Kamis, 21 Mei 2026

SATU DALAM KASIH, BERSAKSI UNTUK DUNIA

Renungan

Kamis, 21 Mei 2026

SATU DALAM KASIH, BERSAKSI UNTUK DUNIA

Yohanes 17:20-26





Salam sejahtera untuk kita semua, saudara-saudari seiman yang dikasihi Kristus.

Pada hari ini, kita mendengarkan sebuah bagian yang sangat istimewa dari Injil Yohanes, yaitu bagian akhir dari Doa Imam Agung Yesus. Doa ini diucapkan saat Yesus sudah berada di ambang sengsara-Nya. Ia tidak berdoa untuk diri-Nya sendiri, bukan pula hanya untuk murid-murid yang saat itu bersama-Nya, tetapi juga untuk kita semua, yaitu "semua orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka." Yesus telah merangkul kita dalam doa yang sama, 2.000 tahun lalu. Mari kita renungkan tiga hal penting dari bacaan ini.

1. Doa untuk Kesatuan

Yesus berdoa: "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau" (ayat 21-22).

Saudara-saudari, kita hidup berdampingan dengan saudara-saudari Muslim, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Sering kali perbedaan ini menjadi sekat. Namun, dalam doa Yesus, kesatuan bukanlah keseragaman. Kesatuan yang diminta Yesus adalah kesatuan komuni—seperti hubungan antara Bapa dan Putra. Meskipun berbeda pribadi dan peran, dalam kasih mereka tetap satu. Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk menjadi saksi kesatuan ini. Jangan biarkan perbedaan suku atau status sosial memecah belah kita di dalam gereja. Lebih jauh lagi, kesatuan ini menjadi dasar bagi kita untuk membangun dialog dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

2. Alasan Kesatuan: Supaya Dunia Percaya

Yesus begitu serius mendoakan kesatuan kita bukan hanya supaya kita nyaman bersama, melainkan karena ada misi besar: "Supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (ayat 21b, 23b).

Kita sering mendengar desas-desus tentang konflik agama, isu SARA, dan persaingan politik yang memecah belah. Di tengah situasi seperti ini, jika umat Katolik tetap bersatu dalam kasih, saling mengampuni, dan bekerja sama dalam pelayanan sosial—mengunjungi yang sakit, memberi makan yang lapar, membantu korban banjir—maka dunia akan bertanya, "Apa yang membuat mereka bersatu?" Jawabannya adalah Kristus. Kesatuan kita adalah bukti paling kuat bahwa Yesus benar-benar datang dari Bapa. Jangan pernah meremehkan dampak dari tawuran antar kelompok paroki, perpecahan dalam lingkungan, atau gosip yang merusak persaudaraan. Semua itu adalah batu sandungan bagi iman orang lain.

3. Kerinduan untuk Tinggal dalam Kasih dan Kemuliaan

Yesus berdoa: "Aku menginginkan supaya mereka, di mana pun Aku berada, mereka juga bersama-sama dengan Aku" (ayat 24-26).

Kita semua merindukan surga. Namun, Yesus menghendaki agar kita merasakan "surga" itu sudah mulai sekarang, yaitu ketika kita tinggal di dalam kasih-Nya. Di akhir doa ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang luar biasa: "Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka... supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." Di tengah kerasnya hidup di kota—kemacetan, tekanan ekonomi, biaya hidup yang tinggi, tantangan dalam keluarga—kita tidak sendirian. Kristus tinggal di dalam kita, dan Bapa mengasihi kita sama seperti Ia mengasihi Putra-Nya. Inilah martabat yang luar biasa.

Ilustrasi "Tali Tiga Utas"

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, izinkan saya membawa sebuah ilustrasi sederhana tentang tali. Para nelayan tidak sembarangan membuat tambang untuk kapal mereka. Mereka mengambil tiga utas tali kecil. Satu utas rapuh, mudah putus terkena ombak kecil. Tali kedua pun demikian. Namun, ketika tiga utas itu dipilin menjadi satu, mereka membentuk tambang yang sangat kuat, mampu menahan badai dan ombak besar.

  • Utas pertama: Persatuan kita dengan Kristus melalui doa dan Ekaristi.
  • Utas kedua: Persatuan dengan sesama umat beriman di paroki.
  • Utas ketiga: Persatuan dengan seluruh Gereja, termasuk yang berbeda ritus, bahasa, atau status sosial.

Yesus berdoa agar utas-utas ini bukan hanya sejajar, tetapi dipilin oleh kasih Tritunggal. Dunia tidak akan percaya pada khotbah yang hebat, tetapi dunia akan percaya jika melihat kita—umat Katolik—tetap bersatu meski berbeda pendapat, tetap saling mengasihi meski berbeda latar belakang.

Kesatuan yang Yesus doakan bukan berarti semua orang harus sama persis. Bapa dan Putra berbeda pribadi, namun sempurna satu dalam kasih. Demikian pula di keluarga, paroki, dan lingkungan: kita boleh berbeda karisma, pandangan, dan cara, tetapi hati kita harus satu dalam Kristus. Jangan sampai perbedaan kecil seperti cara bernyanyi, devosi, atau bahasa memecah belah kita.

Yesus berkata: "Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku" (ayat 22). Kemuliaan itu adalah kasih itu sendiri. Ketika kita mengasihi musuh, memaafkan yang bersalah, dan merangkul yang terpinggir, kita sedang memancarkan kemuliaan Allah. Di situlah dunia bertanya: "Lihatlah, bagaimana mereka saling mengasihi! Pasti Allah ada di tengah mereka."

Yesus mengakhiri doa-Nya: "Aku memberitahukan nama-Mu kepada mereka" (ayat 26). Kesatuan sejati hanya mungkin jika kita bersama-sama mengenal Bapa melalui Yesus. Maka jangan tinggalkan Misa Kudus, jangan tinggalkan doa Rosario bersama keluarga, jangan abaikan rekonsiliasi. Sakramen-sakramen itulah yang "memilin" kita kembali ketika kita mulai terurai.

Sebuah Kesaksian

Beberapa tahun lalu, seorang pastor paroki di daerah konflik sosial menghadapi dua kelompok warga yang bertengkar karena masalah sepele. Paroki terancam terbelah. Sang pastor tidak langsung berkhotbah panjang lebar. Ia justru mengadakan Misa malam Jumat Pertama dan mengundang kedua kelompok untuk duduk berdampingan. Awalnya mereka enggan. Namun setelah homili singkat tentang Yohanes 17, pastor meminta mereka berdoa Bapa Kami sambil bergandengan tangan melintasi sekat tembok.

Air mata menetes. Mereka yang sempat bermusuhan kini berdoa bersama: "Bapa kami yang ada di surga..." Karena dalam doa itu, mereka sadar: jika Allah adalah Bapa kita bersama, maka kita semua saudara, bukan musuh. Keesokan harinya, mereka bersama-sama membangun kembali pagar gereja yang rusak. Dunia melihat, dan beberapa tetangga non-Kristen mulai bertanya tentang iman Katolik.

Tiga Tindakan Konkret

Saudara-saudari, Yesus tidak hanya berdoa untuk Petrus, Andreas, atau Yohanes. Ia berdoa untuk Andauntuk saya, dan untuk setiap orang yang percaya kepada-Nya hingga akhir zaman.

Mari kita jawab doa Yesus dengan tiga tindakan konkret ini:

  1. Pulihkan satu hubungan yang retak — telepon atau temui saudara/sahabat yang sudah lama tidak diajak bicara karena sakit hati.
  2. Doakan kesatuan Gereja dan bangsa — setiap kali Anda berdoa Bapa Kami, sadarlah bahwa "Bapa kami" adalah milik bersama, bukan milik kelompok tertentu. Di setiap Misa, khususnya di akhir doa umat, marilah kita mendoakan seluruh negara menjadi tempat di mana kasih Kristus menyatukan semua orang.
  3. Hindari gosip dan perpecahan — mulut yang sama yang menerima Komuni Kudus, janganlah mengeluarkan kata-kata yang memecah belah.

Selain itu, jadilah saksi lewat perbuatan. Jika Yesus ingin dunia percaya, maka hidup kita harus menjadi "Injil yang berjalan." Berpartisipasilah dalam karya sosial gereja, seperti panti asuhan atau komsos. Tunjukkan bahwa sebagai orang Katolik, kita peduli kepada semua orang tanpa memandang latar belakang.

Penutup

Marilah kita mengangkat hati kepada Yesus. Di Perjamuan Terakhir, Ia tahu akan datangnya salib, namun yang paling Ia pikirkan adalah kita. Ia berdoa agar kita tidak terpecah, agar kita tinggal dalam kasih-Nya, dan agar melalui kita dunia melihat wajah Allah.

Ketika kita mendengarkan konsekrasi dalam Perayaan Ekaristi, ingatlah bahwa kita tidak hanya menerima Komuni Kudus, tetapi kita menjadi komuni. Kita menjadi satu tubuh, satu roh, di dalam Kristus.

Dengan kesatuan yang hidup, dunia akan percaya bahwa Bapa benar-benar mengutus Yesus. Dan kita akan mengalami sukacita yang Yesus janjikan: kasih Bapa tinggal di dalam kita, dan Kristus tinggal di dalam kita.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus, yang adalah kesatuan sempurna dalam kasih, memberkati kita semua.

Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar