Kamis, 26 Maret 2026

KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Renungan

Kamis, 26 Maret 2026


KETIKA BATU ITU ADA DI TANGAN KITA

Yohanes 8:51–59



Ada momen dalam hidup ketika kebenaran tidak lagi terasa membebaskan, tetapi justru mengancam. Saat itulah kita, sadar atau tidak, mulai menggenggam batu. Batu itu bisa bernama prasangka, kebanggaan status, kenyamanan rohani, atau ketakutan kehilangan wajah di hadapan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dipertemukan dengan sebuah adegan yang menegangkan. Yesus berbicara tentang hidup kekal, tentang ketaatan yang membawa pada persekutuan abadi dengan Allah. Namun alih-alih menyambut, pendengar-Nya justru mengambil batu untuk melempari-Nya. Mengapa? Karena mereka merasa identitas, tradisi, dan harga diri mereka terancam oleh-Nya.

Yesus berkata: “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut selama-lamanya” (Yoh 8:51). Ini bukan sekadar janji tentang umur panjang, melainkan janji tentang hidup yang tak pernah padam, bahkan ketika tubuh dikubur tanah. Namun untuk menerima janji ini, kita harus membiarkan firman itu sungguh mengakar dalam hidup—bukan sekadar didengar, tetapi dipatuhi, diterima, dan dihidupi.

Sebagai orang Katolik, kita sering merasa aman karena telah dibaptis, karena hadir di gereja setiap Minggu, atau karena lahir dari keluarga Katolik yang taat. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah warisan otomatis. Yang membedakan adalah apakah kita sungguh hidup dalam terang Sabda-Nya.

Menuruti firman berarti dalam keluarga, kita menjadi pribadi yang mengampuni meski hati terluka. Di tempat kerja, kita memilih jujur ketika ada peluang curang. Di tengah masyarakat yang majemuk, kita menjadi saksi kebenaran tanpa kehilangan hormat kepada sesama. Iman yang sejati adalah iman yang terlihat dalam tindakan keseharian.

Orang-orang Yahudi dalam Injil merasa aman karena mereka keturunan Abraham. Mereka menyandarkan keselamatan pada darah dan tradisi. Namun Yesus meluruskan dengan lembut tapi tegas: “Jika kamu adalah anak-anak Abraham, perbuatlah perbuatan Abraham” (Yoh 8:39).

Kita pun rentan pada jebakan serupa. Kita berkata dalam hati: “Saya sudah lama di lingkungan,” atau “Saya sudah aktif melayani,” atau “Saya tahu ajaran Gereja.” Itu semua baik, tetapi belum cukup. Yang menentukan adalah hubungan pribadi kita dengan Yesus, yang diwujudkan dalam kesediaan untuk terus berubah, terus bertumbuh, dan terus taat.

Puncak dari perikop ini sungguh dahsyat. Yesus berkata: “Sebelum Abraham jadi, Aku sudah ada” (Yoh 8:58). Dengan kata “Aku sudah ada” , Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang kekal, yang pernah menyatakan nama-Nya kepada Musa di semak duri. Inilah inti iman kita: Yesus bukan sekadar guru bijak atau nabi agung. Ia adalah Allah sendiri yang datang menjumpai kita, merendahkan diri dalam rupa manusia, dan memberi kita hidup kekal melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Di sinilah orang-orang Yahudi merasa tersinggung. Mereka menganggap pernyataan itu sebagai hujat. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah pertemuan antara kebenaran yang membebaskan dan hati yang belum siap melepaskan kendali.

Abraham disebut sebagai tokoh yang bersukacita melihat hari Yesus. Ia percaya kepada janji Allah meski belum melihat penggenapannya. Ia meninggalkan kenyamanan, mempertaruhkan masa depan, dan menyerahkan apa yang paling dicintainya. Iman Abraham bukan iman yang diam, melainkan iman yang terus melangkah, bertanya, taat, dan berserah.

Kita pun dipanggil untuk memiliki iman yang dinamis. Di tengah budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kental, kita diajak untuk tidak menjadikan tradisi sebagai tembok yang membuat kita keras hati terhadap pembaharuan. Tradisi adalah baik, tetapi harus selalu diterangi oleh Sabda yang hidup.

Ketika orang-orang Yahudi mengambil batu, mereka sedang menunjukkan apa yang ada dalam hati mereka: kekecewaan yang berubah menjadi amarah, kebanggaan yang terluka, dan ketidakmauan untuk bertobat.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: batu apa yang sedang kita genggam saat ini?
Mungkin itu adalah dendam yang belum kita maafkan. Mungkin itu adalah rasa puas diri yang membuat kita merasa lebih benar dari orang lain. Mungkin itu adalah keengganan untuk mengubah cara hidup yang sudah nyaman, meskipun hati nurani terus menggugat.

Renungan ini mengajak kita untuk meletakkan batu-batu itu di kaki Tuhan. Sebab kebenaran yang datang dari Yesus tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membebaskan kita—membebaskan kita dari ilusi kekuasaan, dari jaminan palsu, dari rasa aman yang semu.

Marilah kita membuka hati untuk dibebaskan. Kebenaran sejati tidak selalu nyaman, tetapi selalu membawa kita pada hidup yang sejati. Semoga kita tidak termasuk orang yang mengambil batu, melainkan termasuk mereka yang merendahkan hati, mendengarkan Sabda, dan membiarkan-Nya menjadi jalan, kebenaran, dan hidup kita. Amin.


Sorang Tumanggor, S.Ag 

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

 

1 komentar: