Kamis, 16 April 2026

MENOLAK TUHAN, MENOLAK HIDUP

Renungan

Kamis, 16 April 2026

MENOLAK TUHAN, MENOLAK HIDUP

Yohanes 3:31–36





Saudara-saudari terkasih,

Dalam perikop Injil Yohanes 3:31–36 ini, Yohanes Pembaptis dengan tegas membedakan dua hal: “yang datang dari atas” dan “yang berasal dari bumi.”

Manusia cenderung berbicara berdasarkan pengalaman duniawi yang terbatas, penuh kepentingan pribadi, dan sering kali dangkal. Sebaliknya, Yesus, yang datang dari surga, berbicara dengan otoritas mutlak, karena Ia langsung melihat dan mendengar dari Allah Bapa.

Karena itu, ada pesan mendalam bagi kita: hentikan mencari kebenaran mutlak dari opini dunia, media sosial, atau bahkan dari hati nurani kita yang belum diterangi iman. Kebenaran sejati hanya datang dari “atas,” yaitu dari Yesus Kristus. Jika kita terus mendengarkan suara “bumi” untuk memahami “surga,” kita pasti tersesat.

Ayat 32 menyampaikan teguran yang sangat tajam: “Ia memberi kesaksian… tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya.” Sungguh ironi yang besar. Sang Kebenaran telah datang, namun dunia lebih memilih kebohongan yang nyaman. Yesus bersaksi tentang kasih, pengampunan, dan hidup kekal; tetapi manusia sibuk mengejar harta, gengsi, dan dosa. Renungkanlah: Pernahkah kita “menolak” kesaksian Yesus? Setiap kali kita lebih memilih dosa daripada rahmat, setiap kali kita mengabaikan Firman Tuhan karena merasa lebih nyaman dengan logika dunia, saat itulah kita sedang menolak kesaksian-Nya.

Ayat 33 mengatakan: “Siapa yang telah menerima kesaksian-Nya, ia memeteraikan bahwa Allah adalah benar.” Ketika kita percaya kepada Yesus, kita tidak sedang “mencoba-coba” iman. Kita sedang membubuhkan meterai, sebuah pernyataan resmi dan final: “Allah itu benar. Firman-Nya teguh. Janji-Nya pasti.” Iman bukan sekadar perasaan. Iman adalah tindakan keberanian untuk berkata, “Dunia boleh berkata A, tetapi Allah melalui Yesus berkata B. Maka kami memilih B.”

Selanjutnya, ayat 34–35 mengingatkan kita bahwa Yesus berbicara dengan kepenuhan Roh Kudus (tanpa batas). Dan Bapa mengasihi Anak, lalu menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Ini berarti bahwa Yesus bukan sekadar guru moral. Dia adalah pewaris segala sesuatu. Keselamatan, kebenaran, kuasa, dan penghakiman, semuanya ada di tangan Yesus. Menerima Dia berarti menerima Bapa. Menolak Dia berarti menolak Bapa.

Lalu ayat 36 menyampaikan inti paling serius dari renungan ini: Tidak ada zona abu-abu. Hanya ada dua jalan. Percaya kepada Anak berarti hidup kekal, bukan hanya nanti di surga, tetapi mulai dari sekarang: hidup dalam kelimpahan rahmat, damai sejahtera, dan pengharapan. Sebaliknya, tidak taat kepada Anak berarti tidak akan melihat hidup. Murka Allah tetap ada di atasnya. Kata “tetap” (Yunani: menei) sungguh mengguncang kita. Murka Allah bukan seperti kemarahan manusia yang datang lalu pergi. Murka Allah adalah ketiadaan hidup. Ketika seseorang menolak Yesus, ia sebenarnya memilih untuk tinggal dalam kematian rohani.

Karena itu, marilah kita periksa sumber informasi iman kita. Apakah kita lebih percaya pada komentar teman, berita, atau tren dibandingkan pada Injil? Hari ini, luangkan waktu 10 menit untuk membaca satu bagian Injil dan tanyakan: “Apa yang Yesus katakan dari ‘atas’ tentang situasiku?”

Marilah kita menerima kesaksian-Nya dalam Sakramen. Apakah kita sudah lama tidak mengaku dosa? Menerima Yesus berarti membiarkan Dia membersihkan kita melalui imam yang mewakili-Nya. Jangan tunda lagi.

Marilah kita hidup dalam ketaatan, bukan sekadar pengetahuan. Percaya bukan hanya mengangguk setuju. Percaya adalah taat. Jika kita tahu Yesus memerintahkan pengampunan, maafkanlah. Jika kita tahu Yesus memerintahkan kesucian, tinggalkanlah dosa yang biasa kita perbuat.

Saudara-saudari terkasih,

Injil Yohanes 3:36 adalah ringkasan terpendek dari seluruh Injil: “Siapa yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Hari ini, Yesus berdiri di hadapan kita. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memberi kesaksian tentang kasih Bapa. Jangan tolak Dia seperti dunia menolak Dia. Jangan pilih bumi, karena bumi akan binasa. Pilihlah Yang Dari Atas, karena hanya Dialah yang memberi hidup.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar