Renungan
Senin, 27 April 2026
MENGENAL SUARA GEMBALA BAIK
DI TENGAH DUNIA YANG BISING
Yohanes 10:1-18
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini kita diajak merenungkan
salah satu pengajaran Yesus yang paling indah dan penuh makna: perumpamaan
tentang Gembala Baik. Dalam Injil Yohanes 10:1-18, Yesus melukiskan
hubungan antara gembala dan domba-domba-Nya. Bukan sekadar hubungan pemilik dan
ternak, melainkan relasi yang intim, penuh kasih, dan sarat pengorbanan.
Dunia saat ini bagaikan padang
gurun yang luas dan sunyi, tetapi juga bising oleh ribuan suara: suara ambisi,
suara ketakutan, suara kesuksesan palsu, suara media sosial, bahkan suara hati
yang sering membingungkan. Pertanyaannya: suara siapa yang selama ini
kita ikuti?
Yesus berkata, "Barangsiapa
masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba." Pintu di sini
melambangkan Yesus sendiri (ayat 9), sekaligus otoritas yang sah dan benar.
Seorang gembala sejati tidak memanjat pagar; ia masuk melalui pintu. Ia datang
dengan cara yang benar, bukan dengan tipu daya atau kekerasan.
Coba bayangkan sebuah padang
rumput yang dikelilingi tembok tinggi. Di malam hari, domba-domba tertidur
dengan tenang di dalam kandang. Tiba-tiba, ada seseorang yang diam-diam
memanjat tembok. Ia membawa pisau dan racun. Ia ingin mencuri, membunuh, dan membinasakan.
Itulah gambaran si pencuri. Namun, ketika pagi tiba dan pintu terbuka, masuklah
seorang pria sederhana dengan tongkat di tangannya. Domba-domba tidak lari.
Mereka justru menghampirinya. Mengapa? Karena mereka mengenal suaranya. Dia
adalah gembala sejati.
Dunia ini penuh dengan
"pencuri" yang menyamar. Mereka bisa berupa ideologi sesat, gaya
hidup hedonis, atau tawaran kebahagiaan instan. Tetapi Gembala Sejati masuk
melalui pintu, yaitu Yesus sendiri, yang datang dengan kasih dan kebenaran. "Domba-domba
mendengar suaranya. Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut
namanya."
Saudara-saudari, ini luar biasa.
Sang Gembala mengenal domba-domba-Nya satu per satu, nama per nama.
Bukan sekadar nomor, bukan hanya "salah satu dari kawanan". Ia tahu
kelemahan kita, ketakutan kita, juga potensi kita.
Pernahkah Anda tersesat di tempat
ramai, misalnya di stasiun kereta atau pusat perbelanjaan, ketika masih kecil?
Anda mendengar banyak suara: orang berteriak, pengumuman stasiun, langkah kaki.
Namun, ketika Anda mendengar suara ibu atau ayah memanggil nama Anda, hati Anda
langsung tenang. Anda tahu persis dari mana suara itu berasal. Mengapa? Karena
suara itu begitu akrab. Suara itu penuh kasih.
Demikian pula dengan Tuhan. Di
tengah hiruk-pikuk dunia, suara Tuhan tidak selalu keras, tetapi selalu khas.
Ia memanggil kita dalam doa, dalam sabda Kitab Suci, dalam hening adorasi,
bahkan dalam bisikan hati nurani yang jujur.
Domba yang tidak mengenal
gembalanya akan lari mengikuti suara asing. Karena itu, kita perlu memelihara
keakraban dengan Tuhan setiap hari. "Akulah gembala yang
baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."
Inilah inti pesan Yesus. Gembala
sejati bukan hanya pemimpin, tetapi juga penyelamat. Ia tidak lari ketika
melihat serigala datang. Sebaliknya, ia berdiri di depan domba-dombanya. Ia
rela terluka, bahkan mati, demi keselamatan mereka.
Gembala upahan akan lari karena
ia hanya bekerja untuk bayaran. Tetapi Gembala Baik memberikan nyawa-Nya karena
cinta. Yesus tidak mati di kayu salib karena terpaksa. Ia mati karena Ia
memilih untuk mengasihi kita sampai akhir.
Bayangkan sebuah kisah. Di sebuah
desa pegunungan, terjadi kebakaran hutan yang dahsyat. Seorang gembala bernama
Petrus sedang menggembalakan 50 ekor dombanya. Ketika api mulai mendekat,
sebagian besar domba lari ketakutan. Petrus sebenarnya bisa menyelamatkan diri
sendiri. Tetapi ia melihat seekor domba kecil yang terjebak di antara bebatuan.
Tanpa berpikir panjang, Petrus berlari ke arah domba itu, membungkusnya dengan
jubahnya, lalu berlari keluar dari kepungan api. Seluruh punggungnya melepuh,
tetapi domba itu selamat.
Yesus melakukan lebih dari itu.
Ia menanggung dosa kita—bukan sekadar luka bakar, melainkan kematian kekal—agar
kita mendapat hidup kekal. Itulah bukti bahwa Dia adalah Gembala Baik.
"Aku mempunyai domba
lain, yang bukan dari kandang ini. Domba-domba itu harus Kutuntun juga." Yesus
berbicara tentang bangsa-bangsa non-Yahudi, termasuk kita, saudara-saudari. Ia
datang bukan hanya untuk satu kelompok, melainkan untuk semua orang. Pintu
kasih-Nya terbuka bagi siapa pun yang mau mendengar suara-Nya.
Ini menjadi tantangan bagi kita:
Apakah kita juga mau menjadi "gembala kecil" bagi saudara-saudari
kita yang belum mengenal Yesus? Apakah kita peduli dengan domba-domba yang
tersesat di sekitar kita?
Lalu, saudara-saudari, apa yang
harus kita lakukan setelah mendengar sabda ini?
- Kenali suara Tuhan setiap hari. Luangkan waktu
untuk hening, membaca Kitab Suci, dan berdoa. Jangan biarkan suara dunia
membisukan panggilan kasih-Nya.
- Jangan takut mengikuti Gembala Baik. Meskipun
jalan-Nya kadang melewati lembah kekelaman, tongkat dan gada-Nya menghibur
kita (Mazmur 23).
- Jadilah domba yang juga peduli pada domba lain. Kita
dipanggil untuk saling menguatkan, membawa damai, dan menunjukkan kasih
Kristus kepada mereka yang tersesat.
Di akhir hidup kita, Yesus tidak
akan bertanya berapa banyak uang yang kita kumpulkan, atau seberapa terkenal
kita. Ia akan bertanya: "Apakah engkau mendengar suara-Ku? Apakah
engkau percaya bahwa Aku memberikan nyawa-Ku bagimu?"
Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar