Minggu, 19 Juli 2026

LEBIH DARIPADA YUNUS DAN SALOMO

RENUNGAN HARIAN

Senin, 20 Juli 2026
Injil Matius 12:38-42

LEBIH DARIPADA YUNUS DAN SALOMO

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 

1. “Kami Ingin Melihat Tanda”

Saudara-saudari yang dikasihi Kristus,

Pernahkah kita merasa bahwa hidup ini seperti sedang menunggu—menunggu bukti, menunggu kepastian, menunggu Allah menunjukkan diri-Nya dengan cara yang jelas dan spektakuler? Mungkin ketika doa sepertinya belum dijawab, ketika usaha belum membuahkan hasil, ketika sakit belum juga sembuh, kita ingin berkata: “Tuhan, tunjukkanlah aku suatu tanda.”

Pada hari ini, Gereja menyuguhkan kepada kita sebuah perjumpaan yang sangat manusiawi. Para ahli Taurat dan orang Farisi datang kepada Yesus dan berkata: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu” (Mat 12:38).

Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam Kitab Suci. Mereka tahu sejarah keselamatan. Mereka telah menyaksikan banyak mukjizat Yesus—orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kerasukan disembuhkan. Namun, mereka tetap berkata: “Tunjukkanlah tanda.” Sebenarnya, mereka tidak sedang mencari kebenaran; mereka sedang menguji dan menjebak.

 

2. Menegur Sikap Hati: “Angkatan yang Jahat dan Tidak Setia”

Yesus menanggapi permintaan mereka dengan tegas, bahkan tajam: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda” (Mat 12:39).

Kata yang digunakan Yesus untuk “tidak setia” dalam bahasa aslinya berarti “berzinah”. Dalam Perjanjian Lama, persekutuan antara Allah dan umat-Nya sering digambarkan seperti ikatan pernikahan. Maka, ketika umat berpaling dan menuntut bukti di luar iman, itu adalah ketidaksetiaan, seperti seorang istri yang meragukan cinta suaminya dan menuntut pembuktian terus-menerus.

Inilah teguran Yesus bagi kita semua. Seringkali kita mencari Allah dalam hal-hal yang besar, dalam mukjizat yang bombastis, dalam tanda-tanda yang spektakuler. Namun, kita lupa bahwa Allah setiap hari berbicara dalam kesunyian, dalam Sabda yang dibacakan, dalam Ekaristi yang dirayakan, dalam wajah saudara kita yang menderita.

 

3. Tanda Yunus: Kematian dan Kebangkitan

Namun, Yesus tidak menutup pintu sama sekali. Ia memberikan satu tanda: “tanda nabi Yunus”.

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40).

Saudara-saudari, tanda yang diberikan Yesus bukanlah pertunjukan kuasa dari langit, melainkan tanda penderitaan, kematian, dan kebangkitan. Yesus menunjuk pada misteri Paskah-Nya. Ia mengatakan bahwa tanda terbesar yang akan membuktikan siapa diri-Nya adalah ketika Ia mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga.

Inilah kabar baik bagi kita: Allah tidak datang dengan kekuasaan yang menekan, tetapi dalam kelemahan salib. Ia tidak memberi kita tontonan, tetapi persekutuan dalam penderitaan-Nya. Bagi mereka yang mencari keselamatan, salib adalah tanda kasih yang paling nyata.

 

4. Pelajaran dari Orang Niniwe dan Ratu Syeba

Yesus lalu memberikan dua perbandingan yang sangat menusuk hati para pendengar-Nya, dan juga menusuk hati kita.

Pertama, orang-orang Niniwe. Mereka adalah bangsa kafir yang tidak mengenal Allah. Namun ketika Nabi Yunus—yang hanya seorang manusia biasa—berseru agar mereka bertobat, mereka segera berpuasa dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Yesus berkata bahwa pada hari penghakiman, mereka akan menjadi saksi yang menghukum angkatan yang menolak-Nya, “sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Mat 12:41).

Kedua, Ratu dari Selatan (Ratu Syeba). Ia datang dari ujung bumi, menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, hanya untuk mendengar hikmat Salomo. Ia tidak menuntut tanda; ia datang dengan kerinduan untuk belajar. Yesus berkata: “Dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Mat 12:42).

Bayangkan betapa kerasnya hati orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Orang kafir yang tidak tahu apa-apa justru bertobat dan mencari kebenaran dengan susah payah. Tetapi mereka yang telah melihat dan mendengar Yesus secara langsung—yang lebih besar daripada Yunus dan Salomo—justru menolak dan menuntut tanda lebih banyak.

 


5. Relevansi bagi Masa Kini

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan ini sangat berbicara kepada kita, di tengah kehidupan sehari-hari.

Pertama, kita sering menjadi orang yang “ingin melihat tanda.” Kita sering berkata: “Tuhan, jika Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah padaku.” Kita ingin mukjizat penyembuhan instan, kita ingin rezeki datang tanpa usaha, kita ingin semua masalah selesai seketika. Kita lupa bahwa Yesus sudah memberikan diri-Nya sendiri. Kita memiliki Sabda-Nya dalam Kitab Suci, kita memiliki Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi, kita memiliki Gereja-Nya sebagai pemandu. Apakah itu semua belum cukup?

Kedua, kita dipanggil untuk bertobat dengan rendah hati, bukan dengan arogansi. Orang Niniwe tidak pandai dalam teologi, tetapi mereka tahu mereka berdosa dan perlu berbalik. Di tengah masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya sopan santun, kita mungkin tampak “religius” di luar, tetapi bagaimana dengan hati kita? Apakah kita mendengar suara Tuhan dan bertobat, atau justru kita hanya menjalankan ritual tanpa perubahan hidup?

Ketiga, kita memiliki sesuatu yang “lebih dari Salomo” di tengah kita. Di setiap Misa, kita tidak hanya mendengar hikmat, tetapi kita menyentuh dan menerima Kristus sendiri. Apakah kita datang ke gereja dengan semangat Ratu Syeba—dengan kerinduan mendalam untuk mencari Tuhan—ataukah kita datang hanya karena kewajiban atau kebiasaan?

 

6. Keterbukaan Hati adalah Tanda yang Sejati

Saudara-saudari, Yesus tidak ingin kita menjadi pencari tanda yang gelisah. Ia ingin kita menjadi orang yang percaya dan bertobat. Mukjizat terbesar bukanlah ketika air berubah menjadi anggur, tetapi ketika hati yang keras berubah menjadi hati yang lembut dan mau mendengar.

Marilah kita tinggalkan sikap “menuntut” kita di hadapan Allah. Marilah kita belajar menjadi seperti orang Niniwe yang segera bertobat, dan seperti Ratu Syeba yang rela berjalan jauh untuk mencari kebenaran. Karena sesungguhnya, Kristus yang lebih besar daripada Yunus dan Salomo tinggal di tengah kita setiap hari. Yang Ia minta hanyalah hati yang terbuka.

Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk mengenali kehadiran-Nya dalam kesederhanaan setiap hari. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar