Renungan
Sabtu, 11 Juli 2026
Bacaan Injil: Matius 10:24-33
MENJADI MURID DI ZAMAN YANG MENANTANG:
MENGAKUI KRISTUS DI ERA DIGITAL
Saudara-saudari terkasih dalam
Kristus,
Hari ini kita merayakan pesta
Santo Benediktus dari Nursia, Bapa Monastisisme Barat dan Pelindung Eropa.
Seorang tokoh besar yang hidup pada abad ke-6, yang di tengah kekacauan
jatuhnya Kekaisaran Romawi, justru membangun peradaban baru di atas fondasi doa
dan kerja—Ora et Labora. Santo Benediktus mengajarkan kita bahwa iman
bukanlah pelarian dari dunia, melainkan keterlibatan penuh di dalamnya.
Dan bacaan Injil yang kita dengar
hari ini dari Matius 10:24-33 berbicara tepat tentang hal itu: bagaimana
menjadi murid Kristus di tengah dunia yang seringkali menolak Sang Guru. Yesus
berkata, "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau
seorang hamba dari pada tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi
seisi rumahnya" (Mat 10:24-25).
Tiga Pesan Kebenaran untuk
Menghadapi Ketakutan
1. Menghadapi Realita: Salib
Adalah Bagian dari Perjalanan
Saudara-saudari, Yesus tidak
menjanjikan jalan yang mudah. Ia justru mempersiapkan para murid-Nya akan
kenyataan pahit: dunia mungkin menolak mereka seperti dunia menolak-Nya. Santo
Benediktus mendirikan biara-biara di Monte Cassino dan tempat-tempat lain,
namun ia juga menghadapi perlawanan, bahkan percobaan pembunuhan. Ia tidak lari
dari tantangan; ia menghadapinya dengan iman.
Kita juga sering tergoda untuk
mencari pelarian. Ketika iman kita dipertanyakan di tempat kerja, ketika
nilai-nilai Kristiani kita diejek di media sosial, atau ketika kita merasa malu
untuk mengaku sebagai pengikut Kristus di tengah kerumunan. Namun Yesus
mengingatkan kita: "Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi
sama seperti gurunya" .
Yang menarik, akhir dari
Yesus bukanlah kayu salib, melainkan kebangkitan. Salib adalah
jalan yang harus dilalui—bukan tujuan akhir. Ketika kita menerima salib dalam
hidup, kita sedang belajar untuk menerima realita, untuk hidup di "sini
dan saat ini" sebagaimana Kristus mengajar kita. Kita tidak boleh lari
dari salib, karena melarikan diri berarti melarikan diri dari kehidupan itu
sendiri .
2. Mengalahkan Ketakutan akan
Manusia
Tiga kali Yesus mengulangi kata
"jangan takut" dalam bacaan ini. Mengapa? Karena ketakutan adalah
musuh terbesar iman kita. Kita takut kehilangan popularitas, takut dicap
"konservatif" atau "kolot" karena membela ajaran Gereja
tentang kehidupan, perkawinan, atau martabat manusia. Kita takut kehilangan
pekerjaan, takut ditolak keluarga, takut diasingkan lingkungan.
Yesus berkata: "Janganlah
kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa
membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik
jiwa maupun tubuh di dalam neraka" (Mat 10:28) .
Ini bukan ajakan untuk takut
kepada Allah secara negatif, melainkan panggilan untuk menempatkan kesetiaan
kepada-Nya sebagai prioritas tertinggi. Di dunia di mana kebenaran seringkali
dikalahkan oleh kebohongan—yang menyebar lebih cepat di dunia digital—kita
dipanggil untuk menjadi saksi kebenaran. Santo Benediktus mendirikan
komunitas-komunitas yang menjadi "benteng" kebenaran di tengah
kegelapan Eropa abad pertengahan. Kini giliran kita untuk menjadi terang di
tengah kegelapan zaman ini.
3. Mengakui Kristus dengan
Berani
Bagian paling tegas dari bacaan
hari ini adalah janji sekaligus peringatan Yesus: "Setiap orang
yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku
yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga
akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Mat
10:32-33) .
Mengakui Kristus bukan sekadar
mengucapkan "Saya Katolik" di formulir data diri. Mengakui Kristus
berarti homologeo dalam bahasa Yunani—mengakui Dia sebagai
Tuhan atas seluruh hidup kita, dan dengan terus terang mengakui
prinsip-prinsip-Nya di hadapan orang lain, bahkan di hadapan mereka yang
menentang.
Saudara-saudari, di sinilah
tantangan aktual kita. Mengakui Kristus di era digital. Di grup
WhatsApp keluarga atau teman kerja, di komentar media sosial, dalam obrolan
santai di kantin kantor. Apakah kita berani membela iman ketika ada yang
menghina Gereja? Apakah kita berani mengatakan bahwa pernikahan adalah sakramen
antara pria dan wanita? Apakah kita berani mengatakan bahwa hidup manusia harus
dilindungi dari pembuahan hingga kematian alami?
Bukan dengan kemarahan atau
kebencian, tetapi dengan kasih dan kebenaran. Seperti Santo Benediktus yang
memenangkan Eropa bukan dengan pedang, melainkan dengan doa, kerja, dan
kesaksian hidup.
Allah yang Memelihara
Milik-Nya
Saudara-saudari, di balik semua
panggilan ini, ada kabar sukacita yang luar biasa. Yesus memberi kita alasan
untuk tidak takut:
Pertama, kebenaran pada
akhirnya akan menang. Segala yang tersembunyi akan dinyatakan. Ketidakadilan,
kebohongan, dan kejahatan tidak akan bertahan selamanya.
Kedua, Allah begitu
memperhatikan kita. "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit?
Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya" (Mat 10:29-30).
Jika Allah memelihara burung pipit yang kecil, terlebih lagi kita,
anak-anak-Nya yang terkasih.
Ketiga, nilai kita di mata
Allah sungguh tak terhingga. "Sebab itu janganlah kamu takut,
karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Mat
10:31). Ini bukan tentang harga diri yang sombong, tetapi tentang kesadaran
akan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Kita sangat berharga di mata-Nya
sehingga Ia mengutus Putra-Nya untuk mati bagi kita .
![]() |
Aplikasi
Saudara-saudari yang dikasihi
Kristus,
Pada hari raya Santo Benediktus
ini, marilah kita belajar dari teladannya. Beliau mengajarkan bahwa iman
dihidupi dalam keseharian—dalam doa yang tekun, kerja yang jujur, dan hidup
fraterna yang penuh kasih .
Marilah kita bertanya pada diri
sendiri:
- Apa "salib" yang sedang saya hindari
hari ini? Apakah saya lari dari tanggung jawab? Apakah saya
menghindari pembicaraan tentang iman karena takut konflik?
- Kepada siapa saya paling takut? Apakah
ketakutan akan pendapat manusia lebih besar daripada ketakutan akan
Allah?
- Di mana saya perlu lebih berani mengakui
Kristus? Di keluarga? Di tempat kerja? Di media sosial?
Ingatlah, ketakutan
menjadi takdir kita ketika kita tidak menghadapinya. Segala sesuatu yang kita
hadapi, akan berlalu. Segala sesuatu yang kita hindari, terus mengejar kita.
Semoga kita memiliki keberanian
untuk mengakui Kristus di hadapan manusia, dan semoga kelak Kristus mengakui kita
di hadapan Bapa di surga. Amin.
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama
Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar