Senin, 09 Maret 2026

KEMULIAAN SEJATI DI TENGAH DUNIA YANG MENGAGUNGKAN PUJIAN

 

KEMULIAAN SEJATI DI TENGAH DUNIA

YANG MENGAGUNGKAN PUJIAN


Matius 20:17-28



Saudara-saudari terkasih,

Pernahkah kita merasa ingin diakui? Ingin dipuji? Ingin dianggap penting? Perasaan ini wajar, karena kita semua manusia. Namun hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita melihat dengan cara yang berbeda.

Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ia tahu apa yang akan menimpa-Nya: penderitaan, penolakan, bahkan kematian di salib. Tetapi di saat yang sama, dua murid-Nya, Yakobus dan Yohanes, justru meminta tempat terhormat di surga. Ibu mereka pun ikut memohon agar kedua anaknya duduk di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan. Bukankah ini lucu? Yesus berbicara tentang pengorbanan, tetapi mereka berbicara tentang kedudukan. Yesus berbicara tentang memberi hidup, tetapi mereka berbicara tentang keuntungan. Namun, jangan cepat menghakimi mereka. Bukankah kita pun sering seperti itu?

Saudara-saudari, kita hidup di zaman di mana orang diukur dari jumlah "like" di media sosial, jabatan di kantor, atau pengakuan dari sesama. Banyak orang rela melakukan apa saja agar dilihat, dipuji, dan dianggap hebat. Ibu Yakobus dan Yohanes sebenarnya tidak berbeda dengan banyak orang tua zaman sekarang yang ingin anaknya sukses, terkenal, dan "nomor satu."

Pertanyaan untuk kita: Apa motivasi kita dalam melayani? Ketika kita aktif di lingkungan, ikut legio, menjadi lektor, atau membantu di gereja, apakah kita diam-diam berharap diperhatikan? Apakah kita kecewa jika tidak dipuji? Apakah kita merasa kecil jika tidak disebut namanya? Yesus membalik semua logika dunia ini. Ia berkata:"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Mat 20:26). Wah, ini benar-benar terbalik! Dunia bilang: "Kejarlah pujian, kumpulkan pengakuan." Yesus bilang: "Jadilah pelayan, berikan dirimu."

Lalu, di mana kita bisa menemukan Salib dalam hidup sehari-hari? Salib tidak selalu berarti penderitaan besar, salib bisa hadir dalam hal-hal sederhana: Ketika kita mengalah demi kedamaian, merawat orang tua yang sakit tanpa mengeluh, atau sabar menghadapi anak yang rewel. Di situlah kita "minum cawan" yang Yesus maksudkan. Ketika kita memilih jujur meskipun rugi, membantu rekan kerja tanpa ingin dipuji, atau menolak korupsi meskipun karir kita tidak naik. Di situlah kita memikul salib. Ketika kita membela orang yang tertindas, memaafkan orang yang menyakiti kita, atau berbagi dengan sesama meskipun kita sendiri kekurangan. Di situlah kita mengikuti jejak Yesus. Ketika kita melayani di posisi yang tidak terlihat, misalnya membersihkan gereja, menyiapkan perlengkapan misa, atau setia melakukan tugas kecil yang itu-itu saja. Di situlah kita belajar arti "besar" di mata Tuhan.

Yesus tidak melarang kita untuk menjadi besar. Tetapi Ia mengubah arti "besar" itu sendiri. Besar bukan berarti berapa banyak yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan berapa banyak yang kita berikan untuk orang lain. Besar bukan berarti berdiri di atas orang lain, melainkan membungkuk membasuh kaki mereka. Besar bukan berarti terkenal di mana-mana, melainkan setia dalam hal-hal kecil yang tidak dilihat orang.

Di tengah dunia yang mengejar penampilan dan pujian, kita dipanggil untuk menjadi "kontra-budaya." Kita dipanggil menjadi lilin yang menerangi orang lain dengan membakar diri sendiri. Kita dipanggil menjadi air yang memberi kehidupan, bukan bendungan yang menahan air hanya untuk diri sendiri.

Mari kita tanya diri kita masing-masing: Apa motivasi saya dalam bekerja dan melayani? Apakah karena ingin diakui atau karena kasih yang tulus? Dalam bidang apa saya dipanggil untuk "minum cawan" penderitaan dengan rela? Mungkin dalam kesabaran menghadapi orang lain, dalam pengampunan, atau dalam perjuangan untuk keadilan? Bagaimana saya bisa menjadi "pelayan" bagi sesama di lingkungan saya saat ini, meskipun dengan cara yang sederhana dan tidak terkenal?

Saudara-saudari terkasih, ingatlah selalu: sebelum kebangkitan, selalu ada salib. Sebelum kemuliaan sejati, selalu ada pengorbanan. Dunia mungkin tidak akan bertepuk tangan untuk pelayanan kita yang tersembunyi. Tidak ada berita di TV tentang orang yang setia merawat orang tua sakit. Tidak ada "like" di media sosial untuk ibu yang sabar mendidik anaknya. Tetapi Bapa di surga melihat semuanya. Ia menyimpan setiap tetes air mata, setiap lelah, dan setiap cinta yang kita berikan dalam pelayanan yang tulus. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kab. Dairi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar