Renungan Katolik
Hari Minggu Biasa XXVII – Tahun A
Minggu, 4 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 21:33-43
MENJADI PENGGARAP KEBUN ANGGUR TUHAN
YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN BERBUAH
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja memasuki Hari
Minggu Biasa XXVII. Perlu kita ketahui bahwa pada tanggal 4 Oktober Gereja
biasanya memperingati Santo Fransiskus dari Asisi, seorang kudus yang terkenal
karena kesederhanaan dan kasihnya kepada semua ciptaan. Namun karena hari ini
adalah hari Minggu, perayaan Ekaristi Minggu mengambil tempat utama, dan
peringatan Santo Fransiskus tidak dirayakan secara liturgis. Meskipun demikian,
semangat Santo Fransiskus—yang melihat seluruh ciptaan sebagai kebun anggur
Tuhan—sangat selaras dengan Sabda Tuhan hari ini.
Injil yang baru saja kita dengar
adalah perumpamaan Yesus tentang penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat.
Perumpamaan ini bukanlah cerita yang ringan. Yesus menyampaikannya kepada
imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, para pemimpin umat yang seharusnya
menjadi teladan dalam menjaga dan menggarap "kebun anggur" Tuhan,
yaitu umat Israel. Namun, mereka justru bertindak seolah-olah kebun anggur itu
milik mereka sendiri. Mereka menolak, menganiaya, bahkan membunuh para utusan
Tuhan—para nabi—dan akhirnya mereka juga akan menolak dan membunuh Anak-Nya
sendiri, Yesus Kristus.
Perumpamaan ini menggambarkan
dengan jelas bahwa Allah adalah Pemilik kebun anggur. Dia telah menyiapkan
segala sesuatu dengan sempurna: memagari kebun, menggali lubang pemerasan
anggur, dan mendirikan menara jaga. Semua ini melambangkan kasih dan
pemeliharaan Allah yang berlimpah bagi umat-Nya. Allah mempercayakan kebun
anggur itu kepada para penggarap—yaitu para pemimpin umat—dengan harapan agar
mereka menghasilkan buah yang berkenan kepada-Nya. Buah yang dimaksud bukanlah
sekadar ketaatan formal, melainkan keadilan, kebenaran, dan kasih.
Namun, para penggarap itu justru
menunjukkan sikap yang sangat bertolak belakang. Mereka menjadi rakus, kasar,
dan tidak tahu diri. Mereka ingin menguasai apa yang bukan milik mereka. Mereka
lupa bahwa mereka hanyalah penggarap, bukan pemilik. Sikap inilah yang ditegur
oleh Yesus. Perumpamaan ini adalah sebuah kritik terhadap mereka yang merasa
diri berhak atas keselamatan Allah secara otomatis, sementara perbuatan mereka
jauh dari kehendak Tuhan.
Saudara-saudari yang terkasih,
pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah: Siapakah kita dalam
perumpamaan ini?
Kita semua adalah
penggarap-penggarap kebun anggur Tuhan. Tuhan telah mempercayakan kepada kita
berbagai karunia: kehidupan, keluarga, pekerjaan, talenta, dan waktu. Kebun
anggur kita mungkin adalah rumah tangga kita, tempat kerja kita, lingkungan
tempat kita tinggal, atau persekutuan umat kita. Kepada kita semua, Tuhan
memberikan tanggung jawab yang sama: menggarap dan menghasilkan buah.
Apakah kita sudah menjadi
penggarap yang bertanggung jawab? Ataukah kita sering kali bersikap seperti
para penggarap jahat dalam Injil—menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah
hasil usaha kita sendiri, tanpa mengakui bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan?
Apakah kita telah menghasilkan buah keadilan dan kebenaran, atau justru
sebaliknya, kita menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitar kita?
Bacaan pertama dari Kitab Yesaya
(5:1-7) dan Bacaan Kedua dari Surat kepada Jemaat di Filipi (4:6-9) memberikan
pencerahan yang indah. Yesaya menegaskan bahwa Allah "menantikan keadilan,
tetapi hanya kelaliman; dinantikan-Nya kebenaran, tetapi hanya keonaran".
Sementara Santo Paulus menasihati kita untuk memikirkan dan melakukan segala
sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji. Inilah buah-buah yang
seharusnya kita hasilkan sebagai penggarap kebun anggur Tuhan.
Kita juga diingatkan oleh
peringatan Yesus tentang "batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan,
yang telah menjadi batu penjuru" (Mat 21:42). Yesus Kristus sendiri adalah
batu penjuru itu. Bangsa Israel menolak-Nya, tetapi Allah menjadikan-Nya dasar
keselamatan bagi semua orang. Kerajaan Allah akan diberikan kepada mereka yang
menghasilkan buah-Nya. Ini adalah panggilan bagi kita semua, umat Katolik,
untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah Tuhan berikan. Kita dipanggil
untuk menjadi "bangsa yang baru"—bangsa yang menghasilkan buah
Kerajaan Allah.
Santo Fransiskus dari Asisi, yang
kita kenang hari ini, adalah teladan indah tentang bagaimana seharusnya kita
menggarap kebun anggur Tuhan. Ia tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Ia
meninggalkan kehidupan yang nyaman untuk melayani Tuhan dalam diri orang-orang
miskin dan terpinggirkan. Ia melihat seluruh ciptaan sebagai cerminan kasih
Allah, dan ia menghasilkan buah-buah yang berlimpah: kasih, kedamaian, dan
sukacita.
Saudara-saudari terkasih, mari
kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita telah menjadi penggarap yang
tahu diri? Apakah kita menyadari bahwa hidup ini bukan milik kita, melainkan
milik Tuhan? Apakah kita telah menghasilkan buah-buah yang berkenan kepada-Nya?
Marilah kita memohon rahmat Tuhan agar kita tidak pernah menjadi penggarap yang
jahat, tetapi menjadi penggarap yang setia, yang dengan penuh tanggung jawab
menggarap kebun anggur yang telah Tuhan percayakan kepada kita.
Amin
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar