Rabu, 29 April 2026

LENTERA DI TENGAH KABUT

Renungan

Rabu, 29 April 2026

LENTERA DI TENGAH KABUT

Yohanes 12:44-50


 

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:46)

Dalam perikop ini, Yesus berbicara di akhir pelayanan-Nya di depan umum. Ia menegaskan bahwa diri-Nya adalah pernyataan sempurna dari Allah Bapa. St. Thomas Aquinas menafsirkan bahwa Yesus adalah Sabda Bapa, sehingga percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Bapa. Ayat 47 sangat penting: “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” Allah tidak menghendaki kebinasaan orang berdosa. Penghakiman terjadi secara otomatis ketika seseorang menolak terang. Bukan karena Allah mengutuk, tetapi karena orang itu memilih tinggal di dalam kegelapan.

Seorang nelayan tua biasa melaut pada malam hari di danau yang dikelilingi tebing curam. Suatu malam, kabut tebal menyelimuti seluruh permukaan air. Ia kehilangan arah, dan kapalnya hampir menabrak karang. Dalam keputusasaan, ia melihat secercah cahaya dari mercusuar kecil di atas bukit. Cahaya itu tidak menuduhnya, juga tidak menghakiminya karena tersesat. Sebaliknya, cahaya itu dengan setia menunjukkan jalan yang aman menuju dermaga.

Nelayan itu pun mendayung ke arah cahaya tersebut. Kabut masih tebal, tetapi selama ia terus memandang cahaya itu, ia selamat. Namun, ia melihat nelayan lain yang justru menutup matanya sambil berteriak, “Aku tak mau diatur cahaya itu! Aku akan mencari jalanku sendiri.” Kapal itu pun tenggelam di tengah kegelapan.

Mercusuar itu adalah Yesus, Terang dunia. Kabut adalah dosa, kebingungan, dan kegelapan hidup. Terang Yesus tidak datang untuk menenggelamkan kapal kita, melainkan untuk memandu kita pulang ke rumah Bapa. Jika kita selamat, itu karena kita memilih mengikuti terang. Jika kita binasa, itu bukan karena terang itu jahat, tetapi karena kita menutup mata dan menolak satu-satunya jalan keselamatan.

Sebagai umat Katolik, apa yang secara praktis dapat kita lakukan?

Pertama, mengakui bahwa iman adalah “melihat” Yesus dalam setiap Sakramen. Terang-Nya paling nyata dalam Ekaristi dan Rekonsiliasi. Kita jangan tinggal dalam kegelapan dosa; mendekatlah ke pengakuan dosa.

Kedua, hidup sebagai cerminan terang. Katekismus mengajarkan bahwa orang beriman dipanggil menjadi lumen Christi (terang Kristus) bagi sesama. Periksalah hari ini: apakah kata-kata dan Tindakan kita membawa orang pada keselamatan, atau justru membuat mereka semakin gelisah?

Ketiga, menolak ketakutan akan penghakiman. Yesus berkata, “Aku tidak datang untuk menghakimi.” Jangan kita bayangkan Allah sebagai hakim yang kejam. Bayangkan Dia sebagai Bapa yang mengirimkan Terang-Nya tepat saat kita sedang tersesat di tengah badai.

Karena itu, mari kita luangkan waktu lima menit setiap hari dalam keheningan. Nyalakan lilin kecil, pandangi nyala apinya, dan ulangi perlahan: “Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Tolong aku keluar dari kegelapan kecil dalam hidupku.” Lalu, matikan lilin itu sebagai tanda bahwa kita melepaskan hak untuk menentukan jalan sendiri, dan membiarkan Yesus menjadi satu-satunya pemandu kita. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar