Renungan
Kamis, 11 Juni 2026
Panggilan Misioner dan Kerendahan
Hati dalam Karya Kasih
Matius 10:7-13
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Bayangkan seorang anak kecil yang
baru saja menerima sepotong kue cokelat lezat dari ibunya. Dengan penuh
sukacita, ia berlari menemui temannya yang sedang duduk sendirian di sudut
taman. Tanpa berpikir panjang, anak itu memecah kuenya menjadi dua dan berkata,
"Ini untukmu!" Ia tidak meminta imbalan, tidak mengharapkan balasan.
Ia hanya memberi karena ia tahu bagaimana rasanya menerima kue cokelat dengan
cuma-cuma.
Hari ini, Tuhan Yesus menghendaki
kita—para murid-Nya—untuk melakukan hal yang sama. Dalam Injil Matius, Yesus
memberi perintah yang radikal: "Kamu telah memperolehnya dengan
cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma" (Matius 10:8).
Apa yang telah kita peroleh
dengan cuma-cuma? Keselamatan, pengampunan, kasih Allah, dan hidup kekal. Semua
itu tidak dapat kita beli dengan uang, jabatan, atau jasa kita. Semua itu
adalah anugerah. Maka, sebagai pribadi yang telah menerima anugerah, panggilan
kita bukanlah menjadi penjual rahmat, melainkan menjadi saluran berkat.
"Tukang Kebun yang
Meminjamkan Air"
Seorang biarawan Fransiskan
pernah bercerita tentang sebuah desa yang dilanda kekeringan. Hanya satu sumur
yang masih berair, yaitu sumur milik seorang petani kaya. Petani itu menjual
air dengan harga mahal. Seorang biarawan datang dan bertanya, "Mengapa kau
menjual air, padahal air itu berasal dari tanah milik bersama?" Petani itu
menjawab, "Karena aku bersusah payah menggali sumur ini."
Biarawan itu tersenyum. Ia
mengajak sekelompok anak desa membersihkan sumur tua di tengah desa yang telah
tertimbun tanah. Setelah beberapa hari, air pun mulai keluar kembali dengan
cuma-cuma. Petani kaya itu marah, tetapi biarawan berkata, "Kita menerima
air dari tanah dengan cuma-cuma. Maka, kita pun harus memberikannya dengan
cuma-cuma."
Saudara-saudari, sering kali kita
seperti petani itu. Kita merasa bahwa karunia yang kita miliki—waktu, talenta,
harta, bahkan iman—adalah hasil usaha kita sendiri, sehingga kita enggan
membagikannya secara cuma-cuma. Namun Yesus mengingatkan: segala sesuatu adalah
anugerah. Karena itu, jangan pernah menghalangi orang lain untuk merasakan
kasih Allah hanya karena kita menuntut "bayaran", baik berupa pujian,
balasan, maupun rasa terima kasih.
Kerendahan Hati dan Damai
Sejahtera
Yesus melanjutkan: "Janganlah
kamu membawa emas atau perak… janganlah membawa bekal… sebab seorang pekerja
patut mendapat upahnya."
Ini bukan berarti kita tidak
boleh memiliki uang atau rencana. Ini adalah latihan rohani tentang ketergantungan
penuh kepada Tuhan. Seorang misionaris sejati tidak berjalan dengan
kekuatan materi, melainkan dengan kekuatan damai sejahtera Kristus.
Yesus juga mengajarkan etika
kerendahan hati saat masuk ke dalam rumah orang: "Berilah salam
kepadanya. Jika rumah itu layak, biarlah damai sejahtera yang kamu ucapkan itu
datang atasnya."
Damai sejahtera (shalom)
dalam Kitab Suci bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan kelimpahan kebaikan
Allah. Ketika kita memberi salam damai, kita sedang menaburkan Kristus sendiri.
Jika diterima, luar biasa. Jika ditolak? Yesus berkata tegas: damai itu kembali
kepadamu. Jangan memaksa, jangan marah, jangan kecewa berlebihan. Sebab damai
sejahtera adalah anugerah yang tidak dapat dipaksakan.
"Ibu yang Memberi Salam
Setiap Pagi"
Di sebuah kota besar, hiduplah
seorang wanita tua miskin. Setiap pagi ia berdiri di depan pagar rumahnya yang
sederhana dan tersenyum kepada setiap orang yang lewat, mengucapkan,
"Selamat pagi, Tuhan memberkati." Kebanyakan orang mengabaikannya.
Bahkan ada yang mengejeknya.
Suatu hari, seorang pemuda yang
sedang putus asa karena kehilangan pekerjaan melintas di depannya. Wanita itu
berkata, "Selamat pagi, Nak. Damai sejahtera untukmu." Pemuda itu
berhenti, menangis, dan berkata, "Sejak ibu saya meninggal, tidak ada yang
pernah mengucapkan selamat pagi setulus itu."
Pemuda itu kemudian sering
kembali, hingga akhirnya ia mendapat semangat baru. Ia membantu wanita itu
memperbaiki rumahnya, lalu membuka usaha kecil-kecilan. Dari mana semua itu
bermula? Dari sebuah salam damai yang diberikan dengan cuma-cuma, tanpa syarat.
Saudara-saudari, terkadang kita
berpikir bahwa mewartakan Kerajaan Surga harus dengan khotbah panjang lebar
atau mukjizat besar. Padahal, bisa dimulai dari sapaan "Tuhan
memberkati" atau sekadar "Apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?" yang
tulus. Itulah bentuk kesembuhan bagi jiwa yang sakit dan kebangkitan bagi hati
yang mati.
Apa yang dapat kita lakukan
berdasarkan Injil hari ini?
Pertama: Pilihlah
satu orang yang sulit Anda kasihi. Berikanlah sesuatu kepada mereka secara
cuma-cuma: bisa berupa doa, senyuman, bantuan kecil, atau kata-kata damai.
Jangan hitung-hitung apakah mereka layak atau tidak. Yesus berkata,
"Carilah orang yang layak," artinya bukalah hati, tetapi serahkan
hasilnya kepada Tuhan.
Kedua: Latihlah diri
untuk tidak bergantung pada "bekal materi" saat melayani. Bukan
berarti kita ceroboh, tetapi kita diajak untuk lebih percaya pada
penyelenggaraan ilahi daripada kekuatan diri sendiri.
Ketiga: Ketika kita
memberi salam damai kepada sesama, sadarlah bahwa kita sedang mewakili Kristus.
Jangan biarkan ego kita terluka jika ditolak. Damai itu tetap kembali kepada
kita. Itulah kemerdekaan rohani seorang murid Yesus.
Jadilah Pembawa Damai
Saudara-saudari, kita tidak hanya
mendengar Injil, tetapi diutus untuk menghidupinya. Ingatlah: Kerajaan Surga
itu dekat, bahkan ada di tengah kita hari ini—dalam sapaan kita, dalam
pemberian tanpa pamrih, dalam damai yang kita bagikan.
Marilah kita menjadi pribadi yang
tidak membawa beban, melainkan membawa damai Kristus. Seperti kata Santo
Fransiskus dari Assisi: "Di mana ada kebencian, biarlah aku
membawa cinta; di mana ada luka, biarlah aku membawa ampunan; di mana ada
keputusasaan, biarlah aku membawa harapan."
Amin
Sorang
Tumanggor, S.Ag.
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar