Renungan
Jumat, 27
Maret 2026
KETIKA "BATU" ITU BERNAMA
"KEPERCAYAAN"
(Yohanes 10:31–42)
Saudara-saudari
terkasih dalam kasih Kristus,
Di tengah
hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kita kerap dihadapkan pada dua kenyataan
yang bertolak belakang. Di satu sisi, kita hidup dalam budaya yang menjunjung
tinggi gotong royong, kerukunan, dan rasa hormat. Namun di sisi lain, kita tak
asing dengan apa yang bisa disebut sebagai "bahasa batu", bukan batu
sungguhan, melainkan batu yang lahir dari amarah, prasangka, dan penolakan.
Hari ini,
Injil membawa kita menyaksikan sebuah adegan yang menegangkan: “Sekali
lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus” (Yoh.
10:31). Sungguh mencengangkan. Bukankah Yesus baru saja melakukan karya-karya
kasih? Bukankah Ia berbicara tentang Gembala Baik yang mengenal
domba-domba-Nya? Namun justru sebaliknya yang terjadi. Yesus ditolak bukan
karena perbuatan jahat, melainkan karena kebenaran yang Ia nyatakan tentang
diri-Nya. Mereka berkata, “Kami melempari Engkau bukan karena suatu
perbuatan baik, melainkan karena Engkau menghujat Allah; Engkau, sekalipun
manusia, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:33).
Di sinilah
letak titik kritis iman kita: kebenaran justru kerap menjadi batu
sandungan. Sebagai umat Katolik Indonesia, kita hidup dalam keindahan
kemajemukan. Kita dipanggil menjadi garam dan terang, membawa nilai kebenaran,
kejujuran, dan kasih. Namun pernahkah kita merasakan, ketika kita berusaha
hidup jujur, bersikap adil, atau membela kebenaran, justru kita yang mendapat
“lemparan batu”? Batu itu bisa berupa gunjingan, pengucilan, stigma sosial,
bahkan fitnah. Di tempat kerja, di komunitas, bahkan tak jarang di tengah
keluarga sendiri, membela kebenaran terasa seperti membawa pedang bermata dua.
Namun
Yesus tidak lari. Ia tidak membalas lemparan dengan lemparan. Justru dengan
teguh Ia berdiri dan berdialog. Dengan tenang Ia mengembalikan persoalan pada
Sabda Allah: “Apakah kamu tidak membaca dalam Kitab Taurat?” (Yoh.
10:34). Ia tidak membiarkan amarah menguasai situasi, melainkan membawa semua
pihak kembali pada terang Firman.
Saudara-saudari,
ada sebuah rahmat besar yang hendak Yesus ajarkan kepada kita, bangsa Indonesia
yang dikenal kaya akan budaya dan emosi. Ketenangan di tengah penolakan
adalah kesaksian iman yang paling dahsyat. Yesus tidak perlu membuktikan
keilahian-Nya dengan kekerasan; Ia membuktikannya melalui karya dan
ketaatan-Nya kepada Bapa. “Sekalipun kamu tidak percaya kepada-Ku,
percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan
mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:38).
Di sinilah
kita diingatkan kembali akan panggilan kita sebagai orang beriman. Di negeri
ini, kita dipanggil untuk tidak mudah “mengambil batu” ketika dihadapkan pada
perbedaan. Betapa sering kita—umat Katolik—tergoda membalas kebencian dengan
kebencian, atau merasa paling benar sendiri sehingga mudah menghakimi orang
lain. Yesus menunjukkan jalan lain: membalas kebencian dengan kebenaran,
kekerasan dengan keteguhan hati, dan penolakan dengan pergi ke tempat di mana
masih ada hati yang terbuka.
Perhatikanlah
akhir dari perikop ini: “Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat
Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang
kepada-Nya” (Yoh. 10:40–41). Yesus tidak terpaku pada tempat yang
menolak-Nya. Ia meninggalkan mereka yang keras hati, bukan karena putus asa,
melainkan karena Ia tahu waktu dan tempat untuk menuai. Ia pergi ke seberang
Yordan—tempat yang dulu dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Di sana, banyak
orang datang dan percaya. Pesan ini begitu relevan bagi kita, terutama ketika
kita merasa lelah menjadi minoritas, lelah diperlakukan tidak adil, atau lelah
berjuang sendirian dalam kebenaran. Jangan pernah lelah untuk terus pergi
ke “seberang Yordan”, mencari ruang-ruang baru di mana kasih Tuhan masih
diterima, membangun jembatan, dan terus bersaksi tanpa kehilangan jati diri.
Tema
mendalam yang ditawarkan Injil hari ini adalah keberanian untuk teguh
dalam kebenaran di tengah budaya penolakan. Kita hidup di era digital, di mana
“batu” kerap menjelma dalam komentar-komentar jahat di media sosial. Kita hidup
di era politik, di mana “batu” bisa berbentuk ujaran kebencian. Namun sebagai
pengikut Kristus, kita diajak memiliki keteguhan yang lembut namun tak
tergoyahkan; keteguhan yang tidak buta, melainkan berakar pada relasi intim
dengan Bapa, sebagaimana Yesus teladankan. Ia tahu siapa diri-Nya, Ia tahu
misi-Nya, dan Ia tahu bahwa perlindungan terbesar bukanlah dengan menghindari
batu, melainkan dengan tinggal dalam genggaman Bapa: “Aku dan Bapa
adalah satu.”
Marilah
kita merenungkan sikap kita selama ini. Apakah kita terlalu mudah mengambil
batu? Atau sebaliknya, terlalu mudah lari ketakutan ketika dihadapkan pada
batu? Atau mampukah kita, seperti Yesus, berjalan dalam kebenaran dengan
tenang, membiarkan karya dan kasih kita berbicara lebih lantang daripada segala
bentuk penolakan? Amin.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar