Rabu, 01 April 2026

MENJUAL ATAU MEMBIARKAN DIRI DIBELI?

Renungan

Rabu, 1 April 2026

MENJUAL ATAU MEMBIARKAN DIRI DIBELI?

Matius 26:14–25



Dalam keseharian kita sebagai umat Katolik di Indonesia, transaksi sudah menjadi sesuatu yang akrab. Mulai dari tawar-menawar di pasar tradisional, belanja daring, hingga negosiasi dalam pekerjaan maupun bisnis. Kita hidup di tengah budaya yang sangat menghargai nilai tukar, untung, dan rugi.

Namun, Injil hari ini membawa kita menyaksikan sebuah adegan yang sangat kontras: dua jenis “transaksi” terjadi di ruang dan waktu yang sama, tetapi dengan nilai yang bertolak belakang.

Transaksi Yudas: Harga Sebuah Pengkhianatan

Kisah Yudas Iskariot bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bagaikan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Yudas mendatangi imam-imam kepala dan bertanya, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus kepadamu?” (Mat 26:15).

Yudas melakukan perhitungan. Ia menukar Guru, Sahabat, dan Tuhannya dengan tiga puluh uang perak. Pada masa itu, jumlah tersebut adalah harga seorang budak (Kel 21:32). Ia menjual hubungan yang begitu intim hanya demi sejumlah uang.

Bukankah kita sering tergoda melakukan “transaksi ala Yudas” dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin kita tidak pernah membayangkan secara terang-terangan menyerahkan Yesus. Namun, setiap kali kita mengorbankan kebenaran demi keuntungan—menyuap atau disuap dalam pekerjaan; meninggalkan misa hari Minggu karena kelelahan mengejar kesenangan duniawi; menjual integritas dengan berbohong agar dipuji atasan; atau menukar waktu doa dan keluarga dengan kecanduan gawai serta ambisi pribadi—pada saat itu, kita sedang melakukan hal yang sama seperti Yudas: membanderol iman dan kesetiaan dengan harga yang sangat murah.

Transaksi Yesus: Harga Cinta yang Tak Terhingga

Di sisi lain, dalam perjamuan yang sama, Yesus justru memulai transaksi yang berbeda. Ia mengambil roti dan anggur, lalu berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku … Minumlah, inilah darah-Ku …” (Mat 26:26–28).

Yesus tidak menawarkan sesuatu untuk dibeli; Ia memberikan diri-Nya secara cuma-cuma. Inilah Perjanjian Baru yang ditegaskan dengan darah-Nya. Jika Yudas menjual Yesus dengan harga seorang budak, Yesus justru membayar harga nyawa-Nya untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa.

Setiap kali merayakan Ekaristi Kudus—sumber dan puncak iman Katolik—kita diajak masuk ke dalam “transaksi” ilahi ini. Keselamatan tidak kita beli dengan uang, melainkan kita terima sebagai anugerah. Namun, anugerah ini menuntut respons: apakah kita membiarkan diri “dibeli” oleh kasih Kristus, sehingga kita menjadi milik-Nya sepenuhnya?

Sebagai orang Indonesia, kita dikenal ramah dan suka bergotong royong. Namun, dalam hal iman, kita kerap bersikap kompromistis. Ungkapan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” memang baik untuk toleransi, tetapi bisa menjadi bahaya jika menggeser prinsip iman kita.

Sering kali kita dihadapkan pada dilema. Dalam keluarga: apakah saya lebih memilih menjaga “kesepakatan” yang tidak jujur demi menjaga perasaan, atau berani mengatakan kebenaran yang membangun? Dalam pekerjaan atau bertetangga: apakah saya ikut “menyuap” agar urusan administrasi cepat selesai, atau bertahan pada kejujuran meskipun harus lebih lambat? Dalam lingkup sosial: apakah saya “menjual” suara untuk kepentingan sesaat dalam pemilihan, atau menggunakan hak pilih dengan hati nurani yang bersih?

Yudas memang menyesal, tetapi penyesalannya membawa kematian—ia pergi menggantung diri—bukan pertobatan yang membawa hidup. Tuhan memanggil kita bukan sekadar menyesal, melainkan bertobat.

Di meja Perjamuan Terakhir, Yesus tahu ada yang akan menjual-Nya. Namun, Ia tidak mundur. Ia tetap maju ke kayu salib untuk “membeli” kita kembali dengan darah-Nya. Maka, pertanyaan untuk kita hari ini: di manakah posisi saya?

Apakah saya masih terus “menjual” Yesus dalam tindakan-tindakan kecil sehari-hari karena harga yang murah—popularitas, keuntungan materi, atau kenyamanan? Ataukah saya membiarkan diri saya sepenuhnya “dibeli” oleh kasih-Nya, sehingga hidup ini sungguh menjadi milik-Nya, seperti yang sering kita nyanyikan: “Kusembah sujud di hadapan-Mu, Tuhan, ‘ku milik-Mu …”?

Mari kita memohon rahmat agar kita tidak menjadi seperti Yudas yang menjual, melainmenjadi murid yang membiarkan dirinya digerakkan oleh cinta. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar