BERJALAN BERSAMA ATAU
MENCERAI-BERAIKAN?
Lukas 11:14-23
Saudara-saudari
terkasih,
Kita
semua tentu masih ingat suasana duka yang mendalam ketika Ompung kita, Mgr.
Alfred Gonti Pius Datubara, menghadap Bapa pada Oktober tahun lalu. Di saat
kehilangan itu, lonceng di seluruh gereja Keuskupan Agung Medan berbunyi
serempak pada pukul 15.00, memohonkan kerahiman Ilahi. Peristiwa itu menyatukan
kita dalam doa. Namun, kebersamaan ini mengingatkan kita pada pertanyaan
mendasar: sebagai Gereja yang berduka, bersukacita, dan berziarah, sesungguhnya
kita sedang berjalan ke arah mana? Apakah kita semua benar-benar berpihak kepada
Kristus, ataukah tanpa sadar kita justru menghalangi pekerjaan-Nya?
Bacaan
Injil hari ini membawa kita pada realitas perang rohani yang sangat gamblang.
Yesus mengusir setan dari seorang bisu, dan ketika orang itu dapat berbicara,
kontroversi pun pecah. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang menuduh Yesus
bersekutu dengan Beelzebul, penghulu setan. Yang lain lagi meminta tanda dari
surga. Dari sinilah Yesus memberikan pernyataan yang sangat tegas dan tidak
kenal kompromi: "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa
tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan" (Luk
11:23).
Mari
kita bayangkan diri kita berada di tengah kerumunan orang banyak itu. Seorang
yang tadinya bisu karena kerasukan setan, tiba-tiba sembuh dan berbicara.
Mukjizat itu nyata. Namun reaksi orang banyak terbelah. Tuduhan bahwa Yesus
mengusir setan dengan kuasa setan adalah tuduhan yang tidak masuk akal, seperti
yang Yesus jelaskan: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti
binasa" (Luk 11:17). Tidak mungkin setan mengusir dirinya
sendiri.
Namun,
di balik tuduhan itu, kita melihat satu bahaya besar, yaitu menolak
terang meskipun terang itu sudah bersinar. Para musuh Yesus menutup mata
terhadap fakta. Mereka lebih nyaman dengan tuduhan dan fitnah daripada mengakui
kebenaran. Sikap ini, tanpa sadar, bisa juga merasuki diri kita. Di Sumatera
Utara yang luas—dengan berbagai tantangan di perkotaan, dataran tinggi, maupun
pesisir—kita kerap dihadapkan pada karya-karya baik yang dilakukan oleh sesama,
bahkan oleh mereka yang berbeda latar belakang dengan kita.
Ketika
ada komunitas lain yang berhasil membangun jembatan, membantu korban bencana,
atau memperjuangkan keadilan bagi masyarakat adat (seperti konflik di Sihaporas
yang juga mendapat perhatian Gereja), apakah reaksi pertama kita adalah curiga?
Apakah kita mudah menuduh motif tertentu di balik kebaikan? Atau bisakah kita
melihat bahwa setiap kebaikan, di mana pun ia berasal, adalah percikan dari
Kerajaan Allah yang sedang bekerja? Yesus mengingatkan bahwa jika Ia mengusir
setan dengan jari Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah kita
(Luk 11:20). Demikian pula, tanda-tanda kebaikan di sekitar kita adalah bukti
bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya.
Inti
dari perikop ini adalah ajakan untuk memihak. Yesus menggunakan dua gambaran:
yang tidak bersama Aku, melawan Aku; yang tidak mengumpulkan,
mencerai-beraikan. Tidak ada posisi netral dalam peperangan rohani. Ini adalah
panggilan untuk mengambil sikap. Pilihan yang tegas: tidak ada zona abu-abu.
Uskup
Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, dalam berbagai kesempatan terus
menggemakan seruan untuk menjadi "Gereja yang keluar". Dalam
homilinya pada Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, beliau
menegaskan bahwa Gereja tidak boleh menunggu orang datang, tetapi harus pergi
ke jalan-jalan dan persimpangan kehidupan. "Lebih baik Gereja yang
terluka karena keluar ke jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup
diri," demikian kutipan beliau dari Paus Fransiskus.
Nah, "keluar
ke jalan" itu sendiri adalah sebuah tindakan memihak. Itu adalah tindakan
memilih untuk bersama Yesus, yang justru selalu pergi mencari yang hilang. Jika
kita memilih untuk diam di dalam zona nyaman, di balik tembok gereja yang
kokoh, tanpa peduli dengan mereka yang bergumul di "persimpangan
jalan"—para pekerja migran, korban ketidakadilan, generasi muda yang
kehilangan arah, atau masyarakat adat yang tanahnya dipersengketakan—maka tanpa
kita sadari, kita sedang mencerai-beraikan. Kita sedang memisahkan iman dari
kehidupan, liturgi dari realitas.
Tema
Pastoral Keuskupan Agung Medan tahun 2026 adalah "Umat Katolik
Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan".
Berjalan bersama berarti tidak ada seorang pun yang tertinggal. Berjalan
bersama berarti kita memihak kepada mereka yang lemah. Ini adalah wujud nyata
dari "mengumpulkan bersama Yesus".
Ada
satu bagian lagi yang sangat penting dalam kisah ini. Meskipun bacaan kita
berhenti di ayat 23, konteks ayat selanjutnya (24-26) memberikan peringatan
keras. Yesus berkata tentang roh jahat yang keluar dari seseorang, lalu pergi
dan kembali dengan membawa tujuh roh lain yang lebih jahat, sehingga keadaan
orang itu menjadi lebih buruk dari semula.
Apa
artinya ini bagi kita secara pribadi dan komunal? Artinya, hidup yang
hanya "bersih" tetapi kosong itu berbahaya. Setelah bertobat dari
dosa, setelah menerima sakramen, kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus
mengisi rumah jiwa kita dengan kehadiran Allah. Jika tidak, kejahatan akan
datang kembali. Kita harus mengisi rumah jiwa kita; jangan biarkan kosong.
Di
tengah hiruk-pikuk kehidupan modern di Sumatera Utara, di mana materialisme dan
konsumerisme begitu kuat, kita bisa saja rajin ke gereja, rajin menerima
komuni, tetapi hati kita kosong dari kasih. Kita mungkin bersih secara ritual,
seperti orang Farisi yang mencuci cawan dan pinggan, tetapi hati kita jauh dari
Allah dan dari sesama yang membutuhkan. Mgr. Kornelius mengingatkan bahwa kita
harus menjadi "saksi syukur" bukan hanya lewat kata, tetapi lewat
cara hidup yang penuh damai dan penuh kasih. Itulah tanda bahwa rumah jiwa kita
tidak kosong, tetapi dihuni oleh Roh Kudus.
Saudara-saudari
terkasih,
Peperangan
rohani sedang berlangsung. Tidak ada tempat untuk bersikap netral. Setiap hari
kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan bersama Yesus, atau melawan-Nya?
Apakah tindakan, perkataan, dan sikap kita mengumpulkan orang-orang di sekitar
kita, atau justru mencerai-beraikan?
Marilah
kita melihat teladan para misionaris kita, yang sudah berkarya di wilayah kita.
Mereka tidak berdiam diri; mereka pergi ke sekolah, ke rumah sakit, ke
pelosok-pelosok, menghadirkan kasih Allah. Mereka memilih untuk bersama Yesus
dengan pergi keluar.
Hari
ini, mari kita periksa hati kita. Apakah kita sudah benar-benar berpihak kepada
Kristus? Apakah kita sudah berjalan bersama-Nya, ataukah kita hanya menonton
dari kejauhan?
Jangan
biarkan hati kita kosong. Isilah dengan sabda-Nya, penuhilah dengan Roh Kudus,
dan biarlah kasih itu meluap kepada sesama. Sebab hanya dengan demikian kita
tidak tercerai-berai, tetapi dikumpulkan sebagai satu keluarga Allah. Amin.
(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar