Selasa, 05 Mei 2026

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Renungan

Selasa, 5 Mei 2026

 

DAMAI SEJATI BUKAN TANPA GELORA

Yohanes 14:27-31a



Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita membeli produk elektronik, misalnya kipas angin atau AC, yang di kemasannya tertulis "Cooling technology, peace of mind"? Atau pernahkah kita melihat iklan minuman vitamin yang menjanjikan "tenang dalam tekanan"?

Dunia memang pandai menjual kata "damai". Namun sering kali, damai yang ditawarkan dunia hanya bertahan selama tagihan listrik dibayar, selama AC masih dingin, atau selama stres belum datang lagi.

Tetapi hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang sesuatu yang sangat berbeda. Ia tidak menawarkan ketenangan tanpa badai. Ia menawarkan damai di tengah badai.

Yesus berkata, "Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu." Lalu, apa bedanya damai dunia dengan damai Kristus?

Damai dunia itu bersyarat. Ia tergantung pada situasi: semua beres, semua sesuai rencana, semua orang setuju dengan kita. Damai dunia seperti air kolam — tenang saat tidak ada angin, tetapi begitu ada batu yang dilempar, airnya menjadi keruh dan bergelombang.

Sebaliknya, damai Kristus adalah damai yang Ia miliki saat Ia tahu bahwa dalam beberapa jam lagi Ia akan ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Damai itu tetap tinggal di hati-Nya. Damai itu lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kepercayaan total kepada Bapa.

Coba bayangkan seorang ibu yang anaknya sedang sakit parah di rumah sakit. Dunia mungkin berkata, "Bagaimana mungkin dia tenang?" Tetapi ibu itu duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan anaknya, sambil berdoa. Tidak ada kepastian medis, tetapi ada kedamaian aneh yang tidak bisa dijelaskan. Dari mana datangnya? Dari keyakinan bahwa ia tidak sendirian. Tuhan menyertainya. Damai itu tidak diambil dari situasi, melainkan dari relasi.

Yesus melanjutkan, "Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Ini menarik. Yesus mengucapkan kalimat ini tepat sebelum Ia sendiri menghadapi penderitaan. Ia tidak berkata, "Tidak akan ada masalah." Ia berkata, "Jangan biarkan hatimu gelisah." Artinya, kegelisahan bukan sekadar reaksi, tetapi keputusan batin untuk membiarkan diri dikuasai ketakutan.

Mungkin kita pernah naik mobil di tengah macetnya Jakarta menjelang magrib. Sopir taksi online yang sudah berpengalaman tetap tenang. Ia tahu jalur alternatif sambil memutar musik klasik yang lembut. Tetapi penumpang di belakang justru gelisah, bolak-balik melihat jam, mengomel, padahal nasibnya sama. Apa bedanya? Sopir itu sudah berpengalaman dan percaya pada prosesnya. Demikian juga Yesus — Ia sudah mengendalikan segalanya. Ia berkata, "Aku pergi, tetapi Aku datang kembali." Ketakutan kita muncul karena kita merasa sendirian, padahal Tuhan tidak pernah pergi untuk selamanya.

Selanjutnya Yesus berkata, "Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa apa-apa atas Aku." Penguasa dunia ini: dosa, kejahatan, kematian, setan. Mereka datang seperti badai. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa Ia taat kepada Bapa. Ketaatan-Nya adalah bukti kasih. Dan dalam ketaatan itulah kuasa kegelapan dikalahkan.

Kita pun sering takut pada "penguasa dunia" versi kita sendiri: ketidakpastian ekonomi, PHK, kegagalan, penyakit, perpecahan keluarga. Yesus tidak menghapus semua itu. Tetapi Ia berkata, "Mereka tidak berkuasa penuh atas dirimu, karena engkau milik-Ku."

Bayangkan ketika seorang bapak kepala keluarga tiba-tiba di-PHK. Dunianya runtuh. Istrinya panik. Tetapi bapak itu duduk di ruang tamu, membuka Alkitab kecilnya, dan berkata, "Bu, kita punya Tuhan yang lebih besar dari resesi." Bukan berarti ia tidak sedih. Ia sedih. Namun di dasar hatinya, ada damai yang tidak bisa dirampas oleh surat PHK. Itulah damai Yesus. Damai yang lahir dari iman bahwa "penguasa dunia ini tidak berkuasa atas jiwaku."

Di akhir bacaan, Yesus berkata, "Bangunlah, marilah kita pergi dari sini." Ini penting. Damai Yesus bukanlah damai yang membuat kita diam dan pasrah. Damai-Nya justru memberi kita kekuatan untuk bangkit dan melangkah. Setelah menerima damai, kita tidak tinggal diam di ruang atas yang aman. Kita pergi ke dunia yang kacau, tetapi dengan damai yang membawa terang.

Saudara-saudari, hari ini Tuhan bertanya kepada kita: Damai macam apa yang sedang kamu cari? Damai instan dari dunia yang lenyap saat sinyal ponsel hilang? Atau damai dari Yesus yang tetap tinggal di hati, walau badai mengguncang? Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar