Rabu, 21 Oktober 2026

KASIH YANG UTUH: DUA SISI DARI SATU PERINTAH

 


RENUNGAN MINGGU BIASA XXX – TAHUN A
Minggu, 25 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 22:34-40


KASIH YANG UTUH: DUA SISI DARI SATU PERINTAH

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memasuki Minggu Biasa XXX dalam Tahun Liturgi A. Warna liturgi hijau mengingatkan kita pada pertumbuhan iman yang terus-menerus di dalam kasih. Bacaan Injil yang baru saja kita dengar (Mat 22:34-40) menyajikan percakapan yang mendalam antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Pertanyaan yang diajukan bukanlah pertanyaan sederhana, melainkan sebuah “jebakan” teologis: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36). Pada zaman itu, para ahli hukum memang gemar memperdebatkan hierarki dari ratusan aturan dan tradisi keagamaan yang saling tumpang tindih. Namun, Yesus tidak terjebak dalam perdebatan tekstual yang melelahkan. Dengan lugas dan mendalam, Ia merangkum seluruh ajaran hukum dan kitab para nabi ke dalam satu pilar utama: kasih.

Yesus menjawab: “‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’ Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ay. 37-40).

Mengasihi Allah: Penyerahan Total, Bukan Formalitas

Perintah pertama mengajak kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kata “segenap” menuntut penyerahan diri secara total—bukan sisa-sisa waktu, energi, atau perhatian kita. Allah tidak menginginkan ibadah yang kering dan formalitas belaka. Ia merindukan relasi yang mendalam dan personal, di mana seluruh pusat kehidupan kita terarah kepada-Nya.

Paus Fransiskus dalam Angelus-nya pernah menegaskan bahwa kehidupan moral dan religius kita tidak boleh direduksi menjadi ketaatan yang penuh kecemasan atau keterpaksaan. Prinsipnya haruslah kasih. Kasih kepada Allah terutama diungkapkan dalam doa, khususnya dalam adorasi—saat kita berdiam diri dan menyadari kehadiran Yang Mahakudus. Kita sering kali berdoa untuk memohon sesuatu atau mengucap syukur, tetapi kita pun sering melupakan inti doa: menyembah Allah.

Mengasihi Sesama: Wajah Konkret dari Kasih kepada Allah

Namun, Yesus segera menambahkan perintah kedua yang tidak dapat dipisahkan dari yang pertama. Kasih kepada Allah yang tidak kelihatan harus terwujud secara konkret dalam kasih kepada sesama yang kelihatan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa tidak ada kasih sejati kepada Allah jika tidak diungkapkan dalam kasih kepada sesama; sebaliknya, kasih kepada sesama tidak akan berakar kuat jika tidak bersumber dari relasi dengan Allah.

Inilah salah satu kebaruan terbesar dalam ajaran Yesus: Ia menyatukan dua perintah yang dalam tradisi Yahudi tercatat di tempat berbeda (Ul 6:5 dan Im 19:18) menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kasih kepada sesama bukanlah “perintah tambahan” setelah kasih kepada Allah, melainkan wajah konkret dari kasih itu sendiri. Rasul Yohanes menegaskannya dengan tegas: “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20).

Belajar dari Bacaan Pertama: Kasih yang Berkeadilan

Bacaan pertama hari ini (Kel 22:20-26) memberikan warna konkret bagi kasih kepada sesama. Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak menindas orang asing, janda, dan anak yatim; untuk tidak memungut bunga dari orang miskin; dan untuk mengembalikan jubah yang dijadikan jaminan sebelum matahari terbenam. Kasih kepada sesama dalam tradisi Kitab Suci tidak pernah berhenti pada perasaan belas kasihan, tetapi selalu menjelma dalam tindakan keadilan dan solidaritas terhadap mereka yang lemah dan rentan.

Di tengah konteks Indonesia yang majemuk, perintah ini sangat relevan. Kita hidup berdampingan dengan saudara-saudari dari latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda. Kasih kepada sesama menuntut kita untuk membangun toleransi yang aktif, bukan sekadar sikap diam atau acuh tak acuh. Sebagaimana dikatakan, “Kalau kita tidak satu dalam iman, kita satu dalam kemanusiaan.” Kasih juga menuntut kita untuk peka terhadap mereka yang menderita akibat ketidakadilan, kemiskinan, atau bahkan jerat pinjaman online yang merugikan banyak orang kecil.

Aktif Menggereja, Aktif Bermasyarakat

Saudara-saudari terkasih, sebagai umat Katolik Indonesia, kita dipanggil untuk tidak memisahkan kehidupan iman dari kehidupan bermasyarakat. Aktif menggereja hendaknya dibarengi dengan aktif bermasyarakat—bukan aktif dalam arti sibuk dengan urusan sendiri, melainkan aktif yang mampu “menggarami” masyarakat dengan semangat kasih. Kasih yang Yesus tawarkan berbeda dengan kasih yang ditawarkan dunia. Kasih dunia sering kali bersyarat, mengharapkan balasan, atau terbatas pada lingkaran orang-orang yang menyenangkan kita. Kasih Kristus bersifat tanpa batas dan tanpa pamrih, mampu menjangkau bahkan mereka yang sulit dikasihi.

Kita tidak dapat mengklaim mencintai Allah yang tidak kelihatan jika kita menutup mata dan hati terhadap sesama yang kelihatan—terutama mereka yang menderita, terasing, atau bahkan mereka yang telah menyakiti kita. Kasih kepada sesama bukanlah pilihan opsional bagi orang Kristen; ia adalah konsekuensi hakiki dari iman kita.

Penutup: Kasih yang Memampukan

Tentu saja, kasih yang demikian besar bukanlah hasil kekuatan kita sendiri. Kita sering gagal dan jatuh. Namun, Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk mengasihi sebagaimana Allah mengasihi. Marilah kita mohon rahmat itu hari ini: rahmat untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, dan rahmat untuk melihat wajah Kristus dalam diri setiap sesama—terutama yang paling kecil dan terlupakan.

Pada akhirnya, seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi—seluruh hidup kita sebagai orang Kristen—tergantung pada dua perintah kasih ini. Semoga kita tidak hanya mendengarnya, tetapi benar-benar menghidupinya, sehingga dunia dapat mengenali kita sebagai murid-murid Kristus: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35).

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

TIDAK PERLU BERTOBAT KARENA MERASA “SUDAH CUKUP BAIK”?

 


Renungan Katolik – Sabtu, 24 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXIX / Peringatan Fakultatif St. Antonius Maria Claret
Bacaan Injil: Lukas 13:1-9

 

TIDAK PERLU BERTOBAT KARENA MERASA “SUDAH CUKUP BAIK”?

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingatkan kita akan bahaya rohani yang paling halus: berpikir bahwa kita tidak perlu bertobat karena kita merasa “sudah cukup baik”. Injil Lukas 13:1-9 menghadirkan Yesus yang menanggapi dua peristiwa tragis—pembantaian orang Galilea oleh Pilatus dan runtuhnya menara dekat Siloam yang menewaskan delapan belas orang. Pada zaman itu, banyak orang Yahudi percaya bahwa penderitaan adalah hukuman langsung dari Allah atas dosa tertentu. Yesus dengan tegas menolak logika itu: “Tidak! Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara yang sama” (Luk 13:3.5).

Yesus tidak sedang menjelaskan mengapa bencana terjadi. Ia sedang membongkar cara pandang yang keliru tentang Allah dan tentang diri kita sendiri. Tragedi bukanlah “tagihan” atas dosa orang lain, melainkan panggilan kenabian bagi setiap orang untuk berhenti menunda pertobatan. Kita sering tergoda untuk mengukur diri dengan membandingkan diri dengan orang lain: “Setidaknya aku tidak seburuk dia.” Tetapi Yesus menutup pintu perbandingan itu. Di hadapan Allah, setiap orang berdosa dan setiap orang membutuhkan metanoia—perubahan hati dan arah hidup yang radikal.

Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Pemilik kebun anggur datang tiga tahun berturut-turut mencari buah, tetapi tidak menemukannya. Ia berkata kepada pengurus kebun: “Tebang saja! Mengapa ia mengisap tanah?” Tetapi pengurus itu menjawab: “Tuan, biarkanlah ia tumbuh tahun ini juga; aku akan mencangkul tanahnya dan memberi pupuk; mudah-mudahan ia akan berbuah pada tahun yang akan datang” (Luk 13:6-9).

Di sini kita melihat wajah belas kasih Allah. Pemilik kebun melambangkan Allah Bapa, pengurus kebun melambangkan Yesus Kristus, dan pohon ara itu melambangkan kita—umat yang sering kali mandul dalam menghasilkan buah kasih, keadilan, dan belas kasih. Yesus tidak membela kemandulan kita. Ia tidak berkata bahwa ketiadaan buah itu baik. Tetapi Ia mengintervensi di hadapan Bapa: “Beri dia satu tahun lagi.” Yesus memberikan waktu, tenaga, dan kasih-Nya untuk mencangkul dan memupuk hidup kita agar kita akhirnya berbuah.

Namun perumpamaan ini juga mengandung peringatan yang serius. Waktu yang diberikan bukanlah tanpa batas. “Biarkanlah ia tahun ini juga” berarti ada batas waktu. Pertobatan tidak bisa terus-menerus ditunda dengan alasan “nanti saja” atau “aku masih muda” atau “aku masih punya banyak waktu”. Kesabaran Allah bukan alasan untuk berpangku tangan, melainkan undangan untuk segera bangkit dan mengubah hidup kita.

Saudara-saudari terkasih, pada hari peringatan St. Antonius Maria Claret, uskup dan pendiri tarekat yang hidupnya berbuah lebat bagi Gereja, kita diingatkan bahwa hidup yang berbuah itu mungkin. St. Antonius tidak menunggu sampai ia “sempurna” untuk melayani. Ia bertobat, membiarkan Kristus mencangkul hatinya, dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang nyata bagi banyak jiwa.

Hari ini, Yesus berdiri di hadapan kita—bukan sebagai hakim yang siap menebang, tetapi sebagai Pengurus Kebun yang penuh belas kasih. Ia berkata kepada Bapa tentang kita: “Beri dia kesempatan lagi.” Pertanyaannya bukan lagi “apakah aku lebih baik dari orang lain?”, melainkan: “Apakah aku mau membiarkan Yesus mencangkul tanah hatiku hari ini?” Apakah kita mau melepaskan kebiasaan lama, egoisme, kemalasan rohani, dan cara hidup yang mandul, lalu mulai menghasilkan buah kasih yang nyata dalam keluarga, pekerjaan, dan komunitas kita?

Marilah kita berdoa agar rahmat pertobatan tidak kita sia-siakan. Semoga Santa Perawan Maria, yang hatinya selalu berbuah bagi Allah, membantu kita menanggapi kesabaran Kristus dengan hati yang rendah dan siap berubah. Tahun ini adalah tahun belas kasih; jangan tunda lagi. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

MEMBACA TANDA ZAMAN, BERANI BERTOBAT

 


Renungan Katolik
Jumat, 23 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXIX
Bacaan Injil: Lukas 12:54-59


MEMBACA TANDA ZAMAN, BERANI BERTOBAT

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini warna liturgi hijau menandakan masa pertumbuhan iman dan pengharapan. Bacaan Injil yang kita dengarkan menyuguhkan teguran Yesus yang tajam namun penuh kasih kepada orang banyak: mereka ahli membaca tanda-tanda alam, tetapi buta terhadap tanda-tanda zaman yang menuntut pertobatan.

Yesus bersabda, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas dan terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapa kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:54-56). Teguran ini bukanlah celaan tanpa harapan, melainkan panggilan mendesak untuk membuka mata hati terhadap kehadiran Allah yang sedang berkarya dalam sejarah.

Tafsir dan Pesan Injil

Konteks Lukas 12:54-59 menunjukkan bahwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang hidup dalam kenyamanan rutinitas, namun hati mereka tertutup terhadap karya keselamatan Allah. Komunitas Lukas digambarkan sebagai komunitas yang “terlena dalam kebiasaan sehari-hari dan tidak lagi digerakkan oleh kerinduan agar Kerajaan Allah semakin berkembang”. Mereka mampu memprediksi cuaca, tetapi gagal mengenali bahwa “zaman Mesias telah tiba dan penghakiman sudah dekat”.

Kata “munafik” dalam ayat 56 bukan sekadar label moral, melainkan diagnosis spiritual: ada jarak antara pengetahuan dan kehidupan, antara apa yang diketahui di kepala dan apa yang dihidupi dalam hati. Yesus tidak meminta mereka menjadi ahli nubuat, tetapi meminta mereka membaca kehendak Allah yang hadir melalui peristiwa hidup—melalui sesama, melalui situasi sosial, dan melalui suara hati yang mampu membedakan yang benar dan yang tidak benar.

Bagian kedua perikop (ayat 57-59) memperkuat panggilan ini dengan perumpamaan tentang berdamai dengan lawan di jalan. Yesus menasihati agar orang bergegas menyelesaikan perkara sebelum terlambat, karena penundaan dapat berakibat fatal. Dalam terang iman, “lawan” di jalan itu dapat dimengerti sebagai suara hati yang menuduh, relasi yang retak, atau ketidakadilan yang menuntut pertobatan. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas” (Luk 12:59). Ini adalah undangan untuk tidak menunda rekonsiliasi—baik dengan Allah maupun dengan sesama.

Membaca Tanda Zaman dalam Terang Ajaran Gereja

Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes menegaskan bahwa Gereja memiliki tanggung jawab untuk “menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil” agar mampu menanggapi persoalan konkret manusia pada setiap zaman. Membaca tanda zaman bukanlah aktivitas intelektual semata, melainkan disposisi hati yang peka terhadap sapaan Allah yang berbicara melalui realitas hidup.

Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ dan Laudate Deum mengingatkan bahwa krisis ekologi adalah salah satu tanda zaman yang paling mendesak. Bumi “terus memanas, sebagian karena aktivitas manusia”. Namun Paus menegaskan bahwa akar krisis ini bukan sekadar teknis, melainkan manusiawi dan spiritual: keserakahan, pencarian keuntungan finansial yang berlebihan, kurangnya solidaritas, dan tidak menghormati lingkungan hidup. Pertobatan ekologis karenanya bukan sekadar “menghijaukan” gaya hidup, melainkan pertobatan batin yang mengubah cara pandang dan cara hidup.

Dalam terang ajaran sosial Gereja, dosa tidak pernah sepenuhnya bersifat pribadi. Setiap dosa “dalam arti tertentu memengaruhi orang lain,” dan dosa-dosa yang berulang dapat mengkonsolidasikan “struktur dosa” yang berdampak pada masyarakat luas. Karena itu, pertobatan yang dituntut Yesus mencakup dua dimensi yang tak terpisahkan: pertobatan personal (perubahan hati) dan pertobatan sosial (perubahan struktur dan relasi yang tidak adil). Gereja di Indonesia telah merangkum dimensi ini dalam gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang mengajak umat untuk mewujudkan pertobatan dalam aksi solidaritas nyata bagi sesama yang menderita.

Pertobatan yang Tidak Menunda

Saudara-saudari yang terkasih,

Tanda-tanda zaman di sekitar kita sungguh nyata: ketidakadilan ekonomi, kerusakan lingkungan, ketegangan sosial, dan luka-luka relasi dalam keluarga serta komunitas. Kita mungkin lebih mahir menganalisis berita ekonomi atau memprediksi cuaca daripada mengenali apa yang Allah sedang katakan melalui semua itu. Yesus hari ini mengundang kita untuk berhenti menunda pertobatan.

Pertobatan tidak berarti menghukum diri dengan rasa bersalah yang tak berujung, melainkan berpaling kepada Allah dengan hati yang terbuka—seperti sang anak yang bangkit dan kembali kepada bapanya. Kita diajak untuk berdamai “selagi masih di jalan”: meminta maaf kepada mereka yang telah kita sakiti, memperbaiki ketidakadilan yang kita lihat, mengubah kebiasaan konsumtif yang merusak bumi, dan membuka hati bagi mereka yang miskin dan tersingkir.

Marilah kita memohon rahmat Allah agar dianugerahi hati yang peka dan berani: peka membaca tanda zaman, dan berani bertobat tanpa menunda. Sebab di dalam Kristus, waktu selalu merupakan kesempatan untuk bangkit dan hidup baru. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 20 Oktober 2026

API YANG MENYALA, PILIHAN YANG MENENTUKAN

 


Renungan Katolik
Kamis, 22 Oktober 2026
Pekan Biasa XXIX – Tahun II
(Peringatan Opsional: Santo Yohanes Paulus II, Paus)

Bacaan Injil: Lukas 12:49-53


API YANG MENYALA, PILIHAN YANG MENENTUKAN

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita merasa bahwa hidup beriman terkadang seperti berjalan di atas tali yang tipis? Di satu sisi kita mendambakan kedamaian, kehangatan relasi, dan ketenteraman hati. Namun di sisi lain, Injil hari ini menghadirkan sabda Yesus yang terdengar keras dan menggentarkan: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi… Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan perpecahan” (Luk 12:49.51).

Sabda ini bukanlah ajakan untuk memusuhi sesama, melainkan panggilan untuk berani mengambil sikap tegas dalam mengikuti Kristus. Mari kita menyelami makna sabda Tuhan ini dengan hati yang terbuka, agar api kasih-Nya benar-benar menyala dalam hidup kita.

Api yang Memurnikan, Bukan Menghanguskan

Ketika Yesus berbicara tentang “api”, Ia tidak sedang membicarakan api yang merusak atau menghanguskan. Dalam tradisi Gereja, api yang dimaksud adalah api Roh Kudus—api kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita. Api ini memiliki daya pemurnian: ia membakar habis segala kotoran dosa, kemunafikan, dan sikap acuh tak acuh yang selama ini mungkin bersemayam dalam hati kita.

Paus Fransiskus dalam salah satu renungan Angelus-nya menjelaskan bahwa Yesus ingin agar api kasih Allah berkobar di bumi, karena hanya dengan api itulah manusia diselamatkan. Api ini bukan api yang membuat kita nyaman dalam zona aman, melainkan api yang mendorong kita keluar dari kelambanan, mengalahkan rasa malas rohani, dan berani menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Santo Paulus dalam bacaan pertama hari ini (Ef 3:14-21) menegaskan bahwa kita dipanggil untuk “berakar dan berdasar di dalam kasih”. Api Roh Kudus inilah yang memampukan kita berakar dalam kasih Kristus yang “melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:19). Jadi, api yang Yesus bawa bukanlah api permusuhan, melainkan api kasih yang mengobarkan keberanian untuk hidup benar di hadapan Allah.

Baptisan yang Ditunggu: Salib sebagai Puncak Kasih

Yesus melanjutkan, “Aku harus menerima baptisan, dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu selesai!” (Luk 12:50). “Baptisan” yang dimaksud di sini adalah penderitaan, sengsara, dan wafat-Nya di kayu salib. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa jalan kasih itu tidak pernah mulus. Kasih yang sejati selalu menuntut pengorbanan.

Di tengah dunia yang sering mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah hidup tanpa penderitaan, Injil hari ini justru mengingatkan kita bahwa kasih yang menyelamatkan selalu melewati salib. Yesus tidak menunggu sampai salib itu nyaman; Ia rindu menyelesaikannya karena Ia tahu bahwa di balik salib itu terbentang kemuliaan kebangkitan dan keselamatan bagi banyak orang. Kerinduan Yesus ini menjadi teladan bagi kita: kasih yang berani menanggung derita demi kebaikan yang lebih besar.

“Perpecahan” yang Menyucikan

Bagian yang paling mengejutkan dari Injil hari ini adalah sabda Yesus tentang “perpecahan” dalam keluarga: ayah melawan anak, ibu melawan anak perempuan, dan seterusnya (Luk 12:52-53). Apakah Yesus benar-benar menghendaki keluarga terpecah-belah? Tentu tidak. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus tidak datang untuk menabur kebencian, melainkan untuk memisahkan yang baik dari yang jahat, yang benar dari yang tidak benar.

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa “perpecahan” yang Yesus maksudkan adalah “perpecahan yang menyucikan”—sebuah pemisahan yang sehat dan perlu, yang membongkar ilusi bahwa seseorang bisa hidup sebagai Kristen sambil tetap berkompromi dengan mentalitas duniawi. Ketika seseorang memilih untuk hidup jujur di tengah budaya korupsi, atau memilih setia pada iman di tengah keluarga yang acuh tak acuh, di situlah “perpecahan” itu terjadi. Bukan karena kita membenci mereka, tetapi karena pilihan untuk setia kepada Kristus sering kali harus dibayar dengan harga yang mahal, bahkan di dalam rumah sendiri.

Santo Yohanes Paulus II, yang kita peringati hari ini, adalah teladan nyata dari keberanian ini. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah berkompromi dengan kejahatan, bahkan ketika harus menghadapi tekanan politik dan penderitaan fisik. Ia menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus berarti berani menyalakan api kebenaran, sekalipun dunia berusaha memadamkannya.

Api yang Menyala dalam Hidup Kita

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini bukanlah kabar buruk, melainkan kabar baik yang menuntut. Yesus ingin menyalakan api kasih-Nya dalam hati kita masing-masing. Api itu tidak akan pernah menyala jika kita terus hidup dalam kenyamanan rohani, dalam sikap “yang penting baik-baik saja”, atau dalam kompromi tanpa akhir dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Api apa yang saat ini menyala dalam hatiku? Apakah api kasih Allah yang memurnikan, atau justru api kemarahan, egoisme, dan kedengkian? Apakah aku berani mengambil sikap tegas sebagai murid Kristus, bahkan ketika pilihanku tidak populer di tengah keluarga atau lingkungan kerjaku?

Hari ini, Gereja juga mengajak kita untuk belajar dari Santo Yohanes Paulus II, yang telah menyalakan api kasih Kristus di seluruh dunia melalui pelayanan kepausannya. Ia mengingatkan kita bahwa “tidak ada yang lebih indah daripada menjadi saksi Kristus”. Mari kita memohon perantaraan beliau, agar kita pun dianugerahi keberanian untuk menyalakan api iman di tengah dunia yang sering kali dingin terhadap Allah.

Kesimpulan

Yesus tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah, tetapi Ia menjanjikan api yang tidak akan pernah padam. Api itu adalah kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus (lih. Rm 5:5). Tugas kita bukanlah memadamkan api itu, melainkan menjaganya tetap menyala—melalui doa, sakramen, dan kesaksian hidup yang berani.

Semoga Injil hari ini menggugah kita untuk berani memilih Kristus di atas segala-galanya. Sebab di dalam Kristus, bahkan “perpecahan” yang menyakitkan pun dapat menjadi jalan menuju kesatuan sejati—kesatuan dengan Allah dan dengan sesama dalam kasih yang murni.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

KEWASPADAAN YANG MENJADI BERKAT: MENJADI PENGELOLA YANG SETIA

 


Renungan Katolik
Rabu, 21 Oktober 2026
Pekan Biasa XXIX – Tahun II
Injil: Lukas 12:39-48


KEWASPADAAN YANG MENJADI BERKAT:

MENJADI PENGELOLA YANG SETIA

 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini Bacaan Injil yang kita dengar bukanlah sebuah teguran yang menakutkan, melainkan sebuah panggilan untuk hidup dalam kewaspadaan yang penuh kasih. Yesus berbicara tentang seorang tuan yang pergi dan seorang hamba yang dipercayakan rumahnya. Di tengah dunia yang sering membuat kita terlena, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berjaga, bukan dengan rasa takut yang berlebihan, tetapi dengan kesadaran bahwa hidup kita adalah sebuah kepercayaan dari Allah.

Bacaan Pertama (Ef. 3:2-12) mengingatkan kita bahwa kita telah menerima suatu “pelayanan” atau “penatalayanan” atas kasih karunia Allah. Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan Injil, dan melalui dia, misteri keselamatan dinyatakan kepada semua bangsa. Kita pun, sebagai umat Katolik Indonesia, telah menerima karunia iman yang sama. Kita adalah para pengelola misteri Allah di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat kita.

Injil Lukas 12:39-48 melanjutkan ajaran Yesus tentang kewaspadaan. Yesus memakai dua perumpamaan. Pertama, tentang pencuri yang datang pada waktu yang tidak diduga. Kedua, tentang seorang hamba yang dipercayakan untuk memberi makan kepada para pelayan lainnya pada waktu yang tepat. Yesus bertanya, “Siapakah pengelola yang setia dan bijaksana, yang oleh tuannya diangkat atas orang-orangnya untuk memberikan mereka jatah makanan pada waktunya?” (Luk. 12:42). Hamba yang setia adalah hamba yang tetap melakukan tugasnya meskipun tuannya tidak ada di rumah.

Saudara-saudari, kewaspadaan Kristiani bukanlah sikap pasif menunggu kedatangan Tuhan sambil diam tanpa melakukan apa-apa. Kewaspadaan adalah sikap aktif: kita terus melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita, kita terus mengasihi, melayani, dan menjadi berkat bagi sesama. Santo Yohanes Paulus II pernah mengingatkan bahwa “kewaspadaan berarti membuka diri terhadap kebaikan, kebenaran, dan Allah, di tengah dunia yang sering tidak dapat dijelaskan”. Kita tidak boleh terlena oleh kesibukan duniawi hingga melupakan panggilan kita yang sejati.

Yesus juga memberikan peringatan yang serius: hamba yang mengetahui kehendak tuannya tetapi tidak melakukannya akan menerima hukuman yang berat. Sebaliknya, hamba yang tidak mengetahui dan berbuat salah akan menerima hukuman yang lebih ringan. Prinsipnya jelas: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48). Sebagai umat Katolik di Indonesia, kita telah menerima banyak sekali berkat: iman yang diwariskan oleh para misionaris, Sakramen-sakramen, dan pengajaran Gereja yang kaya. Oleh karena itu, kita pun memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghidupi iman itu dan membagikannya kepada orang lain.

Apa bentuk konkret “penatalayanan” kita di zaman ini? Mungkin kita dipercayakan sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak dalam iman. Mungkin kita dipercayakan sebagai katekis, pengurus lingkungan, atau anggota komunitas basis gerejawi. Mungkin juga kita dipercayakan sebagai pekerja, pebisnis, atau pelajar yang harus menjadi saksi Kristus di tempat kita masing-masing. Setiap peran adalah sebuah “rumah” yang Allah percayakan kepada kita untuk dijaga dan dirawat.

Marilah kita bertanya dalam hati: Apakah saya sudah menjadi pengelola yang setia atas apa yang Tuhan percayakan? Apakah saya masih rajin berdoa, menerima Sakramen, dan membaca Sabda Tuhan? Ataukah saya sudah mulai “tertidur” dan menganggap bahwa kedatangan Tuhan masih lama, sehingga saya menunda-nunda pertobatan dan pelayanan?

Hari ini, Gereja juga memperingatkan kita akan bahaya kelalaian. Hamba yang jahat dalam perumpamaan itu mulai memukul pelayan lain, makan, minum, dan mabuk. Kelalaian rohani sering kali dimulai dari hal-hal kecil: meninggalkan doa harian, malas ke gereja, atau mengabaikan sesama yang membutuhkan. Semoga kita tidak terjebak dalam kelalaian itu.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus tidak menghendaki kita hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kasih yang berjaga-jaga. Ia ingin hidup kita berbuah. Ia ingin kita menjadi pengelola yang setia, yang ketika Ia datang kembali, mendapati kita sedang melakukan kehendak-Nya. Mari kita memohon rahmat Allah agar kita selalu siap sedia, setia dalam perkara kecil, dan bertanggung jawab atas setiap karunia yang telah kita terima.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Senin, 19 Oktober 2026

PINGGANG TERIKAT, PELITA MENYALA: HIDUP DALAM KESIAPSIAGAAN YANG AKTIF

 


Renungan Katolik
Selasa, 20 Oktober 2026 – Pekan Biasa XXIX (Tahun II)
Bacaan Injil: Lukas 12:35-38


PINGGANG TERIKAT, PELITA MENYALA:

HIDUP DALAM KESIAPSIAGAAN YANG AKTIF

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja membawa kita merenungkan sabda Yesus yang singkat namun sangat padat: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (Luk 12:35). Sabda ini bukanlah sebuah imbauan untuk hidup dalam ketegangan atau kecemasan, melainkan sebuah panggilan untuk hidup dalam kesiapsiagaan yang aktif dan penuh kerinduan akan kedatangan Tuhan.

Kalender Liturgi menempatkan hari ini sebagai hari Selasa Pekan Biasa ke-29, bukan hari raya wajib, namun justru dalam irama hidup sehari-hari yang biasa inilah sabda Yesus ini menemukan relevansinya yang paling nyata. Kita diajak untuk tidak tertidur dalam rutinitas, tetapi tetap terjaga dalam iman.

 

Makna “Pinggang Terikat” dan “Pelita Menyala”

Dalam budaya Timur Tengah pada zaman Yesus, jubah panjang diikat di pinggang agar seseorang dapat bergerak cepat dan leluasa. “Pinggang terikat” melambangkan kesiapan untuk bertindak, bukan sekadar menunggu secara pasif. Sementara itu, “pelita yang menyala” menandakan kewaspadaan yang terus-menerus di tengah kegelapan malam. Keduanya berbicara tentang sebuah sikap batin: hidup yang siap sedia untuk menyambut Tuhan yang datang secara tak terduga.

Paus Fransiskus menafsirkan sabda ini secara indah: “Hendaklah pinggangmu terikat dan pelitamu menyala” berarti hidup sepenuhnya di masa kini sambil meraih janji kekekalan. Seluruh hidup kita adalah perjuangan menuju hidup yang kekal dan kita harus siap sedia. Kesiapan sejati, lanjut Paus, bukanlah ketika seseorang diterima dengan tepuk tangan dan sukses, melainkan ketika ia sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah dan kepada saudara-saudarinya.


Janji yang Paradoks: Tuan yang Melayani

Yang membuat perumpamaan ini sungguh istimewa adalah janji yang tampak mustahil: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ia [tuan] akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, lalu ia datang melayani mereka” (Luk 12:37). Dalam struktur sosial pada zaman itu, seorang tuan tidak pernah melayani hambanya. Namun Yesus justru menggambarkan Tuhan yang kita layani sebagai Tuhan yang lebih dahulu melayani kita.

Inilah keindahan Kerajaan Allah yang paradoks. Kesiapsiagaan kita bukanlah bentuk “pembelian” keselamatan, melainkan tanggapan penuh syukur atas kasih Tuhan yang telah lebih dahulu menyelamatkan kita. Kita berjaga-jaga bukan karena takut akan hukuman, tetapi karena rindu akan perjumpaan dengan Dia yang telah mengasihi kita terlebih dahulu.

 

Kesiapsiagaan sebagai Perjumpaan yang Dirindukan

Paus Fransiskus dalam katekesisnya tentang “penantian yang waspada” mengingatkan bahwa kewaspadaan orang Kristen bukanlah produk ketakutan, melainkan hasrat — kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhannya yang datang. Ia bahkan menggambarkan perjumpaan itu sebagai “sebuah pelukan, sukacita yang luar biasa, kegembiraan yang besar”.

Maka pertanyaan bagi kita hari ini adalah: Apakah kita merindukan kedatangan Tuhan, ataukah kita justru lebih nyaman tenggelam dalam kesibukan dan hiburan dunia ini? Apakah pelita iman kita masih menyala, ataukah sudah lama kita biarkan meredup karena kelalaian?

 

Aplikasi Praktis dalam Hidup Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, kesiapsiagaan bukanlah teori, melainkan praktik harian. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat kita ambil:

Pertama, jaga kehidupan doa. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “doa memberi oksigen bagi kehidupan: sebagaimana orang tidak dapat hidup tanpa bernapas, demikian pula orang tidak dapat menjadi Kristen dan hidup sebagai Kristen tanpa doa”. Pelita iman kita menyala terutama melalui doa yang setia. Sisihkan waktu khusus setiap hari untuk berdialog dengan Tuhan — bukan hanya ketika kita membutuhkan sesuatu, tetapi juga ketika kita hanya ingin berada dekat dengan-Nya.

Kedua, periksa hati secara berkala. Kesiapsiagaan juga berarti berani memeriksa batin: apakah ada dosa yang belum diakui, hubungan yang perlu dipulihkan, atau komitmen yang telah kita abaikan? Sakramen Rekonsiliasi adalah anugerah istimewa untuk “mengisi minyak” pelita kita yang mulai redup.

Ketiga, hidup dalam pelayanan aktif. “Pinggang terikat” berarti kita tidak boleh menjadi Kristen yang pasif. Kesiapsiagaan rohani bukanlah tentang bersantai sambil menunggu, tetapi tentang tetap aktif dalam iman, doa, dan pelayanan . Setiap perbuatan kasih — sekecil apa pun — adalah bentuk nyata dari pelita yang menyala di tengah dunia yang sering gelap oleh egoisme dan ketidakpedulian.

Keempat, hidup dalam pengharapan, bukan kecemasan. Yesus tidak mengatakan “kapan” Ia akan datang. Ketidakpastian waktu kedatangan-Nya bukan untuk membuat kita cemas, tetapi untuk mengajarkan kita hidup dalam kesetiaan yang konsisten setiap hari. Orang Kristen tidak hidup untuk kebosanan; ia hidup untuk kesabaran yang penuh pengharapan, tahu bahwa bahkan dalam monotoninya hari-hari yang tampak sama, tersembunyi sebuah misteri kasih karunia.

Berkat Tuhan menyertai kita senantiasa. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

Selasa, 13 Oktober 2026

BAHAYA KETAMAKAN

 


RENUNGAN KATOLIK

Hari: Senin, 19 Oktober 2026
Pekan: Pekan Biasa ke-XXIX (Tahun II)
Bacaan Injil: Lukas 12:13-21
Peringatan: Santo Yohanes de Brébeuf, Santo Ishak Jogues, dan Martir-Martir Amerika Utara

 

BAHAYA KETAMAKAN


Pengantar

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingatkan kita akan bahaya ketamakan melalui perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh. Dalam Injil Lukas 12:13-21, Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan tentang warisan, tetapi mengajarkan prinsip fundamental tentang bagaimana kita seharusnya memandang harta duniawi dan kekayaan sejati yang Allah kehendaki.

Saudara-saudari terkasih,

Perumpamaan Yesus ini sangat relevan dengan dunia kita hari ini. Kita hidup dalam budaya yang terus-menerus mendorong kita untuk mengumpulkan lebih banyak — lebih banyak harta, lebih banyak kesenangan, lebih banyak keamanan finansial. Namun Yesus mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa kaya kita di hadapan Allah.

Pertama, ketamakan adalah dosa pokok yang berbahaya. Dalam ajaran Gereja Katolik, ketamakan (avaritia) termasuk dalam tujuh dosa pokok yang dapat mengakibatkan dosa-dosa lain. Santo Paulus menegaskan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan dapat menyebabkan seseorang menyimpang dari iman (1 Tim 6:10). Orang kaya dalam perumpamaan ini bukanlah orang jahat karena kekayaannya, tetapi karena ia mempercayakan hidupnya sepenuhnya pada harta miliknya, bukan pada Allah.

Kedua, hidup ini adalah titipan, bukan milik pribadi. Orang kaya dalam perumpamaan ini merencanakan masa depannya dengan sangat detail — ia akan merombak lumbungnya, menyimpan hasil panennya, dan kemudian menikmati hidupnya bertahun-tahun. Namun Allah berkata kepadanya: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu" (Luk 12:20). Paus Fransiskus mengingatkan bahwa ketika uang menjadi satu-satunya alasan hidup, ia akan menghancurkan manusia dan hubungannya dengan dunia luar. Kita semua hanyalah pengelola dari apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Ketiga, kekayaan sejati adalah kaya di hadapan Allah. Yesus menutup perumpamaan ini dengan kata-kata yang tajam: "Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah" (Luk 12:21). Menjadi kaya di hadapan Allah berarti memiliki iman yang kokoh, kasih yang nyata kepada sesama, dan hidup sesuai kehendak Allah. Kekayaan rohani inilah yang membawa kita pada kehidupan kekal, sedangkan harta duniawi bersifat sementara.

Keempat, kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama. Dalam Katekismus Gereja Katolik, hak milik memang diakui, tetapi hak itu tidak boleh menutup mata kita terhadap kebutuhan orang lain. Gereja mengajarkan bahwa harta benda harus digunakan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Santo Yohanes de Brébeuf dan Santo Ishak Jogues, yang kita peringati hari ini, memberikan teladan nyata: mereka meninggalkan kenyamanan dan keamanan demi mewartakan Injil dan melayani sesama, bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka.

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, bagaimana kita dapat menghidupi pesan Injil ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

  1. Periksa motivasi kita. Apakah kita bekerja hanya untuk memperkaya diri sendiri, ataukah kita juga menggunakan berkat Tuhan untuk memberkati orang lain?
  2. Latihlah sikap syukur dan cukup. Belajarlah untuk bersyukur atas apa yang telah kita miliki dan tidak selalu mengejar "lebih". Santo Paulus mengingatkan kita untuk mencari perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol 3:1-2).
  3. Berbagilah dengan murah hati. Pantang tanpa disertai derma hanyalah diet; puasa tanpa kasih hanyalah pelit. Demikian pula, iman tanpa perbuatan kasih adalah mati. Marilah kita menjadikan berbagi sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup beriman kita.
  4. Investasikanlah pada hal-hal rohani. Waktu kita, talenta kita, dan bahkan harta kita adalah sarana untuk membangun Kerajaan Allah. Setiap hari adalah kesempatan untuk bekerja bagi Allah — di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan dalam setiap relasi kita.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

MENJADI GAMBAR ALLAH DI TENGAH DUNIA

 


RENUNGAN MINGGU BIASA XXIX – TAHUN A
Minggu, 18 Oktober 2026
Bacaan Injil: Matius 22:15-21

 

MENJADI GAMBAR ALLAH DI TENGAH DUNIA


 

Pembuka: “Gambar Siapa Ini?”

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja memasuki Minggu Biasa ke-29. Bacaan Injil yang kita dengar—Matius 22:15-21—menampilkan sebuah adegan yang sangat manusiawi: sebuah jebakan yang dipasang dengan cermat, sebuah pertanyaan yang dirancang untuk memojokkan, dan sebuah jawaban yang mengubah segalanya. Orang-orang Farisi dan pendukung Herodes bersatu—dua kelompok yang biasanya bermusuhan—untuk menjerat Yesus. Pertanyaan mereka terdengar sederhana: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17).

Namun di balik pertanyaan itu, ada perangkap ganda. Jika Yesus mengatakan “boleh”, Ia akan dianggap penghianat bangsa yang menyerahkan diri kepada penjajah Romawi. Jika Ia mengatakan “tidak boleh”, Ia akan dituduh memberontak terhadap kekuasaan Romawi yang sah. Yesus, yang mengetahui maksud jahat mereka, tidak terjebak. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak—sebuah dinar Romawi—dan bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (Mat 22:20). Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan Kaisar.”

Maka Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).

 

Pesan Injil: Dua Wilayah, Satu Hati

Saudara-saudari, jawaban Yesus ini bukanlah sebuah kompromi yang mengaburkan batas, melainkan sebuah penegasan tentang dua realitas yang tidak boleh dipertentangkan. Santo Fransiskus de Sales mengajarkan bahwa kita memiliki “ketaatan kasih”—sebuah ketaatan yang lahir bukan dari ketakutan akan hukuman atau harapan akan hadiah, melainkan dari cinta yang mendalam kepada Allah. Ketaatan kasih inilah yang mempersatukan seluruh hidup kita, baik sebagai warga negara maupun sebagai warga Kerajaan Surga.

Koin itu bergambar Kaisar, dan karena itu memang milik Kaisar. Tetapi kita—manusia—diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kej 1:26). Karena itu, kita adalah milik Allah. Jika koin harus dikembalikan kepada Kaisar karena gambarnya, betapa lebih lagi kita harus mengembalikan seluruh hidup kita kepada Allah karena kita adalah gambar-Nya. Inilah inti pesan Injil hari ini: yang bergambar Kaisar, kembalikan kepada Kaisar; yang bergambar Allah, kembalikan kepada Allah.

Mgr. Soegiopranata, pahlawan nasional sekaligus uskup agung pertama Indonesia, pernah berkata dengan terkenal: “Kita harus menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia.” Ucapan ini bukan sekadar semboyan, melainkan konsekuensi logis dari jawaban Yesus. Hidup beriman tidak menuntut kita untuk mengabaikan tanggung jawab duniawi, dan sebaliknya, menjadi warga negara yang baik tidak berarti mengorbankan iman kita. Kedua hal ini tidak saling bertentangan; keduanya menyatu dalam hati yang utuh mengasihi Allah.

 

Aplikasi: Menjadi Gambar Allah di Tengah Dunia

Saudara-saudari yang terkasih, bagaimana kita menghidupi pesan Injil ini dalam kehidupan sehari-hari?

Pertama, kita dipanggil untuk terlibat secara aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Membayar pajak, menaati hukum yang sah, menjaga lingkungan, dan berkontribusi bagi kesejahteraan umum adalah bagian dari kewajiban kita sebagai warga negara. Konstitusi Gereja Katolik, Gaudium et Spes art. 76, menegaskan bahwa “negara ada demi kesejahteraan umum” dan Gereja “mewartakan kebenaran injil, cinta kasih dan keadilan”. Kita tidak boleh menjadi orang Katolik yang hanya sibuk dengan urusan surgawi lalu melupakan urusan bumi. Iman kita harus membumi—dalam arti yang paling mulia.

Kedua, kita dipanggil untuk tidak mengabaikan apa yang menjadi hak Allah. Kita adalah gambar dan rupa Allah. Karena itu, hidup kita—seluruhnya—adalah milik-Nya. Memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya berarti mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi; berarti hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran; berarti memuliakan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita: dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan bahkan dalam cara kita memperlakukan sesama—terutama yang paling kecil dan menderita.

Ketiga, kita dipanggil untuk menjadikan kasih sebagai motivasi utama. Santo Fransiskus de Sales mengingatkan bahwa mereka yang mengasihi Allah “seperti rusa yang ditandai dengan inisial pemiliknya, yang dibiarkan bebas berkeliaran di hutan, namun semua orang tahu kepada siapa rusa itu belongs”. Kita bebas, tetapi hidup kita harus menunjukkan kepada siapa kita belonged. Dunia harus dapat melihat gambaran Allah dalam diri kita—melalui kasih, belas kasih, kejujuran, dan pengabdian kita.

 

Penutup: Doa Sang Gambar Allah

Saudara-saudari, di akhir renungan ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hidup saya sudah menjadi cerminan gambar Allah? Apakah cara saya bekerja, bertutur kata, memperlakukan sesama, dan terlibat dalam masyarakat menunjukkan bahwa saya milik Allah?

Jika koin itu dapat dikembalikan kepada Kaisar karena gambarnya, maka kita pun—yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah—sepatutnya mengembalikan seluruh hidup kita kepada-Nya. Bukan karena paksaan, tetapi karena kasih. Sebab kepada-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita akan kembali.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

RELA MENJADI "GANDUM KRISTUS" DEMI KESAKSIAN IMAN

 


Renungan Katolik
Sabtu, 17 Oktober 2026 — Peringatan Santo Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir
Pekan Biasa XXVIII — Bacaan Injil: Lukas 12:8-12

 

RELA MENJADI "GANDUM KRISTUS" DEMI KESAKSIAN IMAN


Pembuka

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingati Santo Ignasius dari Antiokhia, uskup dan martir, yang menjadi teladan kesaksian iman hingga menyerahkan nyawa. Bacaan Injil Lukas 12:8-12 berbicara langsung tentang inti kesaksian itu: berani mengakui Kristus di hadapan manusia, mempercayakan diri kepada bimbingan Roh Kudus, dan tidak takut menghadapi konsekuensi apa pun. Sabda Yesus ini bukan sekadar nasihat, melainkan panggilan hidup bagi setiap murid Kristus, termasuk kita pada masa kini.

Konteks Liturgi

Pada hari ini, Gereja membacakan Injil dari Lukas 12:8-12. Dalam tradisi liturgi, peringatan Santo Ignasius dari Antiokhia diletakkan pada Pekan Biasa XXVIII. Santo Ignasius adalah Uskup Antiokhia yang hidup pada abad pertama dan kedua. Ia ditangkap karena imannya, diangkut ke Roma, dan di sana menjadi makanan binatang buas di Amphitheater Flavius. Dalam perjalanan menuju martirium, ia menulis surat-surat yang sampai kini menjadi warisan berharga bagi Gereja, terutama tentang kesatuan Gereja dan makna Ekaristi. Bacaan Injil hari ini menggema sempurna dengan kesaksian hidupnya: "Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah" (Luk 12:8).

Renungan

1. Kesaksian Iman: Pengakuan yang Nyata

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah" (Luk 12:8). Kata "mengakui" di sini bukan sekadar pengakuan bibir, melainkan pengakuan yang mengubah seluruh hidup. Mengakui Yesus berarti berani hidup menurut kebenaran-Nya, bahkan ketika lingkungan menolak atau menekan kita.

Santo Ignasius dari Antiokhia memahami hal ini dengan sangat mendalam. Ia tidak sekadar mengucapkan nama Yesus; ia menyerahkan seluruh hidupnya. Dalam suratnya kepada jemaat Roma, ia menulis: "Aku adalah gandum Kristus yang harus digiling oleh taring binatang buas, agar aku menjadi roti yang murni bagi Allah." Kalimat ini bukan retorika kosong, melainkan ungkapan kesaksian iman yang radikal. Ia rela kehilangan nyawa demi Kristus yang ia akui di depan manusia.

Bagi kita, pengakuan iman mungkin tidak selalu berarti menghadapi martirium berdarah. Namun, kita tetap dipanggil untuk mengakui Kristus di depan manusia dalam situasi sehari-hari. Ketika di kantor kita ditantang untuk berbohong demi keuntungan, ketika di sekolah kita diejek karena berdoa, atau ketika di keluarga kita ditolak karena memilih hidup jujur — di situlah pengakuan iman diuji. Yesus berjanji: jika kita mengakui Dia di dunia yang fana ini, Dia akan mengakui kita di hadapan malaikat-malaikat Allah.

2. Dosa terhadap Roh Kudus: Penolakan yang Mengikat Diri

Yesus melanjutkan: "Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni" (Luk 12:10). Apa makna sabda ini? Gereja Katolik mengajarkan bahwa dosa terhadap Roh Kudus bukanlah sekadar kata-kata buruk yang terucap secara refleks, melainkan penolakan yang keras dan sengaja terhadap kebenaran dan kasih Allah yang ditawarkan oleh Roh Kudus.

Katekismus Gereja Katolik (KGK 1864) menjelaskan bahwa dosa terhadap Roh Kudus adalah penolakan terhadap belas kasihan Allah secara sadar dan sengaja, sehingga hati menjadi keras dan tidak mampu bertobat. Santo Ignasius, yang hidup dalam bimbingan Roh Kudus, menegaskan pentingnya kesatuan dengan Gereja dan kesetiaan kepada tradisi apostolik. Ia menulis, "Di mana Uskup berada, di situ pula jemaat berkumpul, sebagaimana di mana Yesus Kristus berada, di situ pula Gereja Katolik." Kesatuan dengan Roh Kudus dan Gereja adalah cara kita menghindari kekerasan hati yang menutup pintu pengampunan.

3. Janji Penyertaan Roh Kudus: Jangan Khawatir

Puncak bacaan hari ini adalah janji Yesus: "Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan" (Luk 12:11-12). Yesus tidak menjanjikan bahwa kesaksian akan selalu mudah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan Roh Kudus. Roh Kudus-lah yang akan memberikan kata-kata yang tepat, keberanian yang cukup, dan hikmat yang diperlukan.

Santo Ignasius mengalami janji ini secara nyata. Di hadapan penguasa Romawi, ia tidak gentar. Ia tidak menyusun pidato pembelaan yang rumit, tetapi ia bersaksi dengan hidupnya. Bahkan dalam perjalanan menuju Roma, ia tetap menulis surat-surat yang menguatkan jemaat-jemaat yang ia lewati. Ia menjadi bukti hidup bahwa Roh Kudus benar-benar mengajar murid-murid Kristus apa yang harus dikatakan.

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Saudara-saudari terkasih, bagaimana kita menghidupi sabda Yesus ini?

Pertama, beranilah mengakui Kristus dalam kata dan perbuatan. Di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan RT, bahkan di media sosial, jangan takut untuk menunjukkan identitas kita sebagai Katolik. Ini tidak berarti kita harus berdebat atau memaksakan iman kita, tetapi kita dipanggil untuk hidup jujur, adil, dan penuh kasih sebagai saksi Kristus.

Kedua, jangan mengeraskan hati terhadap bimbingan Roh Kudus. Sering kali Roh Kudus berbicara melalui suara hati yang halus, melalui nasihat seorang imam, melalui sabda Tuhan dalam Kitab Suci, atau melalui peristiwa hidup yang menegur kita. Jangan abaikan suara-Nya. Bertobatlah dengan tulus, dan jangan menunda untuk kembali kepada Tuhan dalam sakramen pengakuan dosa.

Ketiga, percayakanlah kecemasan kita kepada Roh Kudus. Ketika kita dihadapkan pada situasi yang menakutkan — entah itu kesaksian iman, masalah keluarga, atau tekanan pekerjaan — ingatlah janji Yesus. Roh Kudus akan memberikan kita kata-kata yang tepat dan keberanian yang kita butuhkan. Kita hanya perlu berdoa, membuka hati, dan membiarkan Roh Kudus bekerja.

Keempat, teladanilah kesetiaan Santo Ignasius. Ia mengajarkan bahwa kesatuan dengan Kristus dan Gereja adalah harta yang paling berharga. Maka, marilah kita setia dalam doa harian, aktif dalam kehidupan sakramental, dan terlibat dalam kehidupan jemaat. Melalui Ekaristi, kita dipersatukan dengan Kristus dan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya di dunia.

Penutup

Saudara-saudari terkasih, sabda Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa menjadi murid Kristus bukanlah jalan yang selalu mudah. Akan ada tantangan, penolakan, bahkan mungkin penderitaan. Namun, kita tidak pernah sendirian. Roh Kudus, yang adalah Roh Kebenaran dan Penghibur, selalu menyertai kita.

Marilah kita meneladan Santo Ignasius dari Antiokhia, yang rela menjadi "gandum Kristus" demi kesaksian iman. Semoga melalui perantaraan doanya, kita dikuatkan untuk berani mengakui Kristus di depan manusia, dan dengan setia mendengarkan bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah hidup kita.

Amin.

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

KEMUNAFIKAN DAPAT MENYEBAR DAN MERUSAK SELURUH HIDUP

 


Renungan Katolik

Jumat, 16 Oktober 2026

Peringatan Wajib Santa Margareta Maria Alacoque, Perawan

Bacaan Injil: Lukas 12:1-7

 

KEMUNAFIKAN DAPAT MENYEBAR DAN MERUSAK SELURUH HIDUP

 

Pengantar

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja Katolik merayakan Peringatan Wajib Santa Margareta Maria Alacoque, perawan, yang dikenal karena penglihatan-penglihatan ilahi yang diterimanya mengenai Hati Yesus yang Mahakudus. Santa Margareta mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus, yang menjadi simbol kasih tak terbatas Allah kepada umat manusia. Dalam semangat kesaksian hidup Santa Margareta, kita diajak untuk merenungkan Bacaan Injil hari ini dari Lukas 12:1-7, di mana Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk menjauhi kemunafikan dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah yang penuh kasih.

Konteks Injil

Kisah Injil ini terjadi ketika ribuan orang berkumpul mengelilingi Yesus, bahkan sampai mereka saling menginjak satu sama lain. Di tengah kerumunan yang besar itu, Yesus pertama-tama berbicara kepada para murid-Nya, memberikan peringatan yang sangat penting: “Waspadalah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan”. Yesus menggunakan istilah “ragi” untuk menggambarkan kemunafikan orang Farisi, karena sebagaimana ragi dapat meresap dan mengubah seluruh adonan, demikian pula kemunafikan dapat menyebar dan merusak seluruh hidup seseorang.

Paus Fransiskus dalam homilinya pernah menjelaskan bahwa kemunafikan adalah cara hidup yang tidak jelas — “mungkin tersenyum, mungkin serius... bukan terang, bukan kegelapan”. Kemunafikan memiliki daya tarik “yang tidak mengatakan hal-hal dengan jelas; daya tarik kebohongan, penampilan”. Inilah yang harus kita waspadai dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus.

Refleksi

1. Bahaya Kemunafikan dalam Hidup Kristiani

Yesus mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui. Kemunafikan adalah dosa yang menutupi kebenaran, menciptakan jarak antara apa yang kita tampilkan di luar dan siapa kita sebenarnya di dalam. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa kebenaran adalah kebajikan yang terdiri dari menunjukkan diri kita dengan benar dalam perbuatan dan perkataan, serta menjauhkan diri dari kemunafikan dan kepalsuan (KGK 2505).

Paus Fransiskus menggambarkan kemunafikan sebagai sebuah “virus” yang berbahaya, dan Yesus memperingatkan para murid seperti seorang dokter yang berkata kepada rekan-rekannya: “Berhati-hatilah agar semua orang ini tidak tertular virus”. Kita dipanggil untuk hidup dalam terang kebenaran, karena Allah melihat segala sesuatu — bahkan apa yang kita bisikkan di kamar yang paling tertutup sekalipun akan diberitakan dari atas atap rumah.

2. Takut akan Allah: Sebuah Anugerah, Bukan Ketakutan

Yesus berkata: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepadamu siapa yang harus kamu takuti: takutlah kepada Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan ke dalam neraka”. Perkataan ini sering disalahpahami sebagai gambaran Allah yang menakutkan. Namun, ajaran Gereja Katolik menegaskan bahwa “takut akan Allah” sebagai karunia Roh Kudus tidak berarti takut kepada Allah, karena kita tahu bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengasihi kita dan selalu mengampuni kita.

Paus Fransiskus menjelaskan bahwa takut akan Allah adalah sebuah “alarm” — peringatan yang diberikan Allah kepada kita ketika kita menyimpang dari jalan yang benar. Ketika seseorang hidup dalam dosa, mengeksploitasi sesama, atau terikat pada uang, kesombongan, dan kekuasaan, maka takut akan Allah yang kudus mengingatkan: “Hati-hati! Dengan cara demikian engkau tidak akan bahagia, engkau akan berakhir dengan buruk!”. Karunia ini membuat kita menyadari bahwa suatu hari nanti segala sesuatu akan berakhir dan kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Allah.

3. Kasih Allah yang Tak Terbatas

Setelah peringatan yang serius, Yesus menghibur para murid-Nya dengan kata-kata yang penuh kelembutan: “Bukankah lima ekor burung pipit dijual dengan dua sen? Namun tidak seekor pun dari padanya dilupakan di hadapan Allah. Bahkan rambut kepalamu semuanya sudah terhitung. Jangan takut, kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit!”. Kata-kata ini menunjukkan betapa dalamnya kasih Allah kepada kita masing-masing. Yesus ingin kita menyadari bahwa kita sangat berharga di mata Allah — bahkan hal terkecil dalam hidup kita, seperti jumlah rambut di kepala kita, diperhatikan oleh-Nya.

Dalam konteks devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus yang disebarkan oleh Santa Margareta Maria Alacoque, kita diingatkan bahwa hati Kristus adalah lambang kasih yang tak terbatas dan berbelas kasih. Santa Margareta menerima panggilan khusus untuk menyebarkan devosi ini, yang kemudian menjadi salah satu devosi terpenting dalam Gereja Katolik. Kasih Hati Yesus inilah yang menjadi dasar mengapa kita tidak perlu takut — karena kita adalah anak-anak yang dikasihi oleh Bapa di surga.

Aplikasi dalam Hidup Sehari-hari

Pertama, hiduplah dalam kejujuran dan transparansi. Dalam keluarga, tempat kerja, maupun lingkungan gereja, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang jujur dan autentik. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa Yesus mencari orang-orang yang berjuang untuk hidup secara konsisten, yang berusaha menjalani kesatuan hidup. Marilah kita memeriksa diri: apakah ada bidang dalam hidup kita di mana kita menampilkan diri berbeda dari siapa kita sebenarnya? Kemunafikan dapat muncul dalam bentuk yang halus — misalnya, bersikap ramah di depan orang lain tetapi menggunjingkan mereka di belakang, atau tampil saleh di gereja tetapi tidak jujur dalam bisnis.

Kedua, kembangkan sikap takut akan Allah yang sehat. Ini berarti kita menghormati Allah dan takut untuk melukai Hati-Nya yang penuh kasih. Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan, tetapi kita perlu memiliki kesadaran yang sehat bahwa setiap pilihan kita memiliki konsekuensi kekal. Sebagaimana seorang anak yang mengasihi orang tuanya berusaha untuk tidak menyakiti hati mereka, demikian pula kita berusaha untuk hidup seturut kehendak Allah karena kita mengasihi-Nya.

Ketiga, percayakanlah hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Yesus mengingatkan kita bahwa kita jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit. Allah yang memperhatikan setiap burung pipit yang dijual dengan harga murah pasti akan memperhatikan kita yang adalah anak-anak-Nya. Ketika menghadapi kesulitan, penderitaan, atau ketakutan, marilah kita mengingat bahwa Allah tidak pernah melupakan kita. Dalam masa-masa sulit, ketika kita merasa sendirian atau ditinggalkan, kita dapat berpegang pada janji Kristus bahwa kita sangat berharga di mata-Nya.

Keempat, teladanilah kesederhanaan Santa Margareta Maria Alacoque. Santa Margareta menjalani hidup yang sederhana dan penuh ketaatan, dan melalui kesetiaannya, ia menjadi alat kasih Allah bagi banyak orang. Ia mengajarkan kita bahwa kekudusan bukanlah tentang penampilan luar, melainkan tentang hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan sesama.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

KEMUNAFIKAN ROHANI: Tampak Saleh, Menjalankan Ritual, Dihormati, Tetapi Hatinya Jauh Dari Allah

 


RENUNGAN KATOLIK

Kamis, 15 Oktober 2026
Peringatan Wajib Santa Teresa dari Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja
Pekan Biasa XXVIII
Bacaan Injil: Lukas 11:47-54

 

KEMUNAFIKAN ROHANI:

Tampak Saleh, Menjalankan Ritual, Dihormati, Tetapi Hatinya Jauh Dari Allah


Pembuka

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja memperingati Santa Teresa dari Avila, seorang mistikus besar, reformator Ordo Karmel, dan perempuan pertama yang diangkat sebagai Pujangga Gereja. Dalam konteks peringatan ini, liturgi menghadirkan bacaan Injil yang tajam: Yesus mengecam kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Santa Teresa sendiri adalah teladan hidup yang menolak kemunafikan rohani dan memilih integritas total di hadapan Allah.

Renungan

Bacaan Injil hari ini menampilkan Yesus yang tidak segan mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap mereka yang diberi tanggung jawab untuk menuntun umat, tetapi justru menyalahgunakannya. Tiga kecaman utama disampaikan Yesus:

Pertama, mereka membangun makam para nabi yang dibunuh oleh nenek moyang mereka, namun dengan demikian mereka justru menyetujui perbuatan leluhur mereka. Yesus berkata, "Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya." (Luk 11:47-48). Kemunafikan rohani terjadi ketika seseorang menghormati kebenaran secara lahiriah, tetapi hatinya menolak kebenaran itu sendiri.

Kedua, Yesus menubuatkan bahwa hikmat Allah akan mengutus para nabi dan rasul, tetapi generasi ini akan menuntut pertanggungjawaban atas darah semua nabi, "dari darah Abel sampai darah Zakharia" (Luk 11:49-51). Ini bukan sekadar kecaman historis, melainkan peringatan abadi bagi setiap generasi yang menolak suara Allah.

Ketiga, kecaman paling menusuk: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi" (Luk 11:52). Kunci pengetahuan adalah iman yang hidup, yang membuka pintu kepada Allah. Ketika para pemimpin rohani lebih mengandalkan kekuasaan, status, dan tafsiran yang kaku daripada kerendahan hati untuk mendengarkan Allah, mereka bukan hanya gagal masuk, tetapi juga menjadi penghalang bagi orang lain.

Paus Fransiskus, dalam homilinya atas perikop ini, menegaskan bahwa para doktor hukum telah "mengusir pengetahuan" tentang Allah, sehingga mereka tidak masuk ke dalam Kerajaan dan menghalangi umat yang ingin masuk. Kemunafikan rohani adalah penyakit yang halus: seseorang tampak saleh, menjalankan ritual, dan dihormati, tetapi hatinya jauh dari Allah.

Dalam bacaan pertama hari ini (Ef 1:1-10), Paulus mengingatkan bahwa "di dalam Kristus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Ef 1:4). Kekudusan bukanlah hasil penampilan lahiriah, melainkan karya kasih karunia Allah yang mengubah hati.

Santa Teresa dari Avila memahami kebenaran ini dengan mendalam. Ia hidup pada abad ke-16, masa ketika reformasi Gereja menghadapi banyak tantangan. Teresa tidak menempuh jalan kemunafikan, melainkan jalan pertobatan batin yang radikal. Ia mereformasi Ordo Karmel dengan mengembalikan semangat doa dan hidup kontemplatif yang otentik. Ia menulis dalam Buku Kehidupannya bahwa "waktu-waktu itu berbahaya", namun justru dalam bahaya itulah ia memilih kesetiaan total kepada Kristus.

Aplikasi dalam Kehidupan

Saudara-saudari terkasih, sabda Yesus hari ini menantang kita untuk memeriksa diri:

  1. Jangan menjadi penghalang bagi orang lain untuk mendekat kepada Allah. Apakah melalui sikap, perkataan, atau teladan hidup kita, kita justru membuat orang lain menjauh dari Tuhan? Sebagai orang tua, katekis, atau pemimpin umat, kita dipanggil untuk membuka pintu, bukan menutupnya.
  2. Hidup dalam integritas, bukan kemunafikan. Yesus menghendaki kesatuan antara pikiran, hati, perkataan, dan perbuatan. Iman kita tidak boleh hanya menjadi "kosmetik" lahiriah, melainkan transformasi batin yang nyata.
  3. Meneladan Santa Teresa: doa sebagai fondasi reformasi diri. Santa Teresa menyadari bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam, dari relasi pribadi dengan Kristus dalam doa. Ia berkata bahwa "reformasi Karmel lahir dari doa dan menuju doa". Demikian pula, pertobatan kita harus berakar pada perjumpaan yang hidup dengan Tuhan.
  4. Jangan takut kepada kebenaran. Kadang-kadang kita membangun "makam" bagi kebenaran—menghormatinya secara formal, tetapi menghindari tuntutannya yang radikal. Santo Teresa mengajak kita untuk berani menghadapi diri sendiri di hadapan Allah, tanpa topeng.

Amin

 

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi