Renungan
Senin, 20 April 2026
DARI MENCARI
BERKAT MENJADI MENCARI SANG PEMBERI BERKAT
Yohanes 6:22-29
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Kita hidup di zaman yang serba
cepat dan praktis. Tak heran jika banyak orang mencari Tuhan sekadar untuk
keuntungan jasmani: kesembuhan, rezeki, atau jalan keluar dari masalah. Memohon
berkat jasmani memang tidak salah. Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menegur
orang banyak yang mencari-Nya, bukan karena tanda-tanda yang mereka lihat,
melainkan karena perut mereka kenyang setelah diberi makan roti.
Yesus tahu isi hati manusia.
Mereka datang kembali kepada-Nya, tetapi dengan motivasi yang keliru. Mereka
ingin mukjizat roti diulang setiap hari, tanpa memahami bahwa roti itu hanyalah
tanda dari sesuatu yang jauh lebih besar: Yesus sendiri adalah Roti Hidup.
Jangan pernah menjadikan Yesus
sekadar "tukang roti" yang memberi kepuasan sesaat. Sebaliknya,
kenali Dia sebagai Sumber kehidupan kekal.
Allah tidak melarang kita bekerja
untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Yang ditegur Yesus adalah orientasi hidup
yang hanya berpusat pada hal-hal yang fana. Orang banyak itu rela naik perahu
mengelilingi Danau Tiberias, jauh-jauh mencari Yesus, tetapi tujuan mereka
salah. Mereka lelah secara fisik, namun rohani mereka tidak bertumbuh.
Yesus lalu mengajak mereka—dan
juga kita—untuk "bekerja" demi makanan yang tidak binasa. Ketika
mereka bertanya, "Apa yang harus kami perbuat?" Yesus menjawab,
"Percayalah kepada Dia yang diutus Allah." Artinya, pekerjaan yang
dikehendaki Allah bukanlah sekadar serangkaian ritual atau amal lahiriah,
melainkan iman yang hidup dan total kepada Yesus.
Bayangkan seorang buruh harian
lepas di Pasar Induk. Setiap pagi pukul 03.00, dia sudah berangkat, mengangkut
karung beras, sayur, dan buah. Badannya penuh peluh. Sore harinya, ia menerima
upah Rp100.000. Dengan uang itu, ia membeli nasi bungkus untuk dirinya dan
keluarganya. Malamnya, ia tidur dalam kelelahan. Esok paginya, ia kembali ke
pasar melakukan hal yang sama.
Suatu hari, seorang dermawan
memberinya hadiah berupa sebuah rumah sederhana dan modal usaha. Buruh itu
sangat senang. Tetapi keesokan harinya, dia kembali ke pasar, bukan untuk
berterima kasih, melainkan mencari dermawan itu lagi, berharap mendapat rumah
kedua. Dia tidak peduli dengan kebaikan hati sang dermawan; dia hanya peduli
pada hadiahnya.
Saudara-saudari,
Bukankah kita sering berlaku
seperti itu terhadap Yesus? Kita datang ke Misa, novena, ziarah, tetapi
motivasinya: "Supaya dapat rezeki", "Supaya anak lulus
ujian", "Supaya cepat kawin." Kita mencari Yesus karena mukjizat
jasmani, bukan karena diri-Nya sendiri. Begitu masalah selesai, kita pun pergi,
sampai masalah berikutnya datang lagi.
Yesus tidak keberatan kita
membawa pergumulan jasmani kepada-Nya. Namun, Dia rindu kita naik level: dari
mencari tangan-Nya menjadi mencari wajah-Nya; dari mencari berkat menjadi
mencari Sang Pemberi Berkat.
Lalu, secara praktis, apa yang
bisa kita terapkan dari bacaan hari ini?
Pertama, mari kita
evaluasi motivasi doa kita. Apakah doa kita hanya berisi daftar permintaan
barang dan solusi? Luangkan waktu untuk sekadar memuji dan bersyukur tanpa
meminta apa pun.
Kedua, mari kita jadikan
Ekaristi sebagai pusat hidup. Roti yang kita terima dalam Komuni bukan sekadar
roti biasa, melainkan Yesus sendiri. Jangan datang ke Misa hanya karena
kewajiban atau kebiasaan, tetapi karena rindu akan Roti Hidup.
Ketiga, mari kita bekerja keras, tetapi jangan lupa kerja iman. Bekerja mencari nafkah itu mulia. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk mencari "makanan yang binasa" seperti uang, karier, atau popularitas, hingga melupakan "makanan yang kekal", yaitu hubungan dengan Yesus. Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar