Rabu, 21 Oktober 2026

KASIH YANG UTUH: DUA SISI DARI SATU PERINTAH

 


RENUNGAN MINGGU BIASA XXX – TAHUN A
Minggu, 25 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 22:34-40


KASIH YANG UTUH: DUA SISI DARI SATU PERINTAH

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memasuki Minggu Biasa XXX dalam Tahun Liturgi A. Warna liturgi hijau mengingatkan kita pada pertumbuhan iman yang terus-menerus di dalam kasih. Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 22:34-40) menyajikan percakapan yang mendalam antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan sederhana, melainkan sebuah “jebakan” teologis: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36). Pada zaman itu, para ahli hukum memang gemar memperdebatkan hierarki dari ratusan aturan dan tradisi keagamaan yang saling tumpang tindih. Namun, Yesus tidak terjebak dalam perdebatan tekstual yang melelahkan. Dengan lugas dan mendalam, Ia merangkum seluruh ajaran hukum dan kitab para nabi ke dalam satu pilar utama: kasih.

Yesus menjawab: “‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’ Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ay. 37-40).

Mengasihi Allah: Penyerahan Total, Bukan Formalitas

Perintah pertama mengajak kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kata “segenap” menuntut penyerahan diri secara total—bukan sisa-sisa waktu, energi, atau perhatian kita. Allah tidak menginginkan ibadah yang kering dan formalitas belaka. Ia merindukan relasi yang mendalam dan personal, di mana seluruh pusat kehidupan kita terarah kepada-Nya.

Paus Fransiskus dalam Angelus-nya pernah menegaskan bahwa kehidupan moral dan religius kita tidak boleh direduksi menjadi ketaatan yang penuh kecemasan atau keterpaksaan. Prinsipnya haruslah kasih. Kasih kepada Allah terutama diungkapkan dalam doa, khususnya dalam adorasi—saat kita berdiam diri dan menyadari kehadiran Yang Mahakudus. Kita sering kali berdoa untuk memohon sesuatu atau mengucap syukur, tetapi kita pun sering melupakan inti doa: menyembah Allah.

Mengasihi Sesama: Wajah Konkret dari Kasih kepada Allah

Namun, Yesus segera menambahkan perintah kedua yang tidak dapat dipisahkan dari yang pertama. Kasih kepada Allah yang tidak kelihatan harus terwujud secara konkret dalam kasih kepada sesama yang kelihatan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa tidak ada kasih sejati kepada Allah jika tidak diungkapkan dalam kasih kepada sesama; sebaliknya, kasih kepada sesama tidak akan berakar kuat jika tidak bersumber dari relasi dengan Allah.

Inilah salah satu kebaruan terbesar dalam ajaran Yesus: Ia menyatukan dua perintah yang dalam tradisi Yahudi tercatat di tempat berbeda (Ul 6:5 dan Im 19:18) menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kasih kepada sesama bukanlah “perintah tambahan” setelah kasih kepada Allah, melainkan wajah konkret dari kasih itu sendiri. Rasul Yohanes menegaskannya dengan tegas: “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20).

Belajar dari Bacaan Pertama: Kasih yang Berkeadilan

Bacaan pertama hari ini (Kel 22:20-26) memberikan warna konkret bagi kasih kepada sesama. Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak menindas orang asing, janda, dan anak yatim; untuk tidak memungut bunga dari orang miskin; dan untuk mengembalikan jubah yang dijadikan jaminan sebelum matahari terbenam. Kasih kepada sesama dalam tradisi Kitab Suci tidak pernah berhenti pada perasaan belas kasihan, tetapi selalu menjelma dalam tindakan keadilan dan solidaritas terhadap mereka yang lemah dan rentan.

Di tengah konteks Indonesia yang majemuk, perintah ini sangat relevan. Kita hidup berdampingan dengan saudara-saudari dari latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda. Kasih kepada sesama menuntut kita untuk membangun toleransi yang aktif, bukan sekadar sikap diam atau acuh tak acuh. Sebagaimana dikatakan, “Kalau kita tidak satu dalam iman, kita satu dalam kemanusiaan.” Kasih juga menuntut kita untuk peka terhadap mereka yang menderita akibat ketidakadilan, kemiskinan, atau bahkan jerat pinjaman online yang merugikan banyak orang kecil.

Aktif Menggereja, Aktif Bermasyarakat

Saudara-saudari terkasih, sebagai umat Katolik Indonesia, kita dipanggil untuk tidak memisahkan kehidupan iman dari kehidupan bermasyarakat. Aktif menggereja hendaknya dibarengi dengan aktif bermasyarakat—bukan aktif dalam arti sibuk dengan urusan sendiri, melainkan aktif yang mampu “menggarami” masyarakat dengan semangat kasih. Kasih yang Yesus tawarkan berbeda dengan kasih yang ditawarkan dunia. Kasih dunia sering kali bersyarat, mengharapkan balasan, atau terbatas pada lingkaran orang-orang yang menyenangkan kita. Kasih Kristus bersifat tanpa batas dan tanpa pamrih, mampu menjangkau bahkan mereka yang sulit dikasihi.

Kita tidak dapat mengklaim mencintai Allah yang tidak kelihatan jika kita menutup mata dan hati terhadap sesama yang kelihatan—terutama mereka yang menderita, terasing, atau bahkan mereka yang telah menyakiti kita. Kasih kepada sesama bukanlah pilihan opsional bagi orang Kristen; ia adalah konsekuensi hakiki dari iman kita.

Penutup: Kasih yang Memampukan

Tentu saja, kasih yang demikian besar bukanlah hasil kekuatan kita sendiri. Kita sering gagal dan jatuh. Namun, Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk mengasihi sebagaimana Allah mengasihi. Marilah kita mohon rahmat itu hari ini: rahmat untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, dan rahmat untuk melihat wajah Kristus dalam diri setiap sesama—terutama yang paling kecil dan terlupakan.

Pada akhirnya, seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi—seluruh hidup kita sebagai orang Kristen—tergantung pada dua perintah kasih ini. Semoga kita tidak hanya mendengarnya, tetapi benar-benar menghidupinya, sehingga dunia dapat mengenali kita sebagai murid-murid Kristus: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35).

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar