Renungan
Senin, 6 April 2026
KEBENARAN YANG BANGKIT vs KEBOHONGAN
YANG TERORGANISIR
Matius 28:8-15
Saudara-saudari yang dikasihi
Kristus,
Coba bayangkan suasana pagi itu.
Para perempuan yang mengikuti Yesus—Maria Magdalena dan Maria lainnya—bergegas
meninggalkan kubur yang kosong. Hati mereka bergetar: ada rasa takut karena
menyaksikan malaikat Tuhan dan peristiwa dahsyat, tetapi juga sukacita yang
luar biasa karena Guru yang mereka cintai telah bangkit.
Kebangkitan adalah kabar yang
mengguncang dunia. Namun, bacaan kita tidak berhenti di situ. Ayat 11–15
memberikan fakta yang mencengangkan: para imam kepala dan tua-tua Yahudi, para
pemimpin agama yang seharusnya menjadi gembala umat, justru menyuap para
penjaga kubur untuk menyebarkan kebohongan. Mereka berkata,
"Murid-murid-Nya datang pada malam hari dan mencuri tubuh-Nya, ketika kamu
tidur" (ayat 13).
Kebohongan Selalu
Terorganisir, Kebenaran Sering Kali Kesepian
Pesan mendalam pertama: Dunia
sering kali lebih mudah mengorganisir kebohongan daripada menerima kebenaran.
Para pemimpin agama waktu itu tidak butuh bukti; mereka butuh stabilitas
kekuasaan. Mereka rela membayar mahal—uang yang cukup besar untuk tentara
Romawi—demi menjaga narasi palsu.
Sebagai umat Katolik di
Indonesia, kita hidup di tengah masyarakat majemuk. Kadang iman kita dianggap
aneh, bahkan dicurigai. Kita mungkin menghadapi gosip, fitnah, atau cerita
miring tentang Gereja: bahwa Paskah hanya mitos, mukjizat adalah rekayasa, atau
iman kita sekadar warisan penjajah. Saudaraku, kebohongan memang selalu
terorganisir rapi. Namun ingatlah: kebohongan itu lemah karena tidak berpijak
pada realitas. Kubur kosong adalah fakta. Kesaksian para rasul yang mati syahid
adalah fakta. Perubahan radikal para murid dari penakut menjadi pemberani juga
fakta.
Takut dan Sukacita: Dua Wajah
Iman Sejati
Perhatikan ayat 8: mereka pergi
dengan takut dan sukacita besar. Inilah iman yang sehat. Bukan iman naif tanpa
tantangan, bukan juga iman yang lumpuh oleh ketakutan. Iman Paskah adalah
berani merasa takut, tetapi tetap berlari mewartakan kebangkitan.
Sebagai umat Katolik Indonesia,
kita mungkin takut: dicemooh karena membuat tanda salib di tempat umum,
dianggap eksklusif karena tidak ikut acara tertentu yang berlawanan dengan
iman, atau kehilangan relasi, pekerjaan, bahkan kenyamanan sosial karena setia
pada ajaran Kristus.
Namun, sukacita Paskah selalu
lebih besar dari ketakutan itu. Sukacita itu tidak muncul karena situasi mudah,
melainkan karena Kristus benar-benar hidup. Dan Dia hidup untuk kita.
Pesan Mendalam: Jangan Menjadi
"Penjaga yang Disuap"
Bagian paling mengerikan dari
bacaan ini bukanlah kebohongan para tua-tua, tetapi bahwa beberapa orang lebih
memilih uang daripada kebenaran. Mereka melihat sendiri kubur kosong, mendengar
gempa, melihat malaikat, tetapi karena suap, mereka bersedia berkata,
"Kami tidur."
Saudaraku, apakah kita kadang
menjadi "penjaga yang disuap"? Suapnya bisa berupa gengsi,
kenyamanan, takut dikucilkan, atau keinginan dihormati orang lain. Kita tahu
Yesus bangkit, tetapi kita diam karena takut dianggap fanatik. Kita tahu misa adalah
perjamuan Tuhan, tetapi kita malas karena lebih suka tidur di hari Minggu. Kita
tahu kebenaran, tetapi kita menyebarkan kebohongan kecil dengan diam membiarkan
orang lain salah paham tentang iman kita.
Tanah air kita adalah negeri yang
indah, dengan beragam suku, agama, dan budaya. Toleransi bukan berarti kita
menyembunyikan iman. Justru, kebangkitan Kristus memberi kita keberanian untuk
menjadi berbeda secara otentik. Seperti para wanita di kubur, kita dipanggil
untuk berlari—bukan lari dari dunia, tetapi lari menuju dunia dengan kabar
sukacita.
Jangan biarkan kebohongan yang
terorganisir—hoaks, fitnah, sekularisme, relativisme—membuat kita lumpuh.
Jadilah saksi yang gembira, bukan saksi yang ketakutan atau munafik. Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar