Sabtu, 02 Juli 2011

“MENGANGKAT” BUDAYA PAKPAK LEWAT INKULTURASI


“MENGANGKAT” BUDAYA PAKPAK LEWAT INKULTURASI
Sorang Tumanggor, S.Ag
Agama tidak terlepaskan dari budaya masyarakat. Begitu halnya dengan Gereja Katolik, sebagai suatu agama, juga berusaha mengakar dalam tradisi atau budaya setempat. Setelah mengakarkan diri dalam sebuah kebudayaan, Gereja Katolik akan mengembangkan liturgi, teologi, dan organisasinya dengan mempergunakan harta kekayaan kebudayaan tersebut. Gereja Katolik berjuang menjelmakan Injil dalam budaya-budaya yang berbeda-beda dan serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan-kebudayaannya kedalam persekutuan Gereja itu sendiri. Gereja menyampaikan nilai-nilainya sendiri kepada mereka; serentak pada saat yang sama Gereja mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu serta memperbaharuinya dari dalam. Iman dan budaya memang sungguh berpadu tak terpisahkan.
Bukti usaha Gereja Katolik mengangkat budaya Pakpak lewat inkulturasi ini, kami mencoba memaparkannya dengan mengambil sampel tiga gedung gereja Katolik yang bediri di tanah Pakpak.
Gereja Katolik di Sumbul
Peluang inkulturasi ini ditangkap oleh Gereja Katolik di tanah Pakpak, salah satu dengan mendirikan Gereja Inkulturatif. Gereja Inkulturatif pertama di Keuskupan ini adalah Gereja Katolik Inkulturatif Rumah Adat Pakpak di Sumbul. Gereja ini digagas dan dibangun oleh Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982), seorang Pastor berkebangsaaan Australia, serta diresmikan oleh Uskup Agung Medan ketika itu, Mgr. Van den Hurk, OFMCap pada tahun 1976.
Ide pastor Scherri, begitu beliau biasa disapa, mendirikan gereja ini sekaligus untuk melestarikan budaya Pakpak. Gedung gereja ini tampak masih megah, anggun dan bernilai seni hingga saat ini. Gereja ini dibangun terbuat dari bahan utama kayu pilihan dengan atap ijuk. Bagian bawah (dalam bahasa Pakpak disebut tongkarang) gereja ini difungsikan sebagai Aula. Sampai sekarang ketika beribadat umat tidak memakai kursi atau bangku, tetapi menggunakan tikar, sebagaimana dalam budaya Pakpak. Dengan keberadaan gereja inkulturatif ini, seharusnya tumbuh dan berkembang juga bentuk-bentuk peribadatan dan penghayatan iman yang khas dengan budaya Pakpak, bukan hanya sekedar bangunan gereja yang berciri budaya Pakpak.
Memang, pembangunan gereja bergaya rumah adat Pakpak ini pasti menelan biaya yang tidak sedikit. Perawatan dan pelestarian gedung gereja ini juga menelan biaya yang tidak sedikit dan cukup mewalahkan. Disebut mewalahkan, misalnya ketika hendak merehab atap gereja ini, pihak gereja merasa kewalahan untuk mengumpulkan begitu banyak ijuk yang sudah semakin langka.
Gereja Katolik di Sidikalang
Sepadan dengan demografi umat Katolik di Sidikalang, yang terdiri dari berbagai etnis, bangunan gereja ini juga mencoba melukiskan keberagaman etnis tersebut. Bagian depan (pendopo) gereja bercorak rumah adat Pakpak, sedangkan bagian tengah/ tubuhnya bercorak rumah adat Toba. Bagian belakang (panti imam) bergaya roman. Tujuan pendirian gereja bernuansa inkulturatif ini agar iman kristiani berakar dalam budaya. Pengalaman religius dalam budaya tersebut kiranya semakin disesuaikan dengan pengalaman dan pengungkapan religius kristiani. Paduan serasi inilah yang hendak diperjuangkan oleh Gereja Katolik Sidikalang, sehingga tahun belakangan ini pada setiap bulan Kitab Suci Nasional (September) diadakan Misa Inkulturatif setiap minggunya dimulai dengan misa dalam budaya Pakpak, Simalungun, Karo, Toba dan Nasional. Nasional merupakan paduan dari budaya-budaya seperti Cina, Jawa, Nias, Flores, dan lainnya. Misa inkulturatif ini diharapkan sebagai pembelajaran bagi umat untuk semakin mengenal dan menghargai budaya lain, yang merupakan kekayaan dalam Gereja Katolik.
Gereja Katolik Lae Terondi
Pada tahun 2004 terukir sejarah baru bagi daerah ini, yakni lahirnya Kabupaten Pakpak Bharat. Hal ini tentu melahirkan peluang dan tantangan baru bagi pelayanan umat di wilayah ini. Di Kabupaten Pakpak Bharat ada 13 Stasi Gereja Katolik. Salah satu dari 13 stasi tersebut, Gereja Katolik di Lae Terondi tepat berada di pusat kota Kabupaten. Gedung gereja bernuansa rumah adat Pakpak ini telah berdiri kokoh diresmikan oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga pada tanggal 6 Juni 2010 yang lalu.
Untuk menyahuti perkembangan Kabupaten Pakpak Bharat, bapa Uskup menantang umat Katolik setempat berbenah dan melestarikan budaya dan bahasa Pakpak. Wilayah Pakpak Bharat juga ditetapkan sebagai daerah Evangelisasi, karena agama Katolik di wilayah ini relatif masih baru.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar