Rabu, 07 Oktober 2026

KEMERDEKAAN SEJATI ANAK-ANAK ALLAH

 

Renungan Harian Katolik
Senin, 12 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVIII

Bacaan I: Gal 4:22-24.26-27.31-5:1
Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7
Bacaan Injil: Luk 11:29-32


KEMERDEKAAN SEJATI ANAK-ANAK ALLAH


 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja mengajak kita merenungkan dua bacaan yang saling melengkapi: surat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia dan Injil Lukas. Keduanya berbicara tentang satu tema besar yang sangat relevan bagi hidup iman kita: kemerdekaan sebagai anak-anak Allah dan panggilan untuk bertobat dengan sungguh-sungguh.

Dua Perjanjian, Dua Cara Hidup

Dalam bacaan pertama, Santo Paulus menggunakan kisah Abraham, Sara, dan Hagar untuk menjelaskan perbedaan mendasar antara hidup di bawah hukum Taurat dan hidup dalam kasih karunia Kristus. Hagar, hamba perempuan itu, melambangkan perjanjian di Gunung Sinai yang melahirkan anak-anak perhambaan. Sedangkan Sara, perempuan merdeka, melambangkan perjanjian baru yang melahirkan anak-anak kemerdekaan.

Paulus menegaskan dengan tegas: "Kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka" (Gal 4:31). Dan puncak dari pewartaan ini adalah seruan yang menggema sepanjang zaman: "Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan" (Gal 5:1).

Apa artinya bagi kita? Kemerdekaan yang dimaksud Paulus bukanlah kebebasan untuk berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan dari perhambaan dosa dan hukum yang membelenggu. Kita telah dimerdekakan oleh Kristus—bukan karena usaha kita sendiri, melainkan karena kasih karunia-Nya yang bekerja melalui kurban salib-Nya.

Tanda Yunus dan Panggilan Pertobatan

Sementara itu, Injil hari ini menampilkan Yesus yang menegur orang banyak karena mereka terus-menerus menuntut tanda. "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat; ia menuntut suatu tanda, tetapi tidak akan diberikan tanda kepadanya selain tanda Yunus" (Luk 11:29).

Yesus mengingatkan dua contoh dari sejarah keselamatan: pertama, orang-orang Niniwe yang bertobat setelah mendengar pewartaan Yunus, padahal Yunus hanyalah seorang nabi biasa. Kedua, Ratu dari Selatan yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mendengarkan hikmat Salomo. Yesus bersabda, "Sesungguhnya, yang lebih besar dari pada Yunus ada di sini" (Luk 11:32), dan "yang lebih besar dari pada Salomo ada di sini" (Luk 11:31).

Orang Niniwe bertobat karena mendengar sabda Allah melalui Yunus. Ratu Syeba datang karena kerinduan akan hikmat. Namun, orang-orang pada zaman Yesus menolak untuk percaya meskipun Yesus sendiri—Putra Allah yang menjadi manusia—berdiri di tengah-tengah mereka. Mereka menuntut tanda-tanda ajaib sebagai bukti, padahal kehadiran Yesus sendiri adalah tanda terbesar dari kasih Allah.

Bertobat: Jalan Menuju Kemerdekaan

Saudara-saudari, kedua bacaan ini saling menerangi. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita telah dimerdekakan oleh Kristus. Injil mengingatkan kita bahwa kemerdekaan itu menuntut tanggapan nyata dari kita: pertobatan.

Pertobatan bukan sekadar penyesalan sesaat, melainkan perubahan arah hidup yang menyeluruh—berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah. Inilah yang dilakukan orang Niniwe. Mereka tidak menuntut tanda; mereka mendengar sabda Allah dan segera bertobat. Mereka adalah gambaran jiwa yang rendah hati dan terbuka terhadap karya Allah.

Sebaliknya, orang-orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Yesus menutup diri terhadap kasih karunia. Mereka menuntut bukti, tetapi hati mereka tetap keras. Mereka menjadi hamba dari kesombongan dan prasangka mereka sendiri, bahkan ketika kemerdekaan sejati telah berdiri di hadapan mereka.

Menjadi Anak-Anak Merdeka di Zaman Ini

Bagaimana kita menjalani panggilan kemerdekaan ini di zaman kita? Santo Paulus mengingatkan bahwa menjadi anak-anak perempuan merdeka berarti berusaha melawan kuasa-kuasa kegelapan dan dosa, serta memerdekakan diri dari penjajahan dosa. Kemerdekaan sejati bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan bebas untuk memilih yang baik, benar, dan berkenan kepada Allah.

Di tengah dunia yang sering kali menawarkan kebebasan semu—kebebasan tanpa tanggung jawab, kebebasan yang justru menjerat—kita dipanggil untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan yang berasal dari Kristus. Kita dipanggil untuk tidak kembali menjadi hamba dosa, tetapi hidup sebagai anak-anak Allah yang merdeka, yang dengan penuh syukur menerima kasih karunia-Nya.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar