Senin, 09 Maret 2026

JANGAN TAKUT AKAN LEMBAH KEHIDUPAN

 

JANGAN TAKUT AKAN LEMBAH KEHIDUPAN



Saudara-saudari terkasih,

Setiap dari kita pasti pernah mengalami saat-saat yang sangat indah dan berkesan dalam hidup. Saat-saat di mana kita merasa sangat dekat dengan Tuhan, hati dipenuhi damai sejahtera, dan segala sesuatu terasa begitu jelas dan berarti. Mungkin saat itu terjadi ketika kita sedang berdoa dengan khusyuk, mengikuti retret, atau mengalami berkat yang luar biasa.

Pengalaman serupa juga dialami oleh tiga murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Dalam Injil Sinoptik (Matius 17:1-9, Markus 9:2-8, dan Lukas 9:28-36), kita mendengar kisah tentang Yesus yang berubah rupa di atas gunung yang tinggi. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar. Di situ, Musa dan Elia, dua tokoh besar dalam sejarah iman Israel, menampakkan diri dan berbicara dengan Yesus.

Menyaksikan kemuliaan itu, Petrus sangat takjub. Ia ingin mengabadikan momen indah itu selamanya. “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di sini,” katanya. “Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.”

Reaksi Petrus ini sangat manusiawi. Siapa di antara kita yang tidak ingin berlama-lama berada dalam pengalaman rohani yang indah dan damai? Kita pun seringkali ingin “mendirikan kemah” dan tinggal di “puncak gunung”, jauh dari hiruk-pikuk dan masalah dunia. Itu adalah kerinduan kita akan kedamaian abadi.

Namun, Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Saat Petrus masih berbicara, awan terang menaungi mereka dan muncullah suara Allah Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar suara itu, para murid sangat ketakutan dan tersungkur. Lalu, Yesus mendekat, menjamah mereka, dan berkata dengan lembut, “Berdirilah, jangan takut.” Ketika mereka mengangkat kepala, mereka hanya melihat Yesus seorang diri. Setelah itu, mereka pun turun dari gunung.

Saudara-saudari, peristiwa Transfigurasi atau penampakan kemuliaan Yesus ini bukan sekadar cerita tentang mukjizat. Ada pesan penting bagi perjalanan iman kita. Kisah ini mengajarkan bahwa pengalaman rohani yang indah di “puncak gunung” bukanlah tujuan akhir. Itu adalah anugerah dan bekal. Bekal untuk melangkah kembali ke bawah, ke “lembah kehidupan” yang nyata.

Para murid harus turun gunung. Di lembah, mereka akan kembali berhadapan dengan orang banyak yang membutuhkan, dengan penderitaan, dengan keraguan, dan pada akhirnya dengan jalan salib yang harus ditempuh Yesus. Pengalaman kemuliaan di gunung diberikan justru untuk menguatkan iman mereka saat menghadapi pencobaan dan penderitaan yang akan datang.

Kehidupan iman kita adalah sebuah perjalanan antara gunung dan lembah. Ada saat-saat kita merasakan kehangatan di “puncak gunung”, misalnya saat teduh pribadi, doa yang khusyuk, atau perayaan Ekaristi yang penuh penghayatan. Saat-saat ini adalah anugerah. Nikmatilah, resapilah, dan biarkan Tuhan berbicara kepada kita. Izinkan pengalaman itu menguatkan iman kita.

Namun, kita juga harus siap untuk “turun gunung.” Kita dipanggil untuk kembali ke dalam dunia: ke dalam keluarga, ke tempat kerja, ke dalam pergumulan hidup sehari-hari. Di sanalah iman kita diuji. Di sanalah kita dipanggil untuk “mendengarkan Dia” di tengah kebisingan. Di sanalah kita dipanggil untuk menjadi terang dengan memancarkan kasih, kesabaran, dan kebaikan, seperti Yesus yang bercahaya.

Jangan takut akan lembah. Di lembah, kita mungkin merasa sendirian. Namun ingatlah, ketika para murid hanya melihat Yesus seorang diri, justru di situlah yang terpenting. Yesus yang sama yang bercahaya di gunung, adalah Yesus yang sama yang setia menemani kita di lembah kehidupan. Tangan-Nya yang menjamah dan menenangkan murid-murid di gunung, adalah tangan yang sama yang menguatkan kita dalam setiap pergumulan.

Peristiwa Transfigurasi terjadi menjelang sengsara Yesus. Itu adalah suntikan kekuatan bagi Yesus sendiri dan para murid-Nya. Bagi kita, setiap kali mengikuti Misa Kudus adalah “puncak gunung” kecil kita. Di sana kita bertemu Yesus yang mulia dalam sabda dan Ekaristi. Dan dari sanalah kita diutus (Ite, missa est) untuk kembali ke lembah kehidupan, membawa Kristus dalam hati dan tindakan kita. Kita melangkah dengan keyakinan bahwa setelah masa penantian dan perjuangan di dunia ini, kita akan mencapai kemuliaan abadi bersama-Nya.

Marilah kita belajar menghargai saat-saat indah bersama Tuhan, tetapi jangan terpaku di sana. Biarlah pengalaman itu mengubahkan kita dan memberi kekuatan untuk turun gunung, menghadapi realitas hidup, dan menjadi saksi Kristus. Dan ingatlah selalu pesan Bapa yang berlaku sepanjang masa, di gunung maupun di lembah: “Dengarkanlah Dia.”

 

(Sorang Tumanggor, S.Ag, Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Dairi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar