Jumat, 9 Oktober 2026 — Peringatan Fakultatif St. Dionisius dan Kawan-kawan
Bacaan I : Galatia 3:7-14
Injil : Lukas 11:15-26
IMAN YANG HIDUP, HATI YANG TERJAGA
Pembuka
Saudara-saudari terkasih, hari
ini Gereja memasuki hari Jumat dalam Pekan Biasa ke-27. Kalender liturgi
mencatat peringatan fakultatif St. Dionisius, Uskup dan para martir, serta
beberapa orang kudus lain seperti St. Yohanes Leonardus dan St. John Henry Newman.
Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, mari kita hentikan sejenak langkah kita
untuk merenungkan sabda Tuhan yang disediakan bagi kita hari ini: Galatia
3:7-14 dan Lukas 11:15-26.
Iman yang Menyelamatkan, bukan
Hukum yang Membelenggu
Bacaan pertama dari Surat kepada
Jemaat di Galatia membawa kita pada inti pewartaan Santo Paulus: manusia
dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat. Paulus
mengingatkan bahwa Abraham, bapa bangsa Yahudi, menerima berkat Tuhan bukan
karena ia menjalankan hukum — sebab hukum Taurat belum ada pada zamannya —
melainkan karena imannya kepada Allah. Mereka yang hidup dari iman,
merekalah anak-anak Abraham yang sejati.
Namun, Paulus juga menyadari
kenyataan pahit: tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi seluruh hukum
Taurat dengan sempurna. Justru karena ketidakmampuan manusia itulah,
Kristus datang. Ia menjadi kutuk bagi kita di kayu salib, agar kita
dibebaskan dari kutuk hukum dan menerima berkat Abraham, yakni janji Roh Kudus
melalui iman.
Apa pesan ini bagi kita hari ini?
Kita mungkin tidak lagi bergulat dengan hukum Taurat seperti jemaat Galatia
dahulu. Namun, kita sering kali jatuh ke dalam perangkap yang sama: merasa
aman hanya karena kita sudah dibaptis, rajin ke gereja, atau melakukan berbagai
devosi. Semua itu baik, tetapi jika kita menggantungkan keselamatan pada
usaha manusiawi semata, kita keliru. Keselamatan adalah anugerah, yang
diterima melalui iman yang hidup — iman yang bekerja melalui kasih.
Santo Paulus menegaskan: "Orang benar akan hidup oleh iman" (Gal
3:11).
Iman yang sejati tidak pernah
berhenti pada kata-kata. Ia mendorong kita untuk melakukan perbuatan baik,
bukan untuk membeli keselamatan, melainkan sebagai buah syukur atas kasih Allah
yang telah menyelamatkan kita. Di zaman ketika nilai-nilai keadilan dan
kebenaran semakin tergerus, umat beriman dipanggil untuk menghidupi imannya
secara nyata: menegakkan keadilan, menciptakan damai, dan menjadi saksi
Kristus di tengah dunia.
Kuasa Kristus dan Hati yang
Terjaga
Injil hari ini dari Lukas
11:15-26 menyajikan dua pengajaran penting yang saling berkaitan.
Pertama, Yesus menegaskan
bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Allah, bukan dengan kuasa Beelzebul
seperti tuduhan sebagian orang. Ia mengingatkan bahwa kerajaan yang terpecah
belah akan runtuh (Luk 11:17). Yesus menunjukkan bahwa kuasa-Nya nyata
dan bahwa tidak ada jalan tengah: "Siapa yang tidak bersama Aku, ia
melawan Aku, dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia
mencerai-beraikan" (Luk 11:23). Paus Fransiskus dalam homilinya pernah
menegaskan bahwa tidak ada pilihan netral dalam peperangan rohani ini:
kita harus memilih dengan tegas, entah bersama Kristus atau melawan Dia.
Kedua, Yesus memberikan
peringatan yang sangat serius melalui perumpamaan tentang roh jahat yang keluar
dari seseorang. Ketika roh itu kembali dan mendapati rumah itu "sapu
bersih dan teratur" tetapi kosong, ia membawa tujuh roh lain
yang lebih jahat dan masuk ke dalam rumah itu. Akhirnya, keadaan orang itu
menjadi lebih buruk daripada sebelumnya (Luk 11:24-26).
Apa makna perumpamaan ini bagi
kita? Membersihkan diri dari dosa saja tidak cukup. Rumah hati kita tidak
boleh dibiarkan kosong. Kita harus mengisi hati kita dengan Kristus
— melalui doa, sabda Tuhan, sakramen-sakramen, dan perbuatan kasih. Jika kita
hanya berhenti pada pertobatan tanpa mengisi hidup dengan kehadiran Allah, kita
rentan jatuh kembali, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Paus Fransiskus
mengingatkan bahwa strategi iblis adalah meninggalkan kita saat kita
merasa aman dan tidak waspada, lalu kembali dengan kekuatan yang lebih besar.
Doa dan Ajakan
Saudara-saudari terkasih, hari
ini kita diundang untuk merenungkan dua hal:
- Iman yang hidup — bukan sekadar rutinitas
religius, tetapi kepercayaan yang mendalam kepada Kristus yang telah
menebus kita dari kutuk dosa.
- Hati yang terjaga — bukan hanya dibersihkan
dari dosa, tetapi dipenuhi dengan kehadiran Allah melalui doa,
sakramen, dan kasih nyata kepada sesama.
Amin.
St. Dionisius dan para martir, doakanlah kami.
St. Yohanes Leonardus dan St. John Henry Newman, doakanlah kami.
Semoga Tuhan memberkati kita senantiasa. Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar