Selasa, 13 Oktober 2026

MEMAHAMI MAKNA TEGURAN YESUS

 


Renungan Katolik

Rabu, 14 Oktober 2026 – Pekan Biasa XXVIII

Bacaan Injil: Lukas 11:42-46

 

MEMAHAMI MAKNA TEGURAN YESUS

 


Pendahuluan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja Katolik memasuki hari Rabu Pekan Biasa ke-28. Dalam kalender liturgi, tanggal 14 Oktober juga diperingati sebagai Peringatan Opsional Santo Kalistus I, Paus dan Martir, yang memimpin Gereja pada abad ketiga dan mengorbankan nyawanya bagi Kristus. Bacaan Injil yang diwartakan kepada kita hari ini menyajikan sebuah teguran tajam dari Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat—sebuah peringatan yang tetap relevan bagi kita semua yang ingin hidup sebagai murid-murid-Nya di zaman ini.

Mendengarkan Sabda Tuhan

Dalam Injil Lukas 11:42-46, Yesus melontarkan tiga "celaka" kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ia menegur mereka karena mempersembahkan persepuluhan dari hasil kebun yang paling kecil sekalipun—selasih, adas manis, dan jintan—tetapi mengabaikan keadilan dan kasih kepada Allah. Yesus tidak mengatakan bahwa persepuluhan itu salah; Ia justru berkata, "semuanya itu harus kamu lakukan, tetapi yang lain jangan kamu abaikan" (ay. 42). Yang menjadi masalah adalah ketidakseimbangan: mereka sangat teliti dalam hal-hal kecil, namun mengabaikan hal-hal yang jauh lebih penting.

Kemudian Yesus menegur mereka karena mencintai tempat kehormatan dan suka dihormati di depan umum (ay. 43). Mereka mencari pujian manusia, bukan kemuliaan Allah. Akhirnya, Yesus mengecam mereka karena membebani orang lain dengan beban yang berat, sementara mereka sendiri tidak mau menyentuhnya bahkan dengan satu jari pun (ay. 46).

Memahami Makna Teguran Yesus

Saudara-saudari, teguran Yesus ini bukan sekadar kritik terhadap kelompok tertentu pada zaman-Nya. Sabda Tuhan ini adalah cermin bagi kita semua. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman yang sejati harus terwujud dalam kesatuan antara apa yang kita percaya, apa yang kita rayakan, dan bagaimana kita hidup sehari-hari. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa "iman tanpa perbuatan adalah mati" (lih. Yak 2:17), dan kita dipanggil untuk menghidupi iman itu secara utuh, bukan sebagian-sebagian.

Pertama, teguran tentang keadilan dan kasih kepada Allah. Orang-orang Farisi sangat sibuk dengan aturan-aturan kecil, tetapi melupakan inti dari hukum Taurat: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Dalam Katekismus Gereja Katolik, kita diingatkan bahwa keadilan adalah salah satu dari empat kebajikan cardinal yang harus menjiwai seluruh hidup Kristiani. Keadilan bukan hanya soal memberikan apa yang menjadi hak orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama dengan hormat dan kasih.

Kedua, teguran tentang mencari kehormatan. Yesus mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati datang dari Allah, bukan dari manusia. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia—yang juga dibacakan hari ini—mengajarkan bahwa buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Semua ini bertolak belakang dengan sikap egois dan haus akan pujian.

Ketiga, teguran tentang membebani orang lain. Ahli-ahli Taurat menetapkan banyak aturan yang sulit dipatuhi, tetapi mereka sendiri tidak membantu orang-orang yang terbebani. Ini adalah peringatan bagi setiap kita yang mungkin tanpa sadar menuntut banyak dari orang lain—entah sebagai orang tua, pemimpin, atau sesama—tetapi enggan memberi teladan dan pertolongan yang nyata.

Aplikasi dalam Hidup Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, bagaimana sabda Tuhan ini dapat kita hidupkan?

Pertama, periksa batin kita. Apakah kita lebih mementingkan penampilan lahiriah daripada pertobatan hati? Apakah kita rajin berdoa dan ke gereja, tetapi di tempat kerja atau di rumah kita bersikap tidak adil terhadap orang lain? Paus Fransiskus sering mengingatkan bahaya "spiritualitas yang tampak" tanpa kedalaman batin. Marilah kita memohon rahmat Tuhan untuk melihat diri kita dengan jujur.

Kedua, utamakan hal-hal yang utama. Yesus tidak menolak aturan-aturan kecil, tetapi Ia mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan yang lebih besar. Dalam hidup kita, mari kita bertanya: apakah kita sudah mengutamakan kasih kepada Tuhan dan sesama di atas segala-galanya? Apakah kita sudah memperjuangkan keadilan bagi mereka yang lemah dan tersingkir?

Ketiga, jadilah teladan, bukan hanya pemberi beban. Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk melayani, bukan untuk dilayani. Santo Kalistus I, yang kita peringati hari ini, adalah teladan seorang gembala yang tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi memberikan hidupnya bagi kawanan domba. Marilah kita meneladani semangat pelayanan yang sama dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat kita.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar