Kita Dipanggil Untuk Mengampuni
(Matius 18:21-35)
Saudara-saudari terkasih, umat
Tuhan yang berbahagia.
Kita hidup di tanah yang subur,
dikelilingi oleh gunung yang hijau, perkebunan yang luas, dan kota yang terus
berkembang. Kita adalah gambaran indah dari kebhinekaan: Batak, Jawa, Tionghoa,
Melayu, Nias, dan berbagai suku lainnya, hidup berdampingan sebagai saudara
seiman dan sebangsa. Kita tahu, hidup dalam keberagaman adalah sebuah rahmat,
namun juga tantangan. Kadang, gesekan kecil bisa terjadi. Mungkin karena urusan
lahan, masalah bisnis, perselisihan antartetangga, atau salah paham dalam
pergaulan sehari-hari.
Di tengah realitas itulah, firman
Tuhan hari ini dari Injil Matius berbicara sangat keras dan jelas. Petrus
datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang mungkin sering terlintas di
benak kita, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21).
Tujuh kali, dalam pemikiran
Petrus, itu sudah angka yang luar biasa besar dan murah hati. Dia merasa sudah
memberikan batas maksimal dari kesabaran. Tapi jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan!
Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh
kali tujuh kali" (Mat 18:22).
Yesus tidak sedang mengajak kita
menghitung sampai 490 kali. Ia sedang meruntuhkan logika hitung-hitungan
manusia. Di Kerajaan Surga, pengampunan tidak punya batas. Ia seperti kasih
Bapa yang tak terhingga. Untuk menjelaskan hal ini, Yesus lalu menceritakan
sebuah perumpamaan yang sangat kuat.
Perumpamaan itu berkisah tentang
seorang hamba yang berutang 10.000 talenta. Saudara-saudari, coba kita
bayangkan angka ini dalam konteks kita di Medan. Satu talenta adalah upah
seorang buruh selama 20 tahun. Maka 10.000 talenta adalah utang yang mustahil
dibayar, mungkin setara dengan utang negara atau perusahaan raksasa. Hamba itu
tidak punya harapan.
Saat tuannya memerintahkan untuk
menjual dia dan keluarganya untuk membayar utang, si hamba tersungkur dan
memohon, "Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan" (Mat
18:26). Ini janji yang mustahil. Tapi lihatlah hati tuannya: "Tergeraklah
hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan
utangnya" (Mat 18:27).
Inilah gambaran Allah kita. Bukan
karena kita sanggup membayar, bukan karena kita layak, tetapi karena belas
kasihan-Nya yang tak terduga, Ia menghapus seluruh dosa kita, seluruh
"utang" kita kepada-Nya. Ia memberikan kita hidup baru, tanpa ikatan.
Namun, cerita ini berubah tragis.
Hamba yang baru saja menerima pengampunan sebesar 10.000 talenta itu keluar dan
bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. 100 dinar adalah
utang kecil, kira-kira upah 100 hari kerja. Bandingkan dengan 10.000 talenta
yang setara dengan 60 juta dinar! Utang temannya itu bagaikan setetes air
dibandingkan samudra utang yang baru saja dihapuskan.
Apa yang terjadi? Ia menagih
dengan kasar, mencekik leher temannya, dan bahkan ketika temannya memohon
dengan kata-kata yang persis sama seperti dulu ia mohon kepada tuannya, "Sabarlah
dahulu, hutangku akan kulunaskan" (Mat 18:29), hamba itu tidak
tergerak. Hatinya keras. Ia memasukkan temannya ke dalam penjara.
Saudara-saudari, bukankah ini
sering terjadi dalam hidup kita? Kita merayakan pengampunan Tuhan setiap hari
Minggu, kita menerima komuni kudus, tetapi begitu keluar dari pintu gereja,
kita bertemu dengan saudara, rekan kerja, atau tetangga yang pernah menyakiti
kita. Mungkin sakit hati itu masih membekas. Lalu kita berkata dalam hati,
"Saya tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah terlalu keterlaluan."
Di kota Medan dan sekitarnya yang
dinamis ini, banyak "utang" yang mungkin kita pegang:
Utang harga diri: Mungkin
kita pernah direndahkan atau dilecehkan dalam pergaulan. Utang materi: Mungkin
ada saudara atau teman yang belum mengembalikan uang pinjamannya. Utang
perasaan: Mungkin ada konflik keluarga, warisan yang tidak kunjung
selesai, atau pernikahan yang retak karena perselingkuhan.
Semua itu adalah "100
dinar" kita. Sakitnya nyata, lukanya dalam. Tetapi ketika kita melihat
salib Kristus, kita diingatkan akan "10.000 talenta" kita, yaitu
dosa-dosa kita yang tak terbayar, yang telah ditebus oleh darah-Nya. Bagaimana
mungkin kita yang telah diampuni sebanyak itu, masih tega membiarkan saudara
kita sendiri masuk "penjara" karena sakit hati kita?
"Penjara" itu bisa berupa kebencian, dendam, gunjingan, atau sikap
dingin yang berkepanjangan. Di paroki kita, di lingkungan kita, mungkin ada
"penjara-penjara" kecil yang kita ciptakan karena kita tidak mau
mengampuni.
Saudara-saudari terkasih,
Yesus mengakhiri perumpamaan ini
dengan peringatan keras: "Bapa-Ku yang di sorga juga akan berbuat
demikian terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu" (Mat 18:35).
Pengampunan bukan sekadar
perasaan hangat atau kata "saya maafkan" di bibir. Pengampunan adalah
keputusan radikal untuk melepaskan hak kita untuk membalas dendam. Ini adalah
proses, sebuah perjuangan. Namun, kita tidak berjuang sendirian. Roh Kudus,
yang kita terima dalam sakramen, memberi kita kekuatan untuk mengampuni seperti
Kristus telah mengampuni kita.
Marilah
kita dengan tekad baru: mengingat kasih karunia Tuhan. Setiap kali kita merasa
berat untuk mengampuni, ingatlah betapa besar pengampunan yang telah kita
terima dari Tuhan. Lihatlah lagi salib-Nya. Marilah kita mulai dari hal kecil.
Mungkin ada seseorang yang dekat dengan kita yang perlu kita maafkan.
Jangan tunda. Ucapkan dalam hati, doakan dia, atau jika perlu, sambung kembali
komunikasi dengan rendah hati. Marilah kita membangun komunitas yang mengampuni.
Sebagai umat Keuskupan Agung Medan, mari kita jadi saksi bahwa di tengah
masyarakat yang majemuk ini, pengampunan Kristus sanggup mempersatukan kita.
Jadilah agen rekonsiliasi di keluarga, tempat kerja, dan lingkungan kita.
Saudara-saudari, Tuhan telah
membebaskan kita dari utang dosa yang tak terbayarkan. Jangan biarkan kita
kembali menjadi budak dengan memenjarakan sesama dalam ketidakmaafan kita. Mari
kita belajar mengampuni dengan segenap hati, karena hanya dengan hati yang
bebas dan penuh pengampunan, kita benar-benar dapat merasakan damai sejahtera
Allah yang melampaui segala akal. Damai Kristus, yang lahir dari pengampunan
sejati, kiranya menyertai kita semua, di sini, di tanah Sumatera Utara yang
kita cintai. Amin.
(Sorang Tumanggor S.Ag Penyuluh Ahli
Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar