Renungan Katolik
Selasa, 6 Oktober 2026
Bacaan Injil: Lukas 10:38-42
MEMILIH BAGIAN YANG TERBAIK:
MENJADI MURID YANG DUDUK DI KAKI
TUHAN
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja Katolik merayakan
Peringatan Santo Bruno, imam dan pendiri Ordo Kartusian, sebuah ordo
kontemplatif yang menekankan kehidupan hening dan doa. Pilihan bacaan Injil
hari ini, kisah Marta dan Maria, sungguh selaras dengan semangat peringatan
ini. Santo Bruno meninggalkan segala kesibukan dunia untuk mencari "satu
hal yang perlu" — persatuan intim dengan Allah dalam keheningan.
Dalam perikop Injil hari ini,
kita menjumpai dua perempuan bersaudara yang menyambut Yesus ke rumah mereka.
Marta sibuk melayani, sementara Maria duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan
perkataan-Nya. Ketika Marta mengeluh kepada Yesus tentang saudarinya yang tidak
membantu, Yesus menjawab dengan lembut: "Marta, Marta, engkau kuatir dan
menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil
daripadanya" (Luk 10:41-42).
Memahami Dua Sikap: Marta dan
Maria
Sering kali kita tergoda untuk
memposisikan Marta dan Maria secara berlawanan, seolah-olah Yesus menghakimi
pelayanan Marta. Namun, bacaan Injil ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan
kerja dan pelayanan. Yesus sendiri adalah pelayan yang tidak pernah lelah
melayani umat-Nya. Bunda Maria, model murid sejati, juga melayani Elisabet
dengan penuh kasih. Gereja senantiasa mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan
adalah mati (lih. Yak 2:17).
Yang ditegur Yesus bukanlah
pelayanan Marta, melainkan kegelisahan dan keterpecahan hatinya. Injil mencatat
bahwa Marta "sibuk sekali melayani" — dalam bahasa Yunani menggunakan
kata periespato, yang mengandung makna terganggu, tercerai-berai, atau
teralihkan . Marta tidak sekadar melayani; ia terpecah perhatiannya. Ia
kehilangan fokus pada siapa yang hadir di rumahnya.
Inilah yang ingin Yesus pulihkan
dalam diri Marta. Sang Guru tidak menolak pelayanan, tetapi mengingatkan bahwa
semua pelayanan harus bersumber pada relasi yang hidup dengan Dia. Tanpa
mendengarkan Sabda-Nya terlebih dahulu, pelayanan kita berisiko menjadi
kesibukan yang hampa, bahkan menjadi sumber kegelisahan dan kepahitan.
"Ora et Labora": Doa
dan Kerja yang Tak Terpisahkan
Tradisi spiritual Gereja,
khususnya seperti yang diwariskan Santo Benediktus melalui moto Ora et
Labora (berdoa dan bekerja), mengajarkan bahwa doa dan kerja bukanlah dua
hal yang saling bersaing, melainkan saling menopang . Santo Bruno dan para
rahib Kartusian memilih untuk mengutamakan ora — doa dan keheningan —
bukan karena mereka menolak labora, melainkan karena mereka menyadari
bahwa tanpa doa, kerja kehilangan jiwanya.
Dalam Katekismus Gereja Katolik,
kita diajarkan bahwa "doa adalah kehidupan baru" (KGK 2697). Kita
tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki. Kita tidak dapat melayani
dengan kasih ilahi jika kita tidak terlebih dahulu mengisi diri dengan kasih
ilahi itu melalui perjumpaan dengan Kristus dalam doa, sakramen, dan Sabda-Nya.
Maria telah memilih "bagian
yang terbaik" — ten merida agathen, bagian yang baik, bukan sekadar
lebih baik dari yang lain . Ini adalah bagian yang tidak akan diambil darinya.
Maria memilih untuk menjadi murid, duduk di kaki Sang Guru, seperti seorang
murid yang setia. Dalam budaya Yahudi saat itu, seorang perempuan duduk di kaki
seorang rabi adalah tindakan yang luar biasa dan revolusioner. Yesus memuji
Maria bukan karena ia malas atau tidak peduli, tetapi karena ia memahami apa
yang paling penting di saat itu: kehadiran Tuhan yang sedang berbicara.
Panggilan untuk Memeriksa
Prioritas Hidup Kita
Saudara-saudari terkasih,
Berapa banyak dari kita yang
hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas, pekerjaan, bahkan pelayanan gereja,
tetapi hati kita gelisah dan terpecah? Berapa banyak dari kita yang bangun pagi
langsung memikirkan daftar tugas, tanpa menyempatkan diri berdoa dan bersyukur?
Berapa banyak dari kita yang pulang malam dengan tubuh lelah, tetapi jiwa kita
lapar karena tidak pernah benar-benar berjumpa dengan Tuhan?
Kisah Marta dan Maria adalah
undangan bagi kita untuk memeriksa prioritas hidup kita. Bukan untuk berhenti
bekerja, tetapi untuk memastikan bahwa kerja kita berakar pada relasi yang
hidup dengan Kristus. Yesus tidak meminta Marta untuk berhenti melayani; Ia
meminta Marta untuk berhenti terlalu kuatir dan menyusahkan diri
dengan banyak perkara, sementara satu hal yang perlu terabaikan.
Dalam dunia yang terus menuntut
produktivitas dan hasil, kita perlu belajar dari Santo Bruno dan dari Maria:
ada saatnya kita harus berhenti, duduk, dan mendengarkan. Dalam keheningan
itulah Tuhan berbicara. Dalam keheningan itulah hati kita dipulihkan. Dalam
keheningan itulah kita menemukan kekuatan sejati untuk melayani.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar