Renungan
Rabu, 22 April 2026
DATANG DAN PERCAYA: DUA LANGKAH
MENUJU HIDUP KEKAL
Yohanes 6:35-40
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pernahkah kita merasa ada ruang kosong di dalam hati yang
tak bisa diisi oleh apa pun? Kita sudah mengisinya dengan pekerjaan, hiburan,
media sosial, bahkan pelayanan rohani. Namun tetap saja ada rasa “haus” dan
“lapar” yang misterius.
Dalam Injil Yohanes hari ini, Yesus menjawab kerinduan
terdalam kita dengan tegas: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang
kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia
tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35)
Yesus menggunakan dua kata kerja yang sangat konkret: datang dan percaya.
“Datang” berarti gerak nyata, bukan sekadar niat baik, tetapi tindakan. Seperti
anak lapar yang berlari ke meja makan. “Percaya” berarti menggantungkan seluruh
hidup pada Yesus, bukan hanya mengaku dengan bibir.
Yesus tidak berkata, “Barangsiapa tahu ajaran-Ku,” atau
“Barangsiapa rajin ke gereja” (meskipun itu penting), melainkan “datang
dan percaya.” Inilah inti iman Kristen: hubungan pribadi dengan
Pribadi yang adalah Roti Hidup.
Ada kisah tentang seorang anak laki-laki yang pulang sekolah
dalam keadaan lapar. Ibunya menyiapkan kue bolu kesukaannya. Anak itu duduk
lalu bertanya panjang lebar, “Bu, tepung ini dari mana? Gula pasir atau gula
aren? Telurnya dari ayam kampung? Apakah kue ini benar-benar enak?” Ibunya
tersenyum dan berkata, “Nak, jangan banyak tanya. Datang dan makanlah. Nanti
kau tahu sendiri rasanya.”
Saudara-saudariku, banyak dari kita menghabiskan waktu
bertanya-tanya tentang misteri Ekaristi, tentang dosa, tentang keselamatan,
tetapi tidak pernah benar-benar datang kepada Yesus dalam doa
dan percaya penuh. Iman bukanlah analisis teoretis, melainkan penyantapan
pribadi akan Roti Hidup.
Yesus memberikan tiga jaminan dengan logika kasih, bukan
logika dunia:
Pertama, “Setiap orang yang diberikan Bapa kepada-Ku
akan datang kepada-Ku” (ay. 37). Artinya: kerinduanmu untuk datang kepada Yesus
bukanlah kebetulan, melainkan panggilan dan karunia Bapa. Jika hatimu tertarik
kepada Yesus hari ini, itu adalah rahmat.
Kedua, “Ia yang datang kepada-Ku tidak akan Kubuang”
(ay. 37). Dunia sering membuang: ketika gagal, tua, sakit, berdosa. Tetapi
Yesus berkata, “Aku tidak pernah membuang.” Petrus yang menyangkal, Tomas yang
ragu, Paulus yang menganiaya — semuanya diterima.
Ketiga, “Inilah kehendak Bapa-Ku: Aku akan
membangkitkannya pada akhir zaman” (ay. 39–40). Bukan hanya penyelamatan masa
kini, tetapi juga masa depan. Kebangkitan adalah titik akhir dari semua air
mata.
Bayangkan seorang anak kecil jatuh dari sepeda. Lututnya
berdarah, tangannya penuh debu. Ia malu dan menangis. Ayahnya datang berlari.
Anak itu berkata, “Ayah, aku pasti sudah tidak layak jadi anak Ayah. Aku sering
jatuh.” Sang ayah lalu membuka gelang karet murah di tangannya yang sudah
kendor. Ia berkata, “Nak, gelang ini murah dan mudah putus. Tapi lihatlah
cincin kawin Ayah. Ini tidak pernah lepas. Begitulah janji Ayah padamu. Aku
tidak akan membuangmu, apa pun yang terjadi.”
Saudara-saudariku, janji manusia seperti gelang karet, bisa
putus. Tetapi janji Yesus, “Tidak akan Kubuang,” adalah seperti cincin kawin
Allah dengan umat-Nya. Kekal. Tak terlepas. Meskipun kita jatuh berkali-kali.
Apa artinya “datang dan percaya” dalam hidup sehari-hari?
Bagi kita, Misa Mingguan bukan sekadar kewajiban, tetapi saat kita benar-benar
datang menyantap Roti Hidup dalam Komuni Kudus. Sebelum komuni, bisikkan dalam
hati: “Tuhan, aku lapar akan Engkau.” Dalam pencobaan dosa,
jangan lari dari Yesus karena malu, tetapi datanglah lebih cepat kepada-Nya.
Sakramen Tobat adalah tempat Yesus kembali menerima tanpa membuang. Ketika doa
terasa kering, tetaplah percaya bahwa Yesus adalah Roti — meskipun tidak terasa
enak di lidah iman, Ia tetap memberi hidup.
Yesus menutup perikop ini dengan kata yang menghancurkan
hati: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu setiap orang yang melihat
Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (ay. 40).
Bukan hidup yang sempurna tanpa masalah, tetapi hidup
yang tidak pernah lagi lapar dan haus dalam arti terdalam.
Lapar akan makna, haus akan cinta sejati — semuanya dipuaskan hanya dalam diri
Kristus, Roti Hidup.
Maka, saudaraku, jangan takut. Datanglah. Percayalah. Dan
biarkan Yesus berkata kepada hatimu hari ini: “Kamu tidak akan
Kutinggalkan. Aku sendiri akan membangkitkanmu.” Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar