Senin, 11 Juli 2011
Bersama Sahabat Iman Slideshow
Bersama Sahabat Iman Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Bersama Sahabat Iman Slideshow ★ to Medan. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"
Sabtu, 02 Juli 2011
“MENGANGKAT” BUDAYA PAKPAK LEWAT INKULTURASI
“MENGANGKAT” BUDAYA PAKPAK LEWAT INKULTURASI
Sorang Tumanggor, S.Ag
Agama tidak terlepaskan dari budaya masyarakat. Begitu halnya dengan Gereja Katolik, sebagai suatu agama, juga berusaha mengakar dalam tradisi atau budaya setempat. Setelah mengakarkan diri dalam sebuah kebudayaan, Gereja Katolik akan mengembangkan liturgi, teologi, dan organisasinya dengan mempergunakan harta kekayaan kebudayaan tersebut. Gereja Katolik berjuang menjelmakan Injil dalam budaya-budaya yang berbeda-beda dan serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan-kebudayaannya kedalam persekutuan Gereja itu sendiri. Gereja menyampaikan nilai-nilainya sendiri kepada mereka; serentak pada saat yang sama Gereja mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu serta memperbaharuinya dari dalam. Iman dan budaya memang sungguh berpadu tak terpisahkan.
Bukti usaha Gereja Katolik mengangkat budaya Pakpak lewat inkulturasi ini, kami mencoba memaparkannya dengan mengambil sampel tiga gedung gereja Katolik yang bediri di tanah Pakpak.
Gereja Katolik di Sumbul
Peluang inkulturasi ini ditangkap oleh Gereja Katolik di tanah Pakpak, salah satu dengan mendirikan Gereja Inkulturatif. Gereja Inkulturatif pertama di Keuskupan ini adalah Gereja Katolik Inkulturatif Rumah Adat Pakpak di Sumbul. Gereja ini digagas dan dibangun oleh Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982), seorang Pastor berkebangsaaan Australia, serta diresmikan oleh Uskup Agung Medan ketika itu, Mgr. Van den Hurk, OFMCap pada tahun 1976.
Ide pastor Scherri, begitu beliau biasa disapa, mendirikan gereja ini sekaligus untuk melestarikan budaya Pakpak. Gedung gereja ini tampak masih megah, anggun dan bernilai seni hingga saat ini. Gereja ini dibangun terbuat dari bahan utama kayu pilihan dengan atap ijuk. Bagian bawah (dalam bahasa Pakpak disebut tongkarang) gereja ini difungsikan sebagai Aula. Sampai sekarang ketika beribadat umat tidak memakai kursi atau bangku, tetapi menggunakan tikar, sebagaimana dalam budaya Pakpak. Dengan keberadaan gereja inkulturatif ini, seharusnya tumbuh dan berkembang juga bentuk-bentuk peribadatan dan penghayatan iman yang khas dengan budaya Pakpak, bukan hanya sekedar bangunan gereja yang berciri budaya Pakpak.
Memang, pembangunan gereja bergaya rumah adat Pakpak ini pasti menelan biaya yang tidak sedikit. Perawatan dan pelestarian gedung gereja ini juga menelan biaya yang tidak sedikit dan cukup mewalahkan. Disebut mewalahkan, misalnya ketika hendak merehab atap gereja ini, pihak gereja merasa kewalahan untuk mengumpulkan begitu banyak ijuk yang sudah semakin langka.
Gereja Katolik di Sidikalang
Sepadan dengan demografi umat Katolik di Sidikalang, yang terdiri dari berbagai etnis, bangunan gereja ini juga mencoba melukiskan keberagaman etnis tersebut. Bagian depan (pendopo) gereja bercorak rumah adat Pakpak, sedangkan bagian tengah/ tubuhnya bercorak rumah adat Toba. Bagian belakang (panti imam) bergaya roman. Tujuan pendirian gereja bernuansa inkulturatif ini agar iman kristiani berakar dalam budaya. Pengalaman religius dalam budaya tersebut kiranya semakin disesuaikan dengan pengalaman dan pengungkapan religius kristiani. Paduan serasi inilah yang hendak diperjuangkan oleh Gereja Katolik Sidikalang, sehingga tahun belakangan ini pada setiap bulan Kitab Suci Nasional (September) diadakan Misa Inkulturatif setiap minggunya dimulai dengan misa dalam budaya Pakpak, Simalungun, Karo, Toba dan Nasional. Nasional merupakan paduan dari budaya-budaya seperti Cina, Jawa, Nias, Flores, dan lainnya. Misa inkulturatif ini diharapkan sebagai pembelajaran bagi umat untuk semakin mengenal dan menghargai budaya lain, yang merupakan kekayaan dalam Gereja Katolik.
Gereja Katolik Lae Terondi
Pada tahun 2004 terukir sejarah baru bagi daerah ini, yakni lahirnya Kabupaten Pakpak Bharat. Hal ini tentu melahirkan peluang dan tantangan baru bagi pelayanan umat di wilayah ini. Di Kabupaten Pakpak Bharat ada 13 Stasi Gereja Katolik. Salah satu dari 13 stasi tersebut, Gereja Katolik di Lae Terondi tepat berada di pusat kota Kabupaten. Gedung gereja bernuansa rumah adat Pakpak ini telah berdiri kokoh diresmikan oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga pada tanggal 6 Juni 2010 yang lalu.
Untuk menyahuti perkembangan Kabupaten Pakpak Bharat, bapa Uskup menantang umat Katolik setempat berbenah dan melestarikan budaya dan bahasa Pakpak. Wilayah Pakpak Bharat juga ditetapkan sebagai daerah Evangelisasi, karena agama Katolik di wilayah ini relatif masih baru.***
Jumat, 01 Juli 2011
GEREJA INKULTURATIF: SEBATAS KARYA SENI?
GEREJA INKULTURATIF SUMBUL:
SEBATAS KARYA SENI?
Agama tidak terlepaskan dari budaya masyarakat. Gereja perdana mengakar dalam tradisi atau budaya setempat. Setelah mengakarkan diri dalam sebuah kebudayaan, gereja perdana mengembangkan liturgi, teologi, dan organisasinya dengan mempergunakan harta kekayaan kebudayaan tersebut. Kekristenan selalu berhubungan dengan budaya. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja menjelmakan Injil dalam budaya-budaya yang berbeda-beda dan serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan-kebudayaannya kedalam persekutuan Gereja sendiri. Gereja menyampaikan nilai-nilainya sendiri kepada merek; serentak pada saat yang sama Gereja mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu serta memperbaharuinya dari dalam. Iman dan budaya memang sungguh berpadu tak terpisahkan.
Peluang inkulturasi ini ditangkap oleh Gereja di Keuskupan kita, salah satu dengan mendirikan Gereja Inkulturatif. Gereja Inkulturatif pertama di Keuskupan ini adalah Gereja Katolik Inkulturatif Pakpak di Sumbul dengan memakai nama pelindung Dionisius Martir. Gereja ini digagas dan selesai dibangun pada masa penggembalaan P. Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982) tahun 1976 serta diresmikan oleh Mgr. Van den Hurk, OFMCap. Ide pastor mendirikan gereja ini sekaligus untuk melestarikan budaya Pakpak. Gereja ini tampak masih megah, anggun dan bernilai seni hingga saat ini. Gereja ini dibangun dari bahan utama kayu pilihan dengan atap terbuat dari ijuk dengan arsitektur yang bagus. Bagian bawahnya, dalam bahasa Pakpak disebut tongkarang difungsikan sebagai Aula. Umat di gereja ini sampai sekarang tidak memakai kursi atau bangku saat beribadat, tetapi menggunakan tikar, sebagaimana dalam budaya Pakpak.
Sebatas Karya Seni?
Ketika penulis berbincang-bincang dengan pastor Paroki Sumbul, P. Danrisman Sitanggang, O.Carm, beliau merasa bahwa gedung gereja yang anggun ini lebih menonjol pada bidang karya seni yang indah. Tidak terlalu mempunyai daya pikat cita rasa beribadat bagi umat setempat. Sebab, umat di gereja ini adalah mayoritas orang Batak Toba, sedangkan umat etnis Pakpak sendiri sangat minim menjadi Katolik di tempat ini. Hal ini tentu berpengaruh juga dalam hal penggalian potensi inkulturatif dalam peribadatan/liturgy. Menurut beliau, memang keberadaan gereja ini pantas disyukuri karena tampak bahwa Gereja Katolik amat menghargai budaya setempat, sebab paroki Sumbul berada di tanah Pakpak, kendatipun umatnya amat minim dari etnis Pakpak. Pastor paroki Sumbul melihat kebudayaan secara lebih luas karena menyangkut segala aspek hidup, bukan hanya bangunan gereja yang bergaya rumah adat. Dalam hal inilah, beliau melihat keberadaan gereja inkulturatif ini masih sebatas karya seni. Dengan keadaan seperti itu, tentu ada kesulitan bagaimana mengekspresikan identitas gereja ini menjadi bagian hakiki dari kehidupan iman umat di sini. Dengan keberadaan gereja inkulturatif ini, seharusnya tumbuh dan berkembang juga bentuk-bentuk peribadatan dan penghayatan iman yang khas dengan budaya Pakpak, bukan hanya sekedar bangunan gereja yang berciri budaya Pakpak.
Memang, pembangunan gereja bergaya Pakpak ini pasti menelan biaya yang tidak sedikit, namun ketika kami menanyakan apa pengaruhnya bagi umat setempat, mereka tidak terlalu merasakan dampaknya dalam penghayatan beribadat, selain hanya kebanggaan bahwa gedung gerejanya antik. Bukan hanya itu, perawatan dan pelestarian gedung gereja ini juga cukup menelan biaya yang tidak sedikit dan agak merepotkan. Sebagai contoh, ketika hendak merehab atapnya, pihak panitia merasa kesulitan dan kewalahan untuk mengumpulkan begitu banyak ijuk yang sudah semakin langka.
Kiranya menjadi sebuah pembelajaran bagi kita, kiranya pembangunan gedung gereja inkulturatif diikuti dengan pengekspresian nilai yang dikandungnga dalam kehidupan beriman. Bukan sekadar mendirikan bangunan fisiknya yang bercorak budaya setempat, tetapi lebih pada penghayatan kekristenan dalam kebudayaan setempat.
(Sorang Tumanggor, S.Ag)
SEBATAS KARYA SENI?
Agama tidak terlepaskan dari budaya masyarakat. Gereja perdana mengakar dalam tradisi atau budaya setempat. Setelah mengakarkan diri dalam sebuah kebudayaan, gereja perdana mengembangkan liturgi, teologi, dan organisasinya dengan mempergunakan harta kekayaan kebudayaan tersebut. Kekristenan selalu berhubungan dengan budaya. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja menjelmakan Injil dalam budaya-budaya yang berbeda-beda dan serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan-kebudayaannya kedalam persekutuan Gereja sendiri. Gereja menyampaikan nilai-nilainya sendiri kepada merek; serentak pada saat yang sama Gereja mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu serta memperbaharuinya dari dalam. Iman dan budaya memang sungguh berpadu tak terpisahkan.
Peluang inkulturasi ini ditangkap oleh Gereja di Keuskupan kita, salah satu dengan mendirikan Gereja Inkulturatif. Gereja Inkulturatif pertama di Keuskupan ini adalah Gereja Katolik Inkulturatif Pakpak di Sumbul dengan memakai nama pelindung Dionisius Martir. Gereja ini digagas dan selesai dibangun pada masa penggembalaan P. Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982) tahun 1976 serta diresmikan oleh Mgr. Van den Hurk, OFMCap. Ide pastor mendirikan gereja ini sekaligus untuk melestarikan budaya Pakpak. Gereja ini tampak masih megah, anggun dan bernilai seni hingga saat ini. Gereja ini dibangun dari bahan utama kayu pilihan dengan atap terbuat dari ijuk dengan arsitektur yang bagus. Bagian bawahnya, dalam bahasa Pakpak disebut tongkarang difungsikan sebagai Aula. Umat di gereja ini sampai sekarang tidak memakai kursi atau bangku saat beribadat, tetapi menggunakan tikar, sebagaimana dalam budaya Pakpak.
Sebatas Karya Seni?
Ketika penulis berbincang-bincang dengan pastor Paroki Sumbul, P. Danrisman Sitanggang, O.Carm, beliau merasa bahwa gedung gereja yang anggun ini lebih menonjol pada bidang karya seni yang indah. Tidak terlalu mempunyai daya pikat cita rasa beribadat bagi umat setempat. Sebab, umat di gereja ini adalah mayoritas orang Batak Toba, sedangkan umat etnis Pakpak sendiri sangat minim menjadi Katolik di tempat ini. Hal ini tentu berpengaruh juga dalam hal penggalian potensi inkulturatif dalam peribadatan/liturgy. Menurut beliau, memang keberadaan gereja ini pantas disyukuri karena tampak bahwa Gereja Katolik amat menghargai budaya setempat, sebab paroki Sumbul berada di tanah Pakpak, kendatipun umatnya amat minim dari etnis Pakpak. Pastor paroki Sumbul melihat kebudayaan secara lebih luas karena menyangkut segala aspek hidup, bukan hanya bangunan gereja yang bergaya rumah adat. Dalam hal inilah, beliau melihat keberadaan gereja inkulturatif ini masih sebatas karya seni. Dengan keadaan seperti itu, tentu ada kesulitan bagaimana mengekspresikan identitas gereja ini menjadi bagian hakiki dari kehidupan iman umat di sini. Dengan keberadaan gereja inkulturatif ini, seharusnya tumbuh dan berkembang juga bentuk-bentuk peribadatan dan penghayatan iman yang khas dengan budaya Pakpak, bukan hanya sekedar bangunan gereja yang berciri budaya Pakpak.
Memang, pembangunan gereja bergaya Pakpak ini pasti menelan biaya yang tidak sedikit, namun ketika kami menanyakan apa pengaruhnya bagi umat setempat, mereka tidak terlalu merasakan dampaknya dalam penghayatan beribadat, selain hanya kebanggaan bahwa gedung gerejanya antik. Bukan hanya itu, perawatan dan pelestarian gedung gereja ini juga cukup menelan biaya yang tidak sedikit dan agak merepotkan. Sebagai contoh, ketika hendak merehab atapnya, pihak panitia merasa kesulitan dan kewalahan untuk mengumpulkan begitu banyak ijuk yang sudah semakin langka.
Kiranya menjadi sebuah pembelajaran bagi kita, kiranya pembangunan gedung gereja inkulturatif diikuti dengan pengekspresian nilai yang dikandungnga dalam kehidupan beriman. Bukan sekadar mendirikan bangunan fisiknya yang bercorak budaya setempat, tetapi lebih pada penghayatan kekristenan dalam kebudayaan setempat.
(Sorang Tumanggor, S.Ag)
Pesona Gereja Katolik Sidikalang
PESONA GEREJA
GEREJA KATOLIK SANTA MARIA PERTOLONGAN ORANG KRISTEN SIDIKALANG
”Aku diutus menjadi saksi Kristus”, begitu pesan pertama ketika kita masuk ke kompleks gereja Katolik Sidikalang. Kalimat ini direlief di bagian dalam gapura gereja sehingga mengingatkan kembali tugas orang beriman yang meninggalkan lokasi gereja ini untuk mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus. Gereja bernuansa inkulturatif Pakpak ini berada di kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, yang dikenal dengan aroma kopi dan hawa sejuknya.
SEJARAH BERDIRI
Pada awal 1936 sudah ada orang yang beragama Katolik yang tinggal di Sidikalang. Mereka mengadakan pertemuan doa di tangsi Militer. Pada Januari 1938 seorang katekis, Bp. Johanes Sihombing dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang. Kendati dengan pelbagai tantangan harus dihadapi, katekis ini berhasil membentuk perkumpulan-perkumpulan doa yang menjadi cikalbakal berdirinya gereja darurat. Sebulan kemudian, Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap masuk ke Dairi. Sidikalang dijadikan menjadi pusat pelayanan pastoralnya untuk wilayah Dairi. Permandian pertama di wilayah ini tercatat pada tanggal 26 September 1938. Misi evangelisasi ini berlanjut disertai dengan pengembangan pendidikan lewat pendirian sekolah Katolik.
Perjuangan tidaklah selalu mulus. Bibit yang mulai muncul, banyak menjadi layu akibat penjajahan Jepang. Pastor yang bertugas di Dairi ditangkap dan semua orang yang bergerak dalam penyebaran iman Katolik diperiksa, bahkan ikut juga ditahan. Pada masa ini gereja Katolik di wilayah ini goncang, namun, selalu muncul tokoh umat yang memberikan perhatiannya, seperti Bp. S.M.A. Sihombing, Bp. H. Lumbantobing, Bp. K. Hutabarat, Bp. Daniel Kudadiri, Bp. J.B. Panggabean, Bp. H. Siburian dan Bp. Liberti Sianturi, ditambah katekis yang sekali-sekali datang ke Dairi seperti Bp. Petrus Datubara. Mereka inilah yang membantu kelangsungan hidup gereja di daerah ini.
Berakhirnya masa penjajahan Jepang, terbuka kembali harapan akan penyebaran agama Katolik di Dairi. Pada tahun 1950, Pastor Hamers kembali ke Sidikalang dan membangun gedung gereja berukuran 6x9 meter. Inilah gereja pertama di Sidikalang. Setahun kemudian, kedatangan Pastor Septimus Kamphof OFMCap menambah kekuatan dan tahun berikutnya, Pastor Stephanus Krol OFMCap juga bergabung bersama dengan kedua saudaranya yang ada di Sidikalang untuk memperkuat pelayanan pastoral di wilayah Dairi.
Umat Katolik di Sidikalang semakin bertambah, maka pada tahun 1956 dimulai pembangunan gereja berukuran 12 x 24 meter dan diberkati oleh Mgr. Ferrerius van den Hurk OFMCap pada tahun 1959. Dan semenjak tahun 1965, paroki Sidikalang dan paroki lainnya di Dairi diserahkan pelayanannya dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel hingga sekarang ini.
Berikut nama-nama Pastor yang pernah dan sedang bertugas di Sidikalang:
1. P. Cl Hamers OFM Cap
2. P. Septinius Kamphof OFM Cap
3. P. Steph Krol OFM Cap
4. P. W.Ch van Straalen OFM Cap
5. P. R. Pennock OFM Cap
6. P. Kramer OFM Cap
7. P. R.Raessens
8. P. Q. Kramer O.Carm
9. P. J. Kachmadi O.Carm
10. P. van Wanroij O.Carm
11. P. A. Hutten O.Carm
12. P. Janssen O.Carm
13. P. J.Soedibjo O.Carm
14. P. Bernard Sudarmodjo O.Carm
15. P. Konings O.Carm
16. P. Lim Bian Ziong O.Carm
17. P. Johan KuttschreutterO.Carm
18. P. Damianus Parngadi O.Carm
19. P. Mollink O.Carm
20. P. Sixtus Caturyanto O.Carm
21. P. S Soepratignjo O.Carm
22. P. Fulgentius O.Carm
23. P. Heribertus O.Carm
24. P. Bernard Teguh O.Carm
25. P. A. Scerri O.Carm
26. P. Purnomo O.Carm
27. P. B Petrus Suu O.Carm
28. P. Joko Purnomo O.Carm
29. P. Antonius Manik O.Carm ( sampaisekarang)
30. P. Vincentius Mbiru O.Carm
31. P. Lukas Jokoprasetyo O.Carm (sampai sekarang)
32. P. Paulus Triyuwono O.Carm
BERNUANSA INKULTURATIF
Gereja yang dibangun pada tahun 1956 sudah tidak memungkinkan lagi menampung umat yang semakin bertambah, sehingga pada tahun 2002 diadakan peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung gereja yang baru dengan panjang 40 meter dan lebar 26 meter, diberkati dan diresmikan oleh Mgr. AGP. Datubara pada 26 Nopember 2006.
Menurut data terakhir, umat Katolik Sidikalang ada 578 Kepala Keluarga yang tersebar dalam 13 lingkungan. Gereja induk paroki ini sungguh merupakan tulang punggung bagi perkembangan hidup menggereja separoki Sidikalang, dan merupakan wajah Katolik sekabupaten Dairi.
Sepadan dengan demografi Kabupaten Dairi, yang didiami berbagai etnis, bangunan gereja ini juga mencoba melukiskan keberagaman etnis tersebut. Bagian depan (pendopo) gereja bergaya rumah adat Pakpak, sedangkan bagian tengah/ tubuhnya bergaya rumah adat Toba. Bagian belakang (panti imam) bergaya roman. Gereja yang megah ini bisa menampung umat hingga 1500 jiwa. Tujuan pendirian gereja bernuansa inkulturatif ini agar iman kristiani berakar dalam budaya setempat. Pengalaman religius dalam budaya tersebut kiranya semakin disesuaikan dengan pengalaman dan pengungkapan religius kristiani. Paduan serasi inilah yang hendak diperjuangkan oleh Gereja Katolik Sidikalang, sehingga sudah dua tahun ini pada setiap bulan Kitab Suci Nasional diadakan Misa Inkulturatif setiap minggunya dimulai dengan Misa Inkulturatif Pakpak, Simalungun, Karo, Toba dan Nasional. Nasional merupakan paduan dari budaya-budaya seperti Cina, Jawa, Nias, Flores, dan lainnya. Dengan misa inkulturatif ini tampak bahwa umat amat antusias merayakannya dan sangat berharap supaya hal ini tetap berkelanjutan dan ditingkatkan. Misa ini juga merupakan pembelajaran bagi umat untuk semakin mengenal dan menghargai budaya lain, yang merupakan kekayaan dalam Gereja Katolik.
Gereja ini juga memiliki Gua Maria di sebelah kanan depan gereja dengan pekarangan yang cukup luas dan tertata. Sehingga selain ke Gereja, orang juga biasa menyempatkan diri berdevosi kepada bunda Maria, yang menjadi pelindung Gereja ini.
PERAN UMAT YANG MENGGEMBIRAKAN
Peran Dewan Pastoral Paroki dan umat cukup penting dan berjalan dengan baik di sini. Kekompakan kerja antara Pastor dan Dewan Pastoral Paroki cukup harmonis dan akrab. Dewan Pastoral teribat terjun ke satasi-stasi yang membutuhkan pelayanan, bahkan bermalam di stasi yang dikunjunginya.
Di Sidikalang juga berkarya suster KSSY yang bergerak dalam pelayanan pendidikan mulai dari TK s/ SMA dan kesehatan. Juga semenjak tahun 2004 sudah berdiri Postulat Karmel “Nabi Elia” Komisariat Sumatera Utara. Terdapat juga kelompok-kelompok kategorial yang aktif di bawah naungan gereja, seperti Persekutuan Karismatik, Kelompok Paduan Suara, Karmelit Awam, Kelompok Misdinar, Minggu Gembira, Mudika dan Persahabatan Etnis-etnis Katolik. Arah pendewasaan iman umat juga dibina melalui kursus-kursus dan sermon, seperti Kursus Persiapan Perkawinan yang dilakukan setiap Jumat-Sabtu pada minggu kedua setiap bulan. Gereja Katolik Sidikalang cukup memiliki potensi sumber daya manusia di dalam diri umatnya untuk mengembangkan hidup menggereja.
Dengan memilik gereja yang indah dan megah, umat Sidikalang kiranya dapat menampilkan keindahan dan kemegahan hidup beriman, sehingga dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan bagi kehidupan bersama. (Sorang Tumanggor)
GEREJA KATOLIK SANTA MARIA PERTOLONGAN ORANG KRISTEN SIDIKALANG
”Aku diutus menjadi saksi Kristus”, begitu pesan pertama ketika kita masuk ke kompleks gereja Katolik Sidikalang. Kalimat ini direlief di bagian dalam gapura gereja sehingga mengingatkan kembali tugas orang beriman yang meninggalkan lokasi gereja ini untuk mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus. Gereja bernuansa inkulturatif Pakpak ini berada di kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, yang dikenal dengan aroma kopi dan hawa sejuknya.
SEJARAH BERDIRI
Pada awal 1936 sudah ada orang yang beragama Katolik yang tinggal di Sidikalang. Mereka mengadakan pertemuan doa di tangsi Militer. Pada Januari 1938 seorang katekis, Bp. Johanes Sihombing dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang. Kendati dengan pelbagai tantangan harus dihadapi, katekis ini berhasil membentuk perkumpulan-perkumpulan doa yang menjadi cikalbakal berdirinya gereja darurat. Sebulan kemudian, Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap masuk ke Dairi. Sidikalang dijadikan menjadi pusat pelayanan pastoralnya untuk wilayah Dairi. Permandian pertama di wilayah ini tercatat pada tanggal 26 September 1938. Misi evangelisasi ini berlanjut disertai dengan pengembangan pendidikan lewat pendirian sekolah Katolik.
Perjuangan tidaklah selalu mulus. Bibit yang mulai muncul, banyak menjadi layu akibat penjajahan Jepang. Pastor yang bertugas di Dairi ditangkap dan semua orang yang bergerak dalam penyebaran iman Katolik diperiksa, bahkan ikut juga ditahan. Pada masa ini gereja Katolik di wilayah ini goncang, namun, selalu muncul tokoh umat yang memberikan perhatiannya, seperti Bp. S.M.A. Sihombing, Bp. H. Lumbantobing, Bp. K. Hutabarat, Bp. Daniel Kudadiri, Bp. J.B. Panggabean, Bp. H. Siburian dan Bp. Liberti Sianturi, ditambah katekis yang sekali-sekali datang ke Dairi seperti Bp. Petrus Datubara. Mereka inilah yang membantu kelangsungan hidup gereja di daerah ini.
Berakhirnya masa penjajahan Jepang, terbuka kembali harapan akan penyebaran agama Katolik di Dairi. Pada tahun 1950, Pastor Hamers kembali ke Sidikalang dan membangun gedung gereja berukuran 6x9 meter. Inilah gereja pertama di Sidikalang. Setahun kemudian, kedatangan Pastor Septimus Kamphof OFMCap menambah kekuatan dan tahun berikutnya, Pastor Stephanus Krol OFMCap juga bergabung bersama dengan kedua saudaranya yang ada di Sidikalang untuk memperkuat pelayanan pastoral di wilayah Dairi.
Umat Katolik di Sidikalang semakin bertambah, maka pada tahun 1956 dimulai pembangunan gereja berukuran 12 x 24 meter dan diberkati oleh Mgr. Ferrerius van den Hurk OFMCap pada tahun 1959. Dan semenjak tahun 1965, paroki Sidikalang dan paroki lainnya di Dairi diserahkan pelayanannya dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel hingga sekarang ini.
Berikut nama-nama Pastor yang pernah dan sedang bertugas di Sidikalang:
1. P. Cl Hamers OFM Cap
2. P. Septinius Kamphof OFM Cap
3. P. Steph Krol OFM Cap
4. P. W.Ch van Straalen OFM Cap
5. P. R. Pennock OFM Cap
6. P. Kramer OFM Cap
7. P. R.Raessens
8. P. Q. Kramer O.Carm
9. P. J. Kachmadi O.Carm
10. P. van Wanroij O.Carm
11. P. A. Hutten O.Carm
12. P. Janssen O.Carm
13. P. J.Soedibjo O.Carm
14. P. Bernard Sudarmodjo O.Carm
15. P. Konings O.Carm
16. P. Lim Bian Ziong O.Carm
17. P. Johan KuttschreutterO.Carm
18. P. Damianus Parngadi O.Carm
19. P. Mollink O.Carm
20. P. Sixtus Caturyanto O.Carm
21. P. S Soepratignjo O.Carm
22. P. Fulgentius O.Carm
23. P. Heribertus O.Carm
24. P. Bernard Teguh O.Carm
25. P. A. Scerri O.Carm
26. P. Purnomo O.Carm
27. P. B Petrus Suu O.Carm
28. P. Joko Purnomo O.Carm
29. P. Antonius Manik O.Carm ( sampaisekarang)
30. P. Vincentius Mbiru O.Carm
31. P. Lukas Jokoprasetyo O.Carm (sampai sekarang)
32. P. Paulus Triyuwono O.Carm
BERNUANSA INKULTURATIF
Gereja yang dibangun pada tahun 1956 sudah tidak memungkinkan lagi menampung umat yang semakin bertambah, sehingga pada tahun 2002 diadakan peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung gereja yang baru dengan panjang 40 meter dan lebar 26 meter, diberkati dan diresmikan oleh Mgr. AGP. Datubara pada 26 Nopember 2006.
Menurut data terakhir, umat Katolik Sidikalang ada 578 Kepala Keluarga yang tersebar dalam 13 lingkungan. Gereja induk paroki ini sungguh merupakan tulang punggung bagi perkembangan hidup menggereja separoki Sidikalang, dan merupakan wajah Katolik sekabupaten Dairi.
Sepadan dengan demografi Kabupaten Dairi, yang didiami berbagai etnis, bangunan gereja ini juga mencoba melukiskan keberagaman etnis tersebut. Bagian depan (pendopo) gereja bergaya rumah adat Pakpak, sedangkan bagian tengah/ tubuhnya bergaya rumah adat Toba. Bagian belakang (panti imam) bergaya roman. Gereja yang megah ini bisa menampung umat hingga 1500 jiwa. Tujuan pendirian gereja bernuansa inkulturatif ini agar iman kristiani berakar dalam budaya setempat. Pengalaman religius dalam budaya tersebut kiranya semakin disesuaikan dengan pengalaman dan pengungkapan religius kristiani. Paduan serasi inilah yang hendak diperjuangkan oleh Gereja Katolik Sidikalang, sehingga sudah dua tahun ini pada setiap bulan Kitab Suci Nasional diadakan Misa Inkulturatif setiap minggunya dimulai dengan Misa Inkulturatif Pakpak, Simalungun, Karo, Toba dan Nasional. Nasional merupakan paduan dari budaya-budaya seperti Cina, Jawa, Nias, Flores, dan lainnya. Dengan misa inkulturatif ini tampak bahwa umat amat antusias merayakannya dan sangat berharap supaya hal ini tetap berkelanjutan dan ditingkatkan. Misa ini juga merupakan pembelajaran bagi umat untuk semakin mengenal dan menghargai budaya lain, yang merupakan kekayaan dalam Gereja Katolik.
Gereja ini juga memiliki Gua Maria di sebelah kanan depan gereja dengan pekarangan yang cukup luas dan tertata. Sehingga selain ke Gereja, orang juga biasa menyempatkan diri berdevosi kepada bunda Maria, yang menjadi pelindung Gereja ini.
PERAN UMAT YANG MENGGEMBIRAKAN
Peran Dewan Pastoral Paroki dan umat cukup penting dan berjalan dengan baik di sini. Kekompakan kerja antara Pastor dan Dewan Pastoral Paroki cukup harmonis dan akrab. Dewan Pastoral teribat terjun ke satasi-stasi yang membutuhkan pelayanan, bahkan bermalam di stasi yang dikunjunginya.
Di Sidikalang juga berkarya suster KSSY yang bergerak dalam pelayanan pendidikan mulai dari TK s/ SMA dan kesehatan. Juga semenjak tahun 2004 sudah berdiri Postulat Karmel “Nabi Elia” Komisariat Sumatera Utara. Terdapat juga kelompok-kelompok kategorial yang aktif di bawah naungan gereja, seperti Persekutuan Karismatik, Kelompok Paduan Suara, Karmelit Awam, Kelompok Misdinar, Minggu Gembira, Mudika dan Persahabatan Etnis-etnis Katolik. Arah pendewasaan iman umat juga dibina melalui kursus-kursus dan sermon, seperti Kursus Persiapan Perkawinan yang dilakukan setiap Jumat-Sabtu pada minggu kedua setiap bulan. Gereja Katolik Sidikalang cukup memiliki potensi sumber daya manusia di dalam diri umatnya untuk mengembangkan hidup menggereja.
Dengan memilik gereja yang indah dan megah, umat Sidikalang kiranya dapat menampilkan keindahan dan kemegahan hidup beriman, sehingga dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan bagi kehidupan bersama. (Sorang Tumanggor)
Langganan:
Postingan (Atom)

