KEMULIAAN
SEJATI DI TENGAH DUNIA
YANG
MENGAGUNGKAN PUJIAN
Matius 20:17-28
Saudara-saudari
terkasih,
Pernahkah kita merasa ingin diakui? Ingin dipuji? Ingin dianggap
penting? Perasaan ini wajar, karena kita semua manusia. Namun hari ini, Tuhan
Yesus mengajak kita melihat dengan cara yang berbeda.
Yesus
sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ia tahu apa yang akan menimpa-Nya:
penderitaan, penolakan, bahkan kematian di salib. Tetapi di saat yang sama, dua
murid-Nya, Yakobus dan Yohanes, justru meminta tempat terhormat di surga. Ibu
mereka pun ikut memohon agar kedua anaknya duduk di kanan dan kiri Yesus dalam
kemuliaan. Bukankah ini lucu? Yesus berbicara tentang pengorbanan, tetapi
mereka berbicara tentang kedudukan. Yesus berbicara tentang memberi hidup,
tetapi mereka berbicara tentang keuntungan. Namun, jangan cepat menghakimi
mereka. Bukankah kita pun sering seperti itu?
Saudara-saudari,
kita hidup di zaman di mana orang diukur dari jumlah "like" di media
sosial, jabatan di kantor, atau pengakuan dari sesama. Banyak orang rela
melakukan apa saja agar dilihat, dipuji, dan dianggap hebat. Ibu Yakobus dan
Yohanes sebenarnya tidak berbeda dengan banyak orang tua zaman sekarang yang
ingin anaknya sukses, terkenal, dan "nomor satu."
Pertanyaan
untuk kita: Apa motivasi kita dalam melayani? Ketika kita aktif di
lingkungan, ikut legio, menjadi lektor, atau membantu di gereja, apakah kita
diam-diam berharap diperhatikan? Apakah kita kecewa jika tidak dipuji? Apakah
kita merasa kecil jika tidak disebut namanya? Yesus membalik semua logika dunia
ini. Ia berkata:"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Mat 20:26). Wah, ini
benar-benar terbalik! Dunia bilang: "Kejarlah pujian, kumpulkan
pengakuan." Yesus bilang: "Jadilah pelayan, berikan dirimu."
Lalu,
di mana kita bisa menemukan Salib dalam hidup sehari-hari? Salib tidak selalu
berarti penderitaan besar, salib bisa hadir dalam hal-hal sederhana: Ketika
kita mengalah demi kedamaian, merawat orang tua yang sakit tanpa mengeluh, atau
sabar menghadapi anak yang rewel. Di situlah kita "minum cawan" yang
Yesus maksudkan. Ketika kita memilih jujur meskipun rugi, membantu rekan kerja
tanpa ingin dipuji, atau menolak korupsi meskipun karir kita tidak naik. Di
situlah kita memikul salib. Ketika kita membela orang yang tertindas, memaafkan
orang yang menyakiti kita, atau berbagi dengan sesama meskipun kita sendiri
kekurangan. Di situlah kita mengikuti jejak Yesus. Ketika kita melayani di
posisi yang tidak terlihat, misalnya membersihkan gereja, menyiapkan
perlengkapan misa, atau setia melakukan tugas kecil yang itu-itu saja. Di
situlah kita belajar arti "besar" di mata Tuhan.
Yesus
tidak melarang kita untuk menjadi besar. Tetapi Ia mengubah arti
"besar" itu sendiri. Besar bukan berarti berapa banyak yang kita
kumpulkan untuk diri sendiri, melainkan berapa banyak yang kita berikan untuk
orang lain. Besar bukan berarti berdiri di atas orang lain, melainkan
membungkuk membasuh kaki mereka. Besar bukan berarti terkenal di
mana-mana, melainkan setia dalam hal-hal kecil yang tidak dilihat orang.
Di
tengah dunia yang mengejar penampilan dan pujian, kita dipanggil untuk menjadi
"kontra-budaya." Kita dipanggil menjadi lilin yang menerangi orang
lain dengan membakar diri sendiri. Kita dipanggil menjadi air yang memberi
kehidupan, bukan bendungan yang menahan air hanya untuk diri sendiri.
Mari
kita tanya diri kita masing-masing: Apa motivasi saya dalam bekerja dan
melayani? Apakah karena ingin diakui atau karena kasih yang tulus? Dalam bidang
apa saya dipanggil untuk "minum cawan" penderitaan dengan rela?
Mungkin dalam kesabaran menghadapi orang lain, dalam pengampunan, atau dalam
perjuangan untuk keadilan? Bagaimana saya bisa menjadi "pelayan" bagi
sesama di lingkungan saya saat ini, meskipun dengan cara yang sederhana dan
tidak terkenal?
Saudara-saudari
terkasih, ingatlah selalu: sebelum kebangkitan, selalu ada salib. Sebelum
kemuliaan sejati, selalu ada pengorbanan. Dunia mungkin tidak akan bertepuk
tangan untuk pelayanan kita yang tersembunyi. Tidak ada berita di TV tentang
orang yang setia merawat orang tua sakit. Tidak ada "like" di media
sosial untuk ibu yang sabar mendidik anaknya. Tetapi Bapa di surga melihat
semuanya. Ia menyimpan setiap tetes air mata, setiap lelah, dan setiap cinta
yang kita berikan dalam pelayanan yang tulus. Amin.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kab. Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar