RENUNGAN
Hari, Tanggal: Minggu (Prapaskah IV /Tahun A), 15 Maret
2026
Bacaan I : 1Sam 16:1b.6-7.10-13a
Bacaan II : Ef 5:8-14
Bacaan Injil : Yoh 9:1-14
KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI
TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA
Saudara-saudari
terkasih,
Kita hidup di
tanah Sumatera Utara yang kaya. Kita dikelilingi oleh keindahan alam Danau
Toba, hamparan sawah yang hijau, hingga gemerlap perkotaan. Namun, kekayaan
terbesar kita bukanlah panorama alam, melainkan keberagaman masyarakatnya. Di
sini kita bertemu dengan suku Batak, Melayu, Nias, Jawa, Tionghoa, dan berbagai
suku lainnya. Kita hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Sumatera
Utara.
Akan tetapi,
kekayaan ini sering kali menjadi tantangan. Kita bisa saja hanya “melihat”
seseorang dari luarnya: dari marganya, logat bicaranya, warna kulitnya, atau
status sosialnya. Kita cepat menghakimi berdasarkan apa yang tampak oleh mata
kepala. Padahal, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk memiliki “mata
yang berbeda”, mata yang mampu melihat hati, sebagaimana Tuhan melihat.
(Bacaan
Pertama: 1 Samuel 16:1b, 6–7, 10–13a – Tuhan Melihat Hati)
Bacaan pertama
membawa kita ke kisah pemilihan Raja Daud. Nabi Samuel diutus Tuhan untuk
mengurapi raja baru dari keluarga Isai. Ketika Samuel melihat Eliab, anak
sulung Isai, yang tampak gagah dan rupawan, ia langsung berpikir, “Pasti inilah
yang akan Tuhan urapi.” Namun, Tuhan menegur Samuel dengan tegas: ”Janganlah pandang parasnya atau
perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat
manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi
TUHAN melihat hati.”
Firman ini
sangat relevan bagi kita. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang menjunjung
tinggi identitas kesukuan dan status—seperti marga dan gelar—kita mudah tergoda
untuk menilai seseorang dari “bungkusnya”. Mungkin kita berkata, “Ah, dia orang
sana, pasti sifatnya begini…” atau “Dia dari keluarga itu, pasti hidupnya
begitu…” Kita lupa bahwa di balik semua identitas lahiriah, ada hati yang
berharga di mata Tuhan.
Samuel harus
belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Demikian pula kita. Panggilan kita
sebagai orang Kristen adalah berusaha melihat sesama dengan “kacamata Tuhan”,
melihat kedalaman hati, melihat potensi kebaikan yang mungkin tersembunyi di
balik perbedaan lahiriah. Proses pengurapan Daud—anak bungsu yang paling tidak
diperhitungkan—mengajarkan bahwa Tuhan sering memilih dan berkarya melalui
mereka yang dianggap kecil dan tak berarti oleh dunia. Di sekitar kita, di
lingkungan kita, ada banyak “Daud” yang menanti untuk dilihat dan dihargai
hatinya.
(Bacaan
Kedua: Efesus 5:8–14 – Hidup sebagai Anak-Anak Terang)
Lalu, apa
konsekuensi dari memiliki mata yang mampu melihat ini? Bacaan kedua dari Surat
Efesus memberi jawabannya: ”Memang
dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam
Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”
Perhatikan
kata-kata Paulus. Ia tidak berkata, “kamu berada dalam kegelapan”, melainkan
“kamu adalah kegelapan.”
Itulah masa lalu kita. Namun sekarang, karena Kristus, hakikat kita telah
berubah. Kita adalah terang.
Panggilan kita bukan hanya untuk “berada di dalam terang”, tetapi untuk menjadi terang itu sendiri di
tengah dunia.
Sebagai
anak-anak terang, hidup kita harus menghasilkan buah yang baik, adil, dan
benar. Hidup sebagai terang berarti berani menampakkan identitas kita sebagai
pengikut Kristus dalam tindakan nyata, bukan hanya di dalam gereja. Di tengah
masyarakat Sumatera Utara yang majemuk, menjadi terang berarti:
·
Menjadi
pembawa damai. Ketika
isu SARA mudah dipolitisasi, kita dipanggil menjadi agen perekat, bukan pemecah
belah. Tunjukkan bahwa iman Katolik mengajarkan kasih yang universal, melampaui
batas suku dan golongan. Sapa tetangga yang berbeda keyakinan dengan ramah,
bantu mereka yang kesusahan tanpa memandang latar belakang.
·
Hidup
jujur dan transparan. Di
dunia yang penuh “kegelapan” berupa korupsi, kolusi, dan kebohongan—baik dalam
pekerjaan, politik, maupun kehidupan sehari-hari—orang Katolik harus menjadi
pribadi yang berintegritas. Kejujuran adalah cahaya yang sangat terang di
tengah kegelapan.
·
Berani
menegur dalam kasih. Seperti
yang dikatakan Paulus, “Segala sesuatu yang nyata menjadi terang.” Kita tidak
boleh diam ketika melihat ketidakadilan atau perilaku yang merusak komunitas.
Teguran yang dilakukan dengan kasih adalah partisipasi kita dalam karya Kristus
yang membawa terang ke dalam kegelapan.
(Bacaan
Injil: Yohanes 9:1–41 – Mata yang Terbuka melalui Iman)
Pembukaan mata
rohani ini digenapi secara ajaib dalam kisah Injil Yohanes tentang orang buta
sejak lahir. Ini adalah kisah yang sangat panjang dan kaya. Yesus menyembuhkan
orang buta itu; bukan hanya matanya yang terbuka, melainkan juga hatinya. Ia
mulai melihat Yesus bukan hanya sebagai seorang yang bernama Yesus (Yoh 9:11),
lalu sebagai seorang nabi (Yoh 9:17), dan akhirnya bersembah sujud kepada-Nya
sebagai Anak Manusia, Tuhan (Yoh 9:35–38).
Yang menarik,
ironisnya, orang-orang Farisi dan bahkan para tetangga yang “melihat” secara
fisik justru buta secara rohani. Mereka terperangkap pada aturan-aturan
lahiriah—Yesus menyembuhkan pada hari Sabat—sehingga gagal melihat karya Allah
yang agung di depan mata mereka. Mereka mengusir orang yang disembuhkan itu.
Saudara-saudari,
konteks ini banyak berbicara kepada kita. Di Sumatera Utara, kita adalah bagian
dari Gereja yang memiliki tradisi dan aturan. Itu baik. Namun, jangan sampai
kita seperti orang Farisi. Jangan sampai kita lebih mementingkan “kulit luar”
agama—formalitas, struktur, identitas kelompok—sehingga buta terhadap kebutuhan
sesama yang nyata. Ada begitu banyak “kebutaan” di sekitar kita: kemiskinan di
perkotaan, ketidakadilan di pedesaan, anak-anak putus sekolah, orang tua
terlantar. Apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka sebagai saudara yang
membutuhkan uluran tangan kasih Kristus, ataukah kita hanya sibuk dengan urusan
internal kita sendiri?
Penyembuhan
orang buta ini adalah undangan bagi kita untuk membuka mata iman, untuk melihat
Yesus yang hadir dan berkarya secara tak terduga, sering kali melalui
orang-orang kecil dan sederhana.
Saudara-saudari
terkasih,
Bayangkan jika
setiap dari kita, umat Katolik di Sumatera Utara, benar-benar menjadi
“anak-anak terang”. Bayangkan jika di tempat kerja, di pasar, di angkutan umum,
di lingkungan adat, kita dikenal sebagai pribadi yang jujur, adil, dan penuh
kasih. Bayangkan jika identitas Katolik kita tidak hanya terlihat saat misa
hari Minggu atau saat pesta perkawinan di gereja, tetapi terpancar dari cara
kita menghargai setiap orang, dari cara kita “melihat hati” mereka seperti
Tuhan melihat.
Panggilan kita
di masa Prapaskah ini adalah bertobat dari “kebutaan” kita. Mintalah ampun
kepada Tuhan kalau selama ini kita lebih sering menilai orang dari luar.
Mintalah ampun kalau kita lebih suka tinggal dalam “kegelapan” yang nyaman:
kebiasaan buruk, gosip, prasangka, kemalasan berbuat baik. Dan mintalah rahmat
untuk menjadi terang.
Seperti Daud
yang diurapi menjadi raja, kita pun telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja
dalam diri kita masing-masing melalui Sakramen Baptis. Urapan itu bukan untuk
kebanggaan pribadi, melainkan untuk misi: menjadi terang.
Seperti orang
buta yang disembuhkan, kita pun telah mengalami sentuhan Yesus—mungkin tidak
secara fisik, tetapi secara rohani dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan.
Sentuhan itu seharusnya membuka mata kita lebar-lebar untuk melihat karya Allah
dan melihat sesama dengan cara yang baru.
Marilah kita
bertekad baru untuk tidak lagi melihat manusia menurut ukuran dunia, melainkan
dengan mata iman yang melihat hati. Marilah kita menjadi terang di tengah
keluarga kita, di tengah komunitas adat kita, dan di tengah masyarakat Sumatera
Utara yang kita cintai ini. Dengan demikian, kita akan bersinar di tengah
kegelapan, dan nama Tuhan akan dipermuliakan.
Semoga Tuhan
memberkati kita semua. Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
(Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar