MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN MELALUI BERPUASA
Ketika
mendengar kata puasa, banyak orang langsung mengingat ibadah umat Muslim.
Padahal, puasa juga punya tempat penting dalam tradisi Katolik. Bagi kita umat
Katolik, puasa terutama dilakukan selama Masa Prapaskah, yaitu masa 40 hari
untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah (kebangkitan Yesus). Masa ini dimulai
pada Rabu Abu pada tahun ini jatuh pada tanggal 18 Februari, saat kita menerima
abu di dahi sebagai tanda pertobatan dan pengingat bahwa kita ini fana.
Selama 40
hari ini, kita diajak untuk lebih giat melakukan tiga hal utama: doa, puasa,
dan sedekah. Ketiganya berjalan beriringan. Tujuannya adalah untuk merenungkan
pengorbanan Yesus di kayu salib, membersihkan hati dari dosa, dan memperbaiki
hubungan kita dengan Tuhan serta sesama.
Kita
berpuasa karena Yesus sendiri memberi teladan. Sebelum memulai pekerjaan-Nya,
Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun (Matius 4:1-2). Banyak tokoh
Alkitab lain juga berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pada zaman
dulu, aturan puasa sangat ketat. Ada masa di mana orang tidak makan seharian
dan hanya makan sekali setelah matahari terbenam, tanpa daging, telur, atau
susu. Seiring waktu, Gereja menyesuaikan aturan ini agar lebih sesuai dengan
kondisi umat sekarang. Fokusnya bukan lagi sekadar menahan lapar, tetapi lebih
kepada pertobatan hati, berbagi kasih, dan peduli kepada sesama yang menderita.
Secara
sederhana, berikut aturan yang perlu kita ketahui bahwa puasa berarti
kita makan kenyang hanya sekali sehari, dan boleh ditambah dua kali makan kecil
(bukan makan besar). Puasa ini wajib bagi umat yang berusia 18 tahun
sampai 59 tahun. Hari wajib berpuasa adalah Rabu Abu dan Jumat
Agung. Sementara pantang artinya kita tidak makan makanan tertentu,
biasanya daging. Pantang ini wajib bagi umat mulai usia 14 tahun.
Kita berpantang setiap Jumat sepanjang masa Prapaskah, dan sangat
dianjurkan juga di Jumat-Jumat lainnya. Pantang bisa juga diartikan sebagai
menghindari hal-hal yang kita sukai, seperti main gadget terlalu lama, merokok,
atau nonton TV berlebihan.
Puasa itu
bukan hanya soal tidak makan. Menurut ajaran Gereja, makna puasa jauh lebih
dalam, yaitu: Pertama, sebagai tanda pertobatan. Dengan berpuasa, kita
menunjukkan penyesalan atas dosa-dosa kita. Kita belajar untuk tidak hanya
mengosongkan perut dari makanan, tetapi juga mengosongkan hati dari sifat
egois, serakah, dan hal-hal duniawi, lalu kembali mengisi hati dengan kasih
Allah.
Kedua, sebagai
wujud kepedulian. Puasa melatih kita hidup sederhana. Apa yang bisa kita
hemat dari makan atau kesenangan lainnya, bisa kita berikan kepada sesama yang
kekurangan. Di Indonesia, semangat ini diwujudkan dalam Aksi Puasa
Pembangunan (APP). Hasil penghematan kita dipakai untuk membantu pendidikan,
kesehatan, dan keadilan sosial bagi yang membutuhkan.
Ketiga,
sebagai latihan pengendalian diri. Menahan keinginan tubuh (makan enak,
hiburan) membantu kita untuk lebih bisa mengendalikan diri. Kita belajar untuk
menjadi tuan atas keinginan kita sendiri, agar hidup lebih tertib dan sesuai
dengan kehendak Tuhan.
Keempat,
sebagai persiapan menyambut Paskah. Puasa 40 hari adalah masa persiapan.
Dengan berpuasa, hati kita menjadi lebih tenang, doa kita lebih khusyuk, dan
kita jadi lebih peka mendengarkan suara Tuhan. Semua ini untuk menyambut hari
kebangkitan Yesus dengan hati yang bersih dan sukacita.
Sederhananya,
puasa itu bisa kita sebut sebagai "doa dengan tubuh." Dengan rela
menahan lapar dan haus, kita menunjukkan bahwa kita lebih merindukan Tuhan
daripada makanan. Kita mengorbankan kesenangan sesaat sebagai tanda syukur dan
belajar untuk tidak terikat pada hal-hal duniawi.
Itulah
sebabnya, puasa dalam tradisi Katolik selalu dilakukan bersama doa (mendekatkan
diri pada Tuhan) dan sedekah (berbagi dengan sesama). Dengan begitu, puasa
menjadi sarana pertobatan sejati dan mempersiapkan kita merayakan Paskah dengan
penuh sukacita.
(Sorang
Tumanggor, S.Ag, Penyuluh
Agama Katolik Kankemenag Kab. Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar