Kamis, 12 Maret 2026

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA

RENUNGAN

Hari, Tanggal:    Minggu (Prapaskah IV /Tahun A), 15 Maret 2026

Bacaan I        :    1Sam 16:1b.6-7.10-13a

Bacaan II       :    Ef 5:8-14

Bacaan Injil   :    Yoh 9:1-14

 

KITA DIPANGGIL MENJADI TERANG DI TENGAH KEBERAGAMAN SUMATERA UTARA




Saudara-saudari terkasih,

Kita hidup di tanah Sumatera Utara yang kaya. Kita dikelilingi oleh keindahan alam Danau Toba, hamparan sawah yang hijau, hingga gemerlap perkotaan. Namun, kekayaan terbesar kita bukanlah panorama alam, melainkan keberagaman masyarakatnya. Di sini kita bertemu dengan suku Batak, Melayu, Nias, Jawa, Tionghoa, dan berbagai suku lainnya. Kita hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Sumatera Utara.

Akan tetapi, kekayaan ini sering kali menjadi tantangan. Kita bisa saja hanya “melihat” seseorang dari luarnya: dari marganya, logat bicaranya, warna kulitnya, atau status sosialnya. Kita cepat menghakimi berdasarkan apa yang tampak oleh mata kepala. Padahal, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk memiliki “mata yang berbeda”, mata yang mampu melihat hati, sebagaimana Tuhan melihat.

(Bacaan Pertama: 1 Samuel 16:1b, 6–7, 10–13a – Tuhan Melihat Hati)

Bacaan pertama membawa kita ke kisah pemilihan Raja Daud. Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru dari keluarga Isai. Ketika Samuel melihat Eliab, anak sulung Isai, yang tampak gagah dan rupawan, ia langsung berpikir, “Pasti inilah yang akan Tuhan urapi.” Namun, Tuhan menegur Samuel dengan tegas: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Firman ini sangat relevan bagi kita. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang menjunjung tinggi identitas kesukuan dan status—seperti marga dan gelar—kita mudah tergoda untuk menilai seseorang dari “bungkusnya”. Mungkin kita berkata, “Ah, dia orang sana, pasti sifatnya begini…” atau “Dia dari keluarga itu, pasti hidupnya begitu…” Kita lupa bahwa di balik semua identitas lahiriah, ada hati yang berharga di mata Tuhan.

Samuel harus belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi. Demikian pula kita. Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah berusaha melihat sesama dengan “kacamata Tuhan”, melihat kedalaman hati, melihat potensi kebaikan yang mungkin tersembunyi di balik perbedaan lahiriah. Proses pengurapan Daud—anak bungsu yang paling tidak diperhitungkan—mengajarkan bahwa Tuhan sering memilih dan berkarya melalui mereka yang dianggap kecil dan tak berarti oleh dunia. Di sekitar kita, di lingkungan kita, ada banyak “Daud” yang menanti untuk dilihat dan dihargai hatinya.

(Bacaan Kedua: Efesus 5:8–14 – Hidup sebagai Anak-Anak Terang)

Lalu, apa konsekuensi dari memiliki mata yang mampu melihat ini? Bacaan kedua dari Surat Efesus memberi jawabannya: ”Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.”

Perhatikan kata-kata Paulus. Ia tidak berkata, “kamu berada dalam kegelapan”, melainkan “kamu adalah kegelapan.” Itulah masa lalu kita. Namun sekarang, karena Kristus, hakikat kita telah berubah. Kita adalah terang. Panggilan kita bukan hanya untuk “berada di dalam terang”, tetapi untuk menjadi terang itu sendiri di tengah dunia.

Sebagai anak-anak terang, hidup kita harus menghasilkan buah yang baik, adil, dan benar. Hidup sebagai terang berarti berani menampakkan identitas kita sebagai pengikut Kristus dalam tindakan nyata, bukan hanya di dalam gereja. Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang majemuk, menjadi terang berarti:

·         Menjadi pembawa damai. Ketika isu SARA mudah dipolitisasi, kita dipanggil menjadi agen perekat, bukan pemecah belah. Tunjukkan bahwa iman Katolik mengajarkan kasih yang universal, melampaui batas suku dan golongan. Sapa tetangga yang berbeda keyakinan dengan ramah, bantu mereka yang kesusahan tanpa memandang latar belakang.

·         Hidup jujur dan transparan. Di dunia yang penuh “kegelapan” berupa korupsi, kolusi, dan kebohongan—baik dalam pekerjaan, politik, maupun kehidupan sehari-hari—orang Katolik harus menjadi pribadi yang berintegritas. Kejujuran adalah cahaya yang sangat terang di tengah kegelapan.

·         Berani menegur dalam kasih. Seperti yang dikatakan Paulus, “Segala sesuatu yang nyata menjadi terang.” Kita tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan atau perilaku yang merusak komunitas. Teguran yang dilakukan dengan kasih adalah partisipasi kita dalam karya Kristus yang membawa terang ke dalam kegelapan.

(Bacaan Injil: Yohanes 9:1–41 – Mata yang Terbuka melalui Iman)

Pembukaan mata rohani ini digenapi secara ajaib dalam kisah Injil Yohanes tentang orang buta sejak lahir. Ini adalah kisah yang sangat panjang dan kaya. Yesus menyembuhkan orang buta itu; bukan hanya matanya yang terbuka, melainkan juga hatinya. Ia mulai melihat Yesus bukan hanya sebagai seorang yang bernama Yesus (Yoh 9:11), lalu sebagai seorang nabi (Yoh 9:17), dan akhirnya bersembah sujud kepada-Nya sebagai Anak Manusia, Tuhan (Yoh 9:35–38).

Yang menarik, ironisnya, orang-orang Farisi dan bahkan para tetangga yang “melihat” secara fisik justru buta secara rohani. Mereka terperangkap pada aturan-aturan lahiriah—Yesus menyembuhkan pada hari Sabat—sehingga gagal melihat karya Allah yang agung di depan mata mereka. Mereka mengusir orang yang disembuhkan itu.

Saudara-saudari, konteks ini banyak berbicara kepada kita. Di Sumatera Utara, kita adalah bagian dari Gereja yang memiliki tradisi dan aturan. Itu baik. Namun, jangan sampai kita seperti orang Farisi. Jangan sampai kita lebih mementingkan “kulit luar” agama—formalitas, struktur, identitas kelompok—sehingga buta terhadap kebutuhan sesama yang nyata. Ada begitu banyak “kebutaan” di sekitar kita: kemiskinan di perkotaan, ketidakadilan di pedesaan, anak-anak putus sekolah, orang tua terlantar. Apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka sebagai saudara yang membutuhkan uluran tangan kasih Kristus, ataukah kita hanya sibuk dengan urusan internal kita sendiri?

Penyembuhan orang buta ini adalah undangan bagi kita untuk membuka mata iman, untuk melihat Yesus yang hadir dan berkarya secara tak terduga, sering kali melalui orang-orang kecil dan sederhana.

Saudara-saudari terkasih,

Bayangkan jika setiap dari kita, umat Katolik di Sumatera Utara, benar-benar menjadi “anak-anak terang”. Bayangkan jika di tempat kerja, di pasar, di angkutan umum, di lingkungan adat, kita dikenal sebagai pribadi yang jujur, adil, dan penuh kasih. Bayangkan jika identitas Katolik kita tidak hanya terlihat saat misa hari Minggu atau saat pesta perkawinan di gereja, tetapi terpancar dari cara kita menghargai setiap orang, dari cara kita “melihat hati” mereka seperti Tuhan melihat.

Panggilan kita di masa Prapaskah ini adalah bertobat dari “kebutaan” kita. Mintalah ampun kepada Tuhan kalau selama ini kita lebih sering menilai orang dari luar. Mintalah ampun kalau kita lebih suka tinggal dalam “kegelapan” yang nyaman: kebiasaan buruk, gosip, prasangka, kemalasan berbuat baik. Dan mintalah rahmat untuk menjadi terang.

Seperti Daud yang diurapi menjadi raja, kita pun telah diurapi menjadi imam, nabi, dan raja dalam diri kita masing-masing melalui Sakramen Baptis. Urapan itu bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk misi: menjadi terang.

Seperti orang buta yang disembuhkan, kita pun telah mengalami sentuhan Yesus—mungkin tidak secara fisik, tetapi secara rohani dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan. Sentuhan itu seharusnya membuka mata kita lebar-lebar untuk melihat karya Allah dan melihat sesama dengan cara yang baru.

Marilah kita bertekad baru untuk tidak lagi melihat manusia menurut ukuran dunia, melainkan dengan mata iman yang melihat hati. Marilah kita menjadi terang di tengah keluarga kita, di tengah komunitas adat kita, dan di tengah masyarakat Sumatera Utara yang kita cintai ini. Dengan demikian, kita akan bersinar di tengah kegelapan, dan nama Tuhan akan dipermuliakan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

(Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar