Senin, 20 Juli 2026

AKU TELAH MELIHAT TUHAN!

RENUNGAN HARIAN

Pesta Santa Maria Magdalena

Rabu, 22 Juli 2026

(Yohanes 20:1, 11-18)

AKU TELAH MELIHAT TUHAN!

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memandang seorang tokoh istimewa yang oleh tradisi Kristen disebut sebagai Apostola Apostolorum —Rasul dari para Rasul. Ia adalah Santa Maria Magdalena. Bukan kebetulan jika bacaan Injil pada perayaannya membawa kita pada adegan yang penuh haru di pagi hari Paskah: seorang perempuan yang menangis di depan kubur kosong, lalu menjadi saksi pertama kebangkitan Tuhan.

Perjalanan iman Maria Magdalena tidak dimulai dari kesempurnaan. Ia adalah seorang yang pernah dikuasai tujuh roh jahat dan dibebaskan oleh Yesus. Ia juga termasuk di antara perempuan-perempuan yang mengikuti dan melayani Yesus serta para murid dengan kekayaan mereka. Dari seorang yang menderita, ia menjadi murid yang setia; dari seorang yang dibebaskan, ia menjadi pelayan. Inilah gambaran kasih Kristus yang menyelamatkan—tidak memandang latar belakang, tetapi membuka jalan bagi setiap orang untuk menjadi pengikut-Nya.

 

1. Kesetiaan dalam Kegelapan

Mari kita perhatikan kesetiaan Maria. Injil mencatat bahwa ia hadir di bawah salib ketika Yesus wafat. Ketika murid-murid laki-laki yang lain bersembunyi karena takut, Maria tetap berada di dekat Gurunya. Dan pada hari pertama minggu itu, “pagi-pagi benar ketika hari masih gelap,” ia pergi ke kubur [Yohanes 20:1]. Kegelapan pagi hari menjadi simbol kegelapan hatinya—kehilangan, duka, ketidakpastian. Namun, ia tetap datang. Ia datang karena cinta.

Saudara-saudari terkasih, kesetiaan Maria mengajarkan kita satu hal penting: cinta sejati tidak pernah menghitung risiko; ia tetap bertahan meskipun dunia terasa gelap. Berapa kali kita justru menjauh ketika iman kita diuji? Berapa kali kita memilih aman dan nyaman daripada tetap setia? Maria Magdalena memberi kita teladan bahwa kesetiaan dalam penderitaan membuka jalan bagi pertemuan dengan kebangkitan.

 

2. Air Mata yang Tak Sia-sia

Saat mendapati kubur kosong, Maria berlari memberitahu Petrus dan murid yang dikasihi Yesus. Namun setelah mereka pergi, Maria tetap tinggal. Ia “berdiri dekat kubur itu dan menangis” [Yohanes 20:11]. Air matanya bukanlah air mata orang yang putus asa—melainkan air mata kerinduan. Ia mencari Dia yang dicintainya, bahkan dalam kehampaan. Ia tidak puas hanya melihat kain kafan; ia ingin melihat Yesus sendiri.

Saudara-saudari, kita sering kali hidup dalam situasi yang “gelap”—entah itu tantangan ekonomi, perpecahan keluarga, pergumulan batin, atau bahkan keraguan akan iman. Namun kita dipanggil untuk tidak tinggal diam dalam kegelapan itu. Seperti Maria, kita diajak untuk mencari Tuhan, untuk terus merindukan kehadiran-Nya.

Malaikat dan Yesus sendiri bertanya kepadanya: “Mengapa engkau menangis?” [Yohanes 20:13, 15]—sebuah pertanyaan yang menunjukkan bahwa Allah melihat setiap duka kita. Allah tidak membiarkan kita menangis tanpa makna. Bahkan di tengah tangisan kita, kita dapat menjadi saksi kebangkitan-Nya. Air mata Maria menjadi saksi iman yang mendalam dan kerinduan yang murni kepada Sang Guru.

 

3. Dipanggil dengan Nama

Puncak pertemuan terjadi ketika Yesus memanggil namanya: “Maria!” Seketika itu juga, Maria berpaling dan berseru: “Rabuni!”—artinya Guru [Yohanes 20:16]. Suara Gembala dikenal oleh domba-domba-Nya [Yohanes 10:4]. Maria dikenali dan dipanggil secara pribadi. Itulah rahasia iman yang hidup: iman bukan sekadar pengetahuan tentang Yesus, melainkan relasi pribadi dengan-Nya—sebuah pertemuan di mana nama kita disebut dan hati kita dikenali.

Kita sering mendengar ajaran tentang Yesus. Kita mengenal katekismus, kita mendengar homili, kita mengikuti Misa. Namun, pernahkah kita benar-benar mendengar Yesus memanggil nama kita dengan kasih? Pernahkah kita merasakan bahwa Dia hadir bukan hanya sebagai guru di mimbar, tetapi sebagai Tuhan yang menyapa hati kita?

Maria tidak mengenali Yesus ketika melihat-Nya; ia mengira Dia tukang kebun. Ia mengenali Yesus ketika suara-Nya memanggil namanya—sebuah pengalaman yang tidak bisa dipalsukan. Kita pun dipanggil untuk mendengar suara-Nya: dalam doa, dalam Sabda yang dibacakan, dalam sakramen, dan dalam sesama yang kita jumpai. Dengarkanlah: Yesus memanggil nama setiap kita.

 

4. Misi Pewartaan

Setelah mengenali Yesus, Maria menerima sebuah amanat. Yesus berkata: “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka…” [Yohanes 20:17]. Maria diutus untuk menjadi saksi—untuk mengabarkan bahwa Dia bangkit dan bahwa Dia naik kepada Bapa-Nya dan Bapa kita.

Perhatikan bahwa misi ini ia jalankan dengan segera: “Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: ‘Aku telah melihat Tuhan!’” [Yohanes 20:18]. Ia tidak menyimpan sendiri kebahagiaan kebangkitan itu. Ia menjadi pewarta pertama—bukan karena ia paling hebat, tetapi karena ia paling setia dan paling merindukan Yesus.

Saudara-saudari, kitapun dipanggil menjadi pewarta kebangkitan—di lingkungan keluarga, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat. Wartakanlah dengan hidup kita: bahwa Kristus bangkit dan memberikan pengharapan; bahwa kegelapan tidak memiliki kata akhir; bahwa cinta-Nya lebih kuat dari kematian.

 


Berani Menjadi Saksi

Maria Magdalena mengajarkan kita bahwa menjadi saksi Kristus bukanlah soal jabatan atau gelar, melainkan soal kesetiaan dalam cinta dan keberanian untuk pergi dan memberitakan apa yang telah kita lihat dan dengar. Pagi ini, Ia memanggil setiap kita—bukan berdasarkan status, tetapi berdasarkan kerinduan hati yang mencari Allah.

Marilah kita belajar dari Maria: setia dalam duka, berani mencari di tengah kegelapan, peka terhadap suara Tuhan yang memanggil nama kita, dan pergi mewartakan kebangkitan-Nya. Sebab kebangkitan itu nyata—dan kita semua diundang untuk menjadi saksinya.

Santa Maria Magdalena, doakanlah kami agar kami pun berani berkata: “Aku telah melihat Tuhan!” dan hidup kami menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar