Selasa, 10 Maret 2026

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

 

Kita Dipanggil Untuk Mengampuni

(Matius 18:21-35)




Saudara-saudari terkasih, umat Tuhan yang berbahagia.

Kita hidup di tanah yang subur, dikelilingi oleh gunung yang hijau, perkebunan yang luas, dan kota yang terus berkembang. Kita adalah gambaran indah dari kebhinekaan: Batak, Jawa, Tionghoa, Melayu, Nias, dan berbagai suku lainnya, hidup berdampingan sebagai saudara seiman dan sebangsa. Kita tahu, hidup dalam keberagaman adalah sebuah rahmat, namun juga tantangan. Kadang, gesekan kecil bisa terjadi. Mungkin karena urusan lahan, masalah bisnis, perselisihan antartetangga, atau salah paham dalam pergaulan sehari-hari.

Di tengah realitas itulah, firman Tuhan hari ini dari Injil Matius berbicara sangat keras dan jelas. Petrus datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering terlintas di benak kita, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21).

Tujuh kali, dalam pemikiran Petrus, itu sudah angka yang luar biasa besar dan murah hati. Dia merasa sudah memberikan batas maksimal dari kesabaran. Tapi jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:22).

Yesus tidak sedang mengajak kita menghitung sampai 490 kali. Ia sedang meruntuhkan logika hitung-hitungan manusia. Di Kerajaan Surga, pengampunan tidak punya batas. Ia seperti kasih Bapa yang tak terhingga. Untuk menjelaskan hal ini, Yesus lalu menceritakan sebuah perumpamaan yang sangat kuat.

Perumpamaan itu berkisah tentang seorang hamba yang berutang 10.000 talenta. Saudara-saudari, coba kita bayangkan angka ini dalam konteks kita di Medan. Satu talenta adalah upah seorang buruh selama 20 tahun. Maka 10.000 talenta adalah utang yang mustahil dibayar, mungkin setara dengan utang negara atau perusahaan raksasa. Hamba itu tidak punya harapan.

Saat tuannya memerintahkan untuk menjual dia dan keluarganya untuk membayar utang, si hamba tersungkur dan memohon, "Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan" (Mat 18:26). Ini janji yang mustahil. Tapi lihatlah hati tuannya: "Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya" (Mat 18:27).

Inilah gambaran Allah kita. Bukan karena kita sanggup membayar, bukan karena kita layak, tetapi karena belas kasihan-Nya yang tak terduga, Ia menghapus seluruh dosa kita, seluruh "utang" kita kepada-Nya. Ia memberikan kita hidup baru, tanpa ikatan.

Namun, cerita ini berubah tragis. Hamba yang baru saja menerima pengampunan sebesar 10.000 talenta itu keluar dan bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. 100 dinar adalah utang kecil, kira-kira upah 100 hari kerja. Bandingkan dengan 10.000 talenta yang setara dengan 60 juta dinar! Utang temannya itu bagaikan setetes air dibandingkan samudra utang yang baru saja dihapuskan.

Apa yang terjadi? Ia menagih dengan kasar, mencekik leher temannya, dan bahkan ketika temannya memohon dengan kata-kata yang persis sama seperti dulu ia mohon kepada tuannya, "Sabarlah dahulu, hutangku akan kulunaskan" (Mat 18:29), hamba itu tidak tergerak. Hatinya keras. Ia memasukkan temannya ke dalam penjara.

Saudara-saudari, bukankah ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita merayakan pengampunan Tuhan setiap hari Minggu, kita menerima komuni kudus, tetapi begitu keluar dari pintu gereja, kita bertemu dengan saudara, rekan kerja, atau tetangga yang pernah menyakiti kita. Mungkin sakit hati itu masih membekas. Lalu kita berkata dalam hati, "Saya tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah terlalu keterlaluan."

Di kota Medan dan sekitarnya yang dinamis ini, banyak "utang" yang mungkin kita pegang:

Utang harga diri: Mungkin kita pernah direndahkan atau dilecehkan dalam pergaulan. Utang materi: Mungkin ada saudara atau teman yang belum mengembalikan uang pinjamannya. Utang perasaan: Mungkin ada konflik keluarga, warisan yang tidak kunjung selesai, atau pernikahan yang retak karena perselingkuhan.

Semua itu adalah "100 dinar" kita. Sakitnya nyata, lukanya dalam. Tetapi ketika kita melihat salib Kristus, kita diingatkan akan "10.000 talenta" kita, yaitu dosa-dosa kita yang tak terbayar, yang telah ditebus oleh darah-Nya. Bagaimana mungkin kita yang telah diampuni sebanyak itu, masih tega membiarkan saudara kita sendiri masuk "penjara" karena sakit hati kita? "Penjara" itu bisa berupa kebencian, dendam, gunjingan, atau sikap dingin yang berkepanjangan. Di paroki kita, di lingkungan kita, mungkin ada "penjara-penjara" kecil yang kita ciptakan karena kita tidak mau mengampuni.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan peringatan keras: "Bapa-Ku yang di sorga juga akan berbuat demikian terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat 18:35).

Pengampunan bukan sekadar perasaan hangat atau kata "saya maafkan" di bibir. Pengampunan adalah keputusan radikal untuk melepaskan hak kita untuk membalas dendam. Ini adalah proses, sebuah perjuangan. Namun, kita tidak berjuang sendirian. Roh Kudus, yang kita terima dalam sakramen, memberi kita kekuatan untuk mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita.

Marilah kita dengan tekad baru: mengingat kasih karunia Tuhan. Setiap kali kita merasa berat untuk mengampuni, ingatlah betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan. Lihatlah lagi salib-Nya. Marilah kita mulai dari hal kecil. Mungkin ada seseorang yang dekat dengan kita yang perlu kita maafkan. Jangan tunda. Ucapkan dalam hati, doakan dia, atau jika perlu, sambung kembali komunikasi dengan rendah hati. Marilah kita membangun komunitas yang mengampuni. Sebagai umat Keuskupan Agung Medan, mari kita jadi saksi bahwa di tengah masyarakat yang majemuk ini, pengampunan Kristus sanggup mempersatukan kita. Jadilah agen rekonsiliasi di keluarga, tempat kerja, dan lingkungan kita.

Saudara-saudari, Tuhan telah membebaskan kita dari utang dosa yang tak terbayarkan. Jangan biarkan kita kembali menjadi budak dengan memenjarakan sesama dalam ketidakmaafan kita. Mari kita belajar mengampuni dengan segenap hati, karena hanya dengan hati yang bebas dan penuh pengampunan, kita benar-benar dapat merasakan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Damai Kristus, yang lahir dari pengampunan sejati, kiranya menyertai kita semua, di sini, di tanah Sumatera Utara yang kita cintai. Amin.

 

(Sorang Tumanggor S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar