Jumat, 02 Oktober 2026

MENJADI PENGGARAP KEBUN ANGGUR TUHAN YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN BERBUAH

 

Renungan Katolik
Hari Minggu Biasa XXVII – Tahun A
Minggu, 4 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 21:33-43

 

MENJADI PENGGARAP KEBUN ANGGUR TUHAN YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN BERBUAH


 


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memasuki Hari Minggu Biasa XXVII. Perlu kita ketahui bahwa pada tanggal 4 Oktober Gereja biasanya memperingati Santo Fransiskus dari Asisi, seorang kudus yang terkenal karena kesederhanaan dan kasihnya kepada semua ciptaan. Namun karena hari ini adalah hari Minggu, perayaan Ekaristi Minggu mengambil tempat utama, dan peringatan Santo Fransiskus tidak dirayakan secara liturgis. Meskipun demikian, semangat Santo Fransiskus—yang melihat seluruh ciptaan sebagai kebun anggur Tuhan—sangat selaras dengan Sabda Tuhan hari ini.

Injil yang baru saja kita dengar adalah perumpamaan Yesus tentang penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat. Perumpamaan ini bukanlah cerita yang ringan. Yesus menyampaikannya kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, para pemimpin umat yang seharusnya menjadi teladan dalam menjaga dan menggarap "kebun anggur" Tuhan, yaitu umat Israel. Namun, mereka justru bertindak seolah-olah kebun anggur itu milik mereka sendiri. Mereka menolak, menganiaya, bahkan membunuh para utusan Tuhan—para nabi—dan akhirnya mereka juga akan menolak dan membunuh Anak-Nya sendiri, Yesus Kristus.

Perumpamaan ini menggambarkan dengan jelas bahwa Allah adalah Pemilik kebun anggur. Dia telah menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna: memagari kebun, menggali lubang pemerasan anggur, dan mendirikan menara jaga. Semua ini melambangkan kasih dan pemeliharaan Allah yang berlimpah bagi umat-Nya. Allah mempercayakan kebun anggur itu kepada para penggarap—yaitu para pemimpin umat—dengan harapan agar mereka menghasilkan buah yang berkenan kepada-Nya. Buah yang dimaksud bukanlah sekadar ketaatan formal, melainkan keadilan, kebenaran, dan kasih.

Namun, para penggarap itu justru menunjukkan sikap yang sangat bertolak belakang. Mereka menjadi rakus, kasar, dan tidak tahu diri. Mereka ingin menguasai apa yang bukan milik mereka. Mereka lupa bahwa mereka hanyalah penggarap, bukan pemilik. Sikap inilah yang ditegur oleh Yesus. Perumpamaan ini adalah sebuah kritik terhadap mereka yang merasa diri berhak atas keselamatan Allah secara otomatis, sementara perbuatan mereka jauh dari kehendak Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih, pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah: Siapakah kita dalam perumpamaan ini?

Kita semua adalah penggarap-penggarap kebun anggur Tuhan. Tuhan telah mempercayakan kepada kita berbagai karunia: kehidupan, keluarga, pekerjaan, talenta, dan waktu. Kebun anggur kita mungkin adalah rumah tangga kita, tempat kerja kita, lingkungan tempat kita tinggal, atau persekutuan umat kita. Kepada kita semua, Tuhan memberikan tanggung jawab yang sama: menggarap dan menghasilkan buah.

Apakah kita sudah menjadi penggarap yang bertanggung jawab? Ataukah kita sering kali bersikap seperti para penggarap jahat dalam Injil—menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah hasil usaha kita sendiri, tanpa mengakui bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan? Apakah kita telah menghasilkan buah keadilan dan kebenaran, atau justru sebaliknya, kita menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitar kita?

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya (5:1-7) dan Bacaan Kedua dari Surat kepada Jemaat di Filipi (4:6-9) memberikan pencerahan yang indah. Yesaya menegaskan bahwa Allah "menantikan keadilan, tetapi hanya kelaliman; dinantikan-Nya kebenaran, tetapi hanya keonaran". Sementara Santo Paulus menasihati kita untuk memikirkan dan melakukan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji. Inilah buah-buah yang seharusnya kita hasilkan sebagai penggarap kebun anggur Tuhan.

Kita juga diingatkan oleh peringatan Yesus tentang "batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, yang telah menjadi batu penjuru" (Mat 21:42). Yesus Kristus sendiri adalah batu penjuru itu. Bangsa Israel menolak-Nya, tetapi Allah menjadikan-Nya dasar keselamatan bagi semua orang. Kerajaan Allah akan diberikan kepada mereka yang menghasilkan buah-Nya. Ini adalah panggilan bagi kita semua, umat Katolik, untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah Tuhan berikan. Kita dipanggil untuk menjadi "bangsa yang baru"—bangsa yang menghasilkan buah Kerajaan Allah.

Santo Fransiskus dari Asisi, yang kita kenang hari ini, adalah teladan indah tentang bagaimana seharusnya kita menggarap kebun anggur Tuhan. Ia tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Ia meninggalkan kehidupan yang nyaman untuk melayani Tuhan dalam diri orang-orang miskin dan terpinggirkan. Ia melihat seluruh ciptaan sebagai cerminan kasih Allah, dan ia menghasilkan buah-buah yang berlimpah: kasih, kedamaian, dan sukacita.

Saudara-saudari terkasih, mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita telah menjadi penggarap yang tahu diri? Apakah kita menyadari bahwa hidup ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan? Apakah kita telah menghasilkan buah-buah yang berkenan kepada-Nya? Marilah kita memohon rahmat Tuhan agar kita tidak pernah menjadi penggarap yang jahat, tetapi menjadi penggarap yang setia, yang dengan penuh tanggung jawab menggarap kebun anggur yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar