Jumat, 01 Juli 2011

GEREJA INKULTURATIF: SEBATAS KARYA SENI?

GEREJA INKULTURATIF SUMBUL:
SEBATAS KARYA SENI?

Agama tidak terlepaskan dari budaya masyarakat. Gereja perdana mengakar dalam tradisi atau budaya setempat. Setelah mengakarkan diri dalam sebuah kebudayaan, gereja perdana mengembangkan liturgi, teologi, dan organisasinya dengan mempergunakan harta kekayaan kebudayaan tersebut. Kekristenan selalu berhubungan dengan budaya. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja menjelmakan Injil dalam budaya-budaya yang berbeda-beda dan serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan-kebudayaannya kedalam persekutuan Gereja sendiri. Gereja menyampaikan nilai-nilainya sendiri kepada merek; serentak pada saat yang sama Gereja mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu serta memperbaharuinya dari dalam. Iman dan budaya memang sungguh berpadu tak terpisahkan.




Peluang inkulturasi ini ditangkap oleh Gereja di Keuskupan kita, salah satu dengan mendirikan Gereja Inkulturatif. Gereja Inkulturatif pertama di Keuskupan ini adalah Gereja Katolik Inkulturatif Pakpak di Sumbul dengan memakai nama pelindung Dionisius Martir. Gereja ini digagas dan selesai dibangun pada masa penggembalaan P. Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982) tahun 1976 serta diresmikan oleh Mgr. Van den Hurk, OFMCap. Ide pastor mendirikan gereja ini sekaligus untuk melestarikan budaya Pakpak. Gereja ini tampak masih megah, anggun dan bernilai seni hingga saat ini. Gereja ini dibangun dari bahan utama kayu pilihan dengan atap terbuat dari ijuk dengan arsitektur yang bagus. Bagian bawahnya, dalam bahasa Pakpak disebut tongkarang difungsikan sebagai Aula. Umat di gereja ini sampai sekarang tidak memakai kursi atau bangku saat beribadat, tetapi menggunakan tikar, sebagaimana dalam budaya Pakpak.


Sebatas Karya Seni?



Ketika penulis berbincang-bincang dengan pastor Paroki Sumbul, P. Danrisman Sitanggang, O.Carm, beliau merasa bahwa gedung gereja yang anggun ini lebih menonjol pada bidang karya seni yang indah. Tidak terlalu mempunyai daya pikat cita rasa beribadat bagi umat setempat. Sebab, umat di gereja ini adalah mayoritas orang Batak Toba, sedangkan umat etnis Pakpak sendiri sangat minim menjadi Katolik di tempat ini. Hal ini tentu berpengaruh juga dalam hal penggalian potensi inkulturatif dalam peribadatan/liturgy. Menurut beliau, memang keberadaan gereja ini pantas disyukuri karena tampak bahwa Gereja Katolik amat menghargai budaya setempat, sebab paroki Sumbul berada di tanah Pakpak, kendatipun umatnya amat minim dari etnis Pakpak. Pastor paroki Sumbul melihat kebudayaan secara lebih luas karena menyangkut segala aspek hidup, bukan hanya bangunan gereja yang bergaya rumah adat. Dalam hal inilah, beliau melihat keberadaan gereja inkulturatif ini masih sebatas karya seni. Dengan keadaan seperti itu, tentu ada kesulitan bagaimana mengekspresikan identitas gereja ini menjadi bagian hakiki dari kehidupan iman umat di sini. Dengan keberadaan gereja inkulturatif ini, seharusnya tumbuh dan berkembang juga bentuk-bentuk peribadatan dan penghayatan iman yang khas dengan budaya Pakpak, bukan hanya sekedar bangunan gereja yang berciri budaya Pakpak.
Memang, pembangunan gereja bergaya Pakpak ini pasti menelan biaya yang tidak sedikit, namun ketika kami menanyakan apa pengaruhnya bagi umat setempat, mereka tidak terlalu merasakan dampaknya dalam penghayatan beribadat, selain hanya kebanggaan bahwa gedung gerejanya antik. Bukan hanya itu, perawatan dan pelestarian gedung gereja ini juga cukup menelan biaya yang tidak sedikit dan agak merepotkan. Sebagai contoh, ketika hendak merehab atapnya, pihak panitia merasa kesulitan dan kewalahan untuk mengumpulkan begitu banyak ijuk yang sudah semakin langka.
Kiranya menjadi sebuah pembelajaran bagi kita, kiranya pembangunan gedung gereja inkulturatif diikuti dengan pengekspresian nilai yang dikandungnga dalam kehidupan beriman. Bukan sekadar mendirikan bangunan fisiknya yang bercorak budaya setempat, tetapi lebih pada penghayatan kekristenan dalam kebudayaan setempat.






(Sorang Tumanggor, S.Ag)

1 komentar:

  1. Artikel menarik... Berbagi article tentang Duomo di Milan di http://stenote-berkata.blogspot.hk/2018/03/milan-di-piazza-del-duomo.html
    Lihat juga video di youtube https://youtu.be/GkJmdx6yrAo

    BalasHapus