Selasa, 14 April 2026

DILAHIRKAN KEMBALI UNTUK MELIHAT TERANG

Renungan

Selasa, 14 April 2026


DILAHIRKAN KEMBALI UNTUK MELIHAT TERANG

Yohanes 3:7-15

 


Seorang ibu memiliki anak yang kecanduan judi online dan minuman keras. Setiap hari anak itu membuat onar, menghabiskan harta, dan membawa malu bagi keluarganya. Sang ibu sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Suatu malam, dalam doa Rosario, ia menangis dan menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada Tuhan.

Tidak ada mukjizat yang terjadi seketika. Namun perlahan-lahan, seorang teman mulai mengajak anak itu ke komunitas doa. Meskipun awalnya merasa "tidak enak", ia tetap diajak terus. Suatu ketika, dalam sebuah ibadah penyembuhan, ia tersungkur dan menangis tersedu-sedu. Ia mengaku seperti "dilahirkan baru". Sejak saat itu, ia berhenti minum, berdamai dengan ibunya, dan bahkan menjadi pemuda yang aktif di lingkungan gereja.

Para tetangga heran melihat perubahan itu. Sang ibu hanya menjawab, "Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi saya melihat dia berubah total. Itu bukan buatan saya."

Dalam perikop ini, Yesus berbicara kepada Nikodemus, seorang Farisi yang saleh dan ahli Taurat. Nikodemus datang pada malam hari, mungkin karena takut, atau karena ingin merenung dalam diam. Yesus langsung menyingkap keterbatasan pemahaman Nikodemus tentang Kerajaan Allah.

Pada ayat 7, Yesus berkata: "Janganlah engkau heran." Yesus tahu bahwa manusia sering terpaku pada hal-hal jasmani. Nikodemus heran bagaimana seseorang bisa dilahirkan untuk kedua kalinya. Maka Yesus mengajaknya melampaui akal budi belaka. Pada ayat 8: "Angin bertiup ke mana ia mau" , dalam bahasa Yunani dan Ibrani, kata untuk "angin" sama dengan "Roh" (pneuma / ruach). Kita tidak bisa mengontrol Roh Kudus, tetapi kita bisa mendengar dan merasakan efek-Nya. Kelahiran kembali bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah yang tidak bisa dipaksakan.

Kemudian pada ayat 14-15, Yesus mengingatkan kisah ular tembaga di padang gurun (Bilangan 21:4-9). Ular tembaga yang ditinggikan menyelamatkan mereka yang memandangnya dengan iman. Itu adalah lambang salib Kristus. Lahir kembali berarti melihat Yesus yang ditinggikan di kayu salib dan percaya bahwa di dalam Dia ada hidup kekal.

Ajaran Gereja Katolik (KGK 1213, 1265) menegaskan bahwa "kelahiran kembali" terjadi secara sakramental dalam Baptisan. Namun pembaruan rohani itu harus terus berlangsung seumur hidup: pertobatan terus-menerus, pembaharuan hati, dan keterbukaan terhadap Roh Kudus.

Di Indonesia, banyak umat Katolik yang sudah dibaptis sejak bayi, tetapi hidupnya tidak berbeda dengan orang dunia: gemar bergosip, iri hati, melakukan korupsi kecil, malas ke gereja, atau menjalankan agama hanya sebagai tradisi. Yesus berkata: "Jangan heran, kamu harus dilahirkan kembali." Artinya, kelahiran baru bukan sekadar akta baptis. Ia adalah proses terus-menerus untuk mati terhadap ego dan hidup dalam Kristus. Seperti Nikodemus, kita sering ingin mengatur Tuhan. Padahal Roh Kudus bekerja secara misterius, kadang melalui sakit, kegagalan, atau pertemuan tak terduga. Dalam kesulitan hidup—seperti PHK, sakit, atau konflik keluarga—kita diajak untuk tidak hanya melihat masalah, tetapi memandang salib, karena di situlah kemenangan sejati.

Kita sering heran melihat orang bertobat total. Kita juga heran ketika doa kita sepertinya tidak dijawab. Tetapi Yesus berkata: "Jangan heran." Artinya, jangan batasi Tuhan dengan logika duniawi.

Kelahiran kembali bukanlah tentang perasaan euforia rohani, melainkan tentang arah hidup yang baru. Seperti ular tembaga di padang gurun, keselamatan tidak datang dari perbuatan hebat kita, tetapi dari memandang Dia yang disalibkan.

Dalam keseharian kita, saat kita mengaku dosa dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita mengalami "kelahiran kembali" dalam skala kecil. Saat kita menerima Ekaristi, kita dibaharui dalam Tubuh Kristus. Saat kita memaafkan pasangan atau tetangga yang menyakiti, kita membiarkan Roh bertiup dalam keluarga kita.

Hari ini, periksalah area hidupmu yang terasa "mati": kebiasaan dosa, hubungan yang retak, iman yang hanya rutinitas belaka. Mintalah Roh Kudus meniupkan kehidupan baru. Jangan berusaha mengendalikan angin; serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Tugasmu adalah percaya dan taat. Pandanglah Yesus yang ditinggikan. Saat stres atau cemas, jangan panik. Arahkan pandanganmu pada salib Kristus di rumahmu atau di gereja. Katakan dalam hati: "Tuhan, aku percaya pada-Mu."

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar