Selasa, 10 Maret 2026

Bukan Sekadar Daun, Tetapi Buah Iman Sejati

 

Bukan Sekadar Daun, Tetapi Buah Iman Sejati

(Markus 11:11-26)




Saudara-saudari terkasih, yang dikasihi Tuhan,

Kita semua pasti pernah mengalami kekecewaan. Mungkin karena janji yang tidak ditepati, atau penampilan luar yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus juga mengalami "kekecewaan." Bukan kekecewaan yang kecil, tetapi kekecewaan ilahi yang menjadi pelajaran keras bagi kita semua.

Perikop hari ini menyajikan dua peristiwa besar yang saling terkait: Kutukan atas pohon ara dan Penyucian Bait Allah. Dua peristiwa ini memiliki satu tema sentral yang sama, yaitu Kemunafikan Iman.

Mari kita renungkan bersama, bagaimana firman Tuhan ini berbicara secara konkret dalam kehidupan kita sebagai warga Gereja di Sumatera Utara, khususnya di tengah tantangan dan realitas kita sehari-hari.

 

Kemunafikan: Daun yang Rimbun Tanpa Buah

Cerita dimulai dengan Yesus yang lapar. Dari jauh, Ia melihat sebatang pohon ara yang penuh dengan daun. Daun yang lebat biasanya menjadi tanda bahwa pohon itu sedang dalam masa berbuah. Namun, ketika didekati, ternyata tidak ada apa-apa selain daun belaka. Pohon itu palsu, menjanjikan sesuatu yang tidak dimilikinya. Akibatnya, Yesus mengutuk pohon itu.

Tetapi, Yesus tidak mengutuk pohon itu karena tidak sempurna atau karena gagal panen. Ia mengutuknya karena kepalsuannya. Dari kejauhan, ia tampak seperti pohon ara yang produktif, tetapi pada kenyataannya ia mandul.

Saudara-saudari, inilah gambaran yang sangat kuat tentang kemunafikan. Kemunafikan adalah ketika penampilan luar kita tidak sesuai dengan realitas batin. Ketika kita, sebagai orang Katolik, dari luar tampak saleh, rajin ke gereja, aktif di lingkungan, tetapi hati dan perbuatan kita tidak menghasilkan buah iman yang sejati.

Di wilayah kita ini, kita hidup dalam masyarakat yang majemuk, dinamis, dan penuh tantangan. Di satu sisi, kita bangga dengan gereja-gereja kita yang megah, dengan paduan suara yang merdu, dengan banyaknya kegiatan rohani. Itu semua adalah "daun-daun" iman kita. Daun itu penting, ia menandakan kehidupan. Namun, Yesus memperingatkan kita: Jangan hanya puas dengan daun. Pertanyaan krusial bagi kita adalah: di manakah buahnya?

Buah Iman di Keluarga: Apakah kesalehan kita di gereja berbuah dalam kasih dan pengampunan di rumah? Ataukah kita seperti pohon ara yang rimbun di luar, tetapi di dalam rumah tangga kita penuh dengan kemarahan, keegoisan, dan luka yang tidak terobati?

Buah Iman di Masyarakat: Apakah iman kita berbuah dalam kepedulian terhadap sesama? Di kota Medan dan sekitarnya, masih banyak saudara kita yang miskin, sakit, dan tersisih. Apakah kehadiran kita sebagai orang Katolik membawa berkat dan keadilan bagi mereka, atau hanya sekadar wacana belaka? Apakah iman kita berbuah dalam kejujuran di tempat kerja, di pasar, dalam bisnis?

Buah Iman di Gereja: Apakah kita hanya menjadi pengunjung mingguan, atau kita menjadi murid yang sungguh-sungguh bertumbuh? Apakah kita mudah menghakimi sesama umat, sementara kita sendiri lalai dalam pertobatan pribadi?

 

Bait Allah yang Suci: Rumah Doa atau Sarang Penyamun?

Peristiwa kutukan pohon ara ini diapit oleh kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Bait Allah di Yerusalem adalah pusat ibadah, tempat paling kudus. Namun, Yesus mendapatinya telah berubah menjadi pasar, tempat transaksi, tempat keuntungan pribadi. Ia menyebutnya sebagai "sarang penyamun."

Orang-orang Farisi dan pedagang di Bait Allah menggunakan agama untuk keuntungan diri. Mereka menciptakan sistem yang membebani umat kecil. Ibadah telah kehilangan esensinya sebagai relasi pribadi dengan Allah, dan berubah menjadi ritual yang hampa.

Sekarang, mari kita renungkan: Gereja, lingkungan, dan bahkan hati kita sendiri adalah Bait Allah yang baru. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus (1Kor 6:19).

Apakah hati kita masih menjadi rumah doa? Ataukah sudah berubah menjadi "sarang penyamun"? Sarang penyamun adalah tempat para perampok bersembunyi setelah berbuat jahat. Mungkin kita datang ke gereja, tetapi hati kita masih dipenuhi dengan rencana-rencana curang, dendam, iri hati, dan cinta uang yang berlebihan. Kita mencoba "menyamar" dengan ritual, sementara hati kita jauh dari Tuhan.

Apakah Gereja kita (komunitas kita) menjadi rumah doa bagi semua orang? Di tengah kemajemukan masyarakat Sumatera Utara, apakah komunitas kita menjadi saksi kasih Allah yang inklusif? Ataukah kita justru menjadi kelompok eksklusif yang sibuk dengan urusan internal dan melupakan panggilan untuk menjadi berkat bagi lingkungan sekitar?

 

Iman yang Berbuah: Percaya, Berdoa, dan Mengampuni

Setelah mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait Allah, Yesus mengajar para murid tentang kekuatan iman dan doa. "Percayalah kepada Allah!" tegas Yesus. Iman sejati bukan sekadar pengakuan mulut, tetapi keyakinan yang menggerakkan gunung, yaitu segala tantangan dan dosa yang menghalangi kita untuk berbuah.

Yesus juga mengaitkan iman dan doa dengan satu hal yang sangat praktis: PENGAMPUNAN.

"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Mrk 11:25)

Ini adalah inti dari buah iman. Tanda paling nyata bahwa kita bukan pohon ara yang palsu adalah kemampuan kita untuk mengampuni.

Saudara-saudari, kita hidup dalam masyarakat yang dinamis, di mana gesekan dan konflik bisa terjadi di mana-mana: di lingkungan kerja, di pasar, di jalanan, bahkan di dalam keluarga dan lingkungan gereja sendiri. Kemarahan, dendam, dan sakit hati adalah "ulat-ulat" yang memakan buah iman kita sehingga menjadi kering dan rontok. Yesus mengajarkan bahwa mustahil kita berhubungan dengan Allah (berdoa) sementara hati kita masih penuh kebencian terhadap sesama. Pengampunan adalah "pupuk" yang membuat iman kita berbuah lebat.

 

Panggilan untuk Menjadi Saksi yang Berbuah

Saudara-saudari terkasih,

Marilah kita merenungkan diri: Apakah hidup saya hanya dipenuhi dengan "daun-daun" kesalehan yang rimbun tetapi mandul? Apakah Bait Allah hati saya telah berubah menjadi pasar atau sarang penyamun? Apakah saya bersedia untuk mengampuni saudara saya yang bersalah kepada saya?

Tuhan Yesus hari ini mengajak kita untuk suatu pertobatan sejati. Ia ingin kita bukan sekadar orang Katolik yang tampak baik di luar, tetapi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh berbuah di dalam. Buah kasih, buah keadilan, buah kejujuran, buah kerendahan hati, dan terutama buah pengampunan.

Dengan iman yang teguh kepada Allah, marilah kita bersihkan Bait Allah hati kita. Mari kita jadikan hidup kita sebagai rumah doa yang sesungguhnya, sehingga dari kehidupan kita, orang lain dapat merasakan kehadiran dan kasih Allah. Hanya dengan demikian, kita terhindar dari kutukan kemandulan dan menjadi pohon ara yang rimbun dan berbuah lebat, untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita semua.

Tuhan memberkati kita semua. Amin.


(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar