Rabu, 07 Oktober 2026

MINTALAH, MAKA KAMU AKAN DIBERI

 

RENUNGAN HARIAN KATOLIK
Kamis, 8 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVII
Bacaan I: Galatia 3:1-5
Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-70.71-72.73-75
Bacaan Injil: Lukas 11:5-13

MINTALAH, MAKA KAMU AKAN DIBERI


 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pada hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Biasa Pekan XXVII. Bacaan Injil yang diwartakan kepada kita diambil dari Lukas 11:5-13, di mana Yesus mengajar para murid-Nya tentang doa yang tekun dan penuh keberanian. Perikop ini merupakan kelanjutan dari pengajaran Doa Bapa Kami, di mana Yesus tidak hanya memberikan rumusan doa, tetapi juga menggambarkan doa sebagai sebuah perjalanan yang harus ditempuh dengan sabar dan penuh iman.

Melalui perumpamaan tentang sahabat yang datang tengah malam untuk meminjam tiga roti, Yesus ingin menegaskan bahwa doa bukanlah sekadar rutinitas atau rumus yang otomatis, melainkan sebuah hubungan yang hidup dengan Allah sebagai Bapa. Perumpamaan ini juga menekankan pentingnya ketekunan: meskipun sahabat itu menolak karena sudah larut malam, ia akhirnya bangun dan memberikan apa yang diminta karena desakan yang terus-menerus.

Bacaan pertama dari Galatia 3:1-5 mengingatkan kita bahwa kita menerima Roh Kudus bukan karena perbuatan baik atau jasa kita, melainkan karena iman yang mendengarkan dan percaya kepada Kristus yang tersalib. Rasul Paulus menegur jemaat Galatia yang mulai goyah dan kembali kepada legalisme. Kita pun sering kali tergoda untuk mengukur hubungan kita dengan Allah melalui seberapa banyak doa yang kita panjatkan atau seberapa rajin kita beribadah. Padahal, yang utama adalah iman yang hidup dan ketekunan dalam berserah kepada Allah.

Dalam Injil, Yesus memberikan jaminan yang sangat indah: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Janji ini bukan berarti setiap permintaan kita akan langsung dikabulkan sesuai keinginan kita, melainkan bahwa Allah, sebagai Bapa yang baik, selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya. Puncak dari janji ini adalah pemberian Roh Kudus: “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Paus Fransiskus dalam homilinya pernah menegaskan bahwa doa yang tidak berani bukanlah doa yang sejati. Ketika kita berdoa dengan berani dan tekun, Tuhan tidak hanya memberikan rahmat, tetapi Ia memberikan diri-Nya sendiri di dalam rahmat itu. Doa yang tekun adalah doa yang tidak mudah menyerah, bahkan ketika jawaban terasa lambat atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam hidup sehari-hari, kita sering menghadapi masa-masa ketika doa terasa sepi. Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi seolah-olah Tuhan diam. Di saat seperti itu, godaan untuk menyerah dan berhenti berharap sangat besar. Namun, justru dalam perjuangan iman, ketekunan dan kepercayaan kepada Allah menjadi jalan menuju hidup yang kekal. Hidup kekal bukanlah hasil dari doa yang langsung dijawab, melainkan dari iman yang terus bertumbuh melalui doa yang tak pernah putus.

Mari kita renungkan: bagaimana cara kita berdoa selama ini? Apakah kita berdoa hanya sebagai rutinitas, ataukah kita benar-benar datang kepada Allah dengan penuh keberanian dan ketekunan? Apakah kita percaya bahwa Allah selalu mendengarkan dan memberikan yang terbaik, bahkan ketika jawaban-Nya tidak sesuai dengan keinginan kita?

Doa yang tekun adalah wujud iman yang dewasa. Iman yang dewasa tidak mengharapkan segala sesuatu terjadi secara instan, tetapi percaya bahwa Allah bekerja dalam waktu-Nya yang sempurna. Seperti sahabat dalam perumpamaan Yesus, kita diajak untuk terus mengetuk pintu hati Allah, bukan karena Allah perlu didesak, tetapi karena ketekunan kita menunjukkan kesungguhan dan kepercayaan kita kepada-Nya.

Amin.

Tuhan memberkati kita semua.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar