Rabu, 15 April 2026

ALLAH TIDAK MENGHAKIMI, TETAPI MENYELAMATKAN

Renungan

Rabu, 15 April 2026

 

ALLAH TIDAK MENGHAKIMI, TETAPI MENYELAMATKAN

Yohanes 3:16-21




Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Coba kita bayangkan sebuah ruang tamu yang sangat gelap. Di tengah ruangan itu, seorang anak kecil sedang bermain kelereng. Ia sengaja mematikan semua lampu karena takut dimarahi ibunya. Tadi, tanpa sengaja, ia memecahkan vas bunga.

Lalu ibunya datang. Ia tidak membawa tongkat pemukul, juga tidak membawa senter yang menyilaukan untuk menyorot wajah anak itu dengan marah. Sebaliknya, ia membawa lampu kecil yang hangat. Dengan lembut ia berkata, "Nak, Ayah dan Ibu tidak marah. Mari kita nyalakan lampu, supaya kamu bisa melihat dan tidak tersandung."

Akan tetapi, anak itu justru semakin bersembunyi di balik sofa. Bukan karena ibunya jahat, tetapi karena ia sudah merasa bersalah dan takut ketahuan.

Kita tentu sudah tidak asing dengan Injil Yohanes pasal 3 ayat 16. Mungkin inilah ayat yang paling sering kita hafal di luar kepala: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Ayat itu indah. Namun sayang, sering kali kita berhenti hanya sampai di sana. Padahal, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan sesuatu yang sangat penting tentang terang dan gelap.

Hari ini, kita semua diajak merenungkan satu pesan mendalam: Allah datang bukan untuk menghakimi kita, tetapi untuk menyelamatkan kita. Persoalannya bukan pada Allah yang menghakimi, melainkan pada pilihan kita sendiri: apakah kita mau datang kepada terang, atau justru lari ke dalam gelap.

Saudara-saudari, begitulah gambaran kita dan Allah. Allah datang membawa terang kasih-Nya, tetapi sering kali kita justru bersembunyi. Bukan karena Allah menghakimi, melainkan karena hati kita sendiri yang belum mau terbuka.

Mari kita simak Yohanes 3:17"Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya."

Jadi, sangat jelas bahwa tujuan utama kedatangan Yesus bukanlah untuk menghakimi. Penghakiman bukanlah inisiatif Allah. Inisiatif Allah adalah penyelamatan.

Lalu mengapa ada ayat 18 dan seterusnya yang berbicara tentang penghakiman? Ayat 18 berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah penghakiman."

Perhatikan kata "telah berada", bukan "akan dihakimi nanti". Artinya, penghakiman itu terjadi karena seseorang memilih tinggal dalam gelap, bukan karena Allah mengirimkan hukuman.

Ayat 19 semakin mempertegas: "Inilah penghakiman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."

Dengan demikian, penghakiman adalah konsekuensi dari pilihan kita sendiri, bukan vonis dari Allah. Allah sudah menyediakan terang. Yang menentukan gelap atau terang adalah kita.

 

Saudara-saudari terkasih,

Mungkin banyak dari kita kadang menjauh dari Tuhan karena takut. Takut dosa kita diungkap, takut malu, takut dihakimi. Padahal Yesus sendiri berkata, Aku datang bukan untuk menghakimi.

Terang yang dibawa Yesus bukan seperti lampu sorot di ruang interogasi. Terang Yesus seperti sinar matahari pagi yang menyembuhkan, yang membuat bunga mekar, yang menunjukkan debu-debu di lantai supaya kita bisa membersihkannya dengan sukacita, bukan dengan ketakutan.

Orang yang datang kepada terang (ayat 21) adalah orang yang membiarkan perbuatannya dinyatakan sebagai perbuatan yang dikerjakan dalam Allah. Artinya, terang itu justru memulihkan, bukan membinasakan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Pertama, jujurlah pada diri sendiri. Jangan bersembunyi di balik kesibukan, kepura-puraan, alkohol, atau media sosial. Katakan dalam hati: "Tuhan, aku takut. Tetapi aku mau datang kepada-Mu."

Kedua, marilah mendekati Sakramen Tobat—bukan karena takut dihakimi, tetapi karena rindu diselamatkan. Imam bukan hakim, melainkan saksi kasih Allah yang membawa terang.

Ketiga, jangan menghakimi orang lain. Jika Allah saja tidak menghakimi secara langsung, tetapi memberi kesempatan, mengapa kita cepat menghakimi pasangan, anak, tetangga, atau rekan kerja? Tugas kita adalah membawa terang, bukan obor penghakiman.

Saudara-saudari terkasih,

Allah tidak menciptakan neraka untuk manusia. Neraka adalah keadaan di mana seseorang dengan bebas memilih untuk tetap tinggal dalam gelap, meskipun terang sudah menyinari.

Hari ini, Yesus berkata kepada kita: "Aku datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan." Karena itu, jangan takut. Keluarlah dari persembunyian kita. Bukalah pintu hati kita. Biarkan terang kasih-Nya masuk.

Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk datang kepada terang. Kita datang justru karena kita tidak sempurna. Terang itu akan menyembuhkan, membersihkan, dan memulihkan kita menjadi anak-anak terang.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar