Kamis, 8 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVII
Bacaan I: Galatia 3:1-5
Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-70.71-72.73-75
Bacaan Injil: Lukas 11:5-13
MINTALAH, MAKA KAMU AKAN DIBERI
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Pada hari ini Gereja Katolik
merayakan Hari Biasa Pekan XXVII. Bacaan Injil yang diwartakan kepada kita
diambil dari Lukas 11:5-13, di mana Yesus mengajar para murid-Nya tentang doa
yang tekun dan penuh keberanian. Perikop ini merupakan kelanjutan dari pengajaran
Doa Bapa Kami, di mana Yesus tidak hanya memberikan rumusan doa, tetapi juga
menggambarkan doa sebagai sebuah perjalanan yang harus ditempuh dengan sabar
dan penuh iman.
Melalui perumpamaan tentang
sahabat yang datang tengah malam untuk meminjam tiga roti, Yesus ingin
menegaskan bahwa doa bukanlah sekadar rutinitas atau rumus yang otomatis,
melainkan sebuah hubungan yang hidup dengan Allah sebagai Bapa. Perumpamaan ini
juga menekankan pentingnya ketekunan: meskipun sahabat itu menolak karena sudah
larut malam, ia akhirnya bangun dan memberikan apa yang diminta karena desakan
yang terus-menerus.
Bacaan pertama dari Galatia 3:1-5
mengingatkan kita bahwa kita menerima Roh Kudus bukan karena perbuatan baik
atau jasa kita, melainkan karena iman yang mendengarkan dan percaya kepada
Kristus yang tersalib. Rasul Paulus menegur jemaat Galatia yang mulai goyah dan
kembali kepada legalisme. Kita pun sering kali tergoda untuk mengukur hubungan
kita dengan Allah melalui seberapa banyak doa yang kita panjatkan atau seberapa
rajin kita beribadah. Padahal, yang utama adalah iman yang hidup dan ketekunan
dalam berserah kepada Allah.
Dalam Injil, Yesus memberikan
jaminan yang sangat indah: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah,
maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Janji ini
bukan berarti setiap permintaan kita akan langsung dikabulkan sesuai keinginan
kita, melainkan bahwa Allah, sebagai Bapa yang baik, selalu memberikan yang
terbaik kepada anak-anak-Nya. Puncak dari janji ini adalah pemberian Roh Kudus:
“Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada
anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada
mereka yang meminta kepada-Nya.”
Paus Fransiskus dalam homilinya
pernah menegaskan bahwa doa yang tidak berani bukanlah doa yang sejati. Ketika
kita berdoa dengan berani dan tekun, Tuhan tidak hanya memberikan rahmat,
tetapi Ia memberikan diri-Nya sendiri di dalam rahmat itu. Doa yang tekun
adalah doa yang tidak mudah menyerah, bahkan ketika jawaban terasa lambat atau
tidak sesuai dengan harapan kita.
Saudara-saudari terkasih,
Dalam hidup sehari-hari, kita
sering menghadapi masa-masa ketika doa terasa sepi. Kita sudah berdoa dengan
sungguh-sungguh, tetapi seolah-olah Tuhan diam. Di saat seperti itu, godaan
untuk menyerah dan berhenti berharap sangat besar. Namun, justru dalam perjuangan
iman, ketekunan dan kepercayaan kepada Allah menjadi jalan menuju hidup yang
kekal. Hidup kekal bukanlah hasil dari doa yang langsung dijawab, melainkan
dari iman yang terus bertumbuh melalui doa yang tak pernah putus.
Mari kita renungkan: bagaimana
cara kita berdoa selama ini? Apakah kita berdoa hanya sebagai rutinitas,
ataukah kita benar-benar datang kepada Allah dengan penuh keberanian dan
ketekunan? Apakah kita percaya bahwa Allah selalu mendengarkan dan memberikan
yang terbaik, bahkan ketika jawaban-Nya tidak sesuai dengan keinginan kita?
Doa yang tekun adalah wujud iman
yang dewasa. Iman yang dewasa tidak mengharapkan segala sesuatu terjadi secara
instan, tetapi percaya bahwa Allah bekerja dalam waktu-Nya yang sempurna.
Seperti sahabat dalam perumpamaan Yesus, kita diajak untuk terus mengetuk pintu
hati Allah, bukan karena Allah perlu didesak, tetapi karena ketekunan kita
menunjukkan kesungguhan dan kepercayaan kita kepada-Nya.
Amin.
Tuhan memberkati kita semua.
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar