Minggu, 04 Oktober 2026

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

 

Renungan Katolik
Senin, 5 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVII Tahun A
Bacaan Injil: Lukas 10:25-37

 

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS




Pendahuluan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja Katolik memasuki Hari Biasa Pekan XXVII, dengan warna liturgi hijau yang menandakan masa pertumbuhan iman dan pengharapan. Bacaan Injil yang diwartakan kepada kita adalah perumpamaan yang sangat akrab di telinga kita: Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37). Perumpamaan ini bukan sekadar cerita moral tentang kebaikan, melainkan sebuah undangan radikal dari Yesus untuk memeriksa kembali cara kita memahami kasih kepada Tuhan dan sesama.

 

Konteks Bacaan

Injil hari ini dibuka dengan seorang ahli Taurat yang berdiri untuk mencobai Yesus. Ia bertanya, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (Luk. 10:25). Yesus, sebagai Guru yang bijak, tidak langsung menjawab, melainkan memutar balik pertanyaan itu kepada ahli Taurat. Ahli Taurat itu pun menjawab dengan benar: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Luk. 10:27). Namun, ia masih belum puas dan ingin membenarkan dirinya, sehingga ia bertanya lagi, "Siapakah sesamaku manusia?" (Luk. 10:29).

Pertanyaan inilah yang kemudian dijawab Yesus dengan perumpamaan tentang seorang pria yang dirampok dan ditinggalkan setengah mati di jalan dari Yerusalem ke Yerikho. Seorang imam dan seorang Lewi—dua tokoh religius yang seharusnya menjadi teladan—melewatinya begitu saja. Sebaliknya, seorang Samaria—seorang yang dianggap asing, bahkan musuh bagi orang Yahudi—justru berhenti, tergerak oleh belas kasihan, dan menolong orang yang terluka itu dengan penuh perhatian (Luk. 10:30-35).

 

Refleksi: Kasih yang Melampaui Batas

Saudara-saudari terkasih,

Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih sejati tidak mengenal batas agama, suku, ras, atau status sosial. Imam dan Lewi dalam cerita ini mungkin memiliki pengetahuan yang mendalam tentang hukum Taurat, tetapi pengetahuan itu tidak otomatis melahirkan belas kasihan. Sebaliknya, orang Samaria yang dianggap "najis" oleh masyarakat Yahudi justru menunjukkan kasih yang nyata dan konkret.

Paus Fransiskus, dalam ajarannya, menegaskan bahwa kita dipanggil untuk menjadi manusia terlebih dahulu sebelum menjadi religius. Beliau berkata, "Kita dipanggil untuk menjadi manusia sebelum menjadi orang beriman". Artinya, iman kita tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap penderitaan sesama. Sebaliknya, iman yang sejati harus menggerakkan hati kita untuk bertindak dengan belas kasihan, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria itu.

Kardinal Grzegorz Ryś, dalam sebuah konsistori di Vatikan, mengingatkan bahwa perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati adalah model bagi Gereja dalam mewartakan Injil pada masa kini. Dunia kita hari ini penuh dengan "luka-luka kemanusiaan modern": kekerasan, kesepian, ketidakadilan, dan sikap acuh tak acuh. Banyak orang menjadi korban, kehilangan martabat, dan menderita secara psikologis maupun spiritual. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau menjadi sesama bagi mereka yang menderita?

Yesus sendiri adalah "Orang Samaria Ilahi" yang selalu tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak hanya melihat, tetapi Ia berhenti, menjamah, dan menyembuhkan. Kita pun dipanggil untuk meneladan-Nya. Seperti kata Yesus, "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat. 25:40).

 

Ajaran Katolik tentang Kasih

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kasih kepada Tuhan dan sesama adalah hukum yang terutama (bdk. Mat. 22:37-40). Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang mengorbankan diri. Dalam Ensiklik Deus Caritas Est, Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa kasih adalah inti dari iman Kristen: "Kasih adalah pelayanan yang kita berikan kepada sesama, bukan karena kewajiban, tetapi karena kerelaan hati."

Orang Samaria dalam perumpamaan ini tidak hanya merasa kasihan, tetapi ia bertindak: ia mengoleskan minyak dan anggur pada luka-luka orang itu, membalutnya, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan merawatnya. Bahkan keesokan harinya, ia memberikan uang kepada pengurus penginapan dan berjanji akan menggantikan biaya tambahan jika diperlukan (Luk. 10:34-35). Kasih yang sejati selalu berkorban, selalu memberi, dan selalu melampaui apa yang diharapkan.

 

Aplikasi Praktis

Saudara-saudari terkasih,

Bagaimana kita dapat menghidupi perumpamaan ini dalam kehidupan sehari-hari? Berikut beberapa langkah konkret:

  1. Berhenti dan Melihat. Di tengah kesibukan hidup, kita sering melewati begitu saja orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Mari kita belajar untuk "berhenti" dan melihat dengan mata hati yang terbuka.
  2. Tergerak oleh Belas Kasihan. Jangan biarkan hati kita menjadi keras. Ketika kita melihat penderitaan, biarkanlah belas kasihan menggerakkan kita untuk bertindak.
  3. Bertindak Nyata. Kasih bukan hanya kata-kata, tetapi perbuatan. Mulailah dari hal-hal kecil: membantu tetangga yang kesulitan, mengunjungi orang sakit, atau memberikan perhatian kepada mereka yang kesepian.
  4. Melampaui Batas. Jangan batasi kasih kita hanya kepada mereka yang sama dengan kita. Kasihilah mereka yang berbeda, bahkan mereka yang mungkin sulit untuk kita kasihi.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar