Renungan
Jumat, 10 Juli 2026 | Matius 10:16-23
DOMBA DI TENGAH SERIGALA: CERDIK,
TULUS, DAN BERTAHAN
I. Pendahuluan
Saudara-saudari yang terkasih
dalam Kristus,
Hari ini, Gereja menyajikan
kepada kita sebuah bacaan Injil yang sangat tajam dan penuh tantangan dari
Santo Matius (10:16-23). Dalam perikop ini, kita mendengar sendiri sabda Yesus
kepada para murid-Nya—sebuah amanat perutusan yang tidak hanya berlaku bagi
kedua belas rasul pada masa itu, tetapi juga bagi kita, umat beriman di era
modern ini.
Kita mendengar Yesus
berkata, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah
serigala". Gambaran ini mungkin terdengar mengerikan. Mengapa Sang
Gembala yang baik justru mengirim domba-domba-Nya ke tengah bahaya? Namun, di
balik gambaran ini, tersimpan sebuah panggilan dan janji agung yang hendak kita
renungkan bersama.
II. Cerdik Seperti Ular dan
Tulus Seperti Merpati
Yesus memberikan sebuah bekal
utama bagi kita yang diutus: "Hendaklah kamu cerdik seperti ular
dan tulus seperti merpati". Inilah keseimbangan hidup yang harus kita
miliki sebagai pengikut Kristus.
Menjadi cerdik seperti
ular berarti kita diajak untuk memiliki kebijaksanaan dan kewaspadaan
dalam menghadapi dunia. Ular dalam Kitab Suci sering melambangkan kelicikan,
namun Yesus menggunakannya dalam konteks positif: kita harus pintar membaca
situasi, tidak mudah tertipu, dan mampu melindungi diri dari kejahatan di
sekitar kita. Ini bukan ajaran untuk menjadi licik atau manipulatif, melainkan
untuk menggunakan akal budi yang dianugerahkan Tuhan secara bijaksana .
Di sisi lain, kita dituntut untuk
tetap tulus seperti merpati. Merpati adalah simbol kesucian,
ketulusan, dan kedamaian. Ketulusan berarti kita harus menjaga kemurnian hati,
tetap berbuat baik, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, meskipun
kita hidup di tengah dunia yang keras. Kita dipanggil menjadi pribadi yang
jujur dan polos, sebagaimana Santo Paulus mengingatkan agar kita "cerdik
dalam hal yang baik dan polos dalam hal yang jahat."
Kedua sikap ini—cerdik dan
tulus—harus berjalan beriringan. Di era informasi seperti sekarang, kita
ditantang untuk menjadi cerdas dalam menyaring berita dan pengaruh dunia, namun
tetap memelihara ketulusan hati sebagai anak-anak Allah.
III. Jangan Kuatir, Roh Kudus
Menyertai
Yesus tidak berhenti pada
peringatan tentang bahaya. Ia juga memberikan sebuah janji yang sangat
menghibur. Ketika para murid digiring ke pengadilan dan dianiaya, Ia
berpesan: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir
akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan
dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata,
melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu" .
Inilah kabar baik di tengah
ancaman. Kita sering kali diliputi kecemasan ketika harus bersaksi atau membela
iman di depan umum, di tempat kerja, atau bahkan di dalam keluarga. Kita takut
salah bicara atau tidak mampu menjawab. Namun, Yesus menegaskan bahwa kita
tidak sendirian. Roh Kudus akan memberi kita kekuatan dan hikmat pada saat yang
tepat. Ini bukan berarti kita tidak perlu belajar atau mempersiapkan diri,
tetapi kita diajak untuk memiliki keyakinan bahwa Allah akan menyertai kita
dalam setiap kesaksian kita.
IV. Bertahan Sampai Pada
Kesudahannya
Puncak dari amanat Yesus hari ini
adalah ajakan untuk bertahan. "Dan kamu akan dibenci
semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada
kesudahannya akan selamat". Kata "bertahan" atau
"bertekun" dalam bahasa Yunani (hypomeno) mengandung arti
bertahan di bawah beban, tetap teguh, dan tidak menyerah.
Yesus jujur mengatakan bahwa
mengikuti Dia bukanlah jalan yang mudah. Ada konsekuensi yang harus ditanggung:
perpecahan dalam keluarga, dibenci banyak orang, bahkan penganiayaan. Namun, Ia
menjanjikan keselamatan bagi mereka yang bertahan.
Ketekunan di sini bukanlah sikap
pasif. Yesus juga berkata, "Apabila mereka menganiaya kamu dalam
kota yang satu, larilah ke kota yang lain". Ini menunjukkan bahwa kita
tidak boleh ceroboh atau mencari-cari penderitaan. Kita boleh mencari jalan
keluar dan menggunakan akal sehat, tetapi kita tidak boleh berhenti mewartakan
Injil. Misi tetap berlanjut.
V. Penutup: Panggilan Kita
Hari Ini
Saudara-saudari terkasih,
Bacaan Injil hari ini bukanlah
sebuah nubuat yang menakutkan, melainkan sebuah peta jalan bagi kita sebagai
murid Kristus. Yesus mengutus kita menjadi terang di dunia yang mungkin gelap
dan bahkan bermusuhan.
Marilah kita bertanya pada diri
sendiri:
- Sudahkah kita menjalani hidup dengan cerdik
seperti ular, menggunakan akal budi dan kewaspadaan dalam menghadapi
tantangan hidup sehari-hari?
- Sudahkah kita tetap tulus seperti merpati,
menjaga hati kita tetap murni dan penuh kasih di tengah kepahitan dunia?
- Dan yang terpenting, apakah kita memiliki ketekunan
untuk bertahan dalam iman, berani bersaksi, dan tidak pernah
kehilangan harapan?
Jangan takut, karena Roh Kudus
selalu siap menolong kita. Kita tidak berjalan sendirian. Kita adalah
domba-domba yang dipimpin oleh Gembala Agung, Yesus Kristus, yang telah
mengalahkan dunia.
Semoga Sabda Tuhan hari ini
menguatkan iman kita. Amin.
Sorang Tumanggor,
S.Ag
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar