Kamis, 07 Mei 2026

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

Renungan

Kamis, 7 Mei 2026

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

Yohanes 15:9-11





Saudara-saudari seiman yang dikasihi Kristus,

Dalam bacaan hari ini, Yesus berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu." Coba kita perhatikan: Kasih itu datang lebih dulu dari Tuhan. Bukan karena kita sempurna. Bukan karena kita hebat. Melainkan karena Allah adalah kasih itu sendiri.

Di Indonesia yang kaya akan budaya dan keramahan, kita akrab dengan istilah wong loro ati atau tepa selira (tenggang rasa). Namun kasih Yesus melampaui semua itu. Kasih-Nya bukan sekadar basa-basi atau sopan santun. Kasih-Nya adalah relasi yang hidup: "Tinggallah di dalam kasih-Ku."

Bayangkan seorang ibu di sebuah desa. Setiap pagi, dia bangun lebih awal, menyalakan api kayu, lalu memasak untuk anak-anaknya. Anak-anaknya kadang tidak sadar, bahkan kerap rewel. Namun sang ibu tetap melayani dengan kasih. Mengapa? Karena baginya, kasih bukan perasaan sesaat, melainkan pilihan setia yang diulang setiap hari.

Seperti itulah kasih Yesus kepada kita: setia, meski kita kerap tidak bersyukur. Tuhan lebih dulu mengasihi kita.

Yesus lalu berkata: "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku."
Apa perintah itu? Dalam Yohanes 13:34, Yesus berpesan: "Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu."

Menuruti perintah-Nya bukanlah beban. Justru itulah jalan untuk tetap tinggal dalam kasih. Di tengah kehidupan kita di Indonesia yang sering dihadapkan pada perbedaan suku, pandangan politik, atau bahkan gaya hidup, perintah untuk saling mengasihi menjadi sangat nyata: jangan bergosip, jangan memfitnah, jangan membenci. Sebaliknya, bantulah mereka yang lemah, dan maafkanlah mereka yang bersalah.

Ada satu kisah nyata dari sebuah paroki di kota besar. Dua ibu lingkungan berselisih paham soal keuangan kas lingkungan. Awalnya hanya diam-diam, lalu saling sindir di grup WhatsApp, dan akhirnya tidak mau berbicara satu sama lain. Suasana lingkungan pun menjadi panas. Namun suatu hari, salah satu dari mereka jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Ibu yang lain tergugah: "Apakah ini caraku tinggal dalam kasih Kristus?"

Dia pun menjenguk, serta membawakan sayur asem dan ikan asin—kesukaan lawannya. Air mata pun menetes. Mereka berpelukan. Itulah artinya tinggal dalam kasih: bukan tanpa konflik, tetapi ada gerakan nyata untuk berdamai.

Yesus melanjutkan, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." Menarik sekali, Yesus tidak berkata, "Semua ini Kuperintahkan supaya kalian capek dan tertekan." Justru sebaliknya: hidup dalam kasih-Nya membawa sukacita sejati.

Dunia ini sering menawarkan sukacita palsu melalui harta, jabatan, atau kesenangan sesaat. Namun sukacita dari Yesus adalah damai di tengah badai. Bahagia bukan karena keadaan sedang baik, melainkan karena kita dekat dengan Sumber Kasih itu sendiri.

Seorang bapak pemulung di pinggiran kota setiap minggu tetap pergi ke misa dengan pakaian sederhana namun bersih. Ketika ditanya, "Pak, kok masih semangat pergi misa? Hidup saja susah," beliau menjawab, "Saya susah, tapi tidak sendiri. Yesus ada. Dan di gereja, saya punya keluarga iman. Itu sudah cukup untuk membuat saya senang." Sukacita penuh tidak tergantung pada fasilitas mewah, tetapi pada hati yang sadar bahwa dirinya dikasihi.

Saudara-saudari, renungan hari ini mengajak kita untuk:

  1. Mengingat bahwa kasih Tuhan lebih dulu – jangan merasa harus layak dulu baru menerima kasih-Nya.
  2. Tinggal di dalam kasih dengan menaati perintah-Nya – yaitu saling mengasihi secara konkret, terutama dalam keluarga, komunitas lingkungan, dan tempat kerja.
  3. Menerima sukacita sejati – yang tidak tergantung pada keadaan fisik atau sosial, tetapi karena kita terhubung dengan Yesus.

Semoga renungan ini menguatkan iman kita. Tuhan memberkati.


Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar