RENUNGAN HARIAN
Senin, 20 Juli 2026
Injil Matius 12:38-42
LEBIH DARIPADA YUNUS DAN SALOMO
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi
1. “Kami Ingin Melihat Tanda”
Saudara-saudari yang dikasihi
Kristus,
Pernahkah kita merasa bahwa hidup
ini seperti sedang menunggu—menunggu bukti, menunggu kepastian, menunggu Allah
menunjukkan diri-Nya dengan cara yang jelas dan spektakuler? Mungkin ketika doa
sepertinya belum dijawab, ketika usaha belum membuahkan hasil, ketika sakit
belum juga sembuh, kita ingin berkata: “Tuhan, tunjukkanlah aku suatu tanda.”
Pada hari ini, Gereja menyuguhkan
kepada kita sebuah perjumpaan yang sangat manusiawi. Para ahli Taurat dan orang
Farisi datang kepada Yesus dan berkata: “Guru, kami ingin melihat suatu
tanda dari pada-Mu” (Mat 12:38).
Mereka adalah orang-orang yang
ahli dalam Kitab Suci. Mereka tahu sejarah keselamatan. Mereka telah
menyaksikan banyak mukjizat Yesus—orang buta melihat, orang lumpuh berjalan,
orang kerasukan disembuhkan. Namun, mereka tetap berkata: “Tunjukkanlah tanda.”
Sebenarnya, mereka tidak sedang mencari kebenaran; mereka sedang menguji dan
menjebak.
2. Menegur Sikap Hati:
“Angkatan yang Jahat dan Tidak Setia”
Yesus menanggapi permintaan
mereka dengan tegas, bahkan tajam: “Angkatan yang jahat dan tidak setia
ini menuntut suatu tanda” (Mat 12:39).
Kata yang digunakan Yesus untuk
“tidak setia” dalam bahasa aslinya berarti “berzinah”. Dalam Perjanjian Lama,
persekutuan antara Allah dan umat-Nya sering digambarkan seperti ikatan
pernikahan. Maka, ketika umat berpaling dan menuntut bukti di luar iman, itu
adalah ketidaksetiaan, seperti seorang istri yang meragukan cinta suaminya dan
menuntut pembuktian terus-menerus.
Inilah teguran Yesus bagi kita
semua. Seringkali kita mencari Allah dalam hal-hal yang besar, dalam mukjizat
yang bombastis, dalam tanda-tanda yang spektakuler. Namun, kita lupa bahwa
Allah setiap hari berbicara dalam kesunyian, dalam Sabda yang dibacakan, dalam
Ekaristi yang dirayakan, dalam wajah saudara kita yang menderita.
3. Tanda Yunus: Kematian dan
Kebangkitan
Namun, Yesus tidak menutup pintu
sama sekali. Ia memberikan satu tanda: “tanda nabi Yunus”.
“Sebab seperti Yunus tinggal
di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan
tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40).
Saudara-saudari, tanda yang
diberikan Yesus bukanlah pertunjukan kuasa dari langit, melainkan tanda
penderitaan, kematian, dan kebangkitan. Yesus menunjuk pada misteri
Paskah-Nya. Ia mengatakan bahwa tanda terbesar yang akan membuktikan siapa
diri-Nya adalah ketika Ia mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga.
Inilah kabar baik bagi kita:
Allah tidak datang dengan kekuasaan yang menekan, tetapi dalam kelemahan salib.
Ia tidak memberi kita tontonan, tetapi persekutuan dalam penderitaan-Nya. Bagi
mereka yang mencari keselamatan, salib adalah tanda kasih yang paling nyata.
4. Pelajaran dari Orang Niniwe
dan Ratu Syeba
Yesus lalu memberikan dua
perbandingan yang sangat menusuk hati para pendengar-Nya, dan juga menusuk hati
kita.
Pertama, orang-orang Niniwe. Mereka
adalah bangsa kafir yang tidak mengenal Allah. Namun ketika Nabi Yunus—yang
hanya seorang manusia biasa—berseru agar mereka bertobat, mereka segera
berpuasa dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Yesus berkata bahwa pada hari
penghakiman, mereka akan menjadi saksi yang menghukum angkatan yang
menolak-Nya, “sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar
pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Mat
12:41).
Kedua, Ratu dari Selatan (Ratu
Syeba). Ia datang dari ujung bumi, menempuh perjalanan jauh dan
melelahkan, hanya untuk mendengar hikmat Salomo. Ia tidak menuntut tanda; ia
datang dengan kerinduan untuk belajar. Yesus berkata: “Dan sesungguhnya
yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Mat 12:42).
Bayangkan betapa kerasnya hati
orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Orang kafir yang tidak tahu apa-apa justru
bertobat dan mencari kebenaran dengan susah payah. Tetapi mereka yang telah
melihat dan mendengar Yesus secara langsung—yang lebih besar daripada Yunus dan
Salomo—justru menolak dan menuntut tanda lebih banyak.
5. Relevansi bagi Masa Kini
Saudara-saudari yang terkasih,
bacaan ini sangat berbicara kepada kita, di tengah kehidupan sehari-hari.
Pertama, kita sering menjadi
orang yang “ingin melihat tanda.” Kita sering berkata: “Tuhan, jika
Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah padaku.” Kita ingin mukjizat penyembuhan
instan, kita ingin rezeki datang tanpa usaha, kita ingin semua masalah selesai
seketika. Kita lupa bahwa Yesus sudah memberikan diri-Nya sendiri. Kita
memiliki Sabda-Nya dalam Kitab Suci, kita memiliki Tubuh dan Darah-Nya dalam
Ekaristi, kita memiliki Gereja-Nya sebagai pemandu. Apakah itu semua
belum cukup?
Kedua, kita dipanggil untuk
bertobat dengan rendah hati, bukan dengan arogansi. Orang Niniwe tidak
pandai dalam teologi, tetapi mereka tahu mereka berdosa dan perlu berbalik. Di
tengah masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya sopan santun, kita mungkin
tampak “religius” di luar, tetapi bagaimana dengan hati kita? Apakah kita
mendengar suara Tuhan dan bertobat, atau justru kita hanya menjalankan ritual
tanpa perubahan hidup?
Ketiga, kita memiliki sesuatu
yang “lebih dari Salomo” di tengah kita. Di setiap Misa, kita tidak
hanya mendengar hikmat, tetapi kita menyentuh dan menerima Kristus sendiri.
Apakah kita datang ke gereja dengan semangat Ratu Syeba—dengan kerinduan
mendalam untuk mencari Tuhan—ataukah kita datang hanya karena kewajiban atau
kebiasaan?
6. Keterbukaan Hati adalah
Tanda yang Sejati
Saudara-saudari, Yesus tidak
ingin kita menjadi pencari tanda yang gelisah. Ia ingin kita menjadi orang yang
percaya dan bertobat. Mukjizat terbesar bukanlah ketika air berubah menjadi
anggur, tetapi ketika hati yang keras berubah menjadi hati yang lembut dan mau
mendengar.
Marilah kita tinggalkan sikap
“menuntut” kita di hadapan Allah. Marilah kita belajar menjadi seperti orang
Niniwe yang segera bertobat, dan seperti Ratu Syeba yang rela berjalan jauh
untuk mencari kebenaran. Karena sesungguhnya, Kristus yang lebih besar daripada
Yunus dan Salomo tinggal di tengah kita setiap hari. Yang Ia minta
hanyalah hati yang terbuka.
Semoga Roh Kudus menuntun kita
untuk mengenali kehadiran-Nya dalam kesederhanaan setiap hari. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar