Kamis, 23 Juli 2026

MENJADI BESAR DENGAN MELAYANI

Renungan Harian Katolik

Sabtu, 25 Juli 2026
Pesta Santo Yakobus, Rasul

Bacaan Injil: Matius 20:20-28

MENJADI BESAR DENGAN MELAYANI

Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi


 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Yakobus, Rasul. Yakobus adalah putra Zebedeus dan saudara Yohanes, yang bersama Petrus menjadi saksi istimewa peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan Yesus, seperti transfigurasi dan pergumulan di Taman Getsemani. Namun, bacaan Injil yang kita dengarkan justru mengisahkan sebuah peristiwa yang memperlihatkan sisi manusiawi para murid—termasuk Yakobus dan Yohanes—yang masih diliputi ambisi dan keinginan akan kehormatan.

Ambisi yang Keliru

Ibu Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus sambil sujud dan meminta agar kedua anaknya duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kerajaan-Nya. Permintaan ini mencerminkan pemahaman yang masih duniawi tentang kemuliaan dan kekuasaan. Para murid, seperti halnya orang-orang pada zaman itu, membayangkan kerajaan Mesias sebagai kerajaan politik dan duniawi yang penuh kejayaan. Mereka menginginkan posisi terhormat, pengakuan, dan kuasa.

Yesus menanggapi dengan tegas namun penuh kasih: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta." Ia mengajukan pertanyaan yang menggugah: "Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" (Mat 20:22). Cawan yang dimaksud Yesus adalah penderitaan dan salib. Dengan berani, Yakobus dan Yohanes menjawab, "Kami dapat." Dan Yesus menegaskan bahwa mereka memang akan meminum cawan itu—Yakobus kelak menjadi Rasul pertama yang mati syahid, dibunuh dengan pedang atas perintah Herodes Agripa (Kis 12:1-2).

Kepemimpinan ala Kerajaan Allah

Mendengar permintaan kedua saudara itu, sepuluh murid lainnya menjadi marah. Kecemburuan dan persaingan muncul di antara mereka. Namun, Yesus memanggil mereka semua dan memberikan pengajaran yang sangat fundamental tentang hakikat kepemimpinan dalam Kerajaan Allah:

"Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." (Mat 20:25-27)

Di dunia ini, kebesaran diukur dari seberapa banyak orang yang melayani kita, seberapa besar kekuasaan yang kita miliki, dan seberapa tinggi jabatan yang kita duduki. Tetapi Yesus membalikkan logika dunia secara radikal. Dalam Kerajaan Allah, ukuran kebesaran adalah pelayanan. Seorang yang besar adalah ia yang melayani; seorang yang terkemuka adalah ia yang menjadi hamba bagi sesamanya.

Teladan Agung Sang Guru

Yesus tidak hanya mengajarkan teori. Ia memberikan teladan yang sempurna: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28). Inilah inti iman kita: Yesus, Putra Allah, datang ke dunia bukan untuk duduk di takhta kemuliaan dan dilayani oleh manusia. Ia datang sebagai seorang hamba yang merendahkan diri, mencuci kaki para murid, dan pada akhirnya menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus dosa kita.




Panggilan bagi Kita Hari Ini

Saudara-saudari terkasih, pada Pesta Santo Yakobus ini, kita diajak untuk merenungkan kembali panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, bukankah kita sering kali tergoda oleh ambisi yang sama? Kita ingin diakui, ingin mendapatkan posisi terhormat, ingin dilayani, dan merasa kecewa ketika keinginan itu tidak terpenuhi.

Yesus mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut-Nya berarti menerima logika pelayanan. Kita dipanggil untuk menjadi besar di mata Tuhan, bukan di mata dunia. Kebesaran sejati terletak pada kemampuan kita untuk melayani sesama dengan tulus, tanpa pamrih, dan dengan kasih. Pelayanan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil: meluangkan waktu untuk mendengarkan orang yang sedang bersedih, membantu mereka yang berkekurangan, memaafkan orang yang telah menyakiti kita, atau menjalankan tugas dan tanggung jawab kita dengan penuh pengabdian.

Santo Yakobus mendahului kita dalam meminum cawan penderitaan dan kesetiaan. Semoga teladan dan syafaatnya menguatkan kita untuk menjalani panggilan kita sebagai pelayan Kristus di tengah dunia, dengan rendah hati dan penuh kasih.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar