Selasa, 10 Maret 2026

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan, Bukan Belenggu Yang Membatasi

 

Hukum Kasih Adalah Fondasi Yang Membebaskan,

Bukan Belenggu Yang Membatasi


(Matius 5:17-19)




Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita yang sedang berjuang menghidupi iman di tengah kesibukan harian kita. Baik kita yang pagi-pagi sudah berjibaku dengan macet di Jalan, para orangtua yang sibuk mengantar anak ke sekolah, para petani dan pekebun yang setia mengolah tanah, para buruh dan pekerja di kawasan industri, maupun para pelajar dan mahasiswa yang haus akan ilmu. Di tengah peluh dan perjuangan kita, firman Tuhan hari ini hadir menyapa kita.

Hari ini, kita merenungkan Injil Matius 5:17-19. Ini adalah bagian dari khotbah di bukit, ajaran agung Yesus di awal pelayanan-Nya. Di ayat-ayat ini, Yesus dengan tegas berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

Pernyataan ini sangat penting. Yesus seolah ingin meluruskan kesalahpahaman. Mungkin ada yang mengira bahwa ajaran kasih yang dibawa-Nya akan menggantikan semua aturan dan hukum yang sudah berabad-abad menjadi pegangan umat. Bisa jadi, kita pun kadang berpikir serupa: "Ah, yang penting kan kasih, yang penting kan hati. Aturan-aturan Gereja, hukum-hukum moral, itu semua 'kan cuma formalitas, yang penting kan perbuatan baik."

Namun, Yesus dengan jelas membantah anggapan itu. Kedatangan-Nya bukan untuk meruntuhkan fondasi lama, melainkan untuk menyempurnakannya, menggenapinya, dan mengembalikannya pada makna yang paling hakiki. Hari ini, mari kita renungkan satu tema sentral: Hukum Kasih adalah fondasi yang membebaskan, bukan belenggu yang membatasi. Bagaimana kita, sebagai warga Sumatera Utara yang majemuk ini, dapat memahami dan menghidupi kebenaran ini?

Saudara-saudari, bayangkan sebuah rumah tradisional Batak Toba. Rumah itu berdiri kokoh karena memiliki tiang-tiang penyangga yang kuat dengan batu dan tertancap dalam di tanah. Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah tiang-tiang penyangga itu. Mereka adalah fondasi yang diajarkan Allah sendiri kepada umat-Nya untuk membedakan yang baik dan yang jahat, yang kudus dan yang najis. Sepuluh Perintah Allah adalah fondasi itu.

Yesus tidak datang untuk membongkar fondasi itu. Justru, Ia datang untuk membangun rumah di atas fondasi itu, untuk menunjukkan seperti apa seharusnya kehidupan yang berdiri di atas fondasi Allah itu. Jika kita hanya terpaku pada tiang penyangga, kita hanya melihat aturan-aturan kering: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri. Itu semua benar dan baik, tetapi jika berhenti di situ, iman kita bisa menjadi legalistik, hanya soal memenuhi kewajiban, tidak lebih.

Yesus "menggenapi" artinya Ia memberi jiwa pada fondasi itu. Ia masuk ke dalam inti dari setiap hukum. Misalnya, tentang "jangan membunuh". Yesus memperdalamnya: jangan marah terhadap saudaramu tanpa sebab (Matius 5:21-22). Di sini, hukum kasih bekerja. Bukan hanya soal menghindari tindakan fisik, tetapi juga soal mengelola hati. Jika kita marah kepada rekan kerja, jika kita mendendam kepada tetangga, bukankah kita sudah "membunuh" sukacita dan kerukunan? Di lingkungan kita yang majemuk di Sumatera Utara, di mana kita hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama, sabda Yesus ini sangat relevan. Kemarahan yang tidak terkendali, prasangka, bisa menjadi api dalam sekam yang merusak persaudaraan. Hukum kasih memanggil kita untuk tidak hanya tidak membunuh, tetapi juga aktif membangun perdamaian.

Di sinilah kita sering dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, ada godaan untuk menjadi seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Kita bisa saja rajin ke Gereja tiap Minggu, rajin memberi persembahan, rajin mengikuti segala aturan Gereja. Namun di sisi lain, hati kita mungkin jauh dari kasih. Kita mungkin pelit terhadap pembantu rumah tangga, kita mungkin cuek terhadap sesama yang kesusahan di lingkungan kita, kita mungkin mudah menghakimi orang lain yang tidak se-"kita". Ini adalah sikap "taat buta" yang kering dan tidak berbuah.

Di sisi lain, ada godaan yang tak kalah besarnya, yaitu mentalitas "yang penting kasih". Ini adalah godaan masa kini. Kita berkata, "Ah, yang penting mah kasih sama Tuhan, sama sesama. Ngapain ribet-ribet dengan aturan?" Akibatnya, kita bisa saja seenaknya sendiri. Kita mulai meninggalkan Ekaristi Minggu dengan alasan sibuk. Kita mengabaikan ajaran Gereja tentang moral perkawinan. Kita merasa cukup dengan menjadi orang "baik" menurut ukuran kita sendiri. Ini adalah kasih tanpa arah, yang berujung pada relativisme: semua boleh, semua baik, karena ukurannya hanya perasaan saya.

Di tengah arus dunia yang semakin sekuler ini, umat di Sumatera Utara ini menghadapi tantangan nyata. Di kota besar, ada godaan materialisme dan individualisme. Di perkebunan, ada godaan ketidakadilan dan eksploitasi. Di mana-mana, ada godaan untuk mengompromikan iman demi kenyamanan atau keuntungan duniawi.

Yesus mengingatkan kita untuk tidak jatuh ke kedua jurang itu. Ayat 19 berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga."

Ini bukan tentang peringkat di surga, tetapi tentang konsekuensi dari pilihan hidup kita. Jika kita menganggap remeh perintah Tuhan yang "kecil" sekalipun, kita sedang merusak keutuhan iman kita sendiri dan bisa menyesatkan orang lain. Kesetiaan dalam hal-hal kecil adalah cerminan kesetiaan dalam hal-hal besar.

Lalu, bagaimana kita, sebagai murid-murid Yesus di tanah Sumatera Utara ini, menghidupi hukum kasih yang digenapi Yesus ini?

Pertama, hiduplah dengan penuh kesadaran. Ketika kita pergi ke Gereja, jangan lakukan hanya sebagai rutinitas. Sadari bahwa kita sedang bertemu dengan Tuhan yang adalah Kasih itu sendiri. Ketika kita berdoa, ketika kita memberi, lakukanlah dengan hati yang penuh syukur dan cinta. Kasih memberi makna pada setiap tindakan lahiriah kita. Ibadah kita menjadi ekspresi kasih, bukan sekadar kewajiban.

Kedua, wujudkan kasih dalam tindakan nyata di lingkungan kita. Sebagai warga Katoli,  kita punya banyak kesempatan. Mungkin kita bisa terlibat dalam kegiatan lingkungan, menjadi pengurus lingkungan, atau aktif dalam legio Maria, dan sebagainya. Kasih itu konkret. Membantu tetangga yang sedang kesusahan, menyapa pedagang di pasar, tersenyum pada pengemudi becak, bersikap adil kepada karyawan kita – itulah bentuk-bentuk nyata dari "melakukan" perintah Tuhan. Inilah cara kita menggenapi hukum Taurat dalam kehidupan sehari-hari, di tengah kemajemukan masyarakat Sumatera Utara. Sikap hormat dan cinta kita kepada sesama, apapun latar belakangnya, adalah kesaksian iman yang paling otentik.

Ketiga, biarkan hukum Tuhan menuntun kita menuju kebebasan sejati. Mungkin kita berpikir aturan itu mengekang. Tapi coba kita renungkan: mengapa ada rambu-rambu lalu lintas? Bukan untuk mengekang pengemudi, tetapi untuk mengatur lalu lintas agar semua selamat dan lancar sampai tujuan. Demikian pula hukum Tuhan. Hukum kasih yang diajarkan Yesus bukanlah belenggu yang membuat kita takut melangkah, melainkan pagar yang melindungi kita dari jurang kehancuran. Pagar itu menjaga kita tetap berada di jalan yang menuju kepada kebahagiaan sejati, kepada kepenuhan hidup bersama Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Ia adalah penggenapan itu sendiri. Dalam diri Yesus, kita melihat wujud sempurna dari hukum kasih: Ia setia kepada Bapa sampai mati di kayu salib, dan dalam kesetiaan itu, Ia mewujudkan kasih yang paling agung, yaitu memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya, bagi kita semua.

Marilah kita belajar dari Yesus. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya taat secara lahiriah, tetapi hatinya kosong. Jangan pula menjadi orang Kristen yang mengaku cinta Tuhan, tetapi hidupnya semaunya sendiri. Jadilah murid-murid yang sejati, yang memahami bahwa setiap perintah Tuhan adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih-Nya.

Dengan berpegang teguh pada fondasi iman yang kokoh, dan menghidupinya dengan semangat kasih yang membebaskan, kita akan menjadi berkat bagi keluarga kita, bagi lingkungan kita, dan bagi Gereja kita tercinta.

Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati kita semua dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar