Selasa, 13 Oktober 2026

MENJADI GAMBAR ALLAH DI TENGAH DUNIA

 


RENUNGAN MINGGU BIASA XXIX – TAHUN A
Minggu, 18 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 22:15-21

 

MENJADI GAMBAR ALLAH DI TENGAH DUNIA


 

Pembuka: “Gambar Siapa Ini?”

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja memasuki Minggu Biasa ke-29. Bacaan Injil yang kita dengar—Matius 22:15-21—menampilkan sebuah adegan yang sangat manusiawi: sebuah jebakan yang dipasang dengan cermat, sebuah pertanyaan yang dirancang untuk memojokkan, dan sebuah jawaban yang mengubah segalanya. Orang-orang Farisi dan pendukung Herodes bersatu—dua kelompok yang biasanya bermusuhan—untuk menjerat Yesus. Pertanyaan mereka terdengar sederhana: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17).

Namun di balik pertanyaan itu, ada perangkap ganda. Jika Yesus mengatakan “boleh”, Ia akan dianggap penghianat bangsa yang menyerahkan diri kepada penjajah Romawi. Jika Ia mengatakan “tidak boleh”, Ia akan dituduh memberontak terhadap kekuasaan Romawi yang sah. Yesus, yang mengetahui maksud jahat mereka, tidak terjebak. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak—sebuah dinar Romawi—dan bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (Mat 22:20). Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan Kaisar.”

Maka Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).

 

Pesan Injil: Dua Wilayah, Satu Hati

Saudara-saudari, jawaban Yesus ini bukanlah sebuah kompromi yang mengaburkan batas, melainkan sebuah penegasan tentang dua realitas yang tidak boleh dipertentangkan. Santo Fransiskus de Sales mengajarkan bahwa kita memiliki “ketaatan kasih”—sebuah ketaatan yang lahir bukan dari ketakutan akan hukuman atau harapan akan hadiah, melainkan dari cinta yang mendalam kepada Allah. Ketaatan kasih inilah yang mempersatukan seluruh hidup kita, baik sebagai warga negara maupun sebagai warga Kerajaan Surga.

Koin itu bergambar Kaisar, dan karena itu memang milik Kaisar. Tetapi kita—manusia—diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kej 1:26). Karena itu, kita adalah milik Allah. Jika koin harus dikembalikan kepada Kaisar karena gambarnya, betapa lebih lagi kita harus mengembalikan seluruh hidup kita kepada Allah karena kita adalah gambar-Nya. Inilah inti pesan Injil hari ini: yang bergambar Kaisar, kembalikan kepada Kaisar; yang bergambar Allah, kembalikan kepada Allah.

Mgr. Soegiopranata, pahlawan nasional sekaligus uskup agung pertama Indonesia, pernah berkata dengan terkenal: “Kita harus menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia.” Ucapan ini bukan sekadar semboyan, melainkan konsekuensi logis dari jawaban Yesus. Hidup beriman tidak menuntut kita untuk mengabaikan tanggung jawab duniawi, dan sebaliknya, menjadi warga negara yang baik tidak berarti mengorbankan iman kita. Kedua hal ini tidak saling bertentangan; keduanya menyatu dalam hati yang utuh mengasihi Allah.

 

Aplikasi: Menjadi Gambar Allah di Tengah Dunia

Saudara-saudari yang terkasih, bagaimana kita menghidupi pesan Injil ini dalam kehidupan sehari-hari?

Pertama, kita dipanggil untuk terlibat secara aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Membayar pajak, menaati hukum yang sah, menjaga lingkungan, dan berkontribusi bagi kesejahteraan umum adalah bagian dari kewajiban kita sebagai warga negara. Konstitusi Gereja Katolik, Gaudium et Spes art. 76, menegaskan bahwa “negara ada demi kesejahteraan umum” dan Gereja “mewartakan kebenaran injil, cinta kasih dan keadilan”. Kita tidak boleh menjadi orang Katolik yang hanya sibuk dengan urusan surgawi lalu melupakan urusan bumi. Iman kita harus membumi—dalam arti yang paling mulia.

Kedua, kita dipanggil untuk tidak mengabaikan apa yang menjadi hak Allah. Kita adalah gambar dan rupa Allah. Karena itu, hidup kita—seluruhnya—adalah milik-Nya. Memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya berarti mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi; berarti hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran; berarti memuliakan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita: dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan bahkan dalam cara kita memperlakukan sesama—terutama yang paling kecil dan menderita.

Ketiga, kita dipanggil untuk menjadikan kasih sebagai motivasi utama. Santo Fransiskus de Sales mengingatkan bahwa mereka yang mengasihi Allah “seperti rusa yang ditandai dengan inisial pemiliknya, yang dibiarkan bebas berkeliaran di hutan, namun semua orang tahu kepada siapa rusa itu belongs”. Kita bebas, tetapi hidup kita harus menunjukkan kepada siapa kita belonged. Dunia harus dapat melihat gambaran Allah dalam diri kita—melalui kasih, belas kasih, kejujuran, dan pengabdian kita.

 

Penutup: Doa Sang Gambar Allah

Saudara-saudari, di akhir renungan ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hidup saya sudah menjadi cerminan gambar Allah? Apakah cara saya bekerja, bertutur kata, memperlakukan sesama, dan terlibat dalam masyarakat menunjukkan bahwa saya milik Allah?

Jika koin itu dapat dikembalikan kepada Kaisar karena gambarnya, maka kita pun—yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah—sepatutnya mengembalikan seluruh hidup kita kepada-Nya. Bukan karena paksaan, tetapi karena kasih. Sebab kepada-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita akan kembali.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar