Renungan
Selasa, 9 Juni 2026
Menjadi Garam dan Terang: Panggilan
untuk Berani Berbeda
Matius 5:13-16
Saudara-saudari seiman yang
terkasih dalam Kristus,
Hari ini Tuhan Yesus menyapa kita
dengan sebuah pengajaran yang sederhana namun sangat mendalam. Ia
berkata, "Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang
dunia." Yesus tidak berkata, "Kamu harus menjadi garam"
atau "Berusahalah menjadi terang." Ia dengan tegas berkata, "Kamu
adalah." Itulah identitas kita. Sejak kita dibaptis, kita telah
dipilih dan ditetapkan untuk menjadi garam dan terang. Karena itu, persoalannya
bukanlah apakah kita, melainkan bagaimana kita
menghidupinya setiap hari.
Fungsi Garam
Bagi orang Israel, garam
melambangkan perjanjian (Imamat 2:13), sekaligus berfungsi sebagai pengawet dan
pemberi rasa. Di negeri kita yang kaya rempah, garam mungkin terasa sepele.
Namun coba bayangkan: sayur asem tanpa garam, atau pecel tanpa rasa asin.
Hambar, tidak berdaya.
Menjadi garam berarti kita
dipanggil untuk memberi rasa pada kehidupan ini. Kita hidup di
tengah masyarakat yang majemuk: berbeda suku, agama, dan adat. Tugas kita
bukanlah memaksakan orang lain menjadi Katolik, melainkan menghadirkan
"rasa Kristus" di mana pun kita berada.
Misalnya, di kantor, jadilah
garam melalui kejujuran di tengah budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Di
sekolah, jadilah garam dengan semangat persaudaraan di tengah perundungan. Di
lingkungan RT/RW, jadilah garam dengan kerelaan membantu di tengah sikap masa
bodoh.
Garam juga mencegah kebusukan.
Indonesia sedang sakit: korupsi, intoleransi, hoaks, dan kekerasan atas nama
agama mewabah. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil menjadi pengawet moral
bangsa—bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati melakukan
kebenaran.
Namun, garam yang kehilangan rasa
asinnya—atau tercampur dengan kotoran dosa—tidak lagi berguna. Yesus berkata,
garam semacam itu "dibuang dan diinjak orang." Menjadi Kristen yang
"tawar" berarti tidak ada bedanya dengan dunia: cara bicara, cara
berpikir, dan cara bertindak sama saja. Kita ikut-ikutan korupsi, ikut
bergosip, ikut membenci. Jika demikian, apa gunanya kita? Jangan sampai iman
kita hanya bersifat simbolis tanpa dampak nyata.
Fungsi Terang
Yesus juga bersabda, "Kamu
adalah terang dunia... Jangan diletakkan di bawah gantang, melainkan di atas
kaki dian." Terang tidak ada untuk dirinya sendiri, melainkan
untuk menerangi orang lain. Terang tidak berteriak kepada kegelapan, "Kamu
jahat!" Ia hanya hadir, dan kegelapan pun lenyap dengan sendirinya. Kita
dipanggil untuk menyinari kebaikan, bukan dengan sombong menyoroti kesalahan
orang lain.
Di masyarakat kita yang kerap
diguncang isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), kita harus menjadi
terang yang menerangi kegelapan kebencian. Terang macam apa?
Pertama, terang yang menerangi
di dalam rumah tangga. Banyak keluarga kini gelap karena komunikasi
mati, kasih dingin, dan kekerasan dalam rumah tangga. Suami-istri, jadilah
terang. Orangtua-anak, pancarkan kasih. Jadikan keluarga sebagai gereja kecil
yang terangnya nyata.
Kedua, terang yang menerangi
masyarakat. Ketika ada tetangga yang kesusahan, jangan hanya berkata,
"Saya doakan," tetapi bantulah. Ketika ada kelompok minoritas
terdiskriminasi, jangan diam; suarakan keadilan dengan cara yang santun.
Ketiga, terang yang membawa
kepada kemuliaan Allah, bukan pujian bagi diri sendiri. Kita sering
ingin dipuji: "Wah, dia orang Katolik yang baik." Yesus mengingatkan:
biarlah terangmu bercahaya sehingga orang melihat perbuatanmu dan memuliakan
Bapamu di surga. Jangan berbuat baik untuk mencari panggung. Berbuat
baiklah untuk memuliakan Tuhan.
Saudara-saudari, betapa sering
kita menyembunyikan iman, kebaikan, dan kasih kita karena takut pada opini
dunia. Kita meletakkan "terang Kristus" di bawah tempayan yang
bernama gengsi, ketakutan, atau kemalasan rohani. Padahal dunia sedang gelap
dan sangat membutuhkan terang kita.
Tujuan akhir dari semua ini
adalah memuliakan Bapa. Perhatikanlah akhir dari Matius 5:16: "...supaya
mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Tujuannya
bukan agar kita dipuji, tetapi agar Allah dimuliakan. Ketika kita menjadi garam
dan terang, orang lain tidak akan berkata, "Hebatnya kamu!"
melainkan, "Sungguh besar Allahmu!"
Kita hanyalah lilin kecil. Terang
itu milik Kristus. Namun jika kita mau bersinar, orang akan melihat kebaikan
Bapa di surga melalui hidup kita. Kita adalah garam dan terang yang unik. Kita
tidak perlu takut menjadi minoritas, karena justru dalam kondisi itulah
kekuatan garam dan terang tampak. Garam terasa ketika bercampur dengan masakan.
Terang berguna justru di dalam gelap.
Periksalah diri kita: Apakah
cara bicara, sikap, dan tindakan kita di kantor, sekolah, atau rumah berbeda
dengan mereka yang tidak mengenal Kristus? Atau justru kita "tawar"?
Apakah "tempayan beras" yang selama ini menutupi iman kita—rasa malu,
takut kehilangan popularitas, atau kesibukan berlebihan? Singkirkanlah hari
ini.
Ingatlah sabda Yesus: Tuhan tidak
meminta kita menjadi bintang film yang gemerlap. Ia meminta kita menjadi lilin
kecil yang dinyalakan di atas kaki dian. Tidak perlu gemerlap, yang penting
setia menyala. Karena di tengah dunia yang mulai gelap oleh egoisme dan
kebencian, Indonesia sangat membutuhkan orang-orang yang berani menjadi garam
dan terang.
Jadilah garam yang
mengasinkan, dan terang yang menerangi dunia yang menantikan Kristus melalui
dirimu.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar