Selasa, 20 Oktober 2026

KEWASPADAAN YANG MENJADI BERKAT: MENJADI PENGELOLA YANG SETIA

 


Renungan Katolik
Rabu, 21 Oktober 2026
Pekan Biasa XXIX – Tahun II
Injil: Lukas 12:39-48


KEWASPADAAN YANG MENJADI BERKAT:

MENJADI PENGELOLA YANG SETIA

 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Bacaan Injil yang kita dengar bukanlah sebuah teguran yang menakutkan, melainkan sebuah panggilan untuk hidup dalam kewaspadaan yang penuh kasih. Yesus berbicara tentang seorang tuan yang pergi dan seorang hamba yang dipercayakan rumahnya. Di tengah dunia yang sering membuat kita terlena, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berjaga, bukan dengan rasa takut yang berlebihan, tetapi dengan kesadaran bahwa hidup kita adalah sebuah kepercayaan dari Allah.

Bacaan Pertama (Ef. 3:2-12) mengingatkan kita bahwa kita telah menerima suatu “pelayanan” atau “penatalayanan” atas kasih karunia Allah. Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan Injil, dan melalui dia, misteri keselamatan dinyatakan kepada semua bangsa. Kita pun, sebagai umat Katolik Indonesia, telah menerima karunia iman yang sama. Kita adalah para pengelola misteri Allah di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat kita.

Injil Lukas 12:39-48 melanjutkan ajaran Yesus tentang kewaspadaan. Yesus memakai dua perumpamaan. Pertama, tentang pencuri yang datang pada waktu yang tidak diduga. Kedua, tentang seorang hamba yang dipercayakan untuk memberi makan kepada para pelayan lainnya pada waktu yang tepat. Yesus bertanya, “Siapakah pengelola yang setia dan bijaksana, yang oleh tuannya diangkat atas orang-orangnya untuk memberikan mereka jatah makanan pada waktunya?” (Luk. 12:42). Hamba yang setia adalah hamba yang tetap melakukan tugasnya meskipun tuannya tidak ada di rumah.

Saudara-saudari, kewaspadaan Kristiani bukanlah sikap pasif menunggu kedatangan Tuhan sambil diam tanpa melakukan apa-apa. Kewaspadaan adalah sikap aktif: kita terus melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita, kita terus mengasihi, melayani, dan menjadi berkat bagi sesama. Santo Yohanes Paulus II pernah mengingatkan bahwa “kewaspadaan berarti membuka diri terhadap kebaikan, kebenaran, dan Allah, di tengah dunia yang sering tidak dapat dijelaskan”. Kita tidak boleh terlena oleh kesibukan duniawi hingga melupakan panggilan kita yang sejati.

Yesus juga memberikan peringatan yang serius: hamba yang mengetahui kehendak tuannya tetapi tidak melakukannya akan menerima hukuman yang berat. Sebaliknya, hamba yang tidak mengetahui dan berbuat salah akan menerima hukuman yang lebih ringan. Prinsipnya jelas: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48). Sebagai umat Katolik di Indonesia, kita telah menerima banyak sekali berkat: iman yang diwariskan oleh para misionaris, Sakramen-sakramen, dan pengajaran Gereja yang kaya. Oleh karena itu, kita pun memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghidupi iman itu dan membagikannya kepada orang lain.

Apa bentuk konkret “penatalayanan” kita di zaman ini? Mungkin kita dipercayakan sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak dalam iman. Mungkin kita dipercayakan sebagai katekis, pengurus lingkungan, atau anggota komunitas basis gerejawi. Mungkin juga kita dipercayakan sebagai pekerja, pebisnis, atau pelajar yang harus menjadi saksi Kristus di tempat kita masing-masing. Setiap peran adalah sebuah “rumah” yang Allah percayakan kepada kita untuk dijaga dan dirawat.

Marilah kita bertanya dalam hati: Apakah saya sudah menjadi pengelola yang setia atas apa yang Tuhan percayakan? Apakah saya masih rajin berdoa, menerima Sakramen, dan membaca Sabda Tuhan? Ataukah saya sudah mulai “tertidur” dan menganggap bahwa kedatangan Tuhan masih lama, sehingga saya menunda-nunda pertobatan dan pelayanan?

Hari ini, Gereja juga memperingatkan kita akan bahaya kelalaian. Hamba yang jahat dalam perumpamaan itu mulai memukul pelayan lain, makan, minum, dan mabuk. Kelalaian rohani sering kali dimulai dari hal-hal kecil: meninggalkan doa harian, malas ke gereja, atau mengabaikan sesama yang membutuhkan. Semoga kita tidak terjebak dalam kelalaian itu.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus tidak menghendaki kita hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kasih yang berjaga-jaga. Ia ingin hidup kita berbuah. Ia ingin kita menjadi pengelola yang setia, yang ketika Ia datang kembali, mendapati kita sedang melakukan kehendak-Nya. Mari kita memohon rahmat Allah agar kita selalu siap sedia, setia dalam perkara kecil, dan bertanggung jawab atas setiap karunia yang telah kita terima.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar