JANGAN TAKUT AKAN LEMBAH KEHIDUPAN
Saudara-saudari terkasih,
Setiap dari kita pasti pernah
mengalami saat-saat yang sangat indah dan berkesan dalam hidup. Saat-saat di
mana kita merasa sangat dekat dengan Tuhan, hati dipenuhi damai sejahtera, dan
segala sesuatu terasa begitu jelas dan berarti. Mungkin saat itu terjadi ketika
kita sedang berdoa dengan khusyuk, mengikuti retret, atau mengalami berkat yang
luar biasa.
Pengalaman serupa juga dialami
oleh tiga murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Dalam Injil Sinoptik (Matius
17:1-9, Markus 9:2-8, dan Lukas 9:28-36), kita mendengar kisah tentang Yesus
yang berubah rupa di atas gunung yang tinggi. Wajah-Nya bercahaya seperti
matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar. Di situ, Musa dan Elia, dua
tokoh besar dalam sejarah iman Israel, menampakkan diri dan berbicara dengan
Yesus.
Menyaksikan kemuliaan itu, Petrus
sangat takjub. Ia ingin mengabadikan momen indah itu selamanya. “Tuhan, betapa
bahagianya kami berada di sini,” katanya. “Jika Engkau mau, biarlah kudirikan
di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.”
Reaksi Petrus ini sangat
manusiawi. Siapa di antara kita yang tidak ingin berlama-lama berada dalam
pengalaman rohani yang indah dan damai? Kita pun seringkali ingin “mendirikan
kemah” dan tinggal di “puncak gunung”, jauh dari hiruk-pikuk dan masalah dunia.
Itu adalah kerinduan kita akan kedamaian abadi.
Namun, Tuhan memiliki rencana
yang lebih besar. Saat Petrus masih berbicara, awan terang menaungi mereka dan
muncullah suara Allah Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku
berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar suara itu, para murid sangat ketakutan
dan tersungkur. Lalu, Yesus mendekat, menjamah mereka, dan berkata dengan
lembut, “Berdirilah, jangan takut.” Ketika mereka mengangkat kepala, mereka
hanya melihat Yesus seorang diri. Setelah itu, mereka pun turun dari gunung.
Saudara-saudari, peristiwa
Transfigurasi atau penampakan kemuliaan Yesus ini bukan sekadar cerita tentang
mukjizat. Ada pesan penting bagi perjalanan iman kita. Kisah ini mengajarkan
bahwa pengalaman rohani yang indah di “puncak gunung” bukanlah tujuan akhir.
Itu adalah anugerah dan bekal. Bekal untuk melangkah kembali ke bawah, ke
“lembah kehidupan” yang nyata.
Para murid harus turun gunung. Di
lembah, mereka akan kembali berhadapan dengan orang banyak yang membutuhkan,
dengan penderitaan, dengan keraguan, dan pada akhirnya dengan jalan salib yang
harus ditempuh Yesus. Pengalaman kemuliaan di gunung diberikan justru untuk
menguatkan iman mereka saat menghadapi pencobaan dan penderitaan yang akan
datang.
Kehidupan iman kita adalah sebuah
perjalanan antara gunung dan lembah. Ada saat-saat kita merasakan kehangatan di
“puncak gunung”, misalnya saat teduh pribadi, doa yang khusyuk, atau perayaan
Ekaristi yang penuh penghayatan. Saat-saat ini adalah anugerah. Nikmatilah,
resapilah, dan biarkan Tuhan berbicara kepada kita. Izinkan pengalaman itu
menguatkan iman kita.
Namun, kita juga harus siap untuk
“turun gunung.” Kita dipanggil untuk kembali ke dalam dunia: ke dalam keluarga,
ke tempat kerja, ke dalam pergumulan hidup sehari-hari. Di sanalah iman kita
diuji. Di sanalah kita dipanggil untuk “mendengarkan Dia” di tengah kebisingan.
Di sanalah kita dipanggil untuk menjadi terang dengan memancarkan kasih,
kesabaran, dan kebaikan, seperti Yesus yang bercahaya.
Jangan takut akan lembah. Di
lembah, kita mungkin merasa sendirian. Namun ingatlah, ketika para murid hanya
melihat Yesus seorang diri, justru di situlah yang terpenting. Yesus yang sama
yang bercahaya di gunung, adalah Yesus yang sama yang setia menemani kita di
lembah kehidupan. Tangan-Nya yang menjamah dan menenangkan murid-murid di
gunung, adalah tangan yang sama yang menguatkan kita dalam setiap pergumulan.
Peristiwa Transfigurasi terjadi
menjelang sengsara Yesus. Itu adalah suntikan kekuatan bagi Yesus sendiri dan
para murid-Nya. Bagi kita, setiap kali mengikuti Misa Kudus adalah “puncak
gunung” kecil kita. Di sana kita bertemu Yesus yang mulia dalam sabda dan
Ekaristi. Dan dari sanalah kita diutus (Ite, missa est) untuk kembali ke
lembah kehidupan, membawa Kristus dalam hati dan tindakan kita. Kita melangkah
dengan keyakinan bahwa setelah masa penantian dan perjuangan di dunia ini, kita
akan mencapai kemuliaan abadi bersama-Nya.
Marilah kita belajar menghargai
saat-saat indah bersama Tuhan, tetapi jangan terpaku di sana. Biarlah
pengalaman itu mengubahkan kita dan memberi kekuatan untuk turun gunung,
menghadapi realitas hidup, dan menjadi saksi Kristus. Dan ingatlah selalu pesan
Bapa yang berlaku sepanjang masa, di gunung maupun di lembah: “Dengarkanlah
Dia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar