Rabu, 21 Oktober 2026

TIDAK PERLU BERTOBAT KARENA MERASA “SUDAH CUKUP BAIK”?

 


Renungan Katolik – Sabtu, 24 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXIX / Peringatan Fakultatif St. Antonius Maria Claret
Bacaan Injil: Lukas 13:1-9

 

TIDAK PERLU BERTOBAT KARENA MERASA “SUDAH CUKUP BAIK”?

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingatkan kita akan bahaya rohani yang paling halus: berpikir bahwa kita tidak perlu bertobat karena kita merasa “sudah cukup baik”. Injil Lukas 13:1-9 menghadirkan Yesus yang menanggapi dua peristiwa tragis—pembantaian orang Galilea oleh Pilatus dan runtuhnya menara dekat Siloam yang menewaskan delapan belas orang. Pada zaman itu, banyak orang Yahudi percaya bahwa penderitaan adalah hukuman langsung dari Allah atas dosa tertentu. Yesus dengan tegas menolak logika itu: “Tidak! Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara yang sama” (Luk 13:3.5).

Yesus tidak sedang menjelaskan mengapa bencana terjadi. Ia sedang membongkar cara pandang yang keliru tentang Allah dan tentang diri kita sendiri. Tragedi bukanlah “tagihan” atas dosa orang lain, melainkan panggilan kenabian bagi setiap orang untuk berhenti menunda pertobatan. Kita sering tergoda untuk mengukur diri dengan membandingkan diri dengan orang lain: “Setidaknya aku tidak seburuk dia.” Tetapi Yesus menutup pintu perbandingan itu. Di hadapan Allah, setiap orang berdosa dan setiap orang membutuhkan metanoia—perubahan hati dan arah hidup yang radikal.

Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Pemilik kebun anggur datang tiga tahun berturut-turut mencari buah, tetapi tidak menemukannya. Ia berkata kepada pengurus kebun: “Tebang saja! Mengapa ia mengisap tanah?” Tetapi pengurus itu menjawab: “Tuan, biarkanlah ia tumbuh tahun ini juga; aku akan mencangkul tanahnya dan memberi pupuk; mudah-mudahan ia akan berbuah pada tahun yang akan datang” (Luk 13:6-9).

Di sini kita melihat wajah belas kasih Allah. Pemilik kebun melambangkan Allah Bapa, pengurus kebun melambangkan Yesus Kristus, dan pohon ara itu melambangkan kita—umat yang sering kali mandul dalam menghasilkan buah kasih, keadilan, dan belas kasih. Yesus tidak membela kemandulan kita. Ia tidak berkata bahwa ketiadaan buah itu baik. Tetapi Ia mengintervensi di hadapan Bapa: “Beri dia satu tahun lagi.” Yesus memberikan waktu, tenaga, dan kasih-Nya untuk mencangkul dan memupuk hidup kita agar kita akhirnya berbuah.

Namun perumpamaan ini juga mengandung peringatan yang serius. Waktu yang diberikan bukanlah tanpa batas. “Biarkanlah ia tahun ini juga” berarti ada batas waktu. Pertobatan tidak bisa terus-menerus ditunda dengan alasan “nanti saja” atau “aku masih muda” atau “aku masih punya banyak waktu”. Kesabaran Allah bukan alasan untuk berpangku tangan, melainkan undangan untuk segera bangkit dan mengubah hidup kita.

Saudara-saudari terkasih, pada hari peringatan St. Antonius Maria Claret, uskup dan pendiri tarekat yang hidupnya berbuah lebat bagi Gereja, kita diingatkan bahwa hidup yang berbuah itu mungkin. St. Antonius tidak menunggu sampai ia “sempurna” untuk melayani. Ia bertobat, membiarkan Kristus mencangkul hatinya, dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang nyata bagi banyak jiwa.

Hari ini, Yesus berdiri di hadapan kita—bukan sebagai hakim yang siap menebang, tetapi sebagai Pengurus Kebun yang penuh belas kasih. Ia berkata kepada Bapa tentang kita: “Beri dia kesempatan lagi.” Pertanyaannya bukan lagi “apakah aku lebih baik dari orang lain?”, melainkan: “Apakah aku mau membiarkan Yesus mencangkul tanah hatiku hari ini?” Apakah kita mau melepaskan kebiasaan lama, egoisme, kemalasan rohani, dan cara hidup yang mandul, lalu mulai menghasilkan buah kasih yang nyata dalam keluarga, pekerjaan, dan komunitas kita?

Marilah kita berdoa agar rahmat pertobatan tidak kita sia-siakan. Semoga Santa Perawan Maria, yang hatinya selalu berbuah bagi Allah, membantu kita menanggapi kesabaran Kristus dengan hati yang rendah dan siap berubah. Tahun ini adalah tahun belas kasih; jangan tunda lagi. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar