Bukan Sekadar Daun, Tetapi
Buah Iman Sejati
(Markus 11:11-26)
Saudara-saudari terkasih, yang
dikasihi Tuhan,
Kita semua pasti pernah mengalami
kekecewaan. Mungkin karena janji yang tidak ditepati, atau penampilan luar yang
tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus
juga mengalami "kekecewaan." Bukan kekecewaan yang kecil, tetapi
kekecewaan ilahi yang menjadi pelajaran keras bagi kita semua.
Perikop hari ini menyajikan dua
peristiwa besar yang saling terkait: Kutukan atas pohon ara dan Penyucian
Bait Allah. Dua peristiwa ini memiliki satu tema sentral yang sama,
yaitu Kemunafikan Iman.
Mari kita renungkan bersama,
bagaimana firman Tuhan ini berbicara secara konkret dalam kehidupan kita
sebagai warga Gereja di Sumatera Utara, khususnya di tengah tantangan dan
realitas kita sehari-hari.
Kemunafikan: Daun yang Rimbun
Tanpa Buah
Cerita dimulai dengan Yesus yang
lapar. Dari jauh, Ia melihat sebatang pohon ara yang penuh dengan daun. Daun
yang lebat biasanya menjadi tanda bahwa pohon itu sedang dalam masa berbuah.
Namun, ketika didekati, ternyata tidak ada apa-apa selain daun belaka. Pohon
itu palsu, menjanjikan sesuatu yang tidak dimilikinya. Akibatnya, Yesus
mengutuk pohon itu.
Tetapi, Yesus tidak mengutuk
pohon itu karena tidak sempurna atau karena gagal panen. Ia mengutuknya
karena kepalsuannya. Dari kejauhan, ia tampak seperti pohon ara
yang produktif, tetapi pada kenyataannya ia mandul.
Saudara-saudari, inilah gambaran
yang sangat kuat tentang kemunafikan. Kemunafikan adalah ketika penampilan
luar kita tidak sesuai dengan realitas batin. Ketika kita, sebagai orang
Katolik, dari luar tampak saleh, rajin ke gereja, aktif di lingkungan, tetapi
hati dan perbuatan kita tidak menghasilkan buah iman yang sejati.
Di wilayah kita ini, kita hidup
dalam masyarakat yang majemuk, dinamis, dan penuh tantangan. Di satu sisi, kita
bangga dengan gereja-gereja kita yang megah, dengan paduan suara yang merdu,
dengan banyaknya kegiatan rohani. Itu semua adalah "daun-daun" iman
kita. Daun itu penting, ia menandakan kehidupan. Namun, Yesus memperingatkan
kita: Jangan hanya puas dengan daun. Pertanyaan krusial
bagi kita adalah: di manakah buahnya?
Buah Iman di Keluarga: Apakah
kesalehan kita di gereja berbuah dalam kasih dan pengampunan di rumah? Ataukah
kita seperti pohon ara yang rimbun di luar, tetapi di dalam rumah tangga kita
penuh dengan kemarahan, keegoisan, dan luka yang tidak terobati?
Buah Iman di Masyarakat: Apakah
iman kita berbuah dalam kepedulian terhadap sesama? Di kota Medan dan
sekitarnya, masih banyak saudara kita yang miskin, sakit, dan tersisih. Apakah
kehadiran kita sebagai orang Katolik membawa berkat dan keadilan bagi mereka,
atau hanya sekadar wacana belaka? Apakah iman kita berbuah dalam kejujuran di
tempat kerja, di pasar, dalam bisnis?
Buah Iman di Gereja: Apakah
kita hanya menjadi pengunjung mingguan, atau kita menjadi murid yang
sungguh-sungguh bertumbuh? Apakah kita mudah menghakimi sesama umat, sementara
kita sendiri lalai dalam pertobatan pribadi?
Bait Allah yang Suci: Rumah
Doa atau Sarang Penyamun?
Peristiwa kutukan pohon ara ini
diapit oleh kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Bait Allah di Yerusalem adalah
pusat ibadah, tempat paling kudus. Namun, Yesus mendapatinya telah berubah
menjadi pasar, tempat transaksi, tempat keuntungan pribadi. Ia menyebutnya
sebagai "sarang penyamun."
Orang-orang Farisi dan pedagang
di Bait Allah menggunakan agama untuk keuntungan diri. Mereka menciptakan
sistem yang membebani umat kecil. Ibadah telah kehilangan esensinya sebagai
relasi pribadi dengan Allah, dan berubah menjadi ritual yang hampa.
Sekarang, mari kita renungkan: Gereja,
lingkungan, dan bahkan hati kita sendiri adalah Bait Allah yang baru. Santo
Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus (1Kor 6:19).
Apakah hati kita masih menjadi
rumah doa? Ataukah sudah berubah menjadi "sarang penyamun"?
Sarang penyamun adalah tempat para perampok bersembunyi setelah berbuat jahat.
Mungkin kita datang ke gereja, tetapi hati kita masih dipenuhi dengan
rencana-rencana curang, dendam, iri hati, dan cinta uang yang berlebihan. Kita
mencoba "menyamar" dengan ritual, sementara hati kita jauh dari
Tuhan.
Apakah Gereja kita (komunitas
kita) menjadi rumah doa bagi semua orang? Di tengah kemajemukan masyarakat
Sumatera Utara, apakah komunitas kita menjadi saksi kasih Allah yang inklusif?
Ataukah kita justru menjadi kelompok eksklusif yang sibuk dengan urusan
internal dan melupakan panggilan untuk menjadi berkat bagi lingkungan sekitar?
Iman yang Berbuah: Percaya,
Berdoa, dan Mengampuni
Setelah mengutuk pohon ara dan
menyucikan Bait Allah, Yesus mengajar para murid tentang kekuatan iman dan doa.
"Percayalah kepada Allah!" tegas Yesus. Iman sejati bukan sekadar
pengakuan mulut, tetapi keyakinan yang menggerakkan gunung, yaitu segala
tantangan dan dosa yang menghalangi kita untuk berbuah.
Yesus juga mengaitkan iman dan
doa dengan satu hal yang sangat praktis: PENGAMPUNAN.
"Dan jika kamu berdiri untuk
berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap
seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni
kesalahan-kesalahanmu." (Mrk 11:25)
Ini adalah inti dari buah iman.
Tanda paling nyata bahwa kita bukan pohon ara yang palsu adalah kemampuan
kita untuk mengampuni.
Saudara-saudari, kita hidup dalam
masyarakat yang dinamis, di mana gesekan dan konflik bisa terjadi di mana-mana:
di lingkungan kerja, di pasar, di jalanan, bahkan di dalam keluarga dan
lingkungan gereja sendiri. Kemarahan, dendam, dan sakit hati adalah "ulat-ulat"
yang memakan buah iman kita sehingga menjadi kering dan rontok. Yesus
mengajarkan bahwa mustahil kita berhubungan dengan Allah (berdoa) sementara
hati kita masih penuh kebencian terhadap sesama. Pengampunan adalah
"pupuk" yang membuat iman kita berbuah lebat.
Panggilan untuk Menjadi Saksi
yang Berbuah
Saudara-saudari terkasih,
Marilah kita merenungkan diri:
Apakah hidup saya hanya dipenuhi dengan "daun-daun" kesalehan yang
rimbun tetapi mandul? Apakah Bait Allah hati saya telah berubah menjadi pasar
atau sarang penyamun? Apakah saya bersedia untuk mengampuni saudara saya yang
bersalah kepada saya?
Tuhan Yesus hari ini mengajak
kita untuk suatu pertobatan sejati. Ia ingin kita bukan sekadar orang Katolik
yang tampak baik di luar, tetapi pengikut Kristus yang sungguh-sungguh
berbuah di dalam. Buah kasih, buah keadilan, buah kejujuran,
buah kerendahan hati, dan terutama buah pengampunan.
Dengan iman yang teguh kepada
Allah, marilah kita bersihkan Bait Allah hati kita. Mari kita jadikan hidup
kita sebagai rumah doa yang sesungguhnya, sehingga dari kehidupan kita, orang
lain dapat merasakan kehadiran dan kasih Allah. Hanya dengan demikian, kita
terhindar dari kutukan kemandulan dan menjadi pohon ara yang rimbun dan berbuah
lebat, untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita semua.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.
(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Ahli Madya Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar