Renungan
Jumat, 31 Juli 2026
Pekan Biasa XVII | Peringatan
Wajib Santo Ignasius dari Loyola
Injil Matius 13:54-58
TERBUKA DAN RENDAH HATI MENYAMBUT YESUS
Sorang Tumanggor, S.Ag
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Dairi
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santo Ignasius dari Loyola,
pendiri Serikat Yesus, seorang tokoh besar yang mengalami perjumpaan iman
secara radikal dan mengubah seluruh hidupnya. Namun, Bacaan Injil yang kita
dengarkan justru mengisahkan tentang ketidakpercayaan—kisah tentang
mereka yang gagal melihat karya Allah karena hati mereka tertutup oleh
prasangka. Marilah kita renungkan bersama.
I. Yesus Ditolak di Negeri
Sendiri
Injil Matius hari ini menggambarkan Yesus yang kembali ke kampung
halaman-Nya, Nazaret. Ia mengajar di rumah ibadat, dan orang-orang takjub akan
hikmat serta kuasa-Nya. Tetapi kekaguman itu dengan cepat berubah menjadi
penolakan. Mereka berkata, "Bukankah Ia ini anak tukang kayu?
Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon
dan Yudas? ... Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" .
Orang-orang Nazaret terjebak dalam prasangka. Mereka melihat
Yesus hanya dari latar belakang duniawi-Nya—sebagai anak seorang tukang kayu,
seseorang yang mereka kenal sejak kecil. Mereka merasa sudah "tahu"
siapa Yesus, sehingga mereka menutup diri terhadap kemungkinan bahwa Allah
dapat berkarya melalui orang yang begitu akrab dan biasa di mata mereka. Kitab
Suci mencatat bahwa mereka "kecewa dan menolak Dia". Kata
Yunani yang digunakan adalah eskandalizonto—mereka tersinggung dan
jatuh dalam batu sandungan.
II. Dua Jebakan Iman: Prasangka
dan Keakraban yang Berlebihan
Kisah ini adalah cermin bagi kita. Ada dua jebakan utama yang dihadapi
orang Nazaret, dan sering kali juga kita alami.
Pertama, prasangka. Orang Nazaret berfokus
pada siapa yang berbicara, bukan pada apa yang
dikatakan dan dikerjakan oleh Yesus. Mereka menilai kebenaran
berdasarkan "kemasan" duniawi sang pembawa pesan. Dalam hidup kita,
bukankah sering kali kita menolak nasihat baik dari orang yang kita anggap
"biasa saja" atau bahkan yang kita tidak sukai? Kita menutup diri
terhadap teguran atau ajakan berubah dari pasangan, anak, orang tua, atau
sesama umat, hanya karena kita merasa lebih tahu atau karena dendam masa lalu.
Kedua, keakraban yang membutakan. Terlalu
mengenal Yesus secara lahiriah membuat mereka buta secara rohani. Mereka sudah
melihat-Nya tumbuh dewasa, sehingga mereka tidak bisa menerima bahwa Dia adalah
Sang Mesias. Kita pun bisa menghadapi bahaya yang sama dalam hidup beriman.
Kita bisa terbiasa dengan liturgi, sakramen, dan ajaran Gereja, sehingga
semuanya menjadi rutinitas yang kehilangan daya kejut dan kuasa
transformasinya. Kita mungkin mengaku mengenal Yesus, tetapi kita kehilangan
rasa takjub dan hormat akan kehadiran-Nya yang hidup dan berkarya.
III. Konsekuensi dari
Ketidakpercayaan
Akibat dari sikap ini sangatlah nyata. Injil menutup dengan pernyataan
yang sangat tegas: "Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak
banyak mujizat diadakan-Nya di situ".
Ayat ini bukan berarti kuasa Yesus menjadi terbatas. Sebaliknya, ini
menunjukkan bahwa iman adalah "saluran" bagi karya kuasa
Allah. Ketidakpercayaan bagaikan pintu yang tertutup rapat, menghalangi
rahmat Tuhan untuk masuk dan mengubah hidup kita. Tuhan menghormati kebebasan
kita. Ia tidak akan memaksakan diri dan mukjizat-Nya ke dalam hati yang keras
dan tertutup. Sebaliknya, imanlah yang membuka ruang bagi Allah untuk berkarya
secara luar biasa, bahkan dalam situasi yang paling biasa sekalipun.
IV. Teladan Santo Ignasius dari
Loyola
Hari ini kita memperingati Santo Ignasius dari Loyola. Kehidupannya
adalah sebuah kontras yang indah dengan sikap orang Nazaret. Ignasius adalah
seorang prajurit yang ambisius dan duniawi. Namun, ketika ia terbaring sakit
dan mulai membaca buku-buku rohani, hatinya terbuka. Ia tidak terjebak pada
prasangka bahwa Allah hanya bisa berbicara melalui cara-cara yang spektakuler.
Sebaliknya, ia membiarkan Allah berkarya melalui pengalaman batinnya, dan
imannya membawanya pada perjumpaan pribadi dengan Kristus yang mengubah seluruh
hidupnya. Sikap terbuka dan rendah hati inilah yang kita butuhkan, agar kita
tidak kehilangan mukjizat karena ketidakpercayaan.
Renungan dan Ajakan
Saudara-saudari terkasih, marilah kita bertanya pada diri sendiri:
- Apakah saya memiliki prasangka terhadap
orang tertentu, sehingga saya menutup diri terhadap kebenaran yang mungkin
Tuhan sampaikan melalui dia?
- Apakah iman saya sudah menjadi rutinitas
yang hambar, ataukah saya masih memiliki keterbukaan hati untuk melihat
karya Allah yang segar dan baru setiap hari?
- Apakah saya percaya bahwa Yesus, yang
hadir dalam Sabda dan Sakramen-Nya, dapat melakukan mukjizat dalam hidup
saya yang biasa ini, ataukah saya membatasi kuasa-Nya dengan
ketidakpercayaan saya?
Semoga kita semua, dengan teladan Santo Ignasius, semakin terbuka dan
rendah hati untuk menyambut Yesus dengan iman yang hidup. Jangan sampai kita
menjadi seperti orang Nazaret yang karena merasa "paling tahu",
akhirnya kehilangan kesempatan untuk mengalami kasih dan kuasa Allah secara
nyata.
Tuhan Yesus, bukalah mata hati kami. Jauhkanlah kami dari prasangka dan
keakraban yang membutakan. Anugerahilah kami iman seperti Santo Ignasius, agar
kami selalu mengenal dan menerima Engkau dalam setiap peristiwa kehidupan.
Amin.
Peringatan
Wajib Santo Ignasius dari Loyola, Imam
Saudara-saudari
seiman yang terkasih dalam Kristus,
Hari
ini, Jumat, 31 Juli 2026, Gereja Katolik Universal memperingati salah satu
tokoh rohani terbesar dalam sejarah Gereja, yaitu Santo Ignasius dari
Loyola, pendiri Serikat Yesus (Yesuit). Pada hari wafatnya ini, kita diajak
untuk merenungkan perjalanan iman seorang kesatria yang berubah menjadi
"kesatria rohani" bagi kemuliaan Allah.
Peringatan
Santo Ignasius mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati dan kekudusan bukanlah
monopoli segelintir orang, tetapi merupakan panggilan bagi setiap umat beriman
yang mau membuka hati terhadap karya rahmat Allah.
Perjalanan
Pertobatan Santo Ignasius
Ignasius
lahir di Loyola, Spanyol pada tahun 1491, berasal dari keluarga bangsawan. Di
masa mudanya, ia bercita-cita menjadi seorang kesatria yang gagah berani dan
mengejar kemuliaan duniawi. Namun, pada tahun 1521, dalam pertempuran
mempertahankan benteng Pamplona, kakinya tertembak peluru meriam, mengubah
seluruh hidupnya.
Selama
masa pemulihan yang panjang dan menyakitkan, Ignasius meminta buku-buku bacaan
untuk menghibur dirinya. Ia menyukai kisah kepahlawanan, tetapi di istana hanya
tersedia buku tentang kehidupan Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan
lain, ia mulai membacanya, dan perlahan-lahan hatinya mulai tersentuh. Ia
bergumul dalam hatinya dan berkata pada dirinya sendiri:
"Mereka
adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan
seperti apa yang telah mereka lakukan?"
Semua
kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya ia dambakan, mulai tampak tak berarti
lagi baginya. Ignasius pun mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang
mengubah seluruh arah hidupnya.
Dari
seorang prajurit yang mencari kejayaan duniawi, Ignasius berubah menjadi
seorang peziarah rohani yang mencari kehendak Allah. Ia melakukan ziarah ke
Montserrat, meletakkan pedangnya di altar Bunda Maria sebagai tanda penyerahan
diri total kepada Kristus, kemudian tinggal dalam kesunyian di sebuah gua dekat
Manresa selama hampir satu tahun untuk berdoa dan bertapa. Di sanalah ia mulai
menulis buku Latihan Rohani (Spiritual Exercises), sebuah
metode bimbingan rohani yang hingga kini masih sangat berpengaruh.
Makna
Bagi Kehidupan Kita
Saudara-saudari
yang terkasih, kisah Santo Ignasius bukanlah sekadar cerita sejarah. Ia adalah
cermin yang memantulkan panggilan Tuhan bagi setiap kita. Ada beberapa
pelajaran berharga yang dapat kita petik hari ini:
1.
Tuhan Mengubah Kegagalan Menjadi Berkah
Cedera
fisik yang dialami Ignasius justru menjadi jalan baginya untuk menemukan
kekayaan rohani. Dalam kelemahan dan penderitaannya, Allah bekerja dengan cara
yang tak terduga. Kita sering kali mengeluh ketika mengalami kegagalan, sakit,
atau kekecewaan. Namun, bacaan hari ini mengingatkan kita: Tuhan dapat mengubah
penderitaan menjadi saluran rahmat. Seperti yang dikatakan Santo Ignasius dalam
doanya yang terkenal:
"Berilah
aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan
aku tidak mengharapkan apa-apa lagi."
2.
Mencari Kemuliaan Bagi Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam)
Semboyan
Santo Ignasius yang terkenal adalah "Ad Maiorem Dei Gloriam" — Untuk
Kemuliaan Allah yang Lebih Besar. Segala sesuatu yang dilakukannya, entah
itu belajar, mengajar, atau berkarya, selalu diarahkan untuk memuliakan Allah.
Dalam
kehidupan kita sehari-hari, apakah kita juga melakukan segala sesuatu untuk
kemuliaan-Nya? Ataukah kita masih terjebak dalam pencarian kemuliaan diri
sendiri, pengakuan dari orang lain, dan kesenangan duniawi yang sementara?
Panggilan kita adalah untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat dan tujuan dari
seluruh hidup kita.
3.
Ketaatan dan Pengabdian kepada Gereja
St.
Ignasius dan para sahabatnya mengucapkan kaul khusus untuk mengabdi kepada
Paus, sebagai tanda ketaatan mereka kepada Gereja Kristus. Di tengah dunia yang
penuh dengan relativisme dan individualisme, kita dipanggil untuk setia pada
ajaran Gereja dan para pemimpinnya. Ketaatan ini bukanlah sikap pasif,
melainkan ekspresi nyata dari kasih kita kepada Kristus yang hadir dalam
Gereja-Nya.
Penutup
Saudara-saudari
yang terkasih, pada hari peringatan Santo Ignasius dari Loyola ini, marilah
kita mohon rahmat Tuhan agar kita juga dapat mengalami pertobatan hati dan
pembaruan iman. Semoga teladan Santo Ignasius menginspirasi kita untuk berani
meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan memilih untuk mengikuti Kristus dengan
segenap hati.
Semoga
Santo Ignasius dari Loyola mendoakan kita, dan semoga Allah Tritunggal
Mahakudus memberkati kita sekalian. Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Selamat
Peringatan Santo Ignasius dari Loyola!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar