setelah bertobat dari dosa, setelah menerima sakramen, kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus mengisi rumah jiwa kita dengan kehadiran Allah. Jika tidak, kejahatan akan datang kembali. Kita harus mengisi rumah jiwa kita; jangan biarkan kosong.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern di Sumatera Utara, di mana materialisme dan konsumerisme begitu kuat, kita bisa saja rajin ke gereja, rajin menerima komuni, tetapi hati kita kosong dari kasih. Kita mungkin bersih secara ritual, seperti orang Farisi yang mencuci cawan dan pinggan, tetapi hati kita jauh dari Allah dan dari sesama yang membutuhkan. Mgr. Kornelius mengingatkan bahwa kita harus menjadi "saksi syukur" bukan hanya lewat kata, tetapi lewat cara hidup yang penuh damai dan penuh kasih. Itulah tanda bahwa rumah jiwa kita tidak kosong, tetapi dihuni oleh Roh Kudus.

Saudara-saudari terkasih,

Peperangan rohani sedang berlangsung. Tidak ada tempat untuk bersikap netral. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan bersama Yesus, atau melawan-Nya? Apakah tindakan, perkataan, dan sikap kita mengumpulkan orang-orang di sekitar kita, atau justru mencerai-beraikan?

Marilah kita melihat teladan para misionaris kita, yang sudah berkarya di wilayah kita. Mereka tidak berdiam diri; mereka pergi ke sekolah, ke rumah sakit, ke pelosok-pelosok, menghadirkan kasih Allah. Mereka memilih untuk bersama Yesus dengan pergi keluar.

Hari ini, mari kita periksa hati kita. Apakah kita sudah benar-benar berpihak kepada Kristus? Apakah kita sudah berjalan bersama-Nya, ataukah kita hanya menonton dari kejauhan?

Jangan biarkan hati kita kosong. Isilah dengan sabda-Nya, penuhilah dengan Roh Kudus, dan biarlah kasih itu meluap kepada sesama. Sebab hanya dengan demikian kita tidak tercerai-berai, tetapi dikumpulkan sebagai satu keluarga Allah. Amin.


(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar