Renungan
Rabu, 8 Juli 2026
Bacaan Injil Matius 10:1-7
DIPILIH, DIBERI KUASA, DAN DIUTUS
I. Pendahuluan: Panggilan yang
Menyentuh Keseharian
Sahabat Religi,
Pernahkah kita merasa "tidak
cukup" untuk melakukan sesuatu? Mungkin kita merasa terlalu biasa, terlalu
banyak kekurangan, atau tidak memiliki kemampuan istimewa untuk membuat
perbedaan di dunia ini. Bacaan Injil hari ini memberikan kabar baik yang luar
biasa: Yesus tidak memanggil orang-orang sempurna. Ia memanggil orang-orang
biasa—seperti kita—dan memberi mereka kuasa untuk melakukan hal-hal luar biasa.
Hari ini kita mendengar Injil
Matius 10:1-7, tentang Yesus yang memanggil kedua belas murid-Nya. Mari kita
renungkan tiga hal penting: panggilan, kuasa, dan perutusan yang
juga berlaku bagi kita saat ini.
II. Mereka Yang Dipilih: Dari
Manusia Biasa Menjadi Rasul
Perhatikanlah daftar nama kedua
belas rasul. Matius menuliskan dengan jujur latar belakang mereka: ada Simon
yang disebut Petrus—nelayan yang seringkali impulsif dan tergesa-gesa; ada
Yakobus dan Yohanes—anak-anak Zebedeus yang dikenal dengan julukan "anak-anak
guruh" karena sifatnya yang meledak-ledak ; ada Matius—seorang
pemungut cukai yang dianggap pengkhianat oleh bangsa Yahudi karena bekerja
untuk Romawi ; dan ada Simon orang Zelot—seorang nasionalis radikal yang
justru ingin menggulingkan pemerintahan Romawi.
Bayangkan: di dalam kelompok
kecil ini ada musuh bebuyutan. Matius, si pemungut cukai, dan Simon orang
Zelot, yang membenci orang-orang seperti Matius. Namun Yesus memanggil mereka
semua. Bahkan Yudas Iskariot—yang kelak mengkhianati Yesus—juga dipilih dan
dilibatkan dalam misi ini.
Apa pesan bagi kita? Tuhan
tidak mencari orang yang sempurna; Ia mencari hati yang bersedia. Seperti
yang diingatkan oleh renungan hari ini, "kelebihan merupakan anugerah
untuk melayani, sedangkan kekurangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam
kerendahan hati". Di mata Tuhan, bukan kesempurnaan yang menjadi syarat
untuk melayani, melainkan kesediaan hati untuk menjawab panggilan-Nya.
Kita semua memiliki kelebihan dan
kekurangan. Namun Tuhan tetap memanggil kita untuk menjadi bagian dari rencana
keselamatan-Nya.
III. Kuasa yang Diberikan:
Bukan Untuk Diri Sendiri
Matius mencatat bahwa Yesus
"memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk
melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan" (Mat 10:1).
Kuasa ini bukanlah kuasa
duniawi—bukan kekuasaan, kekayaan, atau popularitas. Kuasa ini adalah kuasa
untuk membebaskan: membebaskan dari kejahatan, dari penyakit, dari segala
kelemahan yang mengikat manusia . Ini adalah kuasa kasih yang
menyembuhkan, kuasa Kerajaan Allah yang hadir di tengah-tengah dunia.
Yesus menginginkan agar semua
pengikut-Nya berperang melawan kuasa-kuasa kejahatan—bukan dengan senjata,
tetapi dengan kasih, kebaikan, dan kebenaran . Pemberitaan Kerajaan Allah
harus disertai dengan penyataan kuasa Allah terhadap dosa, penyakit, dan
kejahatan.
Aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari? Kita mungkin tidak diutus untuk mengusir setan secara literal
seperti para rasul. Namun kita diutus untuk menjadi "saksi-saksi
Kristus" di tengah masyarakat dengan cara hidup kita: menjadi orang yang
baik, benar, jujur, dan adil . Kesaksian hidup kita itulah yang menjadi
"pewartaan" kita kepada dunia.
Ketika kita menolong orang yang
sedang kesulitan, menghibur yang berduka, membela kebenaran, memaafkan yang
bersalah—kita sedang menyatakan kuasa Kerajaan Allah yang sudah dekat. Kita
sedang menjadi saluran kasih Allah yang membebaskan.
IV. Perutusan: Bukan tentang
Kerajaan Kita
Yesus berpesan kepada para murid:
"Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota
orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat
Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat" (Mat
10:5-7).
Pesan ini mengingatkan kita
tentang fokus perutusan: kita diutus untuk mewartakan Kerajaan
Allah, bukan kerajaan kita sendiri . Kita adalah utusan, bukan tuan yang
mengutus. Kita menyampaikan pesan dari Yang Mengutus, bukan kemauan kita
sendiri .
Kerajaan Allah adalah tentang
kedamaian, kebenaran, keadilan, sukacita, dan harapan . Bukan tentang
ambisi pribadi, keinginan berkuasa, atau kepentingan kelompok. Ketika kita
melayani, kita melayani untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama, bukan untuk
pujian atau keuntungan pribadi.
V. Kesimpulan: Kita Semua
Adalah Murid yang Diutus
Sahabat Religi,
Kisah pengutusan kedua belas
rasul dalam Injil hari ini bukanlah kisah kuno yang jauh dari kehidupan kita.
Ini adalah kisah tentang panggilan yang terus bergema hingga hari ini.
Kita semua—melalui sakramen
Baptis dan Krisma—telah dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi Kristus .
Kita mungkin tidak diutus untuk pergi ke kota-kota seperti para rasul, tetapi
kita diutus ke tempat kita berada: keluarga, tempat kerja, lingkungan sekitar.
Pertanyaan yang perlu kita
renungkan:
- Apakah saya menyadari bahwa Tuhan memanggil
saya apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan?
- Apakah saya menggunakan "kuasa" yang
Tuhan berikan—baik itu talenta, waktu, atau kesempatan—untuk membebaskan
dan menolong sesama?
- Apakah yang saya wartakan melalui hidup saya
adalah Kerajaan Allah, atau justru kerajaan saya sendiri?
Ingatlah pesan terakhir dalam
bacaan ini: kita menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan
cuma-cuma . Kasih yang kita terima dari Tuhan bukan untuk kita simpan
sendiri, melainkan untuk kita bagikan.
Marilah kita melangkah keluar
dengan keberanian, menyadari bahwa kita dipanggil, diberi kuasa, dan diutus
oleh Yesus sendiri. Kerajaan Sorga sudah dekat—dan kita adalah pembawa
kabar sukacita itu.
Tuhan memberkati kita semua.
Amin.
Sorang Tumanggor,
S.Ag
Penyuluh Agama
Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar