Renungan Katolik
Rabu, 14 Oktober 2026 – Pekan Biasa XXVIII
Bacaan Injil: Lukas 11:42-46
MEMAHAMI MAKNA TEGURAN YESUS
Pendahuluan
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini Gereja Katolik memasuki
hari Rabu Pekan Biasa ke-28. Dalam kalender liturgi, tanggal 14 Oktober juga
diperingati sebagai Peringatan Opsional Santo Kalistus I, Paus dan Martir, yang
memimpin Gereja pada abad ketiga dan mengorbankan nyawanya bagi Kristus. Bacaan
Injil yang diwartakan kepada kita hari ini menyajikan sebuah teguran tajam dari
Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat—sebuah peringatan yang
tetap relevan bagi kita semua yang ingin hidup sebagai murid-murid-Nya di zaman
ini.
Mendengarkan Sabda Tuhan
Dalam Injil Lukas 11:42-46, Yesus
melontarkan tiga "celaka" kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat. Ia menegur mereka karena mempersembahkan persepuluhan dari hasil kebun
yang paling kecil sekalipun—selasih, adas manis, dan jintan—tetapi mengabaikan
keadilan dan kasih kepada Allah. Yesus tidak mengatakan bahwa persepuluhan itu
salah; Ia justru berkata, "semuanya itu harus kamu lakukan, tetapi yang
lain jangan kamu abaikan" (ay. 42). Yang menjadi masalah adalah
ketidakseimbangan: mereka sangat teliti dalam hal-hal kecil, namun mengabaikan
hal-hal yang jauh lebih penting.
Kemudian Yesus menegur mereka
karena mencintai tempat kehormatan dan suka dihormati di depan umum (ay. 43).
Mereka mencari pujian manusia, bukan kemuliaan Allah. Akhirnya, Yesus mengecam
mereka karena membebani orang lain dengan beban yang berat, sementara mereka
sendiri tidak mau menyentuhnya bahkan dengan satu jari pun (ay. 46).
Memahami Makna Teguran Yesus
Saudara-saudari, teguran Yesus
ini bukan sekadar kritik terhadap kelompok tertentu pada zaman-Nya. Sabda Tuhan
ini adalah cermin bagi kita semua. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman yang
sejati harus terwujud dalam kesatuan antara apa yang kita percaya, apa yang
kita rayakan, dan bagaimana kita hidup sehari-hari. Konsili Vatikan II
menegaskan bahwa "iman tanpa perbuatan adalah mati" (lih. Yak 2:17),
dan kita dipanggil untuk menghidupi iman itu secara utuh, bukan
sebagian-sebagian.
Pertama, teguran tentang
keadilan dan kasih kepada Allah. Orang-orang Farisi sangat sibuk dengan
aturan-aturan kecil, tetapi melupakan inti dari hukum Taurat: keadilan, belas
kasihan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Dalam Katekismus Gereja Katolik, kita
diingatkan bahwa keadilan adalah salah satu dari empat kebajikan cardinal yang
harus menjiwai seluruh hidup Kristiani. Keadilan bukan hanya soal memberikan
apa yang menjadi hak orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita
memperlakukan sesama dengan hormat dan kasih.
Kedua, teguran tentang mencari
kehormatan. Yesus mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati datang dari
Allah, bukan dari manusia. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di
Galatia—yang juga dibacakan hari ini—mengajarkan bahwa buah Roh adalah kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Semua ini bertolak belakang
dengan sikap egois dan haus akan pujian.
Ketiga, teguran tentang
membebani orang lain. Ahli-ahli Taurat menetapkan banyak aturan yang sulit
dipatuhi, tetapi mereka sendiri tidak membantu orang-orang yang terbebani. Ini
adalah peringatan bagi setiap kita yang mungkin tanpa sadar menuntut banyak
dari orang lain—entah sebagai orang tua, pemimpin, atau sesama—tetapi enggan
memberi teladan dan pertolongan yang nyata.
Aplikasi dalam Hidup
Sehari-hari
Saudara-saudari terkasih,
bagaimana sabda Tuhan ini dapat kita hidupkan?
Pertama, periksa batin kita.
Apakah kita lebih mementingkan penampilan lahiriah daripada pertobatan hati?
Apakah kita rajin berdoa dan ke gereja, tetapi di tempat kerja atau di rumah
kita bersikap tidak adil terhadap orang lain? Paus Fransiskus sering
mengingatkan bahaya "spiritualitas yang tampak" tanpa kedalaman
batin. Marilah kita memohon rahmat Tuhan untuk melihat diri kita dengan jujur.
Kedua, utamakan hal-hal yang
utama. Yesus tidak menolak aturan-aturan kecil, tetapi Ia mengingatkan kita
untuk tidak mengabaikan yang lebih besar. Dalam hidup kita, mari kita bertanya:
apakah kita sudah mengutamakan kasih kepada Tuhan dan sesama di atas
segala-galanya? Apakah kita sudah memperjuangkan keadilan bagi mereka yang
lemah dan tersingkir?
Ketiga, jadilah teladan, bukan
hanya pemberi beban. Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk melayani,
bukan untuk dilayani. Santo Kalistus I, yang kita peringati hari ini, adalah
teladan seorang gembala yang tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi
memberikan hidupnya bagi kawanan domba. Marilah kita meneladani semangat
pelayanan yang sama dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat kita.
Amin.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar