Senin, 30 Maret 2026

MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Renungan

Senin, 30 Maret 2026


MINYAK NARWASTU DI TENGAH KESEHARIAN HIDUP

Yohanes 12:1-11




 

Keuskupan Agung Medan (KAM) dikenal sebagai wilayah yang dinamis. Di sini, hiruk-pikuk perdagangan, kepadatan urban, serta tantangan sosial-ekonomi menjadi “roti harian” kita. Di tengah gemuruh kendaraan di jalan, kesibukan pasar tradisional, atau hiruk-pikuk pusat perbelanjaan modern, kita hidup sebagai murid Kristus.

Perikop Yohanes 12:1-11 membawa kita ke Betania. Rumah Lazarus, Marta, dan Maria menjadi gambaran kecil tentang “keluarga besar” di Keuskupan kita. Betania adalah tempat di mana kemacetan dunia, yakni Yerusalem, bertemu dengan keheningan persahabatan. Di sanalah terjadi sebuah peristiwa agung: seorang perempuan memecahkan buli-buli minyak narwastu seharga tiga ratus dinar, kira-kira setara dengan upah setahun, lalu menuangkannya ke kaki Yesus.

Minyak narwastu merupakan simbol kemewahan tertinggi. Di Medan, angka tiga ratus dinar mungkin dapat kita analogikan dengan uang muka rumah, modal dagang, atau tabungan pension, sesuatu yang sangat bernilai dan biasanya “dihitung secara logis.”

Di sinilah kita berjumpa dengan tokoh Yudas Iskariot. Kitab Suci dengan jujur mencatat bahwa Yudas tidak peduli pada orang miskin, melainkan seorang pencuri yang mengatur kas. Dalam kehidupan kita sehari-hari, suara Yudas kerap bergema di kepala kita: “Boros! Tidak praktis! Lebih baik uangnya dipakai untuk yang lain!”

Kita, umat Katolik yang mayoritas terlibat dalam dunia usaha, niaga, dan pekerjaan keras, tentu akrab dengan logika untung-rugi. Kita terbiasa menghitung return on investment dan berpikir bahwa hal yang paling efisien adalah memberi dalam porsi yang terukur. Namun, renungan ini mengajak kita berani menggugat logika pasar dengan logika kasih.

Maria tidak menghitung. Ia memberikan yang terbaik, bahkan yang “terlalu mahal” sekalipun. Tindakannya mengingatkan kita: apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadi “boros” dalam hal cinta kepada Tuhan dan sesama?

Yesus membela Maria dengan berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini… minyak ini tidak dijual untuk memberi orang miskin” (Yoh 12:7-8).
Ini bukan berarti Yesus tidak peduli pada orang miskin. Justru Yesus hidup bersama mereka. Namun, Yesus menegaskan satu prioritas yang kerap kita lupakan dalam kesibukan “pelayanan” dan “kegiatan”: ada saatnya kita harus berhenti sejenak dari segala aktivisme, lalu duduk di kaki Tuhan dan mencurahkan segenap hati tanpa perhitungan.

Di Keuskupan Agung Medan, kita adalah umat yang “sibuk.” Sibuk mengurus devosi, sibuk mengurus panitia, sibuk bekerja mencari nafkah di tengah persaingan ekonomi yang ketat, sibuk mengumpulkan dana untuk pembangunan gereja atau kegiatan sosial. Terkadang, kesibukan ini membuat kita seperti Yudas: kita kehilangan momen untuk sekadar “duduk bersama Yesus” secara pribadi.

Ciri khas devosi umat Katolik di KAM sangat kuat. Novena, jalan salib, dan doa rosario dirayakan dengan meriah. Namun, renungan ini mengajak kita memeriksa motivasi di balik semua itu. Apakah kita melakukannya karena “kewajiban sosial” agar dilihat orang, atau karena kita benar-benar mencurahkan isi hati yang paling berharga kepada Kristus?

Ayat 9–11 menceritakan bahwa banyak orang Yahudi datang bukan hanya karena Yesus, tetapi juga ingin melihat Lazarus yang dibangkitkan. Imam-imam kepala malah merencanakan untuk membunuh Lazarus. Bacaan ini menjadi cermin bagi kita yang hidup di tengah kesenjangan sosial.

Di satu sisi, kita dipanggil menjadi “Maria” yang memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Di sisi lain, kita dipanggil peka terhadap “Lazarus-Lazarus” di sekitar kita, saudara-saudari yang miskin, termarjinalkan, yang mungkin tinggal di bantaran sungai atau di daerah pinggiran.

Ada godaan besar untuk “menghakimi” orang lain seperti Yudas menghakimi Maria. Dalam kehidupan menggereja, sering muncul sikap sinis: “Ah, ini sih terlalu mewah untuk sebuah perayaan ibadah,” atau “Lebih baik bangunan gerejanya sederhana saja, uangnya buat makan orang miskin.”

Renungan ini menegaskan bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan. Mencintai Tuhan secara “boros”, dengan liturgi yang indah, gedung gereja yang layak, perayaan iman yang khidmat, bukanlah penghalang untuk mengasihi orang miskin. Yang menjadi masalah adalah jika kita menggunakan kedok “orang miskin” untuk menyembunyikan kekikiran hati atau ketidakmauan kita berkorban secara total bagi Kristus.

Sebagai umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, bacaan ini mengajak kita pada tiga refleksi mendalam:

Kembali ke “Betania” (Rumah Persahabatan):
Di tengah rutinitas yang padat—macet, pekerjaan, dan urusan duniawi—luangkanlah waktu untuk membangun “Betania” di rumah masing-masing. Keluarga adalah tempat pertama di mana kita harus menjadi “Maria” yang mencurahkan kasih. Jangan biarkan kesibukan ekonomi membuat kita kehilangan momen kebersamaan dan doa bersama keluarga.

Memurnikan Motivasi Pelayanan:
Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya dalam pelayanan menggereja, sebagai lektor, misdinar, kategorial, atau pengurus lingkungan, bekerja dengan motivasi seperti Yudas, mencari status, keuntungan pribadi, atau sekadar kebiasaan—ataukah saya melakukannya sebagai “minyak narwastu,” yakni persembahan terbaik yang walaupun tidak dilihat orang, sungguh memenuhi lingkungan atau paroki dengan keharuman kasih?

Menjadi “Aroma” bagi Sesama:
Medan adalah kota yang multikultural dan sering kali “kasar” dalam interaksi sosial karena kemacetan, panas, dan persaingan. Panggilan kita adalah membawa aroma Kristus. Seperti minyak narwastu yang memenuhi seluruh rumah, kesaksian hidup seorang Katolik seharusnya mampu “memenuhi” ruang-ruang publik di Medan dengan keharuman kedamaian, kejujuran dalam berdagang, kesabaran dalam berkendara, dan keterbukaan dalam hidup bertetangga.

Yesus berkata, “Biarkanlah dia melakukan ini” (Yoh 12:7). Terkadang, dalam kehidupan rohani, kita terlalu sering melarang diri sendiri untuk mencintai Tuhan secara total. Kita merasa malu berdoa di tempat umum, sungkan bersikap saleh di tempat kerja, atau merasa bahwa memberi waktu untuk misa harian adalah “pemborosan” yang seharusnya digunakan untuk bekerja.

Hari ini, Yesus mengingatkan kita: jangan biarkan logika dunia yang selalu hitung-hitungan membunuh kerinduan kita untuk berserah secara total.

Semoga kita, umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, berani memecahkan “buli-buli” kesombongan, keegoisan, dan perhitungan duniawi kita, untuk menuangkan seluruh hidup kita, dengan segala kekurangan dan kelebihan, ke kaki Kristus. Sehingga, seperti di Betania, rumah kita, paroki kita, dan kota Medan ini dipenuhi oleh aroma kasih yang menyegarkan. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar