RENUNGAN HARIAN
Hari,
Tanggal : Jumat,
13 Maret 2026
Bacaan : Markus
12:28b-34
KITA HARUS TURUN, BERHENTI, DAN MELIHAT MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DI SEKITAR KITA
Saudara-saudari terkasih,
Pernahkah kita merasa sudah melakukan segalanya dengan benar dalam beragama? Rajin ke gereja, setia berdoa, bahkan aktif dalam kegiatan sosial? Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin mengganggu di lubuk hati: apakah semua itu sudah cukup?
Hari ini, Injil Markus membawa kita ke sebuah percakapan
yang teduh namun mendalam di Bait Allah. Seorang ahli Taurat, yang mungkin
lelah dengan perdebatan para rabi tentang mana hukum yang terberat dan teringan
di antara 613 perintah Taurat, datang kepada Yesus dengan pertanyaan jujur,
"Perintah manakah yang paling utama?"
Yesus tidak terjebak dalam perdebatan. Ia menjawab dengan merajut dua kutipan dari kitab suci mereka sendiri. Pertama, Shema Israel, doa inti yang setiap hari terucap dari bibir orang Yahudi: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu." Lalu, tanpa jeda, Ia menambahkan perintah kedua yang "sama dengan itu": "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Dua perintah ini, bagi Yesus, adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Seperti nafas yang keluar dan masuk. Tak mungkin kita mengaku mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, jika kita menutup mata terhadap sesama yang ada di hadapan kita.
Saudara terkasih, mari kita bawa renungan ini ke tanah kelahiran kita, Sumatera Utara. Di sini, kita memiliki kekayaan budaya Batak yang luhur dengan filosofi Dalihan Na Tolu (tungku nan tiga). Almarhum Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dengan indah pernah menyublimasikan nilai ini dalam terang iman. Beliau memaknai Somba Marhula-hula (hormat kepada pihak hula-hula) sebagai lambang hubungan vertikal kita kepada Tuhan—sumber berkat dan kehidupan. Sementara Elek Marboru (mengayomi pihak boru) dan Manat Mardongan Tubu (saling menjaga dengan sesama semarga) adalah perwujudan nyata dari kasih horizontal kepada sesama.
Filosofi luhur ini mengajarkan kita bahwa ibadah kepada Tuhan dan kepedulian kepada manusia adalah satu paket yang utuh. Namun, dalam keseharian, seringkali kita tergoda untuk memisahkannya. Ada godaan untuk menjadi saleh di dalam gereja. Kita bangga dengan megahnya rumah ibadah di kota Medan, atau semangat umat di stasi-stasi terpencil Nias dan Tapanuli. Kita sibuk mempersembahkan kurban dan doa. Tetapi, pada saat yang sama, hati kita tuli terhadap tangisan "Yerikho" di sekitar kita—tangisan para perantau yang kesepian, tangisan keluarga miskin di pesisir Sibolga yang hidupnya terhimpit, atau tangisan mereka yang tersingkirkan karena berbeda suku dan keyakinan.
Sebaliknya, ada juga godaan untuk menjadi aktif secara sosial. Kita sibuk dengan kegiatan Elek Marboru, memberikan bantuan, dan terlibat dalam berbagai organisasi kemanusiaan. Namun, jika semua itu tidak bersumber dari perjumpaan pribadi dengan Sang Sumber Kasih, hati kita bisa menjadi kering. Kita memberi, tetapi mungkin karena gengsi, karena tradisi, atau karena ingin dipuji, bukan karena sungguh-sungguh melihat wajah Kristus dalam diri sesama.
Di sinilah pesan Yesus menjadi sangat tajam. Ahli Taurat dalam Injil hari ini memahami hal ini. Ia bahkan berkata bahwa mengasihi Allah dan sesama "jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Sebuah pengakuan yang revolusioner, yang diucapkannya tepat di tengah Bait Allah yang megah, pusat segala ritual kurban. Yesus melihat kedalaman pemahamannya dan berkata, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."
Saudara-saudari, apa artinya "tidak jauh"? Artinya, kita bisa saja memiliki pemahaman yang benar, teologi yang tepat, dan tradisi yang indah. Tetapi semua itu akan sia-sia jika hanya berhenti di kepala dan tidak menjelma menjadi tindakan. IKKSU (Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara) di perantauan, misalnya, memiliki tekad mulia untuk memastikan tak ada sesama perantau yang kelaparan atau kesepian di rumah sakit. Itulah wujud kasih sesama yang nyata. Namun, seperti diingatkan Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, panggilan kita bukan sekadar untuk "mendapat" atau memberi secara seremonial, tetapi untuk "memberi diri". Prinsipnya, not to have but to give.
Memberi diri berarti kita harus keluar dari zona nyaman. Kita harus berhenti, seperti Yesus yang berhenti di Yerikho untuk Bartimeus, si pengemis buta yang tersisihkan. Kita harus turun dan melihat secara langsung penderitaan orang lain. Dalam masyarakat kita yang majemuk—dengan Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Nias, Jawa, Tionghoa, India, dan lainnya—kasih yang sejati tidak boleh diskriminatif. Perbedaan suku, agama, ras, dan budaya tidak boleh menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling mengasihi.
Kita bangga menjadi orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, atau orang Medan. Itu adalah anugerah. Budaya adalah jalan kita menuju Tuhan. Namun, identitas kultural kita tidak boleh lebih besar daripada identitas kita sebagai murid Yesus. Salib Kristus adalah pemersatu sejati. Jika kita sungguh mengasihi, kita tak akan membiarkan perbedaan marga, asal-usul, atau status sosial menghalangi kita untuk berbagi kasih.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita naik ke Yerusalem, berjumpa dengan Tuhan dalam doa dan Ekaristi. Marilah kita membarui hati kita dengan Shema yang baru: "Dengarlah, hai umat Katolik, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Dia dengan segenap hati." Tetapi ingatlah, jalan menuju Yerusalem harus melewati Yerikho. Kita harus turun, berhenti, dan melihat mereka yang terpinggirkan di sekitar kita.
Orang yang tidak jauh dari Kerajaan Allah adalah orang yang
tahu persis ke mana ia harus pergi, dan tahu persis jalan apa yang harus
ditempuh. Yesus berkata, "Akulah Jalan." Dan jalan itu adalah Jalan
Kasih: kasih kepada Allah yang Esa dan kasih kepada sesama yang konkret. Semoga
kita, tidak hanya "tidak jauh" dari Kerajaan Allah, tetapi sungguh
masuk dan menghadirkan Kerajaan itu di Tanah Sumatera Utara yang kita cintai,
mulai dari hari ini. Amin.
(Sorang Tumanggor, S.Ag Penyuluh Agama Katolik Kankemenag
Kabupaten Dairi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar