Senin, 09 Maret 2026

MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN MELALUI BERPUASA

 MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN MELALUI BERPUASA



Ketika mendengar kata puasa, banyak orang langsung mengingat ibadah umat Muslim. Padahal, puasa juga punya tempat penting dalam tradisi Katolik. Bagi kita umat Katolik, puasa terutama dilakukan selama Masa Prapaskah, yaitu masa 40 hari untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah (kebangkitan Yesus). Masa ini dimulai pada Rabu Abu pada tahun ini jatuh pada tanggal 18 Februari, saat kita menerima abu di dahi sebagai tanda pertobatan dan pengingat bahwa kita ini fana.

Selama 40 hari ini, kita diajak untuk lebih giat melakukan tiga hal utama: doa, puasa, dan sedekah. Ketiganya berjalan beriringan. Tujuannya adalah untuk merenungkan pengorbanan Yesus di kayu salib, membersihkan hati dari dosa, dan memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan serta sesama.

Kita berpuasa karena Yesus sendiri memberi teladan. Sebelum memulai pekerjaan-Nya, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun (Matius 4:1-2). Banyak tokoh Alkitab lain juga berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pada zaman dulu, aturan puasa sangat ketat. Ada masa di mana orang tidak makan seharian dan hanya makan sekali setelah matahari terbenam, tanpa daging, telur, atau susu. Seiring waktu, Gereja menyesuaikan aturan ini agar lebih sesuai dengan kondisi umat sekarang. Fokusnya bukan lagi sekadar menahan lapar, tetapi lebih kepada pertobatan hati, berbagi kasih, dan peduli kepada sesama yang menderita.

Secara sederhana, berikut aturan yang perlu kita ketahui bahwa puasa berarti kita makan kenyang hanya sekali sehari, dan boleh ditambah dua kali makan kecil (bukan makan besar). Puasa ini wajib bagi umat yang berusia 18 tahun sampai 59 tahun. Hari wajib berpuasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung. Sementara pantang artinya kita tidak makan makanan tertentu, biasanya daging. Pantang ini wajib bagi umat mulai usia 14 tahun. Kita berpantang setiap Jumat sepanjang masa Prapaskah, dan sangat dianjurkan juga di Jumat-Jumat lainnya. Pantang bisa juga diartikan sebagai menghindari hal-hal yang kita sukai, seperti main gadget terlalu lama, merokok, atau nonton TV berlebihan.

Puasa itu bukan hanya soal tidak makan. Menurut ajaran Gereja, makna puasa jauh lebih dalam, yaitu: Pertama, sebagai tanda pertobatan. Dengan berpuasa, kita menunjukkan penyesalan atas dosa-dosa kita. Kita belajar untuk tidak hanya mengosongkan perut dari makanan, tetapi juga mengosongkan hati dari sifat egois, serakah, dan hal-hal duniawi, lalu kembali mengisi hati dengan kasih Allah.

Kedua, sebagai wujud kepedulian. Puasa melatih kita hidup sederhana. Apa yang bisa kita hemat dari makan atau kesenangan lainnya, bisa kita berikan kepada sesama yang kekurangan. Di Indonesia, semangat ini diwujudkan dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP). Hasil penghematan kita dipakai untuk membantu pendidikan, kesehatan, dan keadilan sosial bagi yang membutuhkan.

Ketiga, sebagai latihan pengendalian diri. Menahan keinginan tubuh (makan enak, hiburan) membantu kita untuk lebih bisa mengendalikan diri. Kita belajar untuk menjadi tuan atas keinginan kita sendiri, agar hidup lebih tertib dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Keempat, sebagai persiapan menyambut Paskah. Puasa 40 hari adalah masa persiapan. Dengan berpuasa, hati kita menjadi lebih tenang, doa kita lebih khusyuk, dan kita jadi lebih peka mendengarkan suara Tuhan. Semua ini untuk menyambut hari kebangkitan Yesus dengan hati yang bersih dan sukacita.

Sederhananya, puasa itu bisa kita sebut sebagai "doa dengan tubuh." Dengan rela menahan lapar dan haus, kita menunjukkan bahwa kita lebih merindukan Tuhan daripada makanan. Kita mengorbankan kesenangan sesaat sebagai tanda syukur dan belajar untuk tidak terikat pada hal-hal duniawi.

Itulah sebabnya, puasa dalam tradisi Katolik selalu dilakukan bersama doa (mendekatkan diri pada Tuhan) dan sedekah (berbagi dengan sesama). Dengan begitu, puasa menjadi sarana pertobatan sejati dan mempersiapkan kita merayakan Paskah dengan penuh sukacita.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag, Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kab. Dairi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar