Renungan Katolik
Rabu, 21 Oktober 2026
Pekan Biasa XXIX – Tahun II
Injil: Lukas 12:39-48
KEWASPADAAN YANG MENJADI BERKAT:
MENJADI PENGELOLA YANG SETIA
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini Bacaan Injil yang kita
dengar bukanlah sebuah teguran yang menakutkan, melainkan sebuah panggilan
untuk hidup dalam kewaspadaan yang penuh kasih. Yesus berbicara tentang seorang
tuan yang pergi dan seorang hamba yang dipercayakan rumahnya. Di tengah dunia
yang sering membuat kita terlena, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk
berjaga, bukan dengan rasa takut yang berlebihan, tetapi dengan kesadaran bahwa
hidup kita adalah sebuah kepercayaan dari Allah.
Bacaan Pertama (Ef.
3:2-12) mengingatkan kita bahwa kita telah menerima suatu “pelayanan” atau
“penatalayanan” atas kasih karunia Allah. Paulus menyebut dirinya sebagai
pelayan Injil, dan melalui dia, misteri keselamatan dinyatakan kepada semua
bangsa. Kita pun, sebagai umat Katolik Indonesia, telah menerima karunia iman
yang sama. Kita adalah para pengelola misteri Allah di tengah keluarga,
lingkungan, dan masyarakat kita.
Injil Lukas 12:39-48
melanjutkan ajaran Yesus tentang kewaspadaan. Yesus memakai dua perumpamaan.
Pertama, tentang pencuri yang datang pada waktu yang tidak diduga. Kedua,
tentang seorang hamba yang dipercayakan untuk memberi makan kepada para pelayan
lainnya pada waktu yang tepat. Yesus bertanya, “Siapakah pengelola yang setia
dan bijaksana, yang oleh tuannya diangkat atas orang-orangnya untuk memberikan
mereka jatah makanan pada waktunya?” (Luk. 12:42). Hamba yang setia adalah
hamba yang tetap melakukan tugasnya meskipun tuannya tidak ada di rumah.
Saudara-saudari, kewaspadaan
Kristiani bukanlah sikap pasif menunggu kedatangan Tuhan sambil diam tanpa
melakukan apa-apa. Kewaspadaan adalah sikap aktif: kita terus melakukan apa
yang menjadi tanggung jawab kita, kita terus mengasihi, melayani, dan menjadi
berkat bagi sesama. Santo Yohanes Paulus II pernah mengingatkan bahwa
“kewaspadaan berarti membuka diri terhadap kebaikan, kebenaran, dan Allah, di
tengah dunia yang sering tidak dapat dijelaskan”. Kita tidak boleh terlena oleh
kesibukan duniawi hingga melupakan panggilan kita yang sejati.
Yesus juga memberikan peringatan
yang serius: hamba yang mengetahui kehendak tuannya tetapi tidak melakukannya
akan menerima hukuman yang berat. Sebaliknya, hamba yang tidak mengetahui dan
berbuat salah akan menerima hukuman yang lebih ringan. Prinsipnya jelas: “Setiap
orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut”
(Luk. 12:48). Sebagai umat Katolik di Indonesia, kita telah menerima banyak
sekali berkat: iman yang diwariskan oleh para misionaris, Sakramen-sakramen,
dan pengajaran Gereja yang kaya. Oleh karena itu, kita pun memiliki tanggung
jawab yang besar untuk menghidupi iman itu dan membagikannya kepada orang lain.
Apa bentuk konkret
“penatalayanan” kita di zaman ini? Mungkin kita dipercayakan sebagai orang tua
untuk mendidik anak-anak dalam iman. Mungkin kita dipercayakan sebagai katekis,
pengurus lingkungan, atau anggota komunitas basis gerejawi. Mungkin juga kita
dipercayakan sebagai pekerja, pebisnis, atau pelajar yang harus menjadi saksi
Kristus di tempat kita masing-masing. Setiap peran adalah sebuah “rumah” yang
Allah percayakan kepada kita untuk dijaga dan dirawat.
Marilah kita bertanya dalam hati:
Apakah saya sudah menjadi pengelola yang setia atas apa yang Tuhan percayakan?
Apakah saya masih rajin berdoa, menerima Sakramen, dan membaca Sabda Tuhan?
Ataukah saya sudah mulai “tertidur” dan menganggap bahwa kedatangan Tuhan masih
lama, sehingga saya menunda-nunda pertobatan dan pelayanan?
Hari ini, Gereja juga
memperingatkan kita akan bahaya kelalaian. Hamba yang jahat dalam perumpamaan
itu mulai memukul pelayan lain, makan, minum, dan mabuk. Kelalaian rohani
sering kali dimulai dari hal-hal kecil: meninggalkan doa harian, malas ke
gereja, atau mengabaikan sesama yang membutuhkan. Semoga kita tidak terjebak
dalam kelalaian itu.
Saudara-saudari yang terkasih,
Yesus tidak menghendaki kita hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kasih yang
berjaga-jaga. Ia ingin hidup kita berbuah. Ia ingin kita menjadi pengelola yang
setia, yang ketika Ia datang kembali, mendapati kita sedang melakukan
kehendak-Nya. Mari kita memohon rahmat Allah agar kita selalu siap sedia, setia
dalam perkara kecil, dan bertanggung jawab atas setiap karunia yang telah kita
terima.
Amin.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar